
Jack, seorang pemuda berumur 17 tahun, berbadan jakung, berambut setengah beruban dan berpakaian lusuh nan kotor sedang mengais-ngais sampah di tempat sampah untuk mencari sesuatu yang bisa dijual. Dia merupakan kesekian sedikitnya pemulung yang ada di kota itu. Dia biasanya mencari sampah di depan sekolah pada saat siang hari. Dimana pada waktu itu adalah jam pulang sekolah.
Tak sedikit murid yang pulang dan sekali-kali melihatnya dengan tatapan aneh. Dalam tatapan mereka, mereka seperti bertanya, "apakah pemulung itu dungu? Mengapa tidak mencari sampah di TPA? Apa yang bisa dicari di gerbang sekolah?"
Memang di depan sekolah tidak banyak sampah yang berguna untuk dijual. Di kotak sampah di depan gerbang sekolah, hanya ditemukan beberapa sampah yang bisa dijual. Akan berguna jika dia pergi ke TPA, dimana sampah bercampur menjadi satu dan pasti banyak sampah yang berguna untuk dijual daripada di kotak-kotak sampah di luar gerbang sekolah.
"Dek, masih sibuk mencari sampah?" Seorang satpam bertanya kepada Jack. Sang satpam tidak memakai seragamnya dan hanya memakai tanktop putih. Dia sudah melihat Jack setiap hari, tetapi tak pernah mengobrol dengannya dan hari itu dia berniat untuk mengobrol dengannya.
"Iya, om..." Jawab Jack yang tetap mengais sampah.
"Apakah tidak capek siang-siang begini mulung?" Tanya satpam itu lagi.
"Tidak, aku harus bekerja untuk hidupku."
"Bekerja untuk hidupmu?"
"Iya, aku harus mencari nafkahku sendiri dan mencari uang untuk bisa makan untuk hari ini."
"Tunggu! Maaf, dek aku bertanya begini, aku agak penasaran denganmu. Apakah adek punya orang tua?"
Jack menggeleng, "aku tak punya orang tua, bahkan aku sendiri tidak tahu wajah orang tuaku. Aku ditinggalkan di panti asuhan dan menghabiskan masa kecilku di sana..."
"Oh, maaf..." Sang satpam mengucapkan maaf.
"Bapak sudah meminta maaf tadi dan mengapa bapak meminta maaf lagi?" Jack tersenyum tipis.
Sang satpam menggarukkan kepalanya yang tak gatal dan tersenyum malu.
"Ini pertama kali kita mengobrol, kan? Aku belum mengetahui namamu. Namaku adalah Asep, namamu?" Tanya satpam itu sambil mengulur tangannya.
"Jack, Jack Zitman..." Jack menyambut tangan satpam itu.
"Zitman? Nama yang tak biasa untuk sebuah nama dari Indonesia. Itu lebih mirip ke nama superhero."
"Banyak orang yang berbicara seperti itu. Nama berasal dari kertas yang ditinggali di keranjang bayiku bersama diriku pada saat aku ditelantarkan di panti asuhan. Mungkin itu adalah nama yang diberikan oleh orang tuaku." Jelas Jack. "Bagaimana saya memanggil anda? Pak Asep? atau Om Asep?"
"Panggil aku Om saja. Aku terlalu tua untuk dipanggil pak." Om Asep tertawa.
Kemudian Jack berhenti mengais sampah dan duduk di depan gerbang sekolah. Lalu, sang satpam itu duduk di sebelahnya.
"Ngomong-ngomong, aku penasaran dengan alasanmu mengais sampah di sini. Yah bukan apa-apa, aku senang jika ada pemulung yang memulung sampah-sampah plastik di depan gerbang. Itu mengurangi beban kerjaku sebagai penjaga gerbang, tetapi aku ingin tahu alasanmu mengapa kau memulung sampah di sini? Di TPA adalah tempat yang cocok untuk mencari sampah-sampah plastik."
Satpam penasaran dengan pemuda itu karena sering melihatnya selalu berada di depan gerbang itu. Dia juga sedikit curiga jika Jack memiliki sedikit niat jahat kepada sekolahnya maupun dirinya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku...punya alasan lain. Yah, susah untuk menyebutkannya..."
Jack memainkan tangannya dan nampak gelisah ketika ditanyai seperti itu.
"Tenang saja, aku adalah pendengar yang baik. Itu yang dikatakan teman-teman tongkronganku. Lagipula kita adalah sama-sama pria, pasti memiliki sedikit persamaan dengan satu sama lain, seperti masalah, sudut pandang, dan lain-lain..." Sang satpam tersenyum penuh makna.
"Yah, sebenarnya alasanku karena satu orang dari sekolah ini. Dia siswi yang bersekolah di sini..."
"Tunggu!" Sang satpam menginstrupsi perkataan Jack.
"Jangan ceritakan lebih lanjut. Aku sudah paham sekarang. Ho ho ho, ini seperti kisah novel cinta terlarang. Seorang pemuda dari kelas bawah yang mencintai seorang putri dari keluarga kerajaan. Karena pernah ditolong oleh pemuda itu, sang putri juga mencintai pemuda itu dan akhirnya terbrntuklah lingkaran cinta di antara mereka. Tapi keluarga sang putri tak merestuinya dan terjadilah konflik antara mencintainya atau melupakannya."
"He he he, cerita yang indah. Tetapi bukan seperti itu hubunganku dengannya..."
"Lah, terus seperti apa? Apakah dia teman baikmu?"
"Aku tak mengenal namanya dan dia tak mengenal namaku juga. Dia bukanlah siapa-siapa bagi diriku sekarang. Bisa dibilang aku hanya suka kepadanya..." .
"Oh, begitu aneh. Tapi, darah muda benar-benar panas, yah. Hal yang tak mungkin masih diterobos dengan kuatnya. Kau suka dengan dirinya dan berkeinginan kalau dia membalasnya, kan? Kalau begitu...Berjuanglah, anak muda!!!"
"Baiklah, terima kasih..."
Kemudian satpam itu melihat jam tangannya dan dia sedikit terkejut melihat jamnya.
"Aku juga harus bergegas pergi. Akan memalukan bagiku jika dilihat banyak orang sebagai pemulung..."
"Tunggu, Nak Jack!!!" Teriak Satpam itu. Jack berhenti sejenak dan sang satpam melempar sesuatu.
Kemudian Jack menangkap sebotol air mineral yang dilempar oleh satpam itu. Hal itu membuat Jack bingung.
"Ini untuk apa?" Tanya Jack.
"Tentu saja untuk diminumlah!!! Kau pasti merasa haus memulung banyak sampah di depan gerbang, kan?"
"Tidak, aku menolaknya. Aku tidak haus..." Jack berniat untuk mengembalikan botol minum tersebut.
"Kau harus menerimanya. Ini bisa menjadi ucapan terima kasihku selama ini membersihkan sampah-sampah plastik itu..."
"Tapi..."
"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Jika kau menolaknya, aku akan menjadi sakit hati. Aku menolongmu dan kau menolongku. Manusia harus tolong menolong, kan? Mereka ditakdirkan sebagai mahkluk sosial yang saling melindungi..."
Ada sedikit keraguan di mata Jack, antara menerima atau tidak. Tetapi dia memutuskan untuk menerimanya, karena memang dia sudah sangat kehausan.
__ADS_1
"Terima kasih..." Kemudian Jack pergi dengan membawa sebotol gelas mineral, karung berisi sampah, dan tongkat pengaisnya.
Dia pergi ke sebuah pohon yang tak jauh dari gerbang itu dan duduk di bawahnya. Dia meminum air mineral itu dengan begitu cepat, seperti takut ada orang yang merebut darinya. Lalu setelah habis, dia meremas sangat kuat botol itu dan membuang botol itu ke karung sampahnya.
Setelah beberapa saat menunggu, murid-murid dari sekolah itu keluar juga. Mereka memakai almamater khusus sekolah SMA itu, karena hari itu adalah hari kamis. Di antara siswa yang keluar, ada satu wanita yang menarik perhatian Jack. Wanita itu berambut hitam bergaya kucir kuda, wajah oval dengan berkulit putih, dan mata yang memikat hati ketika memandangnya. Terlihat dari raut wajahnya dia orang yang ceria, cenderung kekanak-kanakan. Tetapi banyak orang disekelilingnya yang mengobrol dengannya, menunjukkan bahwa dia adalah orang yang disenangi banyak orang.
"Nina..." Gumam Jack ketika melihatnya.
Jack beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti wanita yang dipanggilnya Nina itu. Benar, Jack beralih profesi dari pemulung menjadi stalker wanita seumurannya itu. Itu penyebab mengapa dia tak ke TPA malah memulung di gerbang sekolah dimana tidak ada sampah yang berharga sama sekali. Tujuannya adalah mengikuti gadis itu sampai ke rumahnya.
Jack menjaga jarak agar tidak diketahui oleh wanita itu beserta teman-temannya. Kejahatannya memang diakuinya paling mengganggu orang lain dan di kota itu hukum begitu kejam sampai-sampai tidak bisa digambarkan lagi dengan kata-kata. Karena itu, Jack berhati-hati untuk mengikutinya agar tidak terjerat hukum kota itu.
"Semoga ketemu lagi..."
"Bye..."
Satu per satu teman dari wanita berpisah dan tinggal satu temannya yang akhirnya berpisah dengannya juga. Sekarang tinggal wanita itu yang berjalan pulang ke rumahnya. Jack tetap mengikuti dirinya dan tetap serba hati-hati agar tidak ketahuan. Dia terus mengikuti hingga sampai di depan rumah berukuran besar yang merupakan rumahnya.
Hati Jack menjadi tenang bercampur gusar. Walaupun begitu, tujuan dia mengikuti wanita itu sudah tercapai. Tujuan sebenarnya adalah menjaga wanita itu agar tidak terjadi kenapa-napa terhadapnya. Jadi di dalam tindakan kriminalnya itu, ada motif baik yang mendorongnya. Dia tidak akan mencelakainya, justru akan menolongnya jika ada bahaya.
Pada saat Jack mengawasi wanita itu sampai masuk ke rumah, badannya ditarik oleh seseorang. Kemudian bogem mentah dijejalkan ke pelipis kanannya dan Jack berteriak kesakitan.
"Oh, jadi ini orang yang selama ini stalking pacarku!!!!" Ucap seorang pemuda.
Pemuda itulah yang memukul Jack ke pelipis kanannya hingga dia berteriak kesakitan. Pemuda itu juga mengaku sebagai pacar wanita itu yang membuat Jack terkejut. Pemuda itu tidak sendiri, dia bersama dengan 2 orang yang ada di belakangnya, seperti bodyguard orang penting.
"Nina tak pernah punya pacar! Kau hanya mengaku-ngaku!!!" Teriak Jack dengan gilanya.
"Nina? Siapa Nina?" Pemuda itu bertanya-tanya.
Kemudian Jack menunjuk ke rumah wanita itu dan pemuda itu mengerutkan dahinya.
"Eh, kau gilanya? Wanita itu bernama Jenny, bukan Nina yang kau sebutkan itu. Kau salah orang!"
Jack kembali terkejut dengan perkataan pemuda itu tetapi Jack tetap bersikeras menyebutkan bahwa dia itu Nina.
"Bro, lebih baik kita pukul kepalanya supaya gilanya hilang."
"Yah, Albert. Orang itu sudah gila."
Dua orang yang lain memanas-manasi pemuda itu untuk memukul Jack. Mendengar perkataan teman-temannya, akhirnya pemuda itu berkata, "aku sudah bertobat untuk menurunkan tangan kejamku lagi. Kekejamanku sudah banyak memakan hati dari orang-orang yang bersalah. Tapi kau adalah orang yang mengganggu hidup pacarku dan membuatnya tak bisa tidur selama beberapa hari karenamu..."
Kemudian pemuda itu mendekati Jack dan mengeluarkan tatapan serius dan kejam. Tatapan itu diarahkan kepada kedua bola mata Jack.
__ADS_1
"Sekarang....waktunya memberi pelajaran kepada anak nakal...."