
Berpindah tempat adalah salah satu cara untuk mengubah suasana hati ketika gundah atau marah. Tempat yang dituju biasanya adalah memiliki pemandangan indah dan menenangkan. Atau tempat sunyi yang mengosongkan indera pendengaran untuk sementara waktu atau juga tempat ramai yang bisa menjadi tempat untuk menenangkan hati dengan berbagai aktivitas manusianya.
Tak terkecuali jembatan yang ramai dengan pejalan kaki. Jack sendiri pergi ke jembatan itu setelah melakukan hal gila di tempat latihannya, dan menatap matahari yang sedikit tenggelam di pinggir jembatan itu. Semua orang yang berlalu-lalang nampak skeptis dengan apa yang dilakukan Jack, begitu juga dengan Jack.
Dia sedang melamun, menerawang masa lalunya. Tetapi beberapa saat kemudian menggelengkan kepalanya, seperti ingin menghilangkan apa yang dipikirkannya.
"Ternyata kau di sini?" Jack menengok ke arah sumber suara, tetapi kembali menatap matahari tenggelam ketika tahu siapa yang berucap kepadanya.
"Yang kau lakukan tadi benar-benar menakutkan. Kau juga benar-benar menakutkan, aku tak menyangka kau bisa seperti itu..."
Orang itu tersenyum, tetapi dengan pelipis kaku. Itu hanyalah senyuman palsu untuk mencairkan suasana. Dia adalah Mary Goldenhawk.
"Kau tahu apa yang di langit adalah proyeksi sihir? Tempat ini terpisah jauh dengan dunia kalian, sehingga matahari, bulan, bintang, dan iklim di dunia kalian tak sampai ke tempat ini. Bisa dibilang, tempat ini adalah dunia lain versi kecil..." Mary menjelaskan apa yang di langit dan isinya.
Jika saja dia menjelaskan pertama kali Jack di tempat ini, mungkin menjadi informasi sangat berguna. Pada masa ditemukan Dracvale, para penyihir langsung membuat penelitian sebuah proyeksi sihir raksasa di langit Dracvale yang digunakan untuk membuat cuaca dan membuat keseimbangan iklim di tempat itu.
Tapi Jack sudah membaca banyak buku-buku di perpustakaan Dracvale dan salah satunya membahas apa yang dijelaskan oleh Mary, jadi tak berguna lagi. Itu hanya basa-basi belaka dan mencairkan suasana yang sebelumnya sangat buruk.
Tanpa direspon oleh Jack, Mary menghela nafas, dan berjalan mendekat lalu ikut menatap matahari yang mau separuh lagi tenggelam persis berada di samping Jack.
"Aku sudah mendengar cerita dari Dian. Katanya kau sedang mengintip sepasang kekasih, kan?"
"..."
"Setelah itu, tiba-tiba kau menampar dirimu sendiri dan bergumam untuk menjadi kuat...."
Mary tak melanjutkan kata-katanya, karena merasa itu membuat Jack marah. Tidak ada orang yang suka diceritakan kembali masa lalu memalukan itu. Tetapi diluar perkiraan, Jack tidak marah, malah dia mengajukan sebuah pertanyaan.
"Hei Mary, Bagaimana cara melupakan masa lalu?"
Mary terdiam dan raut wajah berubah menjadi bingung.
"Kau dan Dian lebih senior dariku dan tahu lebih banyak asam manis di dunia ini. Aku menghormati kalian sebagai temanku dan kalian juga menganggapku sebagai teman, sampai membiarkan aku tak menggunakan panggilan honorofik. Jadi, hanya kalianlah aku bisa buka-bukaan daripada orang yang belum tentu kukenal baik..." Tambah Jack.
Kata-katanya yang singkat itu sangat dalam. Jack biasanya berkata-kata pendek, dan sedikit berat pada hari-hari sebelumnya. Tetapi bagi Mary, kata Jack lebih berat daripada hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
"Jack, melangkahlah maju dan cari orang lain yang bisa mengisi peran wanita itu."
"Ah, memang begitu, ya?" Jack menghela nafasnya dengan dalam.
"Mengingat apa yang dilalui dan masa lalu sangatlah membuang waktu. Tetapi menyesali apa yang dilalui dan masa lalu adalah hal yang tak berguna dan membuang waktu berharga. Kau harus melangkah ke masa depan, walau masa depan itu sangatlah kelabu..."
"Ehm, kau benar. Memang yang kau katakan sungguh benar."
Kemudian Mary berpikir kembali, mengingat ingatannya ketika masa sekolah bersama dengan guru "bizzare"nya.
"Guru anehku pernah berkata, "Kita hidup pada hari ini dan pada tarikan nafas ini, bukan di masa lalu atau di masa depan. Kita bekerja keras dan mencoba berkembang pada hari ini, bukan sejarah di masa lalu kita, atau angan-angan bodoh di masa depan. Orang bodoh akan memikirkan angan-angan tak pasti di masa depan, dan orang pintar akan memikirkan kesalahannya di masa lalu serta tak akan mengulanginya. Namun, orang cerdas akan memikirkan masa kini dimana yang dilakukannya nanti."..."
"...."
"Sebelum aku masuk ke Dracvale Stronghold, aku menganggap kosong perkataan dari guru anehku itu. Tetapi ketika aku masuk ke Dracvale Stronghold dan melakukan banyak misi, aku akhirnya mengetahui bahwa perkataan itu adalah benar."
"..."
"Tidak ada yang bisa memastikan masa depan dengan benar dan sangat memberat hati ketika mengingat kembali apa yang ada di masa lalu..."
Jack menengok ke arah wajah wanita itu dan menatap kembali mega yang ada di ufuk barat dengan perasaan menyesal menengok. Air mata menetes kembali dari mata Mary sambil menundukkan kepalanya. Jack tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh Mary saat ini, tetapi dia memperkirakan bahwa itu bukanlah hal yang menyenangkan.
Namun pada suatu misi penangkapan penjahat besar, mereka semua tewas sebelum impian mereka terwujud, menyisakan Mary yang selamat dari kejadian itu. Sejak hari itu, dia tak mengharapkan sebuah impiannya lagi. Dia akan kecewa ketika meninggal sambil terlalu mengharap-harapkan di masa depan. Dia harus melangkah di jalannya sendiri, di masa kini dengan tak memperdulikan di masa lalunya seperti apa. Itulah yang dilakukannya terus sampai sukses menjadi anggota pengintai di satuan ekspedisi.
"Ah, maafkan aku." Mary menyadari air matanya sudah menetes. Dia kemudian mengelap air matanya yang sudah basah.
"Tidak, kau tidak salah...."
Kemudian suasana menjadi lenggang dan tak ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka.
"Jack..."
Kemudian Mary memanggil Jack dan kali ini, Jack merespon dengan menengok juga.
"Aku memikirkan sebenarnya kau tak perlu menjadi penyihir.."
__ADS_1
Raut wajah Jack berubah menjadi buruk dan Mary menjadi salah tingkah.
"B-bukan maksudku menghalangimu menjadi penyihir. Kau harus mempertimbangkan kembali, karena penyihir itu selalu dibayangi dengan kematian. Kau pasti pernah membaca buku yang membahas tanah tersembunyi dengan bahaya utamanya, kan?"
"Yang kau maksud adalah hewan iblis dan hewan magis?" Tanya Jack memastikan.
Mary mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jack.
"Pada saat kau menjadi murid di Rakuen Academy, ada sebuah ujian dimana kau harus memburu banyak hewan iblis dan beberapa hewan magis untuk lulus. Semua hewan itu bukanlah hewan jinak yang akan menyerang ketika diserang. Mereka akan membunuhmu dengan berbagai cara dan kau harus membunuh jika ingin mempertahankan nyawamu. Namun begitu kau lulus pun, kau diwajibkan untuk masuk ke Departemen pemburuan dan harus memasuki situasi yang berbahaya untuk memburu banyak hewan iblis. Kau lulus menjadi penyihir sama dengan menjadi menerima sertifikat kelulusan menjadi pakan hewan iblis dan samsak para penjahat."
Mary berhenti berbicara dan menunggu reaksi dari Jack. Jack tak berbicara beberapa saat lalu kemudian berkata, "Terima kasih telah memberiku saran, tapi apakah itu salah?"
"Uh?"
"Maksudku, apakah salah punya sertifikat menjadi pakan hewan iblis untuk menjadi kuat? Lagipula sertifikat itu tak akan berguna bagiku. Aku akan terus bertahan hidup di semua pertarungan dan akan membawa kejayaan dari pertarungan itu."
Mary terdiam sejenak dengan kepercayaan diri dari Jack. Kemudian dia menahan tawanya, tetapi lepas juga akhirnya.
"Kau terlalu percaya diri. Kau akan terkena karma seperti wanita ini..."
Situasi kembali lenggang di antara mereka berdua.
"Hei, Mary. Aku meminta maaf dengan perbuatan sebelumnya. Aku hanya marah dengan diriku yang tak punya arti di dunia ini."
"Tak punya arti? Kau pasti punya arti di dunia ini, tapi masih belum menemukan jawabannya..."
"Yah, kau benar....."
Kemudian Jack melangkah pergi yang mengarah ke penginapannya.
"Oh, yah..." Tiba-tiba, Jack berhenti. Dengan posisi memunggungi Mary, dia berkata, "Soal impian itu, jangan pernah kau lupakan. Itu akan menjadi jalan keduamu setelah kau kehilangan tujuan hidupmu. Jika kau lupa dan membuangkannya, mungkin kau tak akan bisa menjalani hidup dengan baik."
Mary terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Jack. Dia sudah lama dibebani dengan kata-kata yang diucapkan gurunya dulu, tetapi ketika mendengar kata-kata itu rasa berat itu menjadi ringan dengan ajaib. Tetapi dia belum mengetahuinya.
"Terima kasih..." Meskipun belum tahu alasannya, tetapi Mary tetap berterima kasih. Jack sudah berjalan ketika Mary mengucapkan terima kasih dengan mengancungkan jari jempol ke belakang Mary.
__ADS_1
***
saya benci chapter rumit ini, tetapi apalah daya karena kehabisan Ide lagi. Ya sudah, sampai ketemu lagi besok