Frost Heart

Frost Heart
Angin Hitam


__ADS_3

Rumah Jack berada di pinggir kota, atau lebih tepatnya berada di samping sebuah toko rongsokan dan dekat TPA alias tempat pembuangan akhir. Biasanya, di pagi hari Jack akan mengumpulkan sampah di tempat pembuangan akhir itu dan langsung menjualnya kepada pengepul untuk biaya sarapan dan yang tersisa untuk makan malam. Dia akan menahan lapar dengan air keran di siang hari.


Tak banyak orang yang tinggal di sekitar rumah Jack, lantaran berada di pinggir kota yang kumuh. Itupun orang-orang yang tinggal di sekitarnya adalah pemulung dan orang-orang buangan dari daerah lain yang jarang ada di kotanya. Jadi, di lingkungan rumah Jack terasa sangat sepi, berbeda dengan di pusat kota.


Malam pun sudah datang dan Jack saat ini sedang memasak sebuah bubur untuk makan malamnya. Buburnya itu terbuat dari nasi sisa sarapannya yang direbus air banyak dengan tambahan sedikit susu sebagai pemanis. Porsinya memang menjadi sedikit, tetapi bagi Jack itu sudah bisa menahan laparnya sampai pagi.


"Ok, sudah matang..." Jack kemudian mengambil sendok nasi dan mengambil semua isi panci kecil bubur itu ke dalam sebuah mangkok. Jack tak lupa mematikan tungku apinya agar rumah kecilnya tidak kebakaran karena kelalaiannya. Lalu, dia berjalan ke kamar depan dimana ada seorang wanita yang tidur di kasurnya. Wanita itu adalah orang yang diobati oleh Jack.


"Ehm, apakah dia sudah sadar?" Jack iseng menengok wajah si wanita itu. Dia masih terlelap tidur dengan selimut putih yang menyelimutinya. Rona wajahnya cukup pucat, karena memang dia hampir kehabisan darah sebab lukanya.


"Hah, tidak mungkin. Apakah ada orang yang hampir kehabisan darah, bisa langsung sadar dalam semalam setelah diobati?" Jack menggeleng, menyanggah pemikirannya sendiri.


Kemudian Jack duduk dengan berlantaikan tanah. Rumah Jack sangatlah sederhana, sampai-sampai hanya berlantaikan tanah. Kemudian Jack melahap buburnya setelah merasa buburnya menjadi hangat dan dalam waktu 10 detik, Jack sudah menghabiskan buburnya.


"Huh, hangatnya..." Jack menepuk perutnya dengan perasaan puas. Jack menatap kasur yang sudah ditempati seorang wanita dan memikirkan dimana dia akan tidur nanti. Kasurnya sangatlah sempit untuk dua orang dan lagipula tidaklah etis jika pria dengan wanita tidur bersama tanpa ikatan apapun, menurut Jack.


Jack berpikir untuk tidak tidur saja, tetapi menghilangkan pikiran itu karena dia juga butuh istirahat untuk aktivitas nanti pagi.


"Mungkin tidur di atas tanah tidaklah buruk..."


Kemudian Jack menggangguk, menyetujui idenya itu. Dia belum pernah tidur di atas tanah, sehingga ide itu sedikit menarik bagi Jack. Jack mengambil beberapa kain untuk alas tidurnya untuk mempersiapkan dia tidur. Dia tak mau kotor ketika dia tidur di atas lantai tanah.


Setelah selesai mempersiapkannya, Jack tidak segera tidur. dia belum mengantuk sehingga hanya duduk menunggu dia sendiri mengantuk sambil memikirkan untuk ke depannya bagaimana.


"Ugh, Ah!!!"


Ketika Jack melamun, suara erangan wanita terdengar di atas kasur dan Jack langsung bergegas ke kasurnya itu. Jack melihat, bahwa Si Wanita itu mulai tersadar dalam tidurnya.


Jack heran, mengapa Wanita itu sadar begitu cepat dalam waktu semalam diobati. Tetapi, dia mengerti, mana yang perlu diprioritaskan.


"A-Aku...di-dimana...?" Sang Wanita itu bertanya ketika melihat langit-langit rumah yang menurutnya berbeda dari sebelumnya. Wajah Jack muncul di pandangan wanita itu dan menjawab pertanyaannya.


"Kau mulai sadar!" Jack tersenyum. "Kau berada di rumahku. Di pinggir kota Jo—" Sebelum Jack menyelesaikan kata-katanya, wanita itu terkejut dan reflek memukul Jack. Jack terjatuh setelah menerima pukulan itu dengan punggung jatuh pertama kali.


"Auw!!!" Wanita itu berteriak kesakitan setelah memukul Jack. Jack melihat di bagian bawah bajunya ada cairan merah yang terus keluar. Jack panik, luka di perut wanita itu kembali terbuka lagi karena melakukan gerakan tadi.


"Kau jangan melakukan gerakan yang terlalu keras! Lukamu kembali terbuka lagi!" peringat Jack.

__ADS_1


Jack mendekati wanita itu dengan terburu-buru sampai-sampai terjatuh berkali-kali. Wanita itu kemudian membuka bajunya serta perban dimana di perutnya ada luka menganga lebar yang terus mengeluarkan darah.


"[Minor Heal]!!!!" Kata wanita itu sambil menggerakkan jari kirinya dari atas ke bawah, layaknya menggambar garis vertikal. Dan tiba-tiba, munculah garis vertikal sungguhan yang berwarna hijau di bekas wanita itu menggerakan jarinya. Kemudian garis vertikal hijau itu menyatu dengan jarinya lalu disentuhkan ke bagian luka di perutnya dan ajaibnya luka itu mulai tertutup yang akhirnya tertutup sempurna.


Semua hal ajaib itu dilihat oleh Jack dan membuatnya tercengang. Dia melihat dari munculnya garis yang bercahaya hijau di udara kosong. Lalu dengan satu sentuhan, luka lebar langsung disembuhkan dalam waktu instan.


"Apa itu tadi?" Jack bertanya-tanya dalam hatinya.


Setelah menyembuhkan lukanya, wanita itu bernafas lega. Tetapi ketika sadar dilihat oleh Jack, dia kembali terkejut dan menjadi sedikit panik. Dia seperti orang yang merahasiakan sesuatu tetapi rahasianya langsung terbongkar.


"Ah, uh, Hah..." Wanita itu menjadi gugup dengan singkatnya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jack dan mendekat. Dia sudah melupakan pukulan yang diberikan wanita itu


"A-apa kau m-m-melihat-nya?" Wanita itu bertanya dengan gugup.


"Garis berwarna hijau itu? Yah, aku melihatnya."


"Ah, sial sekali!"


"Aku terlalu panik sampai-sampai menggunakan sihir di depan orang luar. Aku benar-benar ceroboh," gumam wanita itu yang terlihat frustasi. Namun, gumam wanita itu terdengar oleh Jack.


"Ada apa?" Jack bertanya tanpa memperdulikan gumam wanita itu.


"Bukan apa-apa!" Sergah wanita itu. "Bisakah kau melupakan kejadian hari ini dan tak membicarakan hal ini kepada orang lain?"


Ekspresi wanita itu begitu serius, membuat Jack tak bisa berkata-kata lagi. Dia lebih seperti mengintimidasi daripada serius.


"Aku tak mungkin melupakannya. Tetapi aku tak akan membicarakan orang ini kepada orang lain."


Wanita itu cemberut ketika Jack mengucapkan kalimat pertama, tetapi menjadi tersenyum pada kalimat selanjutnya.


"Ok, kau harus menepati janjimu. Sekarang, aku harus pergi!" Wanita itu terlihat ingin beranjak pergi.


"Tunggu, mengapa kau pergi?" Jack menahan wanita itu dengan memegang tangannya. "Lukamu masih belum pulih. Meskipun kau sudah menutup lukanya dengan hal mistis tadi, tapi itu belum pulih total. Tinggalah di sini, setidaknya sampai pagi menjelang."


"Aku saat ini dalam bahaya dan aku tak ingin melibatkan orang lain!"

__ADS_1


"Bahaya?"


"Aku tak ada waktu untuk menjelaskannya. Aku harus pergi secepatnya!"


Kemudian wanita ingin berjalan pergi, tetapi Jack masih bersikeras menahan wanita itu.


"Lepaskan aku!" Ekspresi wanita itu menjadi dingin.


"Aku tidak tahu, bahaya apa yang kau hadapi. Tetapi lebih aman jika kau menetap di sini, sampai bahaya itu hilang." Jelas Jack.


"Justru lebih berbahaya jika aku menetap di sini dan lagipula percuma menunggu sampai bahaya itu hilang. Bahaya itu tidak akan pernah hilang untuk selamanya dan akan terus memburu."


"!"


Secara tiba-tiba, Jack tersentak kejut dan reflek memeluk dirinya lalu menatap belakang. Dia merasakan angin dingin yang secara tiba-tiba datang dan hatinya merasa gelisah setelahnya.


"Perasaan gila apa ini?" Tanya Jack sambil melihat pintu rumahnya. Angin itu berasal dari luar rumahnya.


"Mereka datang..." Wanita itu kemudian memasang wajah seriusnya, seperti ada perang yang harus dilewatinya.


"Mereka? Siapa mereka?" Jack bertanya.


"Mereka bernama KuroKaze, iblis-iblis yang ingin membunuhku." Jawab wanita itu.


"Dimana jubahku? Hei, kau dimana jubahku?!" Wanita itu panik mencari jubahnya.


"Jubah? Oh, ini dia!" Jack kemudian melempar jubah itu dan ditangkap oleh wanita itu.


"[Release]!" Di jubah itu, wanita itu seperti menarik sesuatu dengan tangan kanannya. Ketika Jack menelitinya, wanita itu sedang menarik sesuatu di atas sebuah pola yang aneh. Dan dengan ajaib, muncul sebuah pisau dengan panjang 30 cm di tangan kanannya.


Jack kembali terkejut dengan hal yang ajaib dari wanita itu lagi. Tetapi kembali fokus ketika seseorang muncul diambang pintu.


"Itu...Itu yang memburumu." Tanya Jack kepada wanita itu yang dibalas anggukan.


Jack kemudian merinding melihat mahkluk aneh yang di ambang pintu rumahnya. Mahkluk itu berkulit hitam, hitam layaknya malam. Badannya masih seperti manusia normal, tetapi dia tak punya hidung, tak punya mata, tak punya rambut-rambut di wajahnya, dan berkepala botak. Yang ada hanyalah sebuah mulut dengan gigi-gigi tajam, seperti piranha di sungai amazon.


Jack tidak tahu mahkluk apa itu dan untuk pertama kali selama 5 tahun ini, Jack merasakan kembali namanya ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2