
Pada malam harinya, Jack memberitahu Dian tentang pelajaran sihir di sore hari bersama temannya Jack, Mary. Hal itu membuat senang Dian.
"Yes! Kita sudah selangkah menyelamatkan dunia."
Jack tersenyum mendengar seruan dari Dian.
"Ehm, kita memang selangkah menyelamatkan dunia. Ini seperti yang kau katakan pada malam kemarin."
Dian mengangguk takzim.
"Aku sangat rindu dengan dunia kita dulu. Yah, hidup 3 bulan di dunia antah berantah ini membuatku rindu. Rindu dengan bawahanku, mobilku, gadgetku, dan aktivitas-aktivitas di dunia kita. Aku sangat ingin kembali seperti semula, itu yang kuinginkan ketika masuk ke akademi Rakuen."
"Walau begitu, jalan kita masih panjang. Kita harus bisa mendapatkan kekuatan untuk membuat dunia kembali sediakala, dan itu mungkin mengambil waktu berpuluh-puluh tahun."
Di kamar mereka berdua, Dian menjatuhkan dirinya ke kasur miliknya sendiri sedangkan Jack masih membaca buku tentang klasifikasi hewan magis yang menarik hatinya.
"Hei, Jack. Apa kau sudah menemukan tujuan masuk ke akademi Rakuen? Kau dari kemarin malam tak mengatakan alasan apapun."
"Aku masih belum tahu. Di dunia kita dulu, aku adalah pemulung dan tak punya apa-apa untuk diperjuangkan atau apapun itu di sana."
Dian menunduk dan murung ketika mendengar sedikit cerita dari Jack. Dia sudah tahu latar belakang Jack sebagai pemulung dan itu membuatnya sedih.
"Hei, Jack. Bagaimana jika dunia sudah kembali, kau masuk ke perusahaanku saja? Aku bisa mengajukanmu menjadi sekretaris dari perusahaanku."
Jack kemudian tertawa.
"Entah apa yang terlintas di pikiran orang-orang pintar dan berbakat ketika mendengar seorang pemulung buruk rupa baru masuk perusahaan langsung jadi sekretaris. Mungkin mereka akan membuat video kritikan ke perusahaan dengan bermaskeran tinja."
Dian menaikkan alisnya sebelah. Dia bingung dengan apa yang dikatakan Jack tentang orang bermaskeran tinja.
"Mungkin itu bisa menjadi tujuanku sebagai penyelamat dunia...." Kemudian Jack melanjutkan kata-katanya dengan menatap buku klasifikasi lalu menutupnya.
"Kita harus segera istirahat. Besok ada pekerjaan dan latihan yang harus dilakukan." Kata Jack.
"Baik!"
Setelah mempersiapkan tempat tidur, mereka kemudian merebahkan diri dan tertidur.
***
Keesokan harinya,
Jack dan Dian pergi ke sebuah hutan dimana Mary berjanji bertemu dengan mereka. Langit sudah menjingga dan matahari sudah mulai condong ke barat. Kemarin Jack meminta Mary untuk mengajar mereka pada waktu seperti ini, dimana Jack dan Dian pulang kerja dan Mary punya banyak waktu luang.
__ADS_1
"Hei, Jack. Bagaimana rupa dari pengajar kita?"
"Dari tadi pagi kau bertanya seperti itu terus. Kau akan tahu nanti."
Dian menjadi cemberut ketika temannya tak mau spoiler wajah dari pengajar mereka.
Mereka terus berjalan di hutan itu, tanpa adanya rasa takut dengan binatang buas di sana. Di hutan tempat mereka belajar sangat dekat dengan rumah penduduk, membuat keyakinan bahwa bagian hutan tersebut tidak ada binatang buas. Mereka terus berjalan di hutan itu, sampai di sebuah air terjun di tengah hutan.
Air terjun itu berada tepat di tebing berbatu yang terjal. Suara air terjun yang berisik justru menenangkan hati pendengarnya. Selain itu juga, ada sepercik pelangi kecil yang berasal dari air terjun itu sehingga menambah nilai estetika.
"Air terjun! Indah sekali..." Seru Dian.
Jack mengangguk tentang seruan dari Dian.
"Hei, Jack. Bagaimana jika kita berenang dahulu? Aku sudah sangat lelah bekerja dan butuh mandi seperti ini."
"Tidak, kita harus menunggu teman pengajarku terlebih dahulu."
"Ayolah, kita mandi sambil menunggu dia..."
"Tidak!"
Jack bersikukuh untuk tidak menceburkan diri ke sungai di bawah air terjun itu. Mereka harus menunggu Mary yang belum datang ke tempat ini.
Ketika Jack masih menahan Dian, tiba-tiba suara gadis terdengar ke arah belakang. Jack menengok dan tersenyum ketika orang yang ditunggu sudah datang. Dia adalah Mary.
"Akhirnya datang juga..."
Kemudian Mary melangkah ke tempat mereka berdua. Lalu mengenalkan diri kepada Dian yang baru Mary kenal.
"Wah, gadis cantik. Jadi wanita ini guru kita, Jack?" Seru Dian.
"Iya, dan juga dia seumuran denganmu."
Dian langsung girang ketika mengetahui usia dari Mary. Usia Dian adalah 22 tahun, usia yang siap untuk menikah tetapi Dian mengaku kalau dia belum punya pacar untuk dinikahi alias Jomblo. Itu adalah kesempatannya untuk mengambil hati si Mary.
"Oi, ada apa dengan temanmu itu? Dan juga memangnya kau tahu usia asliku?"
"Tahu, sekitar 20-an. Untuk caranya, hanya menganalisis sedikit dengan beberapa sampel. Yah, itu tak terlalu penting. Dan untuk Dian, dia memang jomblo kesepian stadium akhir."
"Oh, temanmu sungguh kasian..."
Kemudian Jack dan Mary tertawa bersama, meneertawakan Dian yang marah-marah kepada Jack.
__ADS_1
Setelah kedatangannya, Mary mengajak Dian dan Jack ke sebuah tempat. Tempat itu adalah sebuah pohon dengan batang dipenuhi lumut hijau, tetapi bagian bawahnya tetap kering.
Mereka semua duduk di bawah pohon itu dan memulai pelajaran di sana.
"Baiklah, ini pertemuan pertama kita untuk belajar sihir dasar. Mungkin kita akan mulai teori dasar terlebih dahulu."
"Teori? Kami sudah menghafal semua teori dasar tentang sihir?" Ucap Dian dengan sombongnya.
"Oh, begitu. Lantas bisakah kau jelaskan apa itu sihir, jaringan magis, titik medirian, mana, spasial mana, dan formation System?"
Kemudian Dian tertawa dan berkata, "Oh kalau itu sih mudah, sihir adalah sebuah teknik mistik yang berpegang prinsip melawan hukum alam dengan mengolah mana.
Jaringan magis adalah tempat penyaluran mana dari spasial mana ke titik medirian dalam proses membuat sihir.
Titik medirian adalah gerbang tubuh yang digunakan keluar masuknya mana dalam tubuh dan tempat untuk merealisasikan sihir.
Mana adalah energi yang digunakan untuk merealisasikan sihir dan bersatuan Cells serta berpusat di spasial mana.
Spasial mana adalah nama dari penyimpanan cadangan mana yang selalu diproduksi tubuh dan berada di jantung dan sumsum tulang belakang.
Kemudian terakhir, Formation system adalah bentuk-bentuk formasi dalam sihir dalam bentuk bangun datar. Seperti Zero atau point, Line, Triangle, Square, pentagram, hexagram, heptagram, dan octagram yang semakin tinggi sudutnya semakin tinggi sihir yang dihasilkan."
Dian telah menjelaskan secara penuh pengertian dari keenam pertanyaan dari Mary.
"Oh, kemudian. Kau tahu bagaimana cara melatih keenam itu semua?" Mary menyeringai.
Dian lalu mati kutu dan tak bisa menjelaskan apa-apa. Dia hanya belajar pengertian keenam dasar itu dan tak belajar apa-apa selain itu. Dan dia hanya duduk sambil menggaruk kepalanya tak gatal. Melihatnya, Jack tak bisa apa-apa sambil menahan tawanya.
"Jack, bisa kau jelaskan latihan untuk memperkuat keenam hal itu?" Kemudian Mary menunjuk Jack sebagai gantinya. Tetapi Jack membalas gelengan.
"Aku juga tak tahu tentang itu, guru. Bisakah kau jelaskan lebih lanjut keenam hal itu, Guru Mary?"
"Ehm, dari cara kau memanggil, kau seperti mengejekku. Baiklah aku akan menjelaskannya kepada kalian, murid-muridku!"
Kemudian Mary mengeluarkan sebuah buku yang berjudul "tutorial sihir untuk gorila" dan dua buah gasing yang tak tahu cara kegunaannya.
"Dalam hal pertama untuk menjadi penyihir, kalian harus bisa merasakan mana dari tubuh. Dan untuk merasakan mana sendiri, kalian harus bermeditasi untuk merasakan mana itu sendiri. Tempat ini sungguh cocok untuk mencari ketenangan, karena itulah aku memilih pelajaran pertama kita di sini."
Kemudian Mary membuka buku dengan judul yang aneh itu. Jack tahu jika nama judul dari buku itu termasuk strategi pemasaran, tetapi masih saja terasa bahwa mereka berdua itu gorila yang tak berotak. Mary kemudian menginstruksi meditasi yang sesuai standar Dracvale dan mereka berdua pun melakukan hal yang diinstruksikan.
"Dalam tahap pertama, kalian akan berada di sebuah kegelapan. Namun lambat laun, kalian akan merasakan sebuah titik di titik kegelapan. Itu adalah mana kalian dan cobalah untuk mendekatinya sampai titik itu menjadi banyak lalu kalian coba untuk menariknya...."
Kemudian Jack dan Dian duduk bersila di bawah pohon itu. Kemudian mereka berdua menarik nafas dalam-dalam dan menutup mata mereka bersama-sama. Mereka memulai meditasi mereka untuk mencari mana mereka di dalam tubuh.
__ADS_1
Mary kemudian tersenyum dan duduk di dekat mereka agar bisa mudah membangun mereka jika hari sudah malam. Namun ketika dia baru saja duduk, Jack langsung menggerang kesakitan. Mary terkejut dengan hal itu dan dia segera berada di samping Jack.