Frost Heart

Frost Heart
Cerita Dian


__ADS_3

Namaku Dian Prakoso, pemuda 25 tahun yang tak berpendidikan tinggi, tapi berkeinginan tinggi. Hidupku dulu tak begitu mudah dan orang tuaku bukanlah keluarga yang berada. Aku harus kerja memenuhi kebutuhan hidupku dan membantu orang tua yang kerja serabutan pada usia 10 tahun. Waktu itu, tubuhku terlalu kurus dan kurang bertenaga dari anak-anak dan tak banyak hal yang bisa kulakukan. Tetapi untuk apa aku seorang lelaki, tapi selalu tunduk dengan keputusasaan. Aku selalu maju dengan tubuh kurusku itu dan selalu mencari cara agar bisa mendapatkan uang dengan fisik lemah itu. Aku mencoba banyak cara, seperti mengesol sepatu, menjual koran, menjual tiket bus, dan pengamen. Tapi hingga akhirnya aku menemukan pasion yang kusenangi. Yaitu, membuat camilan jajanan dan menjualnya.


Karena aku anak kurang gizi, makanya aku sering kelaparan dan memakan jajanan adalah salah satu aktivitas yang kusukai sekaligus memenuhi kebutuhanku itu. Karena ekonomi keluargaku yang kecil, aku tak bisa jajan dengan bebas seperti anak-anak lain. Untuk mengatasinya, aku sering mencari belalang di lapangan desaku. Aku menangkap belalang itu dengan bermodalkan pelepah kelapa. Aku akan memukul-mukul rumput di lapangan, dan membuat para belalang akan mudah ditangkap. Aku sangat senang dengan hujan bahkan hujan adalah hal kedua yang kusenangi setelah jajan, karena para belalang akan lebih mudah ditangkap dan gemuk. Aku akan memotongi kepala mereka dan langsung menggorengnya di dapurku. Aku harus berhati-hati ketika menggoreng belalang itu. Karena jika ketahuan oleh ibuku, aku akan terkena semprot oleh ibuku sampai berjam-jam.


Aku akan tertawa ketika mengingat kejadian itu, ibu akan menceramahi diriku bisa membahas kemana-mana. Misalnya menceritakan kehidupan kita yang serba kekurangan, menceritakan ayah yang tak berkompeten, dan lain-lain. Oh yah, pada saat itu ibuku membenci ayah yang mengganggap tak berkompeten mencari nafkah, dan aku juga aku membenci ayahku saat itu dengan alasan sama akibat doktrin ibuku. Tetapi kelak setelah dewasa, aku menyadari bahwa mencari nafkah itu tak semudah dibayangan.


Dari sejak itu, aku belajar cara membuat jajanan camilan dari beberapa riset dan latihan secara ototidak. Kemudian aku mencoba berjualan di sekolahku, sampai lulus sekolah lanjutan. Ternyata memang laris manis berjualan camilan di sekolah dan camilan buatanku menjadi hal favorit dari teman-temanku. Pada saat jualan di sekolah lanjutan, aku sering dipanggil Mang Cemil oleh teman-temanku. Aku tak masalah dengan nama panggil itu, yang penting aku bisa mendapatkan apa kuinginkan.


Aku bersekolah di sekolah dasar desaku. ketika naik ke jenjang lebih tinggi, aku pindah ke kota lain dimana ada sekolah pilihan dan berprestasi yang sesuai dengan keinginan orang tuaku. Walaupun keluargaku berekonomi rendah, tapi mereka memaksaku untuk bersekolah, hingga akhirnya aku lulus ke sekolah lanjutan itu. Tapi setelah itu, aku tak lanjut untuk kuliah. Biarpun orang tuaku memaksa diriku untuk lanjut, tetapi aku tak tahan lagi melihat menderita lagi. Aku langsung mencari pekerjaan dengan ijazah SMA-ku dan di situlah aku baru merasakan susahnya mencari pekerjaan.

__ADS_1


Dengan ijazah SMA ini, aku tak bisa berbuat banyak dan banyak pekerjaan tak bisa dimasuki, karena dibutuhkan persyaratan khusus. Di dunia ini, selalu terjadi banyak perubahan dengan cepat dan meluas. Kebutuhan orang-orang semakin tinggi, sehingga pemenuhannya juga harus semakin tinggi. Mereka para pemenuh kebutuhan harus memenuhi kepuasan orang-orang yang sudah meninggi, sehingga salah satunya membuat syarat tinggi pada rekrutan tenaga kerjanya.


Mereka para lulusan sarjana akan lebih diterima oleh lapangan kerja daripada mereka para yang lulusan sekolah lanjutan, seperti diriku. Mereka lebih baik dan berkompeten daripada mereka para lulusan sekolah lanjutan. Padahal apa yang menentukan, adalah karakter dari tenaga kerjanya. Seandainya jika ada pembanding, seorang lulusan SMA yang berkarakter dan berbudi pekerti lebih baik daripada 100 lulusan sarjana yang sombong dan tak berkarakter.


Tapi, apalah daya. Sifat dunia sekarang adalah berubah-ubah begitu sangat cepat. Mereka para penyedia pekerjaan tak akan punya waktu untuk menilai karakter secara penuh dan nilai hati mereka. Mereka membutuhkan SDM terbaik secepatnya yang berarti pilihannya berada di para sarjana.


Aku saat itu luntang-lantung berkeliling kota untuk mencari pekerjaan. Namun, yang kudapatkan adalah pekerjaan serabutan, seperti kuli bangunan. Ini mengingatkanku pada ayahku yang bekerja sebagai serabutan dan merasakan penderitaannya seperti apa. Aku disuruh-suruh seperti budak, bekerja keras, tetapi aku tak mendapatkan bayaran yang memuaskan.


Banyak hal yang menghalang rintang dalam menjalankan usahaku itu dan baru 2 tahun, usahaku baru bisa berkembang. Ingat baru berkembang, bukan sudah berkembang. Aku sangat begitu kesusahan untuk mengurus usahaku sendiri, dan sangat salut dengan para wirausahawan yang membuat lapangan kerja sukses. Entah seberapa besar yang mereka korbankan untuk membuat lapangan pekerjaan seperti ini.

__ADS_1


Tapi meskipun diriku lelah, aku senang bisa melakukan hal yang kusukai. Sekarang aku membuat sebuah lapangan pekerjaan baru dibidang cidera mata dan parcel. Ketika aku merayakan diriku yang bisa membuat prestasi seperti itu, masalah pun terjadi.


Suatu hari, aku didatangi oleh rentenir yang kupinjamkan uangnya. Dia menagih karena masa pinjamku sudah habis. Aku menyuruhnya untuk menunggu 3 hari lagi untuk melunasi hutangku kepadanya. Dia pun tak terima dan mengambil paksa barang-barang yang ada di tempat usahaku. Setelah itu, dia berkata bahwa akan kembali dalam waktu tiga hari untuk mengambil hutangnya.


Ini membuat diriku sangat stress, Apalagi pada keesokan harinya tidak ada barang dagangan. Ketika aku sedang berada di ruanganku di tempat usahaku, ada seseorang yang mengetuk pintu kantorku.


"Hei, Dian. Ini aku Frans..." Ucap orang yang mengetuk pintu kantorku.


"Frans? Oh, masuk saja. Pintunya tak terkunci."

__ADS_1


Aku begitu terkejut siapa yang mengetuk pintu kantorku. Dia adalah Frans dan merupakan teman baikku. Dia mendirikan bengkel kecil, tetapi dengan kelihaiannya bisa membuatnya menjadi sukses besar. Sekarang dia sudah memiliki banyak bengkel-bengkel cabang dan menjadi orang terkaya se-kota. Aku terkejut, karena kukira temanku itu akan lupa diri dengan diriku setelah sukses dan tak akan pernah mengunjungi diriku yang miskin ini.


Setelah mempersilahkan duduk, kami bercerita banyak hal sampai-sampai. Maklum, kami tak bertemu pada waktu yang lama. Kami ini para wirausahawan yang masih mengembangkan karir.


__ADS_2