Frost Heart

Frost Heart
Pelatihan part 2


__ADS_3

Di tengah meditasi itu, Jack dan Dian berada di sebuah kegelapan tanpa batas dan tanpa cahaya sekalipun. Tempat itu adalah bagian dari diri mereka sendiri yang kosong dengan energi sihir. Mereka di sana sendirian, merasakan juga perasaan dingin di sana.


Jack kemudian membuka matanya dan memperhatikan kegelapan yang ada di sekitarnya. Dia merasa bahwa familiar dengan tempat ini, seperti pernah di sini sebelumnya. Ketika mencoba mengingat kejadian yang lalu, badan Jack merasakan sebuah hembusan angin dingin dari depannya. Sehingga fokus Jack menjadi ke arah depan, dimana ada sebuah titik cahaya berwarna biru. Titik itu begitu mencolok di tengah kegelapan itu, sehingga mudah untuk dikenali.


"Itu....adalah...manaku."


Jack terpana untuk beberapa saat ketika melihat titik itu. Itu adalah sedikitnya mana dari Jack. Perasaan ketika melihat titik itu adalah dingin dan hampa. Tidak ada kehangatan di dalamnya, hanya 2 hal itu yang dirasakan oleh Jack.


Jack ingat instruksi dari Mary, dimana Jack harus mendekati titik-titik cahaya itu sampai ke pusatnya ketika sudah menemukannya. Jack langsung mengikuti instruksi dari Mary.


Perlahan tapi pasti, Jack terus mendekati titik-titik cahaya itu. Tidak ada hambatan sama sekali ketika mendekatinya, hingga sebuah kejadian pun terjadi.


ZATT!!!!


"Ah!!!" Jack termundur ketika dihalangi oleh sesuatu yang tak diketahui.


Jack tidak tahu apa itu. Tapi Jack merasakan seperti disambar oleh listrik ketika mendekati titik cahaya itu.


"Apa yang terjadi?" Jack bertanya-tanya.


Jack kemudian mencoba untuk mengulurkan tangannya ke depan dan di saat itulah, dia tersambar listrik ratusan volt dari asal yang tak diketahui. Jack berteriak kesakitan ketika listrik-listrik itu menyambar tubuhnya. Sakitnya sungguh hebat, hingga memaksa Jack kembali ke dunia nyata.


"Ugh!!!" Jack menggerang kesakitan sambil menggeliat di tanah.


"Kau tidak apa-apa?" Mary langsung memeriksa tubuh Jack.


Butuh waktu Jack untuk tenang dari rasa sakitnya dan di saat tenang itulah Mary bertanya.


"Kau kenapa menggerang kesakitan tadi?"


Jack menghembuskan nafasnya dan menenangkan pikirannya. Jack melihat temannya, Dian yang tenang dalam meditasinya.


"Hei, Mary. Apakah proses merasakan mana harus disambar listrik beberapa ratus volt?"


Mary mengerutkan dahinya. Dia nampak bingung dengan pertanyaan dari Jack yang aneh.


"Seharusnya tidak ada hal aneh ketika proses merasakan mana berlangsung. Justru kau akan migrain karena begitu sulitnya menemukan titik-titik manamu sendiri."


"Mary, tahu tidak? Aku sudah menemukan titik-titik itu."


Ketika Jack memberitahu apa yang terjadi, Mary membelalakkan matanya dan menutup mulut dengan tangannya. Dia sangat terkejut dengan pengakuan dari Jack.


"Benarkah?! Kau tak bercanda, kan?! Merasakan mana itu bisa menghabiskan seminggu! Itu pun jika kau termasuk anak jenius dalam sihir. Itu tak mungkin..." Seru Mary sambil menggeleng, berharap hal itu tak mungkin terjadi.


"Tapi kenyataannya, aku sudah menemukan titik-titik itu. Tetapi ada yang seperti menghalangiku untuk mendekati cahaya itu. Dan halangannya tak main-main kuatnya, sebuah listrik beberapa volt yang menyiksa."


Mary yang tak percaya kemudian menyentuh dahi dari Jack. Itu adalah cara untuk memeriksa adakah mana atau tidak dalam tubuh yang disentuh. Dia sungguh terkejut setelah memeriksa tubuh Jack dimana di dalamnya ada bercak mana sihir dengan jumlah sedikit.


Dia selangkah lagi untuk mendapatkan mananya sendiri, tetapi Jack mengatakan bahwa tak bisa mendekati titik-titik mananya karena terhalangi sesuatu.

__ADS_1


"Kasusmu itu sungguh belum pernah aku dengar. Kau termasuk berbakat, tetapi kau berkata ada halangan untuk mengeluarkan potensi bakatmu. Kau lebih baik kembali mencobanya beberapa kali dan siapa tahu kau berhasil mendekati cahaya itu.


Jack mengangguk dan melakukan meditasinya sekali lagi. Dan beberapa menit kemudian, dia kembali menggerang kesakitan dan menggeliat di tanah. Kejadian itu terulang kembali.


"Sial, sakit sekali." Umpat Jack, sedangkan Mary mengerutkan dahinya.


"Apa benar tidak ada gejala ketika latihan merasakan mana?" Dengan posisi tidur, Jack bertanya kepada Mary.


"Kau tidak main-main, kan? Tidak ada namanya sakit sama sekali ketika latihan merasakan mana. Apa sebenarnya kau berbohong?"


Jack kemudian bangun dari posisi tidurnya dengan wajah menahan sakit.


"Aku mengatakan apa adanya. Listrik itu menggangguku untuk mendekati titik manaku sendiri. Seperti bahwa aku dilarang dalam tubuhku untuk merasakan manaku sendiri."


Mary menghela nafas. Dia benar-benar bingung dengan keanehan dari diri Jack.


"Aku tak pernah mendengar ada seseorang yang merasakan sakit ketika merasakan mananya sendiri. Jika ada, mungkin dia hanya bercanda."


"Aku berkata apa adanya!" Jack menekankan bahwa dia tak bercanda.


"Aku percaya kau tak berbohong. Terlihat dari wajah stresmu..."


Mary pun memikirkan solusi yang tepat untuk masalah Jack. Sedangkan Jack kembali menatap temannya yang begitu tenang dalam meditasinya, seperti air seni yang mengalir. Jack sedikit penasaran dengan apa yang terjadi di dalam meditasinya itu. Apakah sama dengan dirinya atau berbeda?


"Aku akan menanyakan kepada guru-guruku. Mungkin mereka mengetahui tentang masalahmu."


Mary mengambil keputusan untuk bertanya kepada guru-gurunya di akademi dulu.


***


Beberapa saat kemudian,


"Hah...." Dian menghembuskan nafasnya ketika dia membuka matanya dan mengakhiri meditasinya.


"Sungguh tidak mudah menemukan titik-titik mana sendiri..." Gumam Dian.


Dian tak kecewa dengan hasilnya karena sudah diberitahu oleh Mary bahwa merasakan mana mengambil waktu 2 sampai 3 minggu dan untuk orang jenius dalam sihir, hanya dibutuhkan waktu seminggu untuk merasakannya.


"Selamat datang kembali, Dian..."


Suara sapaan terdengar di samping kanan Dian. Dian langsung menengok ke kanan dan melihat Jack sedang duduk di akar pohon yang menonjol dari tanahnya.


"Oh, hai Jack. Kau sudah sadar?"


"Aku sudah lama sadar. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu ketika berada di kegelapan itu?"


Tanpa basa-basi, Jack langsung bertanya keadaan Dian ketika bermeditasi.


"Ehm, di sana terasa gelap dan dingin. Aku disana merasa stres karena berkeliling di tengah kegelapan itu dan tak menemukan titik-titik itu. Kegelapan itu membuatku gila..."

__ADS_1


Dian mengacak-acak rambut, seperti tertekan dengan sesuatu yang buruk.


"Jadi, mengapa kau bertanya seperti itu?"


Jack kemudian menjelaskan keadaan dirinya yang sudah menemukan titik itu, tetapi terhalang oleh listrik laknat yang tak jelas asalnya dan menyerang Jack secara brutal.


"Eh! Kau sudah menemukan titik-titik manamu sendiri, tetapi terhalang listrik yang sepertinya tak membiarkan dirimu mendekati titik-titik cahaya itu?"


Jack mengangguk.


"Sialan kau Jack! Kau benar-benar berbakat..." Dian kemudian merangkul Jack sambil tertawa.


"Ah, aku tetap tak bisa mendekati titik manaku sendiri, karena halangan listrik itu."


"Tapi kau sudah menemukan titik-titik manamu sendiri. Lihat diriku, aku tak yakin apakah aku memiliki titik-titik mana sendiri atau tidak?"


Kemudian Dian melepaskan rangkulannya dari Jack dan menatap ke sekeliling, seperti mencari sesuatu.


"Dimana guru cantik itu?"


"Dia sedang mencuci muka di sungai. Ah, dia sudah kembali..." Ketika Jack berucap, Mary datang dari arah sungai.


Mary langsung menatap Dian yang baru bangun dari meditasinya.


"Oh, kau baru sadar, yah?"


"Ya, barusan..." Jawab Jack dengan cengingisan.


"Baiklah, dengan bangunnya Dian berarti kita akan mengakhiri pelajaran kita tentang sihir. Lagipula hari juga mau malam."


Mary mengakhiri pelajaran sihirnya dan melihat sekitar dimana hari sudah mau gelap. Jack dan Dian berdiri dan akan pergi ke rumah mereka, tetapi ditahan oleh Mary.


"Sebelum kalian pulang, aku ingin memberitahukan sesuatu tentang masuk ke akademi Rakuen..."


Karena Jack dan Dian ingin masuk ke akademi Rakuen, jadi mereka tertarik dengan apa yang akan dikatakan oleh Mary dan tinggal di hutan sana untuk beberapa saat.


"Aku ingat untuk masuk ke akademi Rakuen, dibutuhkan biaya administrasi dan harus ada dokumen-dokumen penting. Salah satu dokumen penting itu adalah sertifikat kelulusan sihir dasar. Itu pasti tidak kalian miliki, kan?"


Jack dan Dian mengangguk bersamaan.


"Sertifikat kelulusan sihir dasar didapatkan dari Sekolah Dasar Sihir dan hal itu sudah tidak mungkin bagi kalian, karena sebenarnya sekolah dasar sihir diperuntukan untuk anak-anak diantara 10 sampai 12 tahun dan belajar 3 tahun untuk mendapatkan sertifikat kelulusan itu."


"Jadi, intinya adalah kami tak mungkin masuk ke akademi Rakuen itu tanpa sertifikat kelulusan, kah?" Jack mulai maksud dengan arah pembicaraan Mary.


"Benar, Itu sudah tak mungkin." Ucap Mary sambil menatap reaksi Dian dan Jack.


Reaksi Dian dan Jack adalah lesu ketika mendengar fakta itu. Melihat hal itu, Mary pun tersenyum dan berkata, "Untuk mendapatkan sertifikat dari Sekolah Dasar Sihir adalah hal yang tidak mungkin. Tetapi sebenarnya ada cara lain untuk mendapatkan sertifikat itu tanpa masuk Sekolah Dasar Sihir."


""Benarkah?!"" Jack dan Dian kembali senang ketika mendengar hal itu.

__ADS_1


"Benar, dan cara itu adalah kalian harus mengikuti sebuah program belajar yang dibuat oleh pemerintah. Nama program belajar itu adalah Smart Dracvale Program atau disingkat SDP. Itu adalah program diperuntukan untuk orang-orang berumur yang tak sempat masuk sekolah dan berkeinginan untuk mendapatkan sertifikat kelulusan itu. Itu adalah kesempatan kalian untuk mendapatkan sertifikat itu, dan juga program itu akan dilaksanakan di bulan ini."


"Baiklah, itu tak akan jadi masalah..." Kata Jack dengan tersenyum.


__ADS_2