
Jack dan Dian pulang dari latihan mereka ketika matahari hampir tenggelam. Mereka berjalan di jalanan yang cukup ramai dari pemburu-pemburu yang juga pulang dari Dungeon Lover. Para pemburu-pemburu itu biasanya mampir ke bar malam sebelum ke penginapan mereka, tak seperti pekerja biasa. Biasanya mereka mampir-mampir seperti itu untuk pertemuan antar anggota partai dan menceritakan pengalaman mereka di pemburuan mereka buat informasi.
Sedikit penjelasan, Partai adalah nama lain dari tim yang terdiri 2 pemburu atau lebih dengan tujuan untuk memaksimal pemburuan mereka. Biasanya partai ini jauh lebih unggul dan efisien melakukan pemburuan daripada pemburu yang melakukan pemburuan sendiri alias solo. Namun keuntungan pemburuannya pasti dibagi-bagi antar partai.
Jack dan Dian tidak akan mampir ke bar malam. Karena mereka berdua sama-sama tak suka alkohol dan kebisingan. Mereka akan segera tidur ketika sudah malam.
"Hei, Dian. Bagaimana ketika ke balai desa sekalian buat kartu identitas?"
Jack mulai membuka pembicaraan diantara mereka berdua. Mereka sebelumnya diberitahu oleh Mary bahwa mendaftar program SDP harus ke balai kota.
"Ehm, boleh. Tapi, memangnya untuk apa kartu identitas itu?"
"Kau tidak tahu, yah? Kegunaannya sama penting dengan KTP di tempat kita dulu."
"Benarkah?"
"Iya, kita sudah genap 3 bulan tinggal di sini, di tanah Dracvale. Sesuai peraturan dari suatu brosur yang pernah kubaca, itu adalah waktu untuk membuat kartu identitas sebagai tanda bahwa kita ini adalah penduduk kota Hedgeshade, bukan orang asing lagi."
"Menurutmu, apakah pembuatannya tak susah?"
"Ehm, di Brosur juga dijelaskan prosedur pembuatan kartu identitas. Mengisi data diri kita, memeriksa catatan kriminal kita, dan melakukan kontrak sihir dengan cara meneteskan darah ke bola kristal. Mungkin tak akan lama dan merepotkan."
"Baiklah, aku mungkin ngikut saja."
Kemudian di pinggir jalan, mereka melihat sebuah pentasan musik di jalanan. Mereka para pementas itu seperti para pengamen di jalanan kota-kota besar, tapi versi dunia lain. Mereka menggunakan alat-alat tradisional yang tak Jack dan Dian ketahui. Jack dan Dian tidak tertarik dengan pementasan musik dan mereka berlalu saja.
"Aku baru sadar dengan wajah lelahmu, Jack. Kau tidur jam berapa tadi malam?"
Dian menyadari ketika menengok ke para pementas, sekilas dia melihat kantung mata Jack yang cukup besar dan hitam. Jack nampak terkejut dengan perkataan Dian dan bertanya untuk memastikan.
"Apakah wajahku memang nampak lelah?"
"Sangat nampak bahwa kau itu kelelahan dan kurang tidur. Sebenarnya, jam berapa kau tidur?"
Di tanah Dracvale, sudah ada mengenal namanya jam. Jam di kota Hedgeshade adalah menara jam raksasa yang ada di selatan kota. Penginapan Jack dan Dian cukup dekat dengan jam raksasa itu, sehingga mereka selalu bangun ketika suara bel jam terdengar dan tahu waktu ketika malam tiba.
"Mungkin aku tidur sekitar jam 11 malam."
"Eh, larut sekali. Apakah itu terjadi setiap hari?"
"3 bulan ketika kita berada di sini."
"Aduh, kau harus memikirkan tubuhmu sendiri. Kau harus berhenti membaca buku di malam hari."
"Uh, apa hubungannya?"
"Karena bagimu, buku adalah hal yang adiktif, tidak baca buku, tidak ada rasa. Mengapa kau membaca buku ketika siang hari saja?"
"Siang hari aku kerja. Tidak ada waktu untuk membaca buku."
Dian menganggap bahwa buku adalah masalah tidur Jack. Tetapi, Sebenarnya dia hanya merasa terganggu ketika tidur karena Jack masih menyalakan lilin untuk membaca buku.
"Ah, masalah tidurku itu bukan karena tidurku yang terlalu larut. Sebelum aku ke sini, aku biasanya tidur sekitar jam 11 dan itu tak membuat aku lelah dan kantong mata menjadi besar."
"Lantas, apa yang membuatmu begitu kelelahan?"
__ADS_1
"Kualitas tidurku yang bermasalah. Aku selalu tidak bisa tidur nyenyak. Kadang sampai bangun di tengah tidurku dan tidak tidur lagi sampai pagi."
"Ehm, lalu apa penyebab dari itu semua?"
"Aku selalu dibayangi mimpi buruk ketika tidur dan itu terjadi selama 3 bulan ini."
"3 bulan?! Mengapa aku baru tahu tentang masalahmu ini? Ah, masalahmu ini benar-benar serius. Kau harus ke psikater untuk memeriksakan diri."
Jack menaikkan alisnya, "Memangnya di sini ada namanya psikater?"
Dian ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan di tenggorakan. Dia menyadari mereka berdua tak pernah mendengar ada psikater di sini.
"Tenang saja, masalah ini akan hilang dengan sendirinya. Aku sudah pernah merasakan ini sebelumnya..."
Jack kemudian menenangkan Dian, berharap kalau kekhawatiran Dian akan menguap.
Setelah beberapa menit melangkah di jalanan, mereka akhirnya sampai ke penginapan. Mereka kemudian mengambil peralatan mandi mereka, mandi, makan malam, dan tidur, mengistirahatkan diri untuk aktivitas keesokan hari.
***
Mereka berdua ke balai kota 2 hari kemudian. Mereka harus mendapatkan izin dari pemimpin mereka untuk absen sehari dari kerja mereka.
Balai kota terletak tak jauh dari pancuran "Bidadari Surga" dan sekitar 700 meter dari tempat kerja Jack.
"Kita sampai..." Ucap Jack ketika berada di sebuah gedung bertingkat 2. Dinding gedung itu terbuat dari beton, persis dengan rumah-rumah penduduk dengan sebuah gapura yang bertuliskan Town Hall. Itu adalah balai kota di kota Hedgeshade.
Jack menuntun Dian pergi ke balai kota. Jack lebih tahu tempat, karena setiap hari dia selalu pergi ke tempat ini untuk bekerja. Mereka kemudian masuk ke gedung balai kota yang agak ramai dari pengunjung. Mereka semua duduk di sebuah kursi panjang.
"Sekarang apa?" Dian menatap sekitar lalu menatap Jack.
Mereka kemudian pergi ke sebuah meja dengan tulisan Sign Holder "Recepsionist".
"Selamat pagi, tuan-tuan. Ada yang bisa dibantu?" Sang resepsionis bertanya dengan nada ramah, seperti menganggap tinggi mereka berdua. Mereka berdua tahu, sebenarnya itu hanya totalitas belaka.
"Kami ingin membuat kartu identitas dan mendaftarkan diri masuk ke program SDP." Tanpa basa-basi, Jack langsung mengucapkan tujuan mereka ke balai kota.
Kemudian sang resepsionis langsung menanyakan nama dan menulisnya ke buku pengunjung. Kemudian sang resepsionis menyuruh mereka untuk mengambil nomor urutan dan menunggu sampai nomor urutan dipanggil.
Butuh waktu yang cukup lama untuk menunggu nomor urutan Jack dan Dian dipanggil karena jumlah pengunjung hari ini cukup banyak. Hingga akhirnya mereka berdua dipanggil ketika matahari sudah di atas kepala.
Mereka kemudian berjalan ke ruangan yang ditunjuk oleh resepsionis. Di dalamnya, terdapat banyak bilik dan lebih sibuk daripada di luar ruangannya. Mereka di dalamnya adalah pegawai sipil pemerintah dan juga jika pintu bilik tertutup menunjukkan bahwa mereka sedang memberikan pelayanan. Sedangkan terbuka, menandakan bahwa mereka sedang tak memberikan pelayanan.
Mereka berdua kemudian berpisah jalan dan pergi ke bilik berbeda, karena satu bilik hanya menerima satu pelayanan.
Setelah masuk, Jack melihat seorang pria berusia 50-an sedang duduk di dalam bilik itu. Meja pria itu ada Sign Holder bertuliskan "Daniel Solveni" yang menunjukkan bahwa dia bernama itu.
Pria itu sedang membaca suatu dokumen dan tak mengerubis orang yang sudah masuk ke biliknya. Baru ketika Jack duduk di kursi yang disediakan, baru pria itu mendongakkan kepalanya dan menekan sebuah tombol di mejanya.
Krak
Pintu tertutup ketika tombol itu ditekan dan si pria itu menggenggam telapak tangannya lalu menaruhnya di meja, menunjukkan bahwa dia sudah fokus.
Jujur, batin Jack merasakan seperti kriminal yang diintograsi, atau seperti pertemuan rahasia. Suasana di sini membuat dirinya tegang.
"Apakah kau seorang pengungsi yang baru pertama kali datang ke sini?" Tanya pria bernama Daniel itu.
__ADS_1
"I-iya..." Jawab Jack dengan gugup.
"Oh, pantas saja. Kau nampak tegang, sama seperti pengungsi lainnya ketika masuk ke bilik ini." Kata pria itu sambil tertawa.
Ternyata pria itu cukup baik dan ramah dengan Jack. Mungkin itu terlihat profesionalitas saja, tetapi bagi Jack dia memang sudah ramah di luar atau di dalam pekerjaan.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin membuat kartu identitas dan mendaftarkan diri untuk masuk ke SDP."
"Ehm, baiklah. Sejujurnya aku sudah menebak alasan kau ke sini, karena hari ini banyak pengunjung ke sini adalah pengungsi yang ingin membuat kartu identitas."
Jack pun akhirnya tahu mengapa banyaknya pengunjung balai kota pada hari ini. Mereka semua adalah pengungsi yang ingin membuat kartu identitas.
"Apa anda bisa menulis?"
Jack mengangguk.
"Oke, silahkan tulis dahulu biodata anda."
Kemudian Daniel menyodorkan sebuah kertas berisi pertanyaan, seperti nama dan tanggal lahir. Kemudian Daniel bertanya terlebih dahulu nama dari Jack dan tempat tinggalnya sekarang. Jack kemundian menjawab nama lengkapnya dan nama penginapannya.
"Zitman?"
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa."
Jack menjadi bingung ketika Daniel menyebut nama marganya lagi. Dia curiga bahwa Daniel menyembunyikan sesuatu, perasaan itu menguap begitu saja
Kemudian Jack menjawab semua pertanyaan yang ada di kertas itu dan Daniel sedang menulis "Jack Zitman" dengan hati-hati di sebuah buku.
"[Magic Selection] [Expose Log]"
Setelah Daniel berucap 2 mantra sihir dan dengan ajaib tulisan di kertas buku itu hilang, digantikan sebuah kata "None" di kertas buku itu.
"Hmm, tidak ada catatan kriminal."
Dengan perkataan Daniel, itu menjelaskan apa yang dilakukan oleh Daniel. Dia sedang mengecek catatan kriminal dari Jack dengan cara yang tak Jack ketahui.
Karena 2 tahap prosedur sudah selesai, tinggal tahap terakhir, yaitu memberikan setetes darah ke sebuah kristal. Kristal itu disambungkan sebuah kabel yang tak Jack ketahui asalnya.
Kemudian Jack menusukkan sebuah jarum ke jari telunjuk kanannya dan meneteskan darahnya ke kristal tersebut. Kristal itu bersinar sejenak ketika darah Jack diteteskan dan akhirnya tahapan selesai.
"Baiklah sambil menunggu pembuatan kartu selesai, kau tulis ini untuk mendapatkan surat masuk program SDP."
Daniel menyodorkan kertas lain lagi dan menyuruh Jack untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan di kertas itu. Selang beberapa waktu, Jack menyelesaikan pengisian kertas itu bersamaan selesainya pembuatan kartu.
"Ini kartunya dan ini adalah surat untuk masuk ke program SDP. Untuk surat, jangan sampai hilang atau kau tidak akan masuk ke program SDP."
Daniel memberikan kartu dan sebuah surat. Kemudian Jack pergi ketika urusannya sudah selesai dan meninggalkan Daniel sendirian.
"Ehm, sepertinya aku pernah mendengar nama "Zitman" Tapi dimana yah?"
Ketika Jack pergi, Daniel mencoba mengingat-ingat nama "Zitman" hingga dia kedatangan pengunjung.
__ADS_1