
Setelah menyelesaikan urusannya di balai kota, Jack dan Dian pergi untuk mencari makan siang di kedai tempat Jack bekerja. Waktu itu memang waktu jam makan siang dan perut keduanya sudah mulai keroncongan.
Itu juga adalah pengalaman pertama Jack makan makanan yang biasa ia bawakan ke pelanggan selama menjadi pelayan. Jack juga memperkenalkan siapa Dian kepada pelayan-pelayan yang dikenalnya dan mengobrol sebentar tentang beberapa hal yang tak penting.
"Jadi, sekarang apa yang kita lakukan selanjutnya?" Tanya Dian kepada Jack.
Setelah makan siang, mereka duduk di bangku tepat dibelakangnya pancuran "Bidadari Surga" dan sedang menganggur. Mereka izin kepada bos masing-masing untuk absen kerja selama hari, karena memperkirakan akan sampai sore dimana waktu pulang kerja dan waktu latihan mereka. Tapi, kenyataannya masih ada waktu untuk sampai waktu latihan mereka.
"Ehm, apa kita ke perpustakaan dulu, yah?" Usul Jack.
"Ah! Mau melakukan apa kita di perpustakaan?" Tanya Dian.
"Tentu saja belajar. Ini perlu untuk menghadapi ujian program SDP."
Ujian program SDP terdiri 2 bagian. Ujian sihir dan teori. Ujian teori berisi pertanyaan umum, seperti matematika, sosial, bahasa (bagian buruk Dian), dan kesusilaan. Sedangkan untuk Ujian sihir, terdiri dari uji spasial mana, ujian pengetahuan sihir, dan uji praktek sihir. Ujian teori tidak terlalu sulit bagi Jack dan Dian, karena dikonfirmasi oleh mereka berdua bahwa isi soalnya seperti soal ujian anak SD. Ini seharusnya sama seperti ujian untuk mendapatkan ijazah SD dengan tambahan ujian sihir.
"Tidak, kamu saja. Aku malas membaca buku..."
Jack sudah menebak reaksi dari Dian seperti itu. Dian memang tak suka dengan buku.
"Ayolah, sebegitukah kau benci dengan buku? Buku itu adalah jendela dunia. Kau tak perlu mendatangi langsung ke dunianya, tetapi cukup melihat dari jendelanya."
"Iya sih. Tapi kemampuan membaca bahasa Inggrisku sangat buruk. Aku tak mau berjam-jam masih membaca 2 lembar."
"Karena itulah, kau harus banyak membaca buku. Semakin sering kau membaca, semakin lihai kemampuan membacamu."
Kemudian Jack memegang tangan kanan Dian. Bukan berarti mereka Gay, Jack hanya ingin menyeret Dian yang malas untuk pergi ke perpustakaan.
***
"Ah, melelahkan...." Keluh Dian dengan kepala ditaruh meja.
"Aih, baru setengah jam sudah lemas," ejek Jack.
Sekarang mereka berada di perpustakaan kota yang sebenarnya tak jauh dari pancuran. Di pinggir deretan rak-rak buku, Jack dan Dian duduk di bangku dan membaca bermacam-macam buku.
Dian sudah lelah membaca satu buku saja. Sedangkan Jack, di sampingnya tertumpuk buku-buku dengan berbagai jenis buku. Tetapi kebanyakan buku-buku itu adalah sebuah novel karangan orang-orang bermarga Roseblood.
"Katanya mau belajar, kenapa kau malah membaca buku cerita?"
"Aku sedang tidak mood belajar."
"Hah! Kau yang mengajakku untuk belajar dan sekarang kau yang malah tidak mood. Kau tak beda jauh denganku."
"Iya, karena aku mengajakmu untuk membunuh waktu sebenarnya."
"Kalau tahu begini, aku tak ikut denganmu."
Kemudian Dian menatap arah sekitar dimana berisi buku-buku yang menyebalkan baginya. Dian menghela nafas bosan dan menatap kembali Jack. Dia melihat mata Jack yang begitu cepat membaca buku itu. Dia begitu ahli dalam bahasa Inggris dan membaca seperti itu adalah hal yang wajar.
__ADS_1
"Hei, Jack. Aku tahu kamu dulunya adalah pemulung dan hidup sulit di kotamu sendiri. Tetapi melihat kemampuanmu dalam bahasa Inggris membuatku sedikit penasaran, sebelum pemulung kamu itu siapa?" Tanya Dian.
2 bulan yang lalu, Jack pernah bercerita tentang latar belakangnya bahwa dia adalah pemulung di kotanya. Dian bertanya-tanya mengapa Jack memiliki kemampuan tinggi berbahasa Inggris, tapi selalu lupa bertanya untuk bertanya dan ketika ingat juga selalu tak sempat. Saat ini dia ingat ketika melihat Jack membaca dan suasananya begitu tepat.
Jack tak menjawab dan hanya membaca bukunya, seperti mengacuhkan pertanyaan Dian. Hal itu membuat Dian kesal, tetapi segera hilang ketika Jack berucap.
"Bisa dibilang, aku ini dulunya adalah anak kaya yang pintar, namun tak beruntung."
"Tak beruntung? Coba ceritakan kisahmu itu."
Jack menghela nafas dan menutup bukunya, "Maafkan aku, Dian. Aku tak mau menceritakan kehidupanku dulu. Aku tak ingin menangis kembali ketika mengingatnya."
Jack tak berkeinginan untuk bercerita tentang kehidupannya dulu kepada Dian. Bukannya semakin enggan, Dian malah bertambah penasaran dan ingin mendesak temannya yang lebih muda 8 tahun itu. Dia penasaran dengan bagian yang membuatnya menangis. Tetapi melihat raut wajah Jack yang malas dan datar itu, membuat Dian mengurungkan niatnya.
"Orang kaya, tapi tak beruntung? Mungkinkah dia diusir oleh keluarganya?" Sebagai ganti tidak diceritakan, Dian hanya menerka-nerka kehidupan Jack dalam hatinya.
"Sepertinya hari sudah mau sore. Ayo pergi ke tempat latihan."
"Eh, bukannya masih terlalu awal dari jam pelatihan?"
"Memangnya apa salahnya datang lebih awal?"
"Ehm, tidak sih."
"Lagipula, kita bisa latihan merasakan titik mana lebih awal. Sambil menunggu Mary datang."
Jack mengembalikan satu persatu buku-buku yang ia bawa. Dia lumayan ingat dengan posisi rak dan bagian-bagian buku-bukunya, sehingga tak butuh waktu lama buku di tangannya habis. Setelah selesai, baru Jack berjalan ke pintu keluar dimana ada Dian yang sedang menunggu dirinya.
"Kita lebih baik beli jajanan pinggir jalan. Kita seharusnya tak diburu waktu, kan?"
"Baiklah, kita mampir ke tukang permen itu dulu."
Kemudian Jack dan Dian pergi ke tukang permen pinggir jalan itu. Jenis permen yang dijual pedagang itu adalah permen lolipop dengan tusukan kayu di bawah permen itu. Dalam hati Dian tak menyangka Jack memilih membeli permen lolipop dari semua jajanan di pinggir jalan.
"Apa dia ini menyukai permen lolipop?" Dian menatap Jack dengan wajah penasaran.
Dari sejak mereka kenal, Jack masih menjadi misteri bagi Dian. Dian hanya tahu bahwa Jack adalah pemulung, selain itu dia tak tahu. Seperti keluarganya, teman-temannya, kesukaannya, dan kehidupannya pada saat anak-anak, semua Jack sembunyikan dari diri Dian, seolah-olah Jack akan mati jika membeberkannya. Bahkan dia tak menyebutkan nama kotanya sendiri.
Ketika Dian sedang berpikir, Jack tiba-tiba menengok ke suatu arah. Ekspresi Jack menjadi sedikit terkejut, dan dia pun berjalan ke arah ia tengok.
"Eh, kau belum bayar!" Tukang permen itu mencegah Jack pergi, karena membawa satu permennya dan belum membayar. Namun bukannya berhenti, justru Jack berjalan lebih cepat ke arah yang ia tengok.
"Hei, Jack. Kau belum bayar, jangan pergi!" Dian ingin mencegah Jack untuk pergi, tetapi terlambat karena dia sudah pergi jauh.
"Cih!" Dian mendecikan lidahnya.
"Maafkan dia atas kesalahannya, paman. Saya akan membayarnya."
Kemudian Dian merogoh kantungnya dan mengeluarkan 2 buah uang kertas lalu memberikannya kepada si penjual. Setelah itu, Dian pergi mencari temannya yang tak jelas pergi kemana.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya Dian menemukan Jack sedang mengintip dua orang sepasang kekasih. Jack menatap mereka dengan datar, tetapi ada perasaan rindu di dalam hatinya. Setelah menemukannya, Dian segera menepuk pundak Jack.
"Hei, kau ngapain di sini? Kau belum bayar permen lolipopmu..."
"...."
Jack diam, mengacuhkan Dian. Dian kembali kesal diacuhkan seperti itu, tetapi penasaran dengan apa yang dilihat oleh Jack.
"Sepasang kekasih? Mengapa Jack melihat mereka dengan bersembunyi-sembunyi seperti ini?"
Dian sebelumnya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Jack sekarang menjadi tahu. Dian mencoba untuk menghubungkan semua hal tentang sebab mengapa Jack mengintip 2 orang sepasang kekasih itu, tetapi sebelum menemukan jawabannya Jack berbalik ke hadapannya dengan wajah tertunduk.
"J-Jack..." lirih Dian yang terkejut melihat Jack berbalik di hadapannya.
Kemudian apa yang dilakukan oleh Jack selanjutnya benar-benar mengejutkan Dian.
PLAKK!!!!
Jack menamparkan dirinya sendiri di hadapan Dian. Pipi Jack memerah bekas tamparan keras dengan tangannya. Tindakan Jack itu tak hanya mengejutkan Dian, tetapi pasangan itu juga terkejut mendengar suara tamparan itu.
"Suara apa itu?!" Teriak si lelaki sambil menengok ke tempat Jack dan Dian bersembunyi.
Mereka berdua berada di sebuah tempat yang tersembunyi dan hanya mereka berdua saja yang ada di tempat itu. Karena merasa diuntit, si lelaki itu berjalan mendekati tempat Jack mengintip.
"Tidak ada?" Si lelaki itu melihat tempat Jack mengintip, tetapi di sana tidak ada orang sama sekali.
***
"Apa yang kau lakukan sebenarnya?!" Dian menyeret Jack untuk lari. Mereka sudah meninggalkan tempat itu setelah Jack memukul dirinya sendiri dan ketika si lelaki pergi memeriksa. Hampir saja ketahuan, batin Dian.
Jack tak menjawab dan masih menundukkan kepalanya.
Dian tak tersinggung dengan sikap Jack, karena hari ini sikapnya benar-benar aneh dan tidak seperti biasanya.
Ketika masih menjauh, mereka berhenti sejenak dan mengatur nafas.
"Aku ingin kuat..." gumam Jack.
Dian tentu saja mendengar kata-kata Jack, karena berada di dekatnya.
"Apa yang kau maksud?" Tanya Dian yang tak mengerti maksud perkataan Jack.
Kemudian Jack pergi lagi, dan kali ini Dian tahu arah kemana Jack pergi. Dia pergi ke hutan, tempat mereka latihan.
Dian bingung dan frustasi sendiri melihat tingkah Jack yang berujung dia mengikutinya. Tanpa Dian sadari, ada yang berbeda di mata Jack. Mata Jack bukan hanya mata lelah dan mengantuk, melainkan mata penuh ambisi dan mendominasi.
***
Maaf yah belum update selama beberapa hari. Alasannya sebenarnya sepele sih, kehabisan paket internet :) #AuthorMiskin
__ADS_1