
Cuaca hari itu sangatlah cerah, namun tak membuat gerah karena langit sedikit berawan, membuat sinar matahari sedikit terhalangi. Walau begitu, orang orang masih malas untuk keluar dari rumahnya di perumahan itu sehingga jalanan di perumahan itu kosong dan hal itu membuat pemuda dan komplotannya leluasa untuk menghajar Jack di samping tembok perumahan.
Di bawah pohon yang rindang, Jack dipukuli dan ditendangi oleh pemuda dan komplotannya. Dia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya menutupi kepalanya agar tidak menjadi sasaran hajaran dari pemuda dan komplotannya. Setelah beberapa saat, badan Jack dipenuhi luka lebam, namun itu tak menghentikan mereka menghajar Jack.
"AAAH!!!" Teriak Jack yang kesakitan.
"Hei, bung. Kita sudahi saja memukulnya. Lihat kondisinya, pasti dia sudah jera dipukul seperti itu." Ucap salah satu bawahan pemuda itu.
"Aku masih belum puas!" Pemuda itu kemudian memberikan pukulan keras dan memberikan luka kritis di tangan Jack, hingga terdengar sedikit bunyi di tangannya.
"AAAAH!!" Teriakan Jack semakin menjadi-jadi.
Hal itu membuat panik pemuda dan komplotannya itu.
"Hei, sudah kukatakan...kita sudahi saja. Kita dilaporkan warga dan diadili dengan hukuman yang kejam. Aku tak mau ditangkap oleh penegak hukum kota."
Mendengar kata-kata dari bawahannya membuat pemuda itu sedikit pucat karena takut membayangkan dia dihukum oleh penegak hukum. Dia kemudian berniat bergegas dari tempat itu dan berkata, "kita akhiri pelajaran ini. Jika kau masih mengikuti pacarku dan membuat takut dirinya, aku akan memburumu walau harus ditangkap penegak hukum."
Kemudian pemuda dan komplotannya itu pergi meninggalkan Jack sendirian di jalanan kota itu yang merebah di bawah pohon yang bernama pohon mangga itu. Tatapannya Jack kosong setelah dipukuli oleh mereka bertiga secara bersamaan. Dia seperti tak berdaya dihadapan mereka bertiga. Lalu, dia mengangkat tangan kanannya dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya.
"He he he..." Jack tertawa. Bukan tertawa senang, melainkan tawa penderitaan.
"Bodoh, mana mungkin dia adalah Nina. Apa yang kulakukan sebenarnya? Bertingkah gila dan mengaku-ngaku bahwa wanita itu adalah Nina dan berakhir aku dipukuli oleh mereka." Lanjutnya.
__ADS_1
Bayang-bayang pohon mangga menutupi penuh Jack yang saat sedang berbicara seorang diri. Dia menyesali perbuatannya itu dan ingin sekali menghilangkan sesuatu yang ada pada dirinya. Tetapi dia tetap tak bisa dan terus gagal.
Setelah merantap agak lama, Jack kembali berdiri ketika seorang pria paruh baya mendekati dirinya. Pria itu melihat bahwa Jack saat sedang terluka dan berniat untuk menolongnya. Namun, Jack menolak tawaran itu dengan ramah dan pergi menjauh ketika pria itu menyerah menawarkan pertolongan.
Jack berjalan tertatih-tatih dengan membawa barang bawaannya, yaitu karung sampah dan tongkat pengaisnya. Dia begitu menarik perhatian orang yang berpapasan dengannya. Selain karena luka lebam di wajahnya, juga karena pakaian yang ia pakai cukup menarik perhatian orang lain.
Kota yang ia tinggali adalah kota yang paling bersih, tertib, dan paling ideal untuk sebagai kota terbaik di negara Indonesia. Selain itu juga, ada program jaminan sosial khusus untuk penduduk kota itu yang mana tidak ada kata hidup sengsara untuk semua penduduk kota itu, bahkan orang miskin sekalipun bisa memenuhi sandang, pangan, dan papannya. Sehingga cukup aneh, ada pemulung yang biasanya ada di pinggir kota, berjalan-jalan di pusat kota tanpa merasa malu kepada orang lain. Seperti orang bodoh yang memilih menjadi tersiksa di tengah gemerlap surga.
Jack tak peduli dengan tatapan semua orang yang mengarah ke dirinya. Dia hanya ingin pergi ke suatu tempat untuk beristirahat agar bisa melanjutkan aktivitasnya. Dan tempat itu adalah kolong jembatan di dekat pinggir kota. Tempat itu tak terlalu kotor, namun terlalu besar yang malah membuatnya cenderung seperti gua. Tempat itu cukup cocok untuk tempat meneduh dan beristirahat menurut Jack, si pemulung.
"Ehm, bau apa ini?" Ketika Jack hampir di bibir kolong jembatan, dia mencium bau menyengat di dalam kolong jembatan itu. Baunya seperti bau besi berkarat dan membuat Jack penasaran dengan isi kolong jembatan itu.
Karena terlalu besar, cahaya tidak terlalu masuk ke dalam kolong jembatan itu, hingga membuatnya menjadi remang-remang. Dia tanpa ragu masuk ke dalam kolong jembatan dengan menutup hidung untuk menyelidikinya, walau gelap gulita sekalipun.
"Besi?" Firasat Jack menjadi buruk ketika mencium cairan yang hampir seperti bau besi itu. Dia kemudian mengikuti arah cairan itu dengan menggunakan indera peraba kakinya, karena kolong jembatan itu begitu remang-remang dan membuatnya tak bisa menggunakan matanya.
Setelah beberapa menit dia mengikuti cairan kental itu, dia tersandung sesuatu dan jatuh. Jack langsung mengumpat ketika wajahnya mendarat pertama kali ketika jatuh. Tetapi, ada yang menarik perhatiannya, yaitu benda yang membuatnya jatuh.
"Benda apa ini?" Jack meraba-raba benda yang membuatnya jatuh dengan tangannya. Jack mengerut dahinya, merasa bahwa dia familiar dengan benda itu. Kemudian dia mencubit kulit pipinya dan dia mencubit benda itu. Teksturnya sama persis dengan tekstur pipinya, membuat Jack pucat dan mulai tersadar dengan menghubungkan cairan dan bau besi di cairan itu.
"Sialan, kenapa aku tak menyadari ini lebih cepat?" Dia kemudian buru-buru menggendong belakang benda itu keluar. Pada saat hampir mendekati pintu keluar, cahaya mulai nampak dan Jack bisa melihat benda itu.
Seorang wanita berjubah hitam dengan luka di perutnya berada di punggung Jack. Dia tak sadarkan diri, namun Jack memastikan bahwa dia masih hidup. Keadaan benar-benar darurat dan Jack yang ingin istirahat dari kerjanya harus menolong wanita itu. Dia berniat untuk membawa wanita itu ke rumahnya yang ada di pinggir kota.
__ADS_1
Sungguh beruntung tidak ada orang yang melihatnya ketika Jack membawa wanita itu ke rumahnya. Jika ada ada orang melihatnya, mungkin Jack akan dianggap pembunuh yang sedang menyembunyikan korbannya. Memang tidak ada yang mau tinggal di pinggir kota yang bau busuk itu, sehingga yang tinggal di pinggir kota bisa dihitung dengan jari dan penduduk sebagian besarnya tinggal di pusat kota.
Setelah lama berjalan, akhirnya Jack sampai di sebuah gubuk yang dibuat dengan beberapa benda-benda bekas seperti atap seng dan asbes. Itu bukan rumah buatannya, tetapi rumah buatan orang lain yang mewariskannya ke Jack. Setelah membuka pintu, Jack langsung menidurkan wanita itu ke kasur dekat pintu masuk.
Jack terburu-buru mengambil obat-obatan dan beberapa benda yang dibutuhkan. Jack berniat untuk menjahit luka wanita itu. Lukanya cukup lebar dan untuk menyembuhkannya harus menutup luka itu dengan dijahit. Cukup beresiko memang, tetapi Jack sudah berpengalaman karena dia dulunya anggota palang merah dan dijuluki dokter yang padahal dia tak pernah masuk sekolah kedokteran. Dia pernah melakukan banyak hal dalam menjadi palang merah, termasuk berkali-kali menjahit luka.
Dia mensterilkan alat-alatnya terlebih dahulu, dan membuka pakaian dari wanita itu. Memang hal itu tak senonoh, tetapi ini harus dilakukan. Dia kemudian merobek perban dan sedikit membersihkan lukanya dengan perban itu. Lalu, dia mulai menjahit lukanya dengan benang pancing.
Butuh ketelitian dan kesabaran untuk menjahit lukanya sampai akhirnya tertutup sempurna. Dan beberapa puluh menit kemudian, Jack selesai menjahit luka wanita itu.
"Huh, selesai juga..." Peluh Jack ketika dia harus dituntut begitu teliti sampai akhir. Lalu, dia membalut perban di luka perutnya dan ke belakang untuk mengambil pakaian baru yang bersih kepadanya.
Lantas, mengapa Jack tidak membawa ke fasilitas kesehatan? Simpel saja, Jack tak punya uang ataupun jaminan sosial untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di kota itu. Ia juga melihat bahwa wanita itu juga tak punya uang untuk membayar jasa kesehatan.
Setelah dia mengambil pakaian, dia langsung memakaikan ke wanita itu dan di sini iman Jack diuji untuk menahan diri dari godaan wanita yang pada akhirnya dia bisa melewatinya dengan mudah.
"Wanita ini sungguh aneh. Jubah ini benar-benar tak pernah aku lihat sebelumnya di kota ini. Apakah wanita ini berasal di kota lain?"
Jack meneliti jubah milik wanita itu yang mana berbahan lembut dan berwarna hitam sangat gelap yang pernah Jack lihat. Dia merasa bahwa tak pernah ada orang yang memakai jubah ini di kota itu. Akan terlihat aneh, jika ada orang berkeliling menggunakan jubah ini.
Jack berspekulasi liar bahwa wanita ini adalah agen rahasia dari luar negeri yang terluka dalam misinya dan ia kehilangan kontak untuk mendapatkan bantuan. Tetapi, dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran tak waras itu.
"Huh, sungguh merepotkan. Aku harus mengurus wanita ini sampai dia sadarkan diri."
__ADS_1