Frost Heart

Frost Heart
Cerita Dian 2


__ADS_3

"Aku dengar kau ditagih oleh rentenir?" Tanya Frans.


"Ya, sekarang aku lagi bingung, nih. Barang-barang di tempat usahaku diambil sebagai ganti aku tak bisa membayar. Aku diberi waktu tiga hari untuk bisa melunaskan hutangku kepada rentenir itu."


Dian terbuka dengan masalahnya sekarang kepada Frans. Dian berharap dia bisa memberi keajaiban kepada dirinya.


"Memangnya kau hutang berapa sama rentenir?"


"20 jutaan. Itu pun masih belum bunganya."


Ketika mendengar jumlah hutang Dian, Frans hanya menghela nafas. Sepertinya, Frans tidak bisa membantunya.


"Maafkan aku, Dian. Aku juga sedang kekurangan uang saat ini. Baru beberapa hari ini aku buka cabang baru lagi. Saat ini, aku hanya punya uang untuk biaya makanku selama sebulan." Katanya sambil berwajah murung.


"Tidak apa-apa. Ada banyak cara untuk mrngatasi masalahku ini, tapi masih belum ditemukan caranya seperti apa."


Dian mencoba menghibur dirinya dan Frans dengan kata-kataku sendiri. Jujur, sebenarnya Dian kecewa tidak dapat bantuan Frans. Dian sangat mengharapkan dia bisa membantu, karena dia adalah orang terkaya se-kota.


"Memang aku tak bisa membantu, tapi aku bisa memberikan sebuah solusi cara untuk mendapatkan uang secara singkat."


"Benarkah?!"


Kata-kata Frans itu menjadi angin segar kepada diri Dian yang tertimpa masalah. Tetapi Dian langsung curiga dengan cara yang direkomendasikan oleh Frans.


"Mendapatkan uang dengan relatif singkat? Apakah caranya itu adalah mencuri?"


"Aih, pikiranmu liar sekali, Dian. Cara ini tidak merugikan orang lain, seperti mencuri. Cara ini sangatlah ampuh untuk kau yang sedang kekurangan uang." Jelas Frans.


"Jadi, cara apa itu?"


"Apakah kau tertarik?"


"Jika kau tak memberitahunya, bagaimana aku akan tertarik?"


Kemudian Frans mendekat dan berbisik kepada Dian.


"Sebenarnya ini adalah sangat dirahasiakan. Jika saja kau bukan teman baikku, maka aku juga tak akan memberitahumu."


"Apakah itu begitu penting sampai dirahasiakan?" Kata Dian yang juga ikut mengecilkan suaranya.


"Sangat penting. Cara ini sangatlah ampuh untuk mendapatkan uang dan kau bahkan akan terkagum-kagum dengan cara yang kurekomendasikan."


Dengan cara berbisik-bisik seperti itu, membuat Dian semakin penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Frans. Dia awalnya sangat ragu dengan Frans. Tetapi ketika mengingat tentang hutangnya yang cukup banyak, dia hanya mengeratkan gigi dan hatinya.


"Baiklah, aku sangat tertarik. Tolong beritahuka caranya."


"Nah, baiklah. Kita akan langsung berangkat sekarang."


"Sekarang?"


Tanpa banyak basa-basi, Frans langsung keluar dari kantor pemimpin dan gedung usaha milik Dian. Dian juga mengikuti Frans dari belakang dengan rasa penasaran. Beberapa saat kemudian, Dian dan Frans sampai di kantor cabang usaha dari Frans yang jaraknya tak cukup jauh dari perusahaan milik Dian.


Kemudian Frans menyuruh bawahannya menyiapkan mobil pribadinya dan hal itu membuat Dian tersenyum kecut. Dian cukup iri dengan nasib Frans yang sangat baik baginya. Dia punya kekayaan yang cukup melimpah dan kekuasaan yang cukup hebat. Tak heran, dia disebut sebagai orang paling kaya di kota yang mereka tinggali.


"Kau iri, kan?" Goda Frans.


"Sejujurnya iya. Bagaimana aku tak iri dengan orang punya mobil pribadi di setiap cabang perusahaannya? Aku saja hanya punya sepeda tua warisan orang tuaku."

__ADS_1


"Ha ha ha, tak apa-apa kau iri sekarang. Karena nanti, kau akan sama denganku bahkan mungkin melebihi diriku dalam hal kekayaan dan pengaruh."


"Yah, semoga saja."


"No no no, itu pasti akan terjadi."


Dian dan Frans menunggu mobil disiapkan di halaman cabang. Setelah bawahan Frans selesai menyiapkan mobilnya, mobil itu dibawa ke depan diri mereka. Mobil berwarna merah marun itu begitu mengkilat, seperti mobil baru. Dian kembali iri melihat bahwa mobil itu adalah keluaran baru dan Frans hanya tertawa melihat tingkah Dian.


mereka berdua segera menaiki mobil itu dan keluar dari halaman cabang perusahaan milik Frans. Dalam kecepatan penuh, mobil itu melaju cepat di jalanan raya menuju keluar kota.


"Sebenarnya kita akan menuju kemana?" Dian melihat plang rambu lalu lintas yang menuju keluar kota.


"Ehm, kasih tahu tidak, yah?"


"Hah, beritahulah. Disini hanya kita berdua saja dan tidak adil rasanya jika tak memberitahu tempatnya setelah tak memberitahu caranya."


Frans sempat berpikir sebentar dan berucap, "Baiklah, lagipula kau akan tahu cepat atau lambat."


Frans menambahkan, "Tempat yang kita tuju adalah tempat tersembunyi yang berada di sebuah hutan lebat. Hanya orang diundang saja yang bisa masuk ke tempat itu atau pernah. Kau sangat beruntung berkenalan dengan diriku, karena aku juga pernah diundang oleh mereka."


Mendengar penjelasan dari Frans membuat rasa curiga kembali bersemi di hati Dian. Tempat rahasia yang hanya diakses oleh orang terpilih, itu membuat perasaan tak enak bagi Dian. Tapi dia tak mengutarakannya dan hanya diam saja sambil melihat keluar jendela.


Gerimis tiba-tiba turun dan membuat butiran air berada di jendela mobil Frans. Awan mendung membuat langit semakin menggelap seperti malam akan tiba yang padahal itu masih jam 3 sore.


Ketika itu, Frans tiba-tiba berbelok ke sebuah jalanan tanah yang hanya muat satu mobil saja. Sekeliling jalan ditumbuhi banyak semak-semak dan pohon. Sepertinya sudah hampir sampai, batin Dian.


"Ah!" Tiba-tiba Dian memjerit kecil.


"Ada apa, Dian?"


"Hah, masa seperti itu saja merinding. Kau laki bukan?" Ejek Frans.


"Aku serius Frans. Rasanya bahwa kita tak seharusnya melewati tempat ini."


"Ah, kau ini. Kita akan sampai sebentar lagi."


Setelah beberapa saat kemudian, mereka berhenti di depan sebuah gubuk tua yang aneh. Gubuk itu aneh, karena jauh dari peradaban manusia dan didirikan di tengah hutan yang menurut Dian angker. Dian meneguk ludahnya sendiri ketika melihat gubuk reot itu di sana.


"Kok, bengong saja? Ayo!"


Dengan hati yang mantap, Dian pun langsung berjalan mengikuti Frans di tempat itu. Ketika sudah sampai di depan pintu, Frans pun langsung berkata di depan pintu itu.


"Hormat, Ki Sartung. Saya Frans ingin bertemu dengan anda."


Secara ajaib, pintu itu terbuka dengan sendiri dan membuat terkejut Dian. Frans tertawa melihat tingkah Dian dan Frans mengajak Dian untuk masuk ke gubuk itu.


Ketika masuk, mereka bertemu dengan seorang kakek tua sedang melakukan yang Dian tak ketahui. Kakek itu menggumamkan sesuatu sambil membakar menyan di depannya. Bau menyan dan bercampur wangi-wangian lainnya membuat Dian terganggu.


"Ki Sartung, saya ke sini sambil membawa teman yang sedang terkena masalah. Bisakah anda menolongnya?"


"Ehm..." Kakek itu mengangguk. "Kulo ngerti masalah sing sampeyan alami. Nanging kurban apa sing bakal digunakeke?"


"Ah?" Dian tak paham dengan maksud "kurban" oleh si kakek.


"Dia bertanya tentang tumbal yang kamu pakai untuk mendapatkan jasanya."


"Tumbal? Tunggu firasatku mulai tidak enak ini. Tumbal apa yang kakek itu maksud?!"

__ADS_1


"Sepertinya temanku masih belum punya tumbal. Dadi, kurbanne...punapa mawon." Kata Frans kepada kakek tua itu.


Kakek itu mengangguk dan menginstruksikan aku untuk melakukan hal-hal yang menurutnya aneh. Frans terus memaksa Dian untuk melakukan hal-hal itu dan sampai ditahap akhir, dia diberikan air putih kepada Dian.


Si kakek tua itu memerintah Dian untuk meminumnya. Dian ragu awalnya, tapi dengan paksaan Frans akhirnya dia tetap meminum habis air itu.


"Sugeng, Dian! Sampeyan dadi anggota kami." Kata kakek itu.


Wajah Dian memburuk ketika meminum itu. Dia merasakan lidahnya terasa aneh ketika meminum air itu dan nafasnya seperti bau besi. Dia kemudian melihat isi gelas itu dan terkejut dengan isinya.


"Me-merah...a-apa yang kuminum tadi?"


"Itu yang kau minum adalah darah ayam Cemani." Ucap Frans.


Mendengar itu, Dian langsung muntah dan mual di perutnya. Ini sudah di luar batas akal sehat dan Dian menyuruh Frans untuk membawanya pulang.


Dalam perjalanan, perut Dian sangat mual dan pusing-pusing. Dian mengeluh dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Frans menghiburnya bahwa dirinya pernah seperti Dian yang sekarang.


"Apa cara ini kau mendapatkan uang?"


"Yah, kau benar. Cara ini benar-benar ampuh dan sangat cepat."


"Apa kau tidak tahu tentang cara apakah ini?"


"Tentu tahu. Itu adalah pesugihan..."


"Kau!!!"


"Tidak usah naif Dian. Kita harus mendapatkan uang secepatnya, jika tak ingin mendapatkan sengsara dunia...."


Dian tak tahu harus bilang apa kepada Frans yang membawa dirinya kesesatan yang hakiki. Dian langsung meminta turun kepada Frans. Dia sudah tak mempercayai diri Frans lagi.


Kemudian dia memesan ojek online dari Smartphonenya dan pulang sendiri dengan ojol itu. Hari sudah malam ketika Dian sudah sampai di depan tempat usahanya. Dian pun langsung masuk ke pintu belakang dan melihat-lihat tempat usahanya yang kosong.


Dian menghela nafas dalam dan berjalan ke tempat kerjanya.


"Hah!!!" Alangkah terkejutnya Dian melihat sepuluh tumpuk uang di tempat kerjanya. Dian mengucek matanya, memastikan bahwa itu bukan mimpi.


Setelah dikucek, tetap saja sepuluh tumpuk uang masih ada di depan dirinya. Dian memegang uang-uang itu dan merasakan tekstur dari uang kertas itu.


"Ini bukan mimpi...." Dian pun tersenyum lebar. Bahkan mungkin senyum itulah yang terlebar selama dia hidup.


JDEARR!!!!


"AAAAHHH!!!!"


Ketika masih menikmati uang di tempat kerjanya, Dian mendengar suara keras diiringi dengan suara orang berteriak di depan tempat usahanya.


Dian sontak langsung menuju ke depan tempat usahanya dan menutup mulutnya ketika melihat seorang wanita yang tergelatak di tanah dengan perut terbuka dan tangan terpelintir. Wanita itu adalah korban tabrak lari.


Wanita itu seperti meminta tolong kepada Dian, tetapi wanita meninggal dunia tak lama kemudian. Kerumunan warga langsung datang di tempat wanita itu menjadi korban dan tak lama kemudian, lonceng jam terdengar di telinga Dian.


"Suara apa ini? Kenapa ada suara lonceng di sini?"


Belum terkejut dengan korban tabrak lari itu, Dian masih dikejutkan lagi dengan suara lonceng jam yang padahal di sini tak ada menara jam. Lalu, semua orang yang dikerumunan itu berhenti seperti menjadi manekin dan tak lama kemudian semua orang menjadi patung es setelahnya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Dian kebingungan dengan apa yang terjadi. Warna malam tiba-tiba berubah menjadi ungu dan bulan tiba-tiba menjadi merah jambu. Dan Dian menjadi salah satu orang yang selamat dari peristiwa None Time.

__ADS_1


__ADS_2