
Langit sudah berwarna jingga dan matahari sudah sedikit condong ke barat. Di bagian hutan, dimana dekat dengan air terjun yang mengalir, ada 2 orang laki-laki yang sedang duduk bersila sambil memejamkan mata dan ada satu wanita yang sedang menjaga mereka berdua. 2 laki-laki itu adalah Jack dan Dian yang sedang latihan merasakan mana, sedangkan sang wanita adalah Mary.
Ketika Dian dan Jack bermeditasi suasana begitu sunyi dan damai. Tidak ada kicauan burung atau suara hewan kecil lainnya. Hanya terdengar suara yang tak berkesudahan dari air terjun dekat mereka.
Sambil menunggu mereka bermeditasi, Mary melakukan banyak hal seperti memakan jajanan dan membaca buku. Pada hari pertama, dia bosan hanya menunggu mereka berdua selesai tanpa melakukan apa-apa, karena itulah dia melakukan hal seperti ini sambil menjaga mereka berdua.
Mary tak bisa meninggalkan mereka, karena jika ada sesuatu yang membahayakan seperti ular maka nyawa mereka akan terancam. Kemungkinan itu bisa terjadi, karena mereka dekat dengan daerah yang lembab yang merupakan habitat hewan melata.
"AHHH!!!" Di tengah meditasi, Jack berteriak keras dengan tubuh gemetar.
Mary tak terkejut dengan apa yang terjadi oleh Jack dan berjalan mendekatinya lalu berdiri di sampingnya. Jack tersadar ketika menggeliat beberapa kali di tanah dan menatap langit setelahnya.
"Ah, aku berpikir kau tidak menjadi penyihir saja Jack."
Mary melihat langsung penderitaan Jack, jadi tak tega melihatnya seperti itu terus. Apalagi dia pernah menyelamatkan dirinya sekali, membuat hubungan mereka sedikit dekat.
Jack terdiam dan kembali duduk lagi. Dia bermeditasi kembali setelah beristirahat sebentar. Beberapa saat kemudian ketika Mary masih berdiri dan ingin kembali ke tempatnya, Jack kembali berteriak sama seperti sebelumnya. Dia menggeliat-geliat seperti cacing dan akhirnya tersadar kembali.
"Menyerah saja Jack. Menjadi penyihir bukanlah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia, kau bisa menjadi dokter atau intedan perang.."
Jack tak menggerubis dan kembali bermeditasi. Beberapa saat kemudian, dia kembali berteriak. Kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Setelah teriakan berhenti, Jack kembali duduk bersila dengan wajah masih menahan kesakitan.
Beberapa saat kemudian dan untuk ketiga kalinya, Jack kembali berteriak. Kali ini wajah Jack terlihat melemas, dia seperti sudah mencapai batasnya. Tetapi Jack tak peduli dan kembali bermeditasi.
"Cukup!!!" Mary tak membiarkan Jack tersiksa dan memeluk Jack.
"Cukup...cukup..hisk..hisk..." Sebagai wanita yang peka dengan perasaan, melihat penderitaan seperti itu membuat Mary tak bisa menahan air matanya.
Jack yang dipeluk tak bisa melakukan apa-apa, dia hanya membiarkan dirinya dipeluk oleh Mary. Tidak diketahui oleh Mary, wajah Jack sebenarnya mengeras dan kaku ketika itu.
Setelah beberapa saat, Jack mendorong lembut tubuh Mary supaya melepaskan pelukannya. Kemudian Jack berdiri dari tempatnya, membuat Mary melihatnya bingung.
"Jack..." Jack tak menghiraukan panggilan Mary dan berjalan ke depan batang pohon tempat mereka latihan. Jack terdiam beberapa saat di depan pohon itu dengan wajah menunduk. Kemudian tangannya mengepal dan secara singkat Jack memukul pohon di depannya.
__ADS_1
BANGG!!!
Mary terkejut ketika Jack memukul pohon dengan lebar batang hampir 1 meter itu. Pukulan itu membuat bekas lubang yang tak begitu dalam dan menimbulkan suara keras hingga Dian terbangun dari meditasinya.
Dian yang baru bangun bingung dengan terjadi. Dia melihat Jack sedang menghadap di depan batang pohon dan melihat Mary yang sembab karena menangis.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Dian bertanya kepada Jack.
"Aku ingin kuat.." Jack menjawab, tapi itu bukanlah jawaban dari pertanyaan Dian.
Dian menatap kembali Mary, berharap punya jawaban dari apa yang terjadi. Tetapi Mary tak menyadari tatapan Dian dan hanya fokus kepada diri Jack.
"Tapi, mengapa banyak yang menghalangiku untuk menjadi kuat?!" Kemudian Jack kembali memukul pohon itu dan membuat lubang yang dibuat dulu menjadi lebih dalam.
Suara keras yang ditimbulkan membuat Dian menutup telinga dan mulut. Ini adalah sisi Jack yang tak pernah Dian lihat sebelumnya, sisi yang beringas dan pemarah.
"Terlalu banyak waktu yang kubuang untuk menemukan apa yang kubutuhkan, tetapi apa yang kudapatkan adalah kesakitan dan pengganggu tiada habisnya."
Dian merasa tersinggung ketika Jack menyebutkan pengganggu tiada habisnya, meskipun dia tak terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh Jack.
Di pikiran Dian, Jack yang terlalu banyak diam itu ternyata memiliki ambisi besar untuk mendapatkan kembali dunia mereka. Dia orang yang pasif dan terlihat amat santai untuk seorang berambasi itu. Biasanya mereka akan terlihat begitu tegas dan buru-buru, walaupun setiap tindakannya terlihat tenang.
Setelah Jack memukul beberapa kali batang itu, Jack terdiam sejenak dan mendongakkan kepala.
"Kapan aku melupakannya?" Gumam Jack, tetapi cukup terdengar oleh Dian dan Mary.
Setelah itu, Jack berbalik dan pergi dari tempat itu. Ada pohon tinggi tapi lebar batang tak lebih 3 cm yang menghalangi Jack ketika berjalan. Jack mendengus dan menyingkirkan pohon itu. Namun, itu membuat pohon itu roboh.
Setelah itu Jack pergi menjauh dan menghilang dari pandangan Dian dan Mary.
"Apa-apaan itu?" Dian merasa melihat langsung sisi gelap Jack dan itu benar-benar mengejutkan.
Kemudian Dian berjalan ke arah Mary dan membangunkan Mary untuk berdiri ke tempat yang lebih bersih daripada yang Mary duduki sekarang.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Ketika sudah tenang, Dian bertanya kepada Mary tentang tingkah aneh Jack.
Mary kemudian menceritakan Jack yang tiga kali meditasi dan tiga kali berteriak itu. Ketika menceritakan bagian yang memeluk Jack, pipi Mary memerah karena baru menyadari yang dilakukannya begitu memalukan. Dian tak menyadari sikap Mary itu dan berpikir sambil mengelus dagu.
"Ehm, kemarin dia hanya melakukannya sekali dan menyerah dengan rasa sakitnya tersebut. Jack sekarang begitu berbeda, apakah karena hal itu?" Kata Dian sambil berpikir, menyambungkan kejadian beberapa saat yang lalu dengan masa sekarang.
"Memangnya apa itu?" Tanya Mary.
"Sebelum kita di sini, Jack bersikap aneh awalnya. Dia tiba-tiba pergi tanpa sebab dan berada di sebuah tempat yang menurutku sedikit ...tersembunyi. Selain itu, di sana ada 2 orang, wanita dan laki-laki sedang berduaan di tempat itu yang mungkin mereka itu sepasang kekasih. Jack mengintip mereka berdua dengan tatapan rindu dengan sesuatu, dan aku memperkirakan dari cara lihatnya bahwa dia sedang mengenang masa lalu dengan salah satu dari mereka.
Lalu, kami berdua pergi menjauh ketika Jack tiba-tiba menamparkan diri dan menimbulkan suara hingga membuat kami ketahuan. Aku awalnya bingung apa yang dilakukan Jack pada saat itu dan sering bergumam ingin menjadi kuat atau apalah itu. Tapi sekarang, akhirnya aku mengetahui alasan dibalik semua hal itu."
Mary sedikit penasaran dengan pendapat Dian terhadap Jack yang sekarang. Kemudian Dian menghela nafasnya dalam-dalam, seperti bersiap yang terburuk dan berkata, "Wanita bersama pria itu adalah mantan kekasih Jack, itu yang kukira-kira."
"Mantannya Jack? Tapi Dia kan pemulung." Mary tak percaya dengan perkataan Dian.
"Meskipun dia sekarang pemulung, dulunya dia anak yang kaya, itu yang diucapkan olehnya dulu."
"Jadi, dulunya dia anak orang kaya?" Dian mengangguk.
"Aku memiliki alasan kuat untuk pernyataan itu. Ketika aku melihat cara menatap Jack ke mereka berdua, Jack seperti mengenang masa lalu. Dalam perkiraanku, Jack sebenarnya mengenang masa-masa terindah bersama wanita itu dulu ketika terikat cinta. Lalu, dia menamparkan diri untuk melupakan masa lalunya itu dan ketika kita berlari dia terus bergumam untuk menjadi kuat agar mungkin dia bisa membalaskan dendam rasa sakitnya ditinggalkan si wanita tersebut, begitu."
Mary memikirkan semua perkataan yang diucapkan oleh Dian dan menurutnya sedikit masuk akal. Dian menambahkan, "Ah, mungkin juga si Jack menjadi pemulung, karena tidak bisa melupakan dirinya dan mengobati rasa sakit putus cintanya hingga terus mengikutinya sampai menjadi seperti itu."
"Uh, memangnya putus cinta bisa seperti itu?"
"Bisalah, bahkan ada orang yang kehilangan nyawanya karena putus cinta."
Mary menjadi takut dengan namanya asmara. Dia sampai berpikir untuk tak menikah dan menjadi jomblo tua. Tapi segera menepis pikirannya.
Kemudian dia menatap bekas pukulan Jack dan raut wajahnya tiba-tiba berubah. Dengan setengah berlari, Mary mendekati bekas pukulan itu dan menyentuhnya
"Ada apa, Mary?" Dian terheran-heran dengan tingkah laku Mary.
__ADS_1
"Inikan..."
Dan setelah Mary berbicara sesuatu, Dian berdiri dengan tatapan tak percaya.