
"Gara-gara lo sih!"
"Lah kok gue? Kan lo yang ngajakin gue duluan kampret!"
"Tapi lo yang kelamaan turun!"
"Tapi kan lo jsjbsshbshsbsjdbsjxhxh"
"Jhahsbsusbsushhssjbsshhshssjhs"
"jahshsbsusbdhsbzhshzhzhsjsjsjs"
Gudang belakang menjadi saksi saat Digo dan Kimi saling menyalahkan. Keduanya sama-sama mempertahankan argumen masing-masing tanpa ada yang mau mengalah.
"Bacot lo berdua! Intinya gue yang jadi korban di sini!" ucapan Bagus yang sukses membuat keduanya terdiam.
Ke tiga manusia itu memang tengah menjalani hukuman setelah David menggiringnya ke gudang belakang. Tentunya Kimi dan Bagus sudah kembali ke rok dan celananya masing-masing.
Gudang tua berisi barang-barang sekolah yang sudah tidak terpakai itu memang terlihat menyeramkan.
Tapi yang lebih menyeramkan lagi saat mereka melihat seseorang yang ternyata masih berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dada "CEPAT SELESAIKAN!" Siapa lagi kalau bukan suara David.
Mereka bertiga yang awalnya mengira kalau David sudah tidak berada di sana tersentak kaget dan melanjutkan aktivitas hukuman yang di berikan. Kimiamenyapu lantai yang di lapisi debu cukup tebal, Digo memindahkan kursi dan meja yang sudah rusak agar gudang terlihat lebih rapih. Sementara Bagus masih setia mengelap kaca jendela.
"Maaf seribu maaf nih pak, gudang ini mau bersihin sampai tahun depan juga bakal tetep berantakan, namanya juga gudang. Kalo namanya gendang baru deh bersih kaya gendang telinga Saya yang bebas dari kotoran hehe," ucap Digo cengengesan. Setelah mengatakan hal itu, Digo langsung mundur beberapa langkah saat menyadari David berjalan ke arahnya.
"Sudah salah masih berani becanda?" Ucap david dengan nada intimidasi yang membuat Digo semakin gemetar.
"Bukan begitu maksud saya pak, tapi-" Digo mengatakan itu dengan rasa takut yang berkecamuk.
"Lari keliling lapangan sekarang!"
"Tapi pak-"
""TIDAK ADA TAPI-TAPIAN!"
"Cukup pak! Saya tau bapak itu guru, dan saya juga tau kalo kami bertiga memang melakukan kesalahan. Tapi cara bapak itu salah. Dari awal saya cukup menghargai kalau bapak itu guru saya, dan saya harus mematuhi apapun yang bapak perintahkan. Terkadang, Bapak itu memberi hukuman seenaknya dan tidak memikirkan mental kita sebagai murid yang harusnya di bimbing. Mereka semua menuruti perintah bapak itu karena takut mengancam nilai. Tapi untuk sekarang saya sudah nggak takut pak, silahkan bapak kasih saya nilai NOL juga tidak masalah!" Unek-unek yang tersimpan di otak gadis itu akhirnya bisa luapkan sekarang di depan Darel.
Melihat Kimi yang berbicara seperti tadi, membuat Bagus dan Digo hanya melongo dan tidak percaya bahwa kalimat itu keluar dari mulut seorang Kimi.
David berjalan mendekat ke arah Kimi. Tapi sepertinya gadis itu tidak gentar. Sama-sama saling menatap tajam, keduanya seolah musuh yang di pertemukan dalam satu arena perang.
"Kalian boleh keluar dan kembali ke kelas," titah David yang langsung membuat mereka bergegas meninggalkan gudang.
"Kalian berdua saja yang boleh keluar. Dan kamu tetap disini!" tunjuk David pada Kimi dengan sorot mata tajamnya.
Digo dan Bagus langsung menatap Kimi, seolah mengatakan apakah ia akan baik-baik saja jika di tinggalkan.
Sementara Kimi hanya menjawab lewat kedipan matanya dan memberi kode agar Digo dan Bagus segera keluar dari sana.
Digo langsung merangkul Bagus keluar, sebenarnya mereka berdua tidak tega. Pasti Kimi akan berada dalam masa kesulitan setelah ini.
Setelah melihat kedua muridnya itu meninggalkan gudang, David berjalan menutup pintu. Hal itu membuat gadis bar-bar tersebut sedikit khawatir. Tapi kimi tidak menunjukkannya dan berusaha untuk tetap bersikap tenang.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Kenapa kamu berani melawan saya?." tanya David seraya berjalan perlahan mendekati Kimi. Melihat sorot matanya bisa di katakan ia terlihat layaknya seekor singa yang akan segera menerkam mangsanya, bisa di pastikan kalau David sudah terpancing emosi.
"Bapak kesal kan sama saya? Ayo pukul saya pak, pukul saya cepat." Ucap kimitiba-tiba sembari menadahkan pipinya seolah ia menyerahkannya pada David untuk di pukul.
Guru itu semakin bingung. Entah apa yang merasuki jiwa gadis ini, padahal dari kemarin-kemarin ia selalu menurut dan tidak melawan saat ia mengatakan apapun.
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?"
"Bapak mau tau kan?Makanya cepat pukul saya disini atau di sini." Kimi menunjuk pipi kanannya sendiri, beralih menujuk pipi kirinya.
"Cepat dong pak, pukul saya biar nanti saya laporkan ke kepala sekolah dan bapak bisa cepat keluar dari sekolah ini," lanjut Kimi terang-terangan yang membuat David mengerutkan dahi.
"Dari awal bapak emang sengaja balas dendam karena ulah saya di cafe kan? Tapi makin ke sini, saya malah semakin yakin kalau bapak memang memiliki perangai yang buruk. Terbukti kan? Bapak selalu menghukum murid tanpa menimbang dulu apa kesalahannya."
David yang sepertinya sudah di ambang emosi bergegas menuju tumpukan meja yang sudah rusak. Tangannya terulur mengambil sebuah balok kayu dan membawanya ke dapan Kimi.
Gadis itu membeku di tempat. Manik matanya menatap david dengan lekat.
"Mungkin kamu belum tau siapa saya sebenarnya, saya paling benci kalau ada orang yang berani merendahkan harga diri saya, apalagi sampai ada yang berani melawan seperti ini!"
Ucapan David suskses membuat kimi semakin memundurkan badanya sampai punggungnya mentok menabrak tembok.
"Ini kan yang kamu mau?" tanya david mengangkat balok kayu itu dan mengarahkannya tepat di depan muka muridnya itu.
Kimi memejamkan mata. Sementara David mengangkat balok kayu itu semakin tinggi dengan mengambil posisi ancang-ancang agar tepat mengenai objek di depannya.
BRUKKKK
"AAAAAAAAA."
"Loh kok kalian cuma berdua? Kimi dimana?" tanya Nana memelankan suara saat melihat Digo dan Bagus yang langsung terduduk di kursi dengan lemas.
"Tau ah, lo bertiga emang nggak setia kawan!" Digo menggerutu.
"Ya maap, kita kan taunya kalo lo pada ngikutin di belakang kita, eh nggak taunya malah ketangkep sama pak David," ucap Nana kembali.
"Digo, Bagus jangan berisik cepat menyesuaikan yang lain!"
"Baik pak." jawab Bagus dan Digo kompak pada pak Arya yang tengah duduk berkutat dengan laptopnya di depan sana.
"Disuruh ngapain sih?" tanya Bagus membolak balikan buku paket geografi yang berada di atas meja.
Nana menengok kebelakang. Membantu mencarikan halaman pada buku tersebut.
"Nih, kerjakan nomor 1 sampai 20." ucap Nana setelah menemukan halaman 63.
Pak Arya memang termasuk ke dalam golongan guru yang santai dalam mengajar. Jarang menjelaskan dan lebih sering menyuruh untuk merangkum materi ataupun memberikan tugas yang ada di buku paket.
"Na, lo itu kan baik, cantik, pinter, rajin menabung dan ramah lingkungan, gue nyontek punya lo boleh?" bujuk Digo dengan nada manja sambil mengedipkan mata genitnya.
"No way!" Nana malah berbalik badan dan pura-pura fokus pada bukunya sendiri.
"Silahkan di kerjakan dan jangan ribut, bapak tinggal ke kantor sebentar." ujar Pak Arya yang terlihat berlalu meninggalkan kelas.
__ADS_1
Jangan ditanya apa yang akan terjadi di dalam kelas, yang jelas hanya beberapa saja yang benar-benar mengikuti arahan dari pak Arya. Yang lain? Ya ribut sendiri-sendiri lah. Apalagi gengnya lambe turah langsung beraksi.
Amanda dan Talita langsung berlari menuju meja Bagus dan Digo.
"Kimi dimana sekarang?" Tanya Amanda setelah sampai di meja duo curut itu.
"Di gudang sama pak David" jawab Bagas santai.
"HAH" pekik tiga gadis itu serempak.
"Woilah kira-kira dong teriaknya, kuping gue budek nih." Digo memegang kedua telinganya yang hampir tidak berfungsi karena suara mereka bertiga melebihi sound sistem milik tetangga. Lebay!
"Kok bisa masih sama pak David sih? Kok kalian tega ninggalin Kimi sendirian?" Talita terus mengoceh.
"Ya bisa lah, kan kita di hukumnya sama pak David kalo di hukumnya sama bapaknya Kimi berarti sekarang lagi sama om Fahmi." jawab Digo santai yang membuat Amanda dengan reflek menjitak kepalanya.
"Terus kenapa kalian malah ninggalin Kimi di sana coba?" tanya Talita kembali.
"Ya karena tadi Kimi telah membela kebenaran. Eh sumpah ya gue baru liat ternyata si kampret tuh punya sisi barbar yang menguntungkan," jawab Digo dengan nada serius.
"Maksud lo?" tanya Amanda kebingungan.
"Tadi tuh si Kimi bikin pak David mati kutu. Gue juga heran kenapa dia nggak nglakuin ini dari awal kan pasti pak David bakalan sadar diri."
"Bentar-bentar gue nggak paham, jadi maksud lo Kimi berani ngelawan pak David terus maki-maki gitu?" tanya Amanda yang langsung di angguki oleh Bagus dan Digo.
"Aduh gawat sumpah gaes" Amanda langsung duduk di atas meja sembari memegang keningnya sendiri.
"Kenapa? Kan malah bagus, syukur-syukur pak David bakalan berubah nggak jadi guru killer lagi setelah ini," ujar Bagus
"Nggak bakalan berubah dan malah bakal makin parah setelah ini." Amanda menggigit bibir bawahnya yang membuat mereka bingung.
"Emang kenapa nda? Kok lo bisa yakin gitu." Nana berdiri dari posisinya. Berjalan mendekati Amanda yang sepertinya benar-benar yakin dengan ucapannya.
"Oke gue lupa tentang satu hal ini. jadi, pak David itu dulu bos di perusahaan properti dan tetangga gue itu dulu ada yang jadi karyawan disana. Tapi tetangga gue akhirnya mutusin buat mengundurkan diri karena sering di marahin sama pak David. Bahkan dia juga punya luka lebam di lengan akibat disiram air panas sama pak David."
"Hih masa gitu si Nda, jangan ngaco ah," ucap Talita gemetar.
"Sumpah, gue nggak becanda. Bahkan kata tetangga gue juga pak David sering ngancem karyawannya pake pisau kalo ada yang berani ngelawan."
"Jadi maksud lo pak David itu termometer?" tanya Digo spontan.
"Tempramental bukan termometer goblok!" ucap Bagus membenarkan sambil menjitak kepala Digo.
"Jangan-jangan pak David psikotes"
"Psikopat astaga." Untuk kedua kalinya Bagus kembali menjitak kepala Digo karena benar-benar tidak tahan.
"Udah dong jangan becanda! Mendingan sekarang kita pikirkan gimana nasibnya Kimi!" Bentak Nana membuat mereka terdiam.
"Berarti Kimi lagi dalam masalah dong sekarang? Tuh bocah kok lo nekat banget sih," Talita merengek sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia benar-benar khawatir pada temanya itu.
Menyadari tidak ada yang merespon, Talita membuka matanya perlahan dan ternyata sudah tidak ada siapapun di depannya.
__ADS_1
Sementara Nana, Amanda, Bagus dan Digo ternyata sudah bergegas lari menuju gudang belakang untuk menghampiri Kimi dengan sangat panik.
...-Bersambung-...