GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
15.


__ADS_3

Setelah beberapa menit menyusuri jalan, akhirnya kevindapat mengantar mantan pacarnya selamat sampai tujuan. Motor sport berwarna hitam itu kini sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah Kimi .


Tanpa menunggu lama, gadis itu langsung mencopot helm dan meringsut turun dari sana. Meskipun sedikit kesusahan karena motor kevin lebih tinggi jika dijangkau dengan kaki mungil kimi.


"Makasih Vin," ucapnya lirih menyodorkan helem di depan sang mantan.


"Iya santai aja, lain kali jangan duduk di pinggir jalan sendirian. Bahaya," kimi mengangguk. Kevin mengambil alih helm itu dari tangan Kimi dengan hati-hati. Entah setan apa yang merasuki kevin, akhir-akhir ini ia benar-benar perhatian pada gadis di depannya itu. Kan jadinya bikin susah move on.


"Yaudah lo langsung pulang aja, gue juga mau masuk," ucap Kimi tanpa basa-basi yang membuat kevin tersenyum di balik kaca helmnya. Ternyata, gadis di depannya ini masih tetap sama seperti dulu. Menggemaskan


Masih duduk di atas motor, kevin menyalakan motornya dengan cepat lalu meninggalkan rumah Kimi. Dalam sekejap, ia sudah melesat jauh dari pandangan.


Sementara gadis itu langsung menyelinap menuju pintu belakang sembari mengendap-endap. Berharap tidak ketahuan.


David yang ternyata sedari tadi berdiri di atas balkon hanya melihatnya dengan tak acuh sembari bersedekap dada. Anehnya, tidak ada rasa cemburu yang terselip dihatinya saat melihat sang istri pergi dengan laki-laki lain.


Bahkan ia tidak perduli tentang hidup gadis itu, biarkan saja kalau Kimi menemui pacar ataupun gebetannya, toh dia kan cuma istri jadi-jadiannya saja. Pikir David.


Melewati dapur, gadis itu membuka pintu belakang dengan sangat pelan agar tidak terdengar oleh siapapun. Ia berpikir pasti Fahmi masih berada di ruang tengah atau malah sudah tidur.


Kimi bernapas lega ketika ia bisa berjalan selamat sampai di depan kamar tanpa ada yang melihatnya.


"Dari mana kamu?"


Kimi yang tengah memegang knop pintu tiba-tiba melepaskannya dengan spontan. Gadis itu menengok ke sumber suara. Ternyata David sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan sangat menakutkan seperti biasa.


"Cc-cari angin" jawabnya gugup.


"Bagus, biar saya adukan ke om Fahmi kalau anaknya ini habis pergi malem-malem dan di anterin sama laki-laki."


"Bapak tuh rese banget ya, bisa nggak sih jangan ngurusin hidup saya?" Menatap jengah, Kimi berusaha sabar menghadapi orang ini.


"Siapa juga yang mau ngurusin hidup kamu? Saya cuma mau bikin kamu tersiksa karena hidup sama saya," ucap David dengan entengnya.


"Jangan mentang-mentang sudah jadi suami saya terus bapak bisa seenaknya ya!"


"Saya nggak pernah minta kamu jadi istri saya, kamu sendiri yang berminat kan?"


"Hahaha berminat?" Tawa Kimi seolah tak percaya lalu mengubah ekspresinya menjadi datar. "Ya nggak lah, gila kali"


"Cepat buka pintunya!" Titah David tiba-tiba yang membuat gadis itu langsung melotot tajam.

__ADS_1


"Ma-mau ngapain?" Gugup, Kimi malah merentangkan kedua tangannya di depan pintu.


"Cepat buka atau saya adukan ke om Fahmi," ancam David dengan nada bicara yang datar tapi sukses membuat gadis itu menghela napas gusar. Dengan emosi kimimembuka knop pintu kamarnya.


Bersedekap dada, David berjalan memasuki kamar Kesya sambil memandang sekeliling. Ia terlihat menggelengkan kepala beberapa kali saat melihat kamar seorang gadis yang cukup berantakan.


Kaos kaki di lantai, baju kotor di bawah ranjang, buku di campur dengan selimut mungkin sudah menjadi pemandangan biasa saat masuk ke kamar gadis itu.


Tapi bagi pria itu, ini pertama kalinya ia masuk ke kamar wanita dan langsung disuguhi pemandangan se ruwet ini.


Setelah dirasa cukup puas melihat sekeliling, Dvid berniat mendudukan bokongnya di atas kasur king size berbalut sprei putih, tapi sang pemilik tiba-tiba menjerit.


"AAAA BAPAK JANGAN DUDUK DI SITU!!!"


Sontak David tergelonjat kaget dan tidak jadi melanjutkan niatnya untuk duduk. Kimi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu langsung berlari ke kasurnya.  Spontan, ia mengambil bra berwarna hitam di atas kasur yang hampir di duduki oleh suaminya itu.


David yang baru menyadari itu langsung memalingkan pandangannya ke arah lain sambil berdehem. Pura-pura tidak melihat apapun.


"Ke-kenapa ditaruh di atas kasur?" tanya David gugup.


"Ya bebas dong pak, ini kan kamar saya. Mau saya taruh di atas kasur, mau saya gantung di atas pintu ya suka-suka saya," jawab Kimi berlalu menaruh bra itu di keranjang baju kotor.


David benar-benar geram menghadapi gadis di depannya ini. Baru sebentar menjadi istri sudah hampir menaikkan darah tingginya.


Kimi yang melihat itu langsung merebutnya dari tangan David dengan paksa.


"Jangan dipegang! Ini barang berharga."


Sejurus kemudian gadis itu berjalan mengambil sebuah bantal dan memberikannya pada David.


"Nih."


"Buat?" tanya David menerima bantal itu dengan ragu.


"Ya buat tidur bapak lah, masih syukur saya kasih bantal bukan saya kasih bom," jawab kimi dengan ketus.


"Jadi maksudnya kamu nyuruh saya tidur di luar?" tanya David kembali.


"Iyalah, emang bapak mau tidur di dalam lemari?"


"Saya tidur disini,"

__ADS_1


"Loh-loh, ya nggak bisa gitu dong pak, saya nggak mau tidur sama bapak!"


"Siapa juga yang mau tidur sama kamu? Saya kan tamu dan suami kamu di sini, jadi harus di hormati. kamu yang tidur di luar."


"Kamar tamu sama kamar pembantu yang di bawah juga kosong, ayok saya anterin bapak ke sana," ajak Kimi dengan sopannya.


"Nggak." tolak David dengan cepat.


"Inget ya pak, bapak disini tuh lagi numpang, sadar diri dong masa mau ngalah-ngalahin tuan rumah," cerocos Kimi kembali.


"Ooh iya saya numpang ya, yaudah anterin saya ke kamar pembantu." Davud pura-pura mengalah untuk kali ini yang membuat Kimi langsung tersenyum lega.


"Nah gitu dong dari tadi."


Sembari membopong bantal, David keluar dari kamar Kimi dengan santai. Sebenarnya ia sedikit heran dengan sifat gadis ini. Kadang ia seperti gadis penakut, kadang penurut, tapi kadang berani melawan. Dasar absurd.


Kimi menggiring David menuju kamar tamu, gadis itu tidak jadi membawanya ke kamar pembantu karena biar bagaimanapun David itu lebih tua darinya. Tua banget malah. Ia harus tetap menghormatinya, meskipun kadang yang di hormati tidak tau diri.


"Nih kamar tamu yang lebih luas dari pada kamar pembantu. Bapak bisa tidur di sini dengan nyaman." Kimi mengambil kuci yang berada di atas rak. Memasukkan batang kunci itu dan membuka pintu dengan pelan.


"Silahkan pak, kamar ini juga lebih bersih dari kamar saya," Kimi mengatakan itu dengan sopan.


David berjalan mesuk ke sana. Menaruh bantal di atas kasur.


"Oh itu tadi kamar kamu? Saya pikir kandang tikus," ucap david mengangguk-anggukan kepala dengan nada meledek. Pura-pura polos. Sialan.


Gadis itu kembali menarik napasnya panjang. Menghembuskannya perlahan dan berusaha menahan emosi pada laki-laki di depannya ini.


Berbaring di atas ranjang, David tiba-tiba memerintah Kimi dengan entengnya.


"Tutup pintunya!"


Memanyunkan bibir, Kimi pura-pura kecewa. "Hm bapak mau langsung tidur? Padahal saya mau bawakan cerita yang cocok buat Bapak loh."


"Apa?" Tanya Davud acuh. Sebenarnya ia juga sedikit penasaran.


Kimi sedikit mendekat dan berbisik.


"Cerita malam pertama." Sontak David membelalakan mata. Bahkan tidak ada sedikitpun dalam pikirannya untuk memikirkan hal-hal seperti itu.


"Malam pertama di alam kubur," lanjut Kimi kemudian tertawa puas. Setelah mengatakan itu, ia langsung lari dan cepat-cepat menutup pintu kamar sebelum David melahapnya hidup-hidup.

__ADS_1


... -Bersambung-...


__ADS_2