GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
19.


__ADS_3

"Lakukan pemanasan dengan benar!"


Bersedekap dada, David berjalan mengawasi satu persatu muridnya yang tengah melakukan pemanasan sebelum memulai kegiatan olahraga.


Di sebelah sana, Bagus terlihat berdiri di depan barisan memimpin pemanasan. Melihat sorot mata David yang terus mengawasi, Bagus semakin bersemangat dalam menghitung gerakan demi gerakan.


Sementara yang di belakang juga mengikuti gerakannya dengan serius, Kecuali Kimi. Gadis itu tidak ada seriusnya sama sekali, Bahkan saat mengangkat kedua tangan ke atas ia seperti mengangkat beban hidup yang sangat berat.


"Olahraga kali ini mengandalkan kekuatan otot kalian, jadi harus melakukan pemanasan dengan benar. Jangan malas-malasan, Mengerti!!" Seru David menaikan atensi saat berdiri di belakang Kimi.


Menyadari bahwa David sedang menyindirnya, Kimi mempercepat gerakan pemanasan dengan sedikit sewot.


"Kita disuruh pemanasan, bukan disuruh gebukin maling kim," bisik Nana sangat pelan.


"Bodoamat biar makin sehat," pungkasnya kesal, Jujur Kimi masih sangat capek karena tadi pagi harus mengejar bus saat berangkat sekolah karena David tidak memberinya tumpangan.


Hanya butuh beberapa menit untuk pemanasan, saat ini mereka sudah selesai dan Bagus juga sudah kembali bergabung ke barisan.


David yang sedari tadi mengawasi dari belakang langsung berjalan kedepan.


"Kali ini kita akan melakukan olahraga lompat jauh, jadi Saya minta perhatikan dan praktekan sesuai dengan teori yang saya jelaskan nanti."


"BAIK PAKKkk," jawabnya serempak.


"Gerakan dasar dari olahraga lompat jauh ini membentuk gerakan melompat dengan kaki yang diangkat ke atas di bagian depan tubuh. Gerakan lompatan dilakukan untuk memindahkan titik berat badan di udara dalam waktu selama mungkin-"


"Aspek yang dinilai dalam lompat jauh yaitu ketepatan melakukan tolakan dan jarak lompatan yang dinilai dari ujung papan tolakan hingga tempat pertama kali kaki mendarat-"


David mulai menjelaskan materi dan mencontohkan gerakan demi gerakan secara detail. Mereka nampak begitu serius memperhatikan karena sudah tau kalau Darel tidak akan mengulangi penjelasannya lagi.


Setelah selesai menjelaskan teknik dari awal hingga akhir, tibalah giliran mereka mencoba mempraktekannya secara langsung.


Tanpa basa-basi, David membuka buku presensi dan akan memanggil mereka satu persatu.


"Alvaro Refandra."


Alvaro yang merasa namanya dipanggil langsung maju kedepan.


"Saya pak?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Yang namanya Alvaro di kelas ini memangnya ada berapa?" tanya David balik. Alvaro yang mendengar hal itu hanya cengengesan.


"Ayo cepat!" serunya membuat Alvaro mengangguk dan bergegas menuju garis start.


Masalah olahraga sih jangan di tanya lagi, Alvaro memang memiliki bakat lebih di bidang olahraga. Bahkan ia juga ikut ekstrakulikuler basket dan pernah mengikuti lomba lari jarak jauh. Jadi ya untuk olahraga semacam ini baginya mudah.


"Siap-siap Nda, habis ini lo kan?" tanya Nana menatap Amanda.


"Gue takut banget sumpah. Pengin pipissss," rengek Amanda memegangi perut bagian bawahnya.


"Mampus lo Nda, siap-siap aja di sambit sama pak Davis haha," ledek Digo membuat Amanda semakin takut.


"Selanjutnya akan Saya panggil secara acak," ucap guru itu yang sukses membuat semua muridnya melotot.


"Yah kok acak sih," dumel Nana kecewa.


"Yes bukan gue," seru Amanda dengan senangnya.


"Selanjutnya Kimimela agatha."


Kimi yang mendengar namanya di panggil langsung melotot. Bahkan ia tidak memperhatikan sama sekali saat David menjelaskan tadi.


"Gue?" tunjuk gadis itu pada dirinya sendiri di depan Nana.


Nana menganguk cepat. "Udah cepet maju aja dulu, intinya lo harus lari habis itu lompat kaya kodok. Udah gitu doang kok, cepet kim dari pada nanti dimarahin sama pak David," cerocos Nana sambil mendorong-dorong Kesya.


"Emang kodok bisa lari?" tanya Digo yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.


"Ya maksud gue lompatnya yang kaya kodok. Hih goblok!" jawab Nana sewot pada Digo.


"Saya hitung sampai tiga, kalau tidak maju berarti Saya anggap tidak berangkat!" seru David kembali membuat Kimi menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.


Kimi yang tadinya berada di baris paling belakang memantapkan hati berjalan pelan menuju garis start.


Sesekali ia menatap David dan beralih menatap temam-temannya yang masih berada di barisan.


Berbekal kenekatan, gadis itu mulai melakukan gerakan start dengan asal-asalan. Sejurus kemudian ia terlihat berlari seperti apa yang tadi dibilang oleh Nana. Bahkan teman-temannya banyak yang tertawa melihat gerakan Kimi karena tidak sesuai teori. Tapi bodo amat, nampaknya gadis itu tidak perduli.


Kimi berlari sangat kencang sampai tidak memperdulikan apapun. Namun sayang, pada saat posisi melompat, kakinya nampaknya tidak siap yang membuatnya kehilang keseimbangan dan pada saat pendaratan tubuhnya malah nyungsep.


Brukk


"KIMI...!" Pekik Nana cemas.


"Awww." Meringis kesakitan, Kimi langsung memegangi kakinya yang nampaknya terkilir.

__ADS_1


Mereka semua langsung berhambur mendekat ke arahnya. Termasuk David yang langsung berjalan cepat. Berniat menolong.


Namun pergerakannya terhenti saat seseorang tiba-tiba datang menerobos kerumunan dan langsung membopong gadis itu ala bridal style.


"Kim lo ngak papa?" Mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba membuat kimi terdiam, bahkan rasa sakitnya seakan terbaur dengan rasa kagetnya.


Gadis itu menggeleng cepat, sementara seseorang yang tengah membopong itu langsung berdiri dari posisinya dengan sedikit kesusahan.


"Vin gue ngak papa kok," lirih Kimi pada mantan pacarnya itu. Ya orang itu adalah kevin, cowok itu nampaknya tidak mendengarkan ucapan Kimi dan malah berjalan mendekati David.


"Pak Saya izin bawa Kimi ke UKS," izinnya pada David yang hanya mendapatkan anggukan.


Setelah mendapat izin, kevin bergegas menuju UKS, sementara Kimi hanya menatap pahatan wajah cowok yang sedang mengendongnya saat ini.


Semua tampak melongo, bahkan cewek-cewek banyak yang memekik sendiri karena mereka menganggap kevin sangat gentleman.


"Keuwuan macam apa lagi ini miskah," ucap Amanda langsung disaut oleh Alvaro.


"Lo mau digituin juga Nda? Ayok sini gue gendong sekarang," tawarnya merentangan kedua tangan.


"Hih ogah!"


David menatap punggung laki-laki yang tengah membopong istrinya tersebut tanpa berkedip. Bukan karena cemburu, melainkan wajahnya yang terlihat tidak asing. Padahal David sepertinya tidak mengajar di kelasnya.


Sejurus kemudian, David berjalan mendekati Bagus.


"Siapa dia?" tanyanya tiba-tiba yang membuat Bagus kaget.


"Siapa Pak? Yang tadi bawa Kimi maksudnya?" Berbalik tanya, Bagus  mendapat anggukan dari David.


"Oh itu kevin pak, kelas ips 4."


"Oh." jawab David yang tidak mau banyak tanya lagi.


"Sumpah kevin tuh keren banget."


"Iya udah kapten basket, ganteng pula."


"Padahal gue denger-denger dulu tuh si Kimi cuma di permainkan loh."


"Iya tapi sekarang malah kevin yang ngejar-ngejar."


"Kalo gue jadi Kimi sih udah mau tuh di ajak balikan."


Mengingat kejadian itu, diam-diam David menahan tawa karena ya lucu saja kalau di pikir-pikir. Ternyata Bagus diam-diam melirik, Hal itu membuat David langsung merubah raut wajahnya menjadi ekspresi datar dalam waktu sekejap.


"Kenapa ribut? Cepat kembali ke barisan, lanjutkan olahraganya!"


__


Disisi lain, kevin tengah membaringkan tubuh Kimi dengan sangat hati-hati di atas kasur UKS.


"Kok lo bisa tiba-tiba ada di lapangan sih?" selidik Kimi.


"Gue tadi mau ke toilet terus nggak sengaja liat lo jatuh di lapangan makanya gue langsung lari," jelas kevin membuat Kesya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa rasanya sedikit canggung sekarang.


"Yaudah lo tinggalin gue aja gapapa kok."


"Iya nanti kalo petugas UKS udah ada di sini."


Kimi mengangguk, suasana benar-benar semakin awkward.


"Nanti lo harus tetep ke dokter, tuh liat sampai biru kakinya." tutur kevin menujuk pergelangan kaki gadis itu yang terlihat agak bengkak.


"Atau mau gue anterin ke dokter sekarang?" lanjutnya.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba dua petugas UKS datang dan membuat Kimi sedikit lega.


Mereka langsung cekatan mengambil betadine dan perban untuk mengobati luka luar pada kaki gadis itu yang juga berdarah.


"Gue nyari es batu dulu buat ngompres kaki lo biar nggak makin bengkak." ucap kevin bergegas pergi.


"Nggak usa-" Kimi menarik pergelangan tangan kevin dengan cepat. Cowok itu tersenyum, melepaskan pegangan tangan kimi dan langsung berlari meninggalkan UKS.


"Ini kayaknya terkilir kak, kami hanya bisa obatin luka luarnya saja soalnya dokter UKS hari ini nggak datang, jadi cuma kami dari PMR yang jaga hari ini," jelas salah satu dari mereka.


"Iya gapapa kok dek," jawab Kimi lirih.


Sementara disisi lain, hanya butuh waktu sebentar untuk kevin mencari es batu. Sekarang ia sudah kembali lagi ke UKS menghampiri Kimi.


Kimi yang sudah selesai di perban mengubah posisinya duduk di pinggiran ranjang. Petugas UKS juga keluar dari sana setelah melihat kevin datang kembali.


"Vin lo balik aja ke kelas, gue udah sembuh kok. Bentar lagi temen-temen gue juga pasti ke sini," ucap Kimi melihat kevin tidak tega. Bahkan cowok itu nampaknya sangat capek. Terbukti dengan keringat yang menetes di dahi dan juga napasnya yang tidak beraturan.


"Sini biar gue kompres dulu." Kevin tidak memperdulikan ucapan Kimi. Ia malah berjongkok kemudian menempelkan es batu pada pergelangan kaki gadis tersebut dengan telaten. Hal itu sukses membuat jantung kimi berdetak tak beraturan.

__ADS_1


"Aw ssakit Vin," lirih kimi meringis kesakitan.


"Iya ini pelan-pelan kok. Anggap saja ini sebagai pertolongan pertama sebelum di tangani sama dokter."


Gadis itu hanya mengangguk ragu,


Tanpa  disadarikeduanya sekarang tengah menjadi pusat perhatian segerombol murid yang mengintip dari balik jendela.


Sementara geng lambe turah yang baru datang langsung heboh dan berbut membuka pintu UKS untuk memastikan keadaan kimi, namun usahanya gagal.


"Ngapain pada di sini? Cepat kembali ke kelas!" sergah David tiba-tiba.


Menengok ke sumber suara, mereka yang tengah mengintip dari jendela langsung bubar. Termasuk Amanda dan kawan-kawannya yang baru datang, apalagi saat melihat David sudah berdiri di belakang.


Setelah gerombolan itu bubar, David membuka pintu UKS dengan cepat. Hal itu sukses membuat kevin dan Kimi kaget.


"Kamu silahkan ke kelas saja," ucap David tiba-tiba sambil berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"Tapi sepertinya kaki Kimi terkilir pak." Kevin menghentikan aktivitasnya lalu berdiri.


"Saya wali kelasnya, jadi biar Saya yang bertanggung jawab. Silahkan kamu kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran."


Kevin mengangguk lalu beralih menatap Kimi.


"Gue ke kelas dulu kim, nanti kalo ada apa-apa kabarin gue aja," ucapnya bergegas pergi.


Sepeninggalnya kevin. David langsung menutup pintu UKS.


"Kan sudah saya bilang, lakukan pemanasan dengan benar dan jangan main-main sendiri," ucap David datar sambil berjalan mendekati Kimi.


"Yakan saya nggak tau kalau kejadiannya bakal kaya gini pak."


"Atau jangan-jangan memang sengaja caper biar di gendong dan di tolong sama pacar kamu?" terka David.


"Wah bapak jangan fitnah dong, mana ada sengaja caper sampai bengkak kaya gini awws?" Tunjuk gadis itu pada pergelangan kakinya.


David melirik sekilas. Beralih menatap wajah Kimi yang nampaknya memang tengah menahan sakit.


"Saya akan urus surat izin ke BK, habis itu kita langsung ke dokter."


"Nggak us-"


"Jangan GR. Saya melakukan ini karena kamu terluka di jam pelajaran olahraga, jadi sudah seharusnya Saya yang bertanggung jawab." 


Gadis itu mendengus dan bergumam dalam hati. "Dih! Lagian siapa juga sih yang GR. Sok tau banget jadi orang."


___


Kali ini Kimi dan David sedang berada di perjalanan setelah pulang dari rumah sakit.


Ya, setelah di periksa oleh dokter ortopedi, dokter itu bilang bahwa kaki Kimi memang terkilir yang membuatnya sedikit bengkak. Namun nampaknya itu bukan masalah serius sehingga hanya butuh waktu untuk istirahat untuk sembuh.


"Saya mau balik ke sekolahan aja Pak, lagian kata dokter juga nggak parah kok."


"Saya sudah buatkan surat izin, jadi Kamu bisa istirahat di rumah."


"Tapi-"


"Jangan protes! Nanti kalau ada apa-apa sama kaki kamu gimana? Ujung-ujungnya Saya yang di salahkan. Padahal itu kesalahan kamu sendiri." potong David.


"Ck! Terserah Bapak aja lah maunya gimana. Saya capek." Menggerutu, gadis itu sontak memalingkan wajahnya ke arah jendela.


......................


David sudah menepikan mobilnya di depan gerbang rumah. Kimi terlihat turun dari mobil dengan susah payah. Kaki kanannya benar-benar sakit saat digunakan untuk berjalan.


"Ini ambil kunci rumahnya, Saya harus ke sekolah lagi," ucap David yang masih berada di dalam mobil sambil menunjukkan sebuah kunci di tangan kanannya. Kimi yang sudah berjalan beberapa langkah mendengus dan langsung berbalik arah untuk mengambil kunci tersebut dengan langkahnya yang pincang.


David sepertinya tidak tega, setelah berpikir ia memutuskan keluar dari mobil dan berjalan mendekati gadis itu.


Tanpa aba-aba, tangannya terulur memegang bahu Kimi. Sejurus kemudian menuntunnya berjalan dengan hati-hati.


Rasanya agak aneh, bisa di bilang ini adalah pertama kalinya ia menyentuh Kimi seperti ini. Entah mengapa David mendadak gugup.


Kimi yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan seperti ini juga merasa heran. Tidak biasanya David baik dan perhatian. Namun gadis itu juga sebenarnya merasa canggung.


Tidak sampai disitu, David juga inisiatif membukakan pintu tanpa Kimi memintanya.


"K-kalau ada apa-apa hubungi nomor Saya. Jangan lupa makan, istirahat lalu minum obat. Jangan buka pintu rumah untuk siapapun kecuali Saya yang meminta," ucap David dengan cepat kemudian langsung bergegas menuju mobil.


Di dalam mobil, David terlihat menampar pipinya sendiri. Meruntuki ucapannya tadi, entah apa yang membuatnya berkata sok perhatian di depan Kimi.


Baru kali ini Kimi melihat David gugup dan aneh seperti ini. Gadis itu hanya mengrenyitkan dahi kemudian mengedikan bahunya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara David segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


...-bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2