GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
12.


__ADS_3

Bel sekolah sudah berbunyi sejak 20 menit yang lalu. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Theresia high school memang sudah menerapkan sistem full day school atau lima hari kerja. Jadi ya tidak heran kalau jam pulang lebih lambat dari SMA lain.


Saat ini hanya menampakan beberapa murid saja yang masih berlalu lalang di area sekolah, biasanya sih bagi mereka yang ikut ekstrakulikuler maupun anak organisasi yang aktif.


Termasuk Kimi yang masih berdiri di atas rooftop seorang diri.


Sudah lebih dari 10 menit ia berdiri di sana menunggu seseorang yang entah di mana keberadaannya. Gadis itu memang berniat menemui si pengirim surat misterius, karena penasaran siapa orang di balik itu.


Sebenarnya tadi sudah berusaha mengintrogasi Devi, tapi nampaknya Devi tetap bungkam dan tidak berani mengatakan apapun. Karena dari itu kimi memutuskan untuk datang ke rooftop menemui orang itu secara langsung.


Gadis itu menghela napas berat. Mungkin ia sudah kelewat gabut sampai-sampai harus menunggu seorang pengecut yang tidak berani menampakan batang hidungnya.


Kimi melangkahkan kaki berniat meninggalkan tempat itu karena sudah dipastikan tidak akan ada siapapun yang datang.


"Buang-buang waktu gue aja sih! Awas aja kalo sampe besok kirim surat lagi nggak bakalan deh gue tanggepin!" Kimi menggerutu. Ia berjongkok seraya membenarkan ikat tali sepatunya yang terlepas. Sementara mulutnya terus mengucapkan sumpah serapah.


"Kalo berani tuh dateng ke kelas, bukannya nyuruh orang ke sini tapi sendirinya malah pengec-" Kimi menggantung ucapannya. Begitu juga aktivitasnya mengikat tali sepatu saat menyadari ada seseorang dengan balutan kaos jersey dilengkapi sepatu sport tengah berjalan dan berhenti tepat di depannya.


Gadis itu mendongak. Menatap seseorang yang kini tersenyum sembari mengulurkan tengan di depannya dengan sangat manis. Cowok itu bermaksud membantu Kimi berdiri.


Tanpa disadari dada Kesya mulai sesak. Senyuman itu adalah senyuman yang tak pernah ingin ia lihat lagi.


Menyadari tidak ada respon apapun dari Kimi, Sejurus kemudian cowok berbadan jangkung itu terlihat berjongkok tepat di depannya. Tangannya terulur pada tali sepatu milik gadis itu dan mulai mengikatnya dengan telaten.


"Selesai," ucapnya bangga setelah tali sepatu milik Kimi terikat sempurna.


Tanpa menjawab apapun Kimi langsung membuang muka. Ia langsung berdiri dan berniat pergi dari sana. Tapi usahanya gagal.


"Kim." Cowok itu berdiri dari posisinya. Menahan tangannya dengan erat. Membuat Kimi tertahan dan tidak dapat pergi dari sana.


"Lepasin!" Kesya memberontak. Menatap cowok di depannya ini dengan jijik.


"Kim, lo boleh benci sama gue. Tapi tolong beri gue kesempatan buat bicara sebentar," pintanya dengan serius.


"Apa lagi sih Vin? Mau lanjutin buat jadiin gue bahan taruhan lagi? Sorry ya gue udah nggak kemakan sama omongan lo!" todong Kimi tanpa ragu.


Ya, orang yang tengah berhadapan dengannya sekarang adalah kevin. Cowok yang menyandang predikat sebagai mantan pacar sekaligus cinta pertamanya.


"Kim gue bener-bener minta maaf, gue nyesel udah bikin lo kecewa." Kevin memegang kedua tangan kimi dengan sangat lembut yang sukses membuatnya terdiam.


"Gue bener-bener merasa bersalah sama lo. Gue pengin lo maafin kehilafan gue," lanjutnya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Haha apa? Gue nggak salah denger?" Melepaskan pegangan tangan kevin dengan kasar, ia berpura-pura terkekeh pelan.

__ADS_1


"Sumpah kim gue nyesel banget. Gue bakalan lakuin apapun biar lo bisa maafin gue."


"Oh jadi lo putus sama Gita? Terus lo lari ke gue lagi ceritanya," todong kimi lagi yang membuat cowok tersebut semakin mendekat.


"Lo jangan bahas dia di depan gue," ucap kevin tak acuh.


"Ya iyalah udah bekas ya dibuang."


"Meskipun lo nggak kasih kesempatan lagi. Setidaknya tolong maafin gue. Lo nggak pernah tau seperti apa rasa bersalah dan penyesalan yang selalu menghantui gue setiap hari."


"Itu mah lo aja ya lebay. Gue biasa aja tuh," ucap Kim santai yang membuat kevin semakin merasa bersalah.


"Atau jangan-jangan lo pengecut yang nyuruh gue ke sini pake surat?" lanjutnya menekan setiap ucapannya.


Sembari mengusap wajahnya dengan kasar, kevin mengangguk. Ia berusaha mengesampingkan gengsinya dengan berkata yang sebenarnya. "Iya gue yang ngasih, gue juga sengaja pakai kalimat kasar biar lo penasaran dan mau dateng kesini karena kalo gue pake surat cinta lo bakalan jijik kan sama gue?. Jujur gue malu kim sama diri gue sendiri. Gue bodoh kim, demi menuruti tantangan yang nggak bermutu itu sampai harus korbanin perasaan lo," ucap kevin panjang lebar.


"Mungkin lo nggak sadar kim kalo akhir-akhir ini gue selalu merhatiin lo dari kejauhan-" lanjut kevin kemudian menjeda ucapannya.


"Bahkan gue tau saat lo terlambat dan dihukum, lo nggak lari 10 putaran tapi cuma 6 dan sisanya lo motong jalan ke tengah lapangan. Gue juga liat lo pake celana Bagus waktu manjat pohon mangga sampai harus dihukum bersihin gudang belakang. " kevin tersenyum tipis setelah mengatakan hal itu yang membuat Kimi terdiam sejenak. Mungkinkah kevin memperhatikan sampai sejauh itu setelah ia mencampakanya?


"Terus gue harus percaya? Sekalinya babi ya tetep jadi babi nggak bakal berubah jadi kucing, apalagi dalam waktu secepat itu," Sindir Kimi yang membuat kevin langsung terdiam.


"Lo pasti ada motif terselubung makanya berusaha deketin gue lagi?"


"Tapi mulai sekarang gue janji bakal jagain lo kim."


Kimi yang kaget langsung memberontak, ia berusaha melepas pelukan kevin.


"Lepasin vin!" pekik Kimi memundurkan badannya.


"WOY PENGECUT! SINI KALO LO EMANG BERANI!" Suara lantang itu tiba-tiba mengisi keheningan di atas rooftop. Sontak Kimi dan kevin langsung menengok ke belakang.


Layaknya pahlawan super yang hendak melawan musuh, Nana berjalan dengan memanggul sapu di bahu kanannya. Tak ketinggalan, taplak meja berwarna biru terlihat melingkar di lehernya seperti superman. Fix itu taplak meja yang di kelas!


Kimi langsung berlari ke arah Nana.


"Heh lo ngapain di sini?" tanya Kimi memelankan suaranya. Nana malah semakin berjalan mendekati kevin.


"Kim, gue nggak mungkin biarin lo nemuin pengecut sendirian, apalagi pengecutnya kaya dia noh!" Nana menunjuk kevin dengan gagang sapu yang membuat cowok itu terkekeh.


"Pokoknya lo jangan pernah mau kemakan sama omongan dia lagi!" lanjut Nana memasang wajah sangarnya.


"Yaudah kim gue pergi dulu, masih ada latihan basket. Maaf udah bikin lo nunggu lama." Kevin melangkahkan kaki, namun Nana mengahlanginya dengan gagang sapu.

__ADS_1


"Eits mau kemana lo?"


"Gue nggak ada urusan sama lo! Urusan gue sama Kimi." Kevin menyingkirkan gagang sapu di depannya dengan kasar.


"Kalo lo berani nyakitin Kimi lagi, lo harus berhadapan sama gue!" Nana melotot, sementara cowok itu hanya menanggapinya dengan santai.


"Gue bakal lakuin apapun buat ngebuktiin kalo gue bener-bener serius."


Mendengar ucapan kevin, sontak Nana langsung tersenyum licik dan mulai berbisik pada kimi.


"Lo diem aja, biar gue yang urus." Setelah membisikkan itu di telinga Kimi, Nana kembali menatap kevin dan mulai berjalan memutarinya.


"Oke, besok lo harus datang ke kelas kita pas jam istirahat pertama. Anggap aja itu sebagai ujian awal." Kevin hanya menggangguk, menyangupi ucapan Nana.


"Gue pergi dulu kim, lo harus jaga diri. Besok pasti gue dateng," tukas kevin berlalu meninggalkan tempat itu dengan semangat.


Namun kimi tidak menghiraukan, ia langsung menatap Nana dengan tajam.


"Lo ngapain pake ngomong kaya gitu sih? Ntar dikira gue ngasih harapan gimana coba?" Kimi memayunkan bibirnya kesal.


"Biarin aja lah sya, sekali-kali ngerjain buaya kan nggak salah. Tapi inget, lo nggak boleh langsung kemakan sama omongannya dia."


Gadis bar-bar itu menghela napas berat. Sialan, usahanya buat move on sia-sia. Jangan sampai deh hatinya luluh lagi.


......................


Malam semakin larut, namun kimi masih gelisah dan tidak bisa tidur. Guling kanan, guling kiri, tengkurap, salto tetap saja matanya tidak bisa terpejam. pikirannya terus bergulir pada kevin.


Ia hanya penasaran, apakah cowok itu benar-benar serius dengan ucapannya? Ataukan ia sedang memasang umpan untuk mengelabuhinya lagi?


Kimi mengambil ponselnya, Membuka aplikasi WhatsApp dan mulai mencari nama kevin. Dengan ragu-ragu, ia membuka daftar blokirnya lalu melempar ponselnya sembarang.


"Aduh kok malah gue buka sih," gumamnya menyesal. Ia langsung menutup wajahnya dengan bantal dan menenggelamkan kepalanya di bawah sana.


Sejak awal putus, Kimi memang langsung memblokir kontak keviin dan tidak ada lagi komunikasi diantara mereka.


Padahal bisa dibilang Kimi sudah tertarik dengan padanya sejak awal masuk sekolah, bahkan ia sering melihat kevin latihan basket dan sering diam-diam melihat dia dari kejauhan.


Sebagai kapten basket yang tampan, tentunya banyak cewek yang berusaha mendapat perhatian darinya. Tapi betapa kagetnya Kimi setelah cowok itu tiba-tiba menyatakan perasaannya di depan umum. Tentu saja sebagai cewek ya langsung melting, apalagi sudah tertarik sejak dulu.


Dan bodohnya Kimi langsung menerima dan menganggap kalau kevin itu bakal serius. Eh taunya cuma dipermainkan. Sialan!


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2