
AUTHOR P.O.V
"Bagaimana saksi? sah?"
"SAH"
Buliran air mata lolos membasahi pipi Santi. Sebagai seorang ibu, hatinya seakan menolak keras saat melihat anaknya sudah sah dengan status barunya.
Berbeda dengan Fahmi yang justru merasa lega karena pernikahan ini tetap berjalan lancar meskipun tidak sesuai dengan rencana awal.
Di sebelah sana David terlihat begitu tampan dengan balutan tuxedo yang dikenakan. Laki-laki itu kini telah resmi menjadi suami sah dari seorang wanita yang sedang duduk di sampingnya. Wanita yang tak pernah ia cintai.
Jika kalian berpikir itu Airin, kalian salah besar. Bukan lagi Airin yang duduk di sana, melainkan seorang gadis bernama Kimi.
Oh tidak! Mungkin Kimi tengah bermimpi saat ini. Kalau memang ini mimpi, ingin sekali rasanya bangun dan melupakan mimpi menyeramkan ini.
Tapi nyatanya ini bukanlah mimpi, ini takdir yang harus ia terima.
Flashback on
"Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan harga diri keluarga kita." Kimi dan Santi saling bertatapan. Tidak mengerti dengan cara apa yang di maksud oleh Fahmi.
"Tapi gimana caranya pi?" tanya Santi tak berdaya.
"Risa, tolong persiapkan semua untuk Kimi!" titah Fahmi pada Risa--mbak MUA yang sedari tadi kebingungan di ambang pintu.
"Apa maksud papi?" tanya gadis itu dengan tatapan bingungnya.
"Nggak ada cara lain, kita tidak mungkin membatalkan acara pernikahan ini dan mengatakan kalau Airin hamil di luar nikah. Mau di taruh di mana muka saya?"
Kimi hanya mematung di tempat. Sementara Santi terus menangis.
"Tapi kita nggak mungkin ngorbanin Kimi buat gantiin Airin. Kimi masih sekolah!" bantah Santi yang sudah tidak tahan dengan ide gila dari suaminya.
"Pi, Papi mau korbanin Kimi demi harga diri di depan koleganya papi?" Meloloskan air mata, kimi menatap ayahnya dengan sendu.
Fahmi mengusap wajahnya kasar. "Tidak ada pilihan lain! Ini bukan semata-mata karena harga diri, tapi bisnis papi dan keluarga Reno bisa berantakan kalau acara ini di batalkan begitu saja!"
Badan gadis itu seketika lemas, ia terduduk di atas lantai meratapi nasibnya.
Santi berdiri dari posisinya, ia membantu anaknya itu untuk bangun dan seketika memeluknya dengan erat.
"Dimana perasaan kamu mas? Kamu tega mengorbankan anak kita yang masih sekolah untuk menikah demi urusan bisnis?" Santi menatap suaminya tajam. Tapi Fahmi malah mengalihkan pandangannya.
"Kimi dengarkan papi, turuti perintah ini kalau kamu masih mau liat papi hidup!" ancam Fahmi yang sukses membuat Kimi tidak bisa mengatakan apapun.
"Cepat persiapkan semuanya dengan baik, biar saya yang akan bicara dengan keluarga Reno." lanjut Fahmi kemudian pergi meninggalkan kamar Airin.
Risa menuntun Kimi menuju meja rias di bantu oleh Santi.
Gadis itu terus menangis. Bagaimana bisa Papinya begitu kejam padanya.
"Mi, aku nggak mau nikah."
Santi menggenggam tangan anaknya itu dengan erat, berusaha untuk menguatkanya.
"Maafin Mami sayang, Mami nggak bisa ngelakuin apa-apa." lagi-lagi Santi memeluk Kimi sambil menahan sesenggukan. Hal itu malah membuat gadis tersebut semakin lemah.
Risa yang bukan keluarga mereka saja bisa merasakan sedih yang begitu dalam. Bahkan tanpa sadar, ia juga meneteskan air mata. Apalagi saat melihat Kimi yang masih sangat muda untuk menikah secara paksa.
"Non Kimi yang sabar ya, jalanin aja dengan ikhlas. InsyaAllah semua akan berjalan lancar," ucap Risa mencoba menenangkan keadaan.
Santi melepas pelukan, beralih mengusap air mata di pipi anaknya. "Kamu kuat sayang," ucapnya tersenyum getir.
__ADS_1
Setelah mulai tenang, Risa mulai mengaplikasikan make up di wajah kimi. Meskipun dengan air mata yang lagi-lagi lolos sendiri.
Lebih dari setengah jam berlalu.
Kimi kini sudah siap mengenakan gaun yang seharusnya untuk acara resepsi Airin.
Meskipun gaun itu kebesaran di badannya, setidaknya gadis itu tetap terlihat cantik.
Bersama mami dan mbak Mua, Kimi di tuntun menuju lokasi.
Di sana sudah sangat ramai. Tamu undangan terlihat sudah menunggu sejak lama. Untung saja ada acara hiburan yang membuat mereka tidak bosan.
Banyak dari mereka yang langsung mendongak ke atas. Menyaksikan sang pengantin yang masih sangat muda berjalan menuruni anak tangga.
"Bagaimana apakah bisa di mulai sekarang?" tanya sang penghulu yang sudah siap.
David menganguk. Sementara Kimi langsung duduk di samping dengan ragu.
"Sodara David Jovian Jareda bin Reno Adiwijaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Kimimela agatha ......."
"Saya terima nikahanya dan kawinnya Kimimela agatha binti fahmi surya agatha....."
"Bagaimana saksi? Sah?
"Sah"
Keluarga Reno yang tadi sempat merasa kecewa akhirnya bisa bernapas lega karena pernikahan bisa tetap di laksanakan tanpa membuat malu. Meskipun tadi sempat ada debat kecil antara Reno dan Fahmi tapi akhirnya bisa di selesaikan dengan baik karena ini jalan satu-satunya.
Seperti Santi, Perasaan seorang ibu tetaplah sama. Mira juga tak kuasa menahan tangis saat melihat menantunya itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dari pada anaknya itu jadi bujang lapuk ya gapapa lah, gas aja slur.
David yang sebelumnya sudah di beritahu oleh Fahmi juga masih sedikit kaget dan sebenarnya enggan melangsungkan pernikahan ini.
Apalagi mengingat Kimi yang berstatus sebagai anak didiknya di sekolah. Tapi ya ia tidak bisa berkutik lagi ketika di desak oleh Reno dan Fahmi dengan alasan menyelamatkan harga diri mereka dimata umum itu lebih penting untuk sekarang ini.
Bahkan kata Reno, ia akan membiarkan Kimi tetap bersekolah di sana. Asalkan merahasiakan ini dengan baik.
Setelah akad nikah selesai, kini tiba acara resepsi. Dimana Kimi harus berdiri di samping David dan mendapat selamat dari para tamu undangan.
Sebenarnya para tamu banyak yang bingung, kenapa tadi pas acara akad nama yang di sebutkan tidak sesuai dengan yang tertera dikertas undangan? Tapi ya setidaknya itu tidak penting, mungkin saja ada kesalahan cetak. Pikir mereka.
Meskipun begitu, banyak dari mereka yang masih bertanya-tanya apakah mungkin gadis itu anaknya Fahmi yang sudah berkuliah? Kok masih kecil sekali? Tapi ya bukan Fahmi namanya kalau tidak bisa memberi alasan yang membuat mereka percaya. Ah sekarepmu pak!
Sementara Kimi berpikir tamu undangan yang datang itu cuma sedikit, eh ternyata tidak sesuai dugaan. Bahkan ada teman bisnis Fahmi dan Reno yang sengaja datang dari luar kota untuk menghadiri acara ini.
Setelah acara salam-salamnya selesai, Kimi duduk kursi. Kakinya terasa pegal karena memakai high heels yang lumayan tinggi.
Gadis itu kembali sesenggukan saat menatap laki-laki berwajah dingin yang duduk di sampingnya.
David hanya Diam dan pura-pura tidak melihat. Semakin dilihat, semakin ia merasa kesal.
Kimi masih terus menangis. Bahkan mengelap ingus yang keluar dari hidungnya dengan gaun yang dikenakan.
"Srottttt"
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.50. Acara pernikahan juga sudah selesai sejak sore tadi. kini kimi duduk termenung di dalam kamar seorang diri. Bahkan ia tidak perduli dengan ponselnya yang berdering sejak tadi.
Santi juga langsung mengurung diri di dalam kamar setelah acara selesai, karena kesal dengan keputusan suaminya yang bisa dibilang terlalu mementingkan ego sendiri.
Sementara David masih mengobrol dengan Fahmi di ruang keluarga.
Tepat di malam pertama ini, Kesya dan David memang akan menginap di sini terlebih dahulu sebelum besok akan pindah dan tinggal di rumah pribadi David sesuai kemauan keluarga mereka.
Mengesampingkan egonya, Kimi justru lebih khawatir dengan keadaan kakaknya sekarang. Bagaimana nasib Airin sekarang? Apakah baik-baik saja? Apa jangan-jangan sedang tidur di pinggir jalan? Kimi mengacak rambutnya frustrasi saat memikirkan itu semua. Apalagi saat mengingat kakaknya itu sedang hamil muda.
__ADS_1
Anehnya, Fahmi dan Santi seperti tidak ada niatan untuk mencari Anak sulungnya. Bahkan nampaknya Fahmi sudah tidak menganggap Airin sebagai anaknya lagi. Itu yang membuat Kimi semakin sedih.
Ia mulai berpikir sejenak, ia langsung berdiri sembari melirik jam di dinding.
Berjalan mengendap-endap, gadis itu membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati.
Setelah dirasa cukup aman, ia segera bergegas keluar dari rumah lewat pintu belakang.
Berbalut kaos pendek dan celana panjang tanpa alas kaki, gadis itu nekat berjalan sepanjang terotoar untuk mencari kakaknya.
Apakah mungkin kakaknya itu pergi ke rumah Aris. Ataukah ke tempat temannya yang lain? Sayangnya Kimi benar-benar tidak tahu rumah mereka ada di mana.
Setidaknya ia berusaha mengikuti kemana langkah kaki akan membawanya pergi, dari pada hanya berdiam diri dan termenung meratapi nasibnya saja.
Jalanan masih terlihat ramai. Mobil dan motor masih banyak yang berlalu lalang.
Melihat itu semua, kimi akhirnya mengambil jalan yang lumayan sepi.
Satu jam berlalu.
Kimi masih berjalan pelan dan sesekali duduk di pinggir terotoar. Ia hanya mengikuti langkah kakinya yang entah akan berhenti sampai di mana.
Bahkan tadi waktu Kimi duduk, ada yang memberi uang dua ribu. Dikira pengemis.
Sesekali ia memijat kakinya yang sudah lumayan pegal sambil menangis. Ia juga meratapi nasib kakinya yang hampir menginjak eek kucing. Untung saja matanya jeli.
Gadis itu kembali duduk di pinggiran. Matanya sembab, seperti sudah tidak ada lagi gairah untuk hidup. Jika tidak takut mati, mungkin ia akan mencoba bunuh diri saja. Tapi nampak itu bukan solusi yang tepat. Masih kecil Mau bunuh diri, gedenya mau jadi apa? Pikir kimi.
Menyipitkan mata, Kimi menghalangi pandangannya dengan telapak tangan saat sorot lampu dari sebuah motor berwarna hitam tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Seorang pengendara yang masih berada di atas motor membuka helemnya dengan cepat dan bergegas turun menghampiri gadis malang itu.
"Kimi, lo ngapain di sini?" tanyanya dengan khawatir. Pengendara itu ternyata si kevin pemirsa, kevin membantu Kimi berdiri.
Grep!
Tanpa aba-aba, gadis itu tiba-tiba berhambur memeluk kevin dengan erat. Meluapkan tangisannya di dada bidang laki-laki itu. Setidaknya ini lumayan nyaman.
Kevin yang tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu dari Kimi sempat bingung. Ia pasrah, dengan ragu tangannya mulai mengusap rambut Kimi dengan lembut dan tetap membiarkan gadis itu memeluknya.
"Ada apa? Cerita aja sama gue jangan dipendem sendiri," ucap kevin dengan pelan. Tangannya juga masih setia membelai rambut Kimi.
Cukup lama gadis itu menangis di sana tanpa menjawab apapun. Kevin mencoba melepas pelukan sepihak. Beralih mengusap air mata Kimi.
"Jangan nangis terus dong, kenapa duduk di sini sendirian coba?"
"Nggak kenapa-napa, lagi pengin nangis aja," Kimi mengucak mata, beralih mengusap pipinya yang masih basah.
"Bohong, pasti ada sesuatu kan?"
Kimi menggeleng cepat. Ia tidak berniat menceritakan apapun pada kevin. Apa lagi mengenai status barunya.
"Terus kenapa nggak ngangkat telepon gue? Udah gue tungguin lama di taman, eh malah nggak dateng-dateng. Makanya gue niatnya mau ke rumah lo," lanjut kevin yang membuat Kimi membelalakan mata. Gadis itu bahkan tidak ingat kalau ada janji dengannya.
"Sorry gue lupa," ucapnya lirih sembari menggaruk tengkuknya.
"Iya, yang penting lo udah bener-bener maafin gue kan?"
Gadis itu mengangguk. Berusaha memasang senyuman manis di depan kevin.
"Oke kalo gitu sebagai gantinya gue bakal anterin lo pulang." Kevin mengambil helm di motornya lalu Memakaikanya pada kimi tanpa ragu.
"Eng-ga usah Vin," tolak Kimi terbata.
"Udah cepet naik, udah malem loh." Mata Kimi menyapu sekeliling. Memang benar sudah malam. Ia tidak mungkin jalan kaki lagi karena sudah sangat capek. Apalagi jarak dari sini ke rumahnya lumayan jauh. Bisa-bisa kakinya langsung encokan.
__ADS_1
Dengan sedikit ragu, Kimi naik ke motor kevin, tanpa mereka sadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya sejak tadi.
... -Bersambung-...