GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
11.


__ADS_3

Sebentar lagi mendekati jam mata pelajaran terakhir. Jelas saja itu hal yang paling dinanti. Begitu juga dengan semua murid di Theresia high school.


Bahkan ada yang sudah merapikan buku sebelum waktunya. Ada juga siswi yang sibuk mengoleskan lipstik di bibir. Ada yang diam-diam makan di kelas karena sudah lapar. Dan ada juga yang malah tidur. Itu semua sudah menjadi hal wajar bukan? Kalian termasuk tim mana nih ketika mendekati jam terakhir?


Keadaan koridor sekolah yang tadinya masih sepi tiba-tiba menjadi berisik saat geng lambe turah berlari dengan suara langkah kaki yang begitu cepat. Jelas saja itu menimbulkan keresahan bagi yang masih berada di dalam kelas karena mengira ada kelas yang sudah pulang sebelum waktunya.


Ya siapa lagi kalau bukan gengnya Amanda dan kawan-kawan. Segerombol manusia itu berlari cukup kencang dan nampaknya sudah tidak perduli kalau ketahuan bolos jam pelajaran lagi.


Tapi itu tidak penting. Yang terpenting adalah memastikan keadaan kimi agar tetap baik-baik saja.


Setelah berlari menyusuri koridor sekolah yang lumayan panjang, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Layaknya tentara yang tengah menjalankan misi, mereka ber lima mengendap-endap saat mengetahui bahwa David baru saja keluar dari dalam gudang.


Jelas saja semua terlihat panik dan langsung bersembunyi di balik tembok, apalagi saat melihat raut wajah David yang sangat angker.


"Kok gue di tinggal sih? capek tau ngejarnya m-mphhhh," Talita yang baru sampai karena tadi ditinggal oleh mereka tiba-tiba di bungkam oleh Nana.


Nana langsung menarik Talita untuk berjongkok sebelum david mengetahui keberadaannya.


Bagus yang memimpin barisan mengisyaratkan agar semuanya diam dan berjalan perlahan menuju semak-semak.


Semuanya menuruti perintah Bagus sampai Darel benar-benar pergi dari tempat itu.


"Aman gaes," ucap Bagus berdiri dari posisinya setelah David sudah melesat jauh dari pandangannya.


Mereka langsung berhambur menuju TKP. Dan tepat sekali, subjek yang di targetkan baru saja keluar dari dalam sana.


"KIMI." teriak Nana membuat gadis itu kaget. Seketika kimi langsung menengok ke sumber suara.


Nana, Amanda dan Talita terlihat langsung berhambur memeluk gadis itu dengan sangat erat.


Jelas saja itu membuat Kimi kaget sekaligus bingung. Ia tidak mengerti kenapa teman-temannya bisa seheboh ini.


"Kalian kenapa Sih? Kok kaya ketakutan gini?" tanyanya sembari melepaskan pelukan mereka sepihak.


"Kim sumpah gue takut banget kalo lo sampai di bunuh sama pak David," cletuk Talita yang membuat kimi mengerutkan dahinya.


"Dibunuh?" tanya Kimi heran.


"Udah-udah pokoknya nanti gue ceritain semua. Yang penting mulai sekarang lo nggak boleh ngelawan pak David lagi," ujar Amanda. Kimi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan memasang wajah cengo.


"Ada apa sih?" tanya Kimi kembali pada Bagus dan Digo. Mereka berdua hanya mengedikan bahunya.


"Udah nanti gue ceritain di kelas. Yang penting lo nggak luka kan?" Amanda memegang bahu kimi kemudian menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan.


"Tuh kan apa gue bilang Kimi baik-baik aja, lo kan kuat ya nggak kim?" sahut Digo yang langsung di balas tatapan maut dari Nana.


"Lo ngapain melotot ke gue?" tanya Digo kembali saat Nana berjalan mendekat dan langsung mengangkat tangannya untuk menabok bokong Digo.


Buk!


"Lo juga ngapain tinggalin Kimi disini hah?"


"Lo juga tadi ninggalin kita bertiga!" elak Digo.


"Tapi kan gue nggak tau kalo kalian ketangkep!"

__ADS_1


Buk!


"Aduh! ampun Na ampun," Digo menutupi bokongnya itu dengan berdiri di depan Bagus. Tapi sayangnya Bagus malah pindah posisi. Digo berlari memutari pohon mangga, tapi Nana juga tidak pantang menyerah dan terus mengejar Digo. Mereka berdua mirip seperti adegan di film India.


"Mau sampai kapan kalian ribut terus hah? Sampai di pergoki guru lagi?" tanya Amanda yang langsung membuat mereka berdua menyudahi aksi kejar-kejarannya.


Nana menyerah. Dengan napas tersenggal, ia berjalan mendekat ke arah Kimi dan langsung menariknya begitu saja.


"Yaudah ayo ke kelas!" Seperti delman yang di tarik kuda, Kimi harus menyesuaikan langkah Nana yang sangat cepat.


Tanpa menunggu waktu lama, mereka semua langsung menyusul di belakangnya sebelum ada guru ya memergoki lagi.


......................


"Jadi maksudnya kalian curiga kalo pak David itu psikopat?" tanya Kimi setelah Amanda menceritakan semua tentang nasib yang di alami oleh tetangganya yang dulu bekerja di kantor David.


Suara nyaring kimi membuat satu kelas dapat mendengarnya. Jelas saja ada yang menanggapinya dengan serius dan malah ada yang tertawa karena dianggap lucu.


"Iya, soalnya kan pak David tempramental, makanya gue takut kalo lo sampai di bunuh." Ekspektasi Amanda benar-benar sudah melebihi batas. Kimi hanya bisa mengulum bibir dan menahan tawa mendengarkan ocehan dari teman-temannya itu.


"Terus lo tadi di apain sama pak David? Ayo dong kim cerita," bujuk Nana dengan tatapan penuh harap.


Kimi hanya menggaruk tengkuknya sembari mengingat kejadian tadi.


Flashback on


"Mungkin kamu belum tau siapa saya sebenarnya, saya paling benci kalau ada orang yang berani merendahkan harga diri saya, apalagi sampai ada yang berani melawan seperti ini!"


Ucapan David suskses membuat Kimi semakin memundurkan badanya sampai punggungnya mentok menabrak tembok.


Gadis itu memejamkan mata. Dalam hati ia memohon agar tidak mati konyol seperti ini.


Sementara David malah mengangkat balok kayu itu semakin tinggi dengan mengambil posisi ancang-ancang agar tepat mengenai objek di depannya.


BRUKKKK


"AAAAAAAAA," teriak Kimi dengan mata yang masih tertutup.


Kimi masih berdiri di tempat. Balok kayu itu sudah jatuh ke lantai tapi anehnya ia tidak merasakan seperti habis di pukul.


Tanpa disadari David tersenyum jahil saat melihat Kimi yang begitu ketakutan.


"Takut?" tanya David mendekatkan wajahnya di depan gadis itu.


Sontak Kimi membuka mata dan Betapa kagetnya ia saat melihat pahatan wajah gurunya terpampang cukup jelas di depannya. .


Bahkan hidung mancung Darel begitu dekat dengan wajahnya sekarang.


Gadis itu mengedipkan mata beberapa kali sambil menggelengkan kepala dengan gugup.


Sementara David masih menatap lekat mata Kimi.


"Mau nantangin saya lagi?" tanya David santai tapi dengan nada intimidasi.


Kimi sekarang membuang muka. Ia benar-benar muak berhadapan dengan orang seperti ini.


"Kamu pikir saya pembunuh? Baru di gertak kaya gitu aja takut, pakai sok-sokan nantangin saya." ujar David.

__ADS_1


"Dengerin saya baik-baik. Kalau kamu berani macam-macam, saya bakalan laporin kelakuan kamu ke om Fahmi," ancam David yang langsung bersedekap dada.


"Silahkan saja, papi juga pasti bakalan percaya sama anaknya kok dari pada dukung orang lain," jawab gadis itu dengan pede.


"Oke kalau memang kamu menantang. Saya akan laporkan kalau anaknya iniĀ  pernah rebutan pacar di cafe sampai berantem dan saya punya buktinya."


Kimi membulatkan mata dan tidak percaya guru killer sekaligus calon kakak iparnya ini akan mencampuri urusan pribadinya.


"Pernah nendang saya dengan sengaja tanpa meminta maaf, pernah ngerjain saya saat makan malam, suka manjat pohon mangga di belakang sekolah, suka tidur pas jam pelajaran, sering b-" lanjut David sebelum akhirnya kimi membuka suara.


"Stop pak stop!" Kimi mengangkat kedua tangannya yang membuat David nampak begitu puas dan langsung terdiam.


"Baik saya bakalan nurut sama perintah bapak," ujar gadis itu lirih.


"Apa? Saya nggak dengar." David berpura-pura sembari mendekatkan telinganya di depan wajah Kimi.


"SAYA AKAN MENURUTI ATURAN DAN PERINTAH BAPAK," teriak Kimi dengan lantang yang membuat David langsung mengusap telinganya yang hampir budek.


"Baik. Saya pegang janji kamu. Dan jangan pernah bilang kesiapapun kalau kamu itu bakal jadi adik Ipar saya. Saya malu punya adik ipar seperti kamu." Setelah mengatakan itu, David berjalan meninggalkan Kesya.


Rasanya cukup puas bagi David memberi pelajaran untuk gadis itu meskipun hanya dengan ancaman saja.


Entah dosa apa yang telah Kimi buat di masa lalu. Rasanya ini terlalu berat untuk dijalani. Hari-harinya bakalan dihantui ancaman guru killernya itu.


"Sampai kapanpun gue juga ogah punya kakak ipar kaya lo!" Memelototkan mata. Kimi mengangkat satu tangannya yang terkepal sempurna. Andai saja ia bisa melakukan itu saat David masih berdiri di depannya mungkin akan beda cerita.


Flashback off


Lamunan kimi buyar saat Nana menyenggol lengannya. "Heh disuruh cerita malah bengong."


"Hah apa?"


"Tadi lo di hukum apa sama pak David? Lo beneran nggak di apa-apain kan?" Amanda mulai mengintrogasi dengan serius.


"Tadi gue-" Kimi menjeda ucapannya saat Devi si siswi berkacamata tiba-tiba datang menyodorkan secarik kertas.


"Kim, ada surat."


"Surat? Dari siapa?" tanya Kimi mengambil alih surat itu dari tangan Devi.


"Mending lo baca aja, gue nggak berani bilang ini dari siapa soalnya gue udah janji. Ini tadi gue dititipin pas jam istirahat terakhir dan mau gue kasih langsung lo malah nggak di kelas." jelas Devi panjang lebar yang hanya di angguki oleh Kimi.


Setelah Devi berlalu pergi. Amanda, Nana, Talita dan Digo langsung merapatkan formasi di dekat Kimi.


Sementara Bagus? Ia memilih duduk di kursinya dan berusaha untuk tidak kepo karena mungkin masih memiliki dendam pribadi dengan Kimi atas kejadian rok mini di belakang sekolah.


"Ayo dong kim cepet buka, tumben banget kan lo dapat surat gini. Siapa tau itu dari penggemar rahasia," ucap Amanda yang sepertinya sudah sangat penasaran.


Kimi membuka lipat kertas itu dengan hati-hati. Hanya ada satu kalimat yang tertera cukup jelas dengan bolpoin warna merah di sana.


Datang sendiri ke rooftop sekolah setelah bel pulang!


Kimi meletakan surat itu di atas meja. Amanda dengan sigap langsung mengambil alih dan membacanya perlahan.


Sejurus kemudian mereka nampak berpikir. Mungkinkah itu semacam surat biasa ataukah semacam ancaman untuk Kimi?


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2