GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
20.


__ADS_3

Sudah dua hari sejak kejadian kakinya terkilir, gadis itu hanya bisa guling kanan guling kiri di atas kasur. Bosan, itulah yang tengah dia rasakan.


Padahal kakinya sudah agak mendingan, tetapi David belum mengizinkannya untuk berangkat sekolah karena takut bikin repot.


Jadi harus benar-benar menunggu sampai sembuh total.


Di kala seperti ini, Kimi malah memikirkan Airin. Biasanya saat ia sakit kakaknyalah orang yang paling heboh dan khawatir. Sejak kabur dari rumah, nomornya bahkan tidak aktif sama sekali. Entah di mana kakaknya itu tinggal sekarang.


Ting


Ting


Notif dari ponselnya berbunyi membuat mengambilnya dengan cepat. Namun dalam sepersekian detik kemudian ia melempar ponselnya sembarang setelah mendapat pesan dari grup. Gadis itu mencoba berpikir sambil menggigit kuku jari, panik.


Nana dan ketiga bestinya akan menjenguknya di rumah, namun masalahnya ia sekarang berada di rumah David. Andai saja bisa teleport ke rumah pasti sudah dilakukan sekarang. Kalau nekat naik bus atau taksi, kakinya masih sakit, Nomor supir pribadinya juga tidak bisa di hubungi.


Ah sial. Kesya mengacak rambutnya frustrasi. Hanya tersisa sekitar satu jam lagi sebelum bel pulang sekolah.


Gadis itu mengambil ponselnya kembali. Mencari kontak David lalu nekat menekan panggilan suara.


"Halo pak," sapa Kimi dengan nafas memburu.


"Iya ada apa?"


"Bapak masih ada jam ngajar apa nggak?"


"Kenapa?"


"Bapak bisa pulang sekarang? Ini darurat banget pak suer."


"Ada apa?"


"Nanti saya jelasin-"


Tut


"Halo pak, pak David, halo. Hih gimana sih kok malah di matiin."


Davis memutuskan panggilannya sepihak membuat Kimi semakin tidak karuan.


Gadis itu mencoba berpikir jernih. Beralih menelpon maminya tapi tidak di angkat juga.


"Apa gue alasan mau ke rumah sakit aja ya sama mereka. Tapi kan kalau tiba-tiba mereka kerumah terus mami keceplosan bilang yang sebenarnya gimana dong? Mami kan suka kelepasan kalo ngomong. Ahh" gumamnya sendiri.


Setelah berpikir panjang, Kimi memutuskan untuk pulang ke rumah naik taksi. Ia berniat menunggu taksi di depan gang komplek.


Berjalan agak pincang, gadis itu menuruni anak tangga dengan kesusahan. Sesekali ia melirik jam di ponselnya.


Baru sampai di pintu depan, Kimi menghentikan langkah. Dilihatnya David baru saja turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah.


"Oma mana?" tanya David panik.


"Oma?" Gadis itu balik tanya.


"Iya, oma datang kan?"


Mendengar pertanyaan itu, Kimi hanya menggeleng. Ia malah menarik lengan David dengan cepat.


"Udah nanti Saya ceritain di mobil, yang penting bapak anterin Saya pulang ke rumah." ucap Kimi bergegas.


"Iya tunggu sebentar, Saya nutup pintu dulu." David menutup pintu rumah dengan bingung. Sementara kimi sudah berjalan menuju mobil tergesa tanpa memperdulikan kondisi kakinya.


......................


Setelah David menepikan mobilnya di depan rumah mertuanya, gadis itu langsung membuka pintu mobil bergegas turun. David hanya mendengus tidak habis pikir, Bisa-bisanya kimi sepanik itu hanya karena teman-temannya akan menjenguk.


Tidak ada pilihan lain, David ikut turun dari mobil dan menyusul Kimi yang sekarang tengah mendorong pintu rumah.


Di waktu yang sama, Santi juga ternyata hendak menarik pintu dari dalam. Ia langsung kaget karena melihat kimi sudah berdiri di depan pintu.


"Loh Kesya, sayang kamu kenapa? Kok datang nggak ngabarin mami dulu?"


"Mami kenapa nggak ngangkat telepon coba?"


"Hp mami lagi di carger hehe."


"Intinya, yang penting kimi harus masuk kamar dulu mi, ini darurat banget." Gadis itu bergegas cepat menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


Santi nampak bingung. Apalagi saat melihat anaknya berjalan agak pincang.


"Apa kabar mi," sapa David menyalami Santi. Santi menoleh, Membalas jabatan tangan dari Darel.


"Baik nak. Kaki kimi kenapa?" tanyanya lembut. Perlahan, Santi memang sudah mulai menerima kenyataan pernikahan mereka.


"Kemarin Kimi jatuh waktu olahraga, tapi Saya sudah membawanya ke dokter dan lukanya juga tidak parah, Jadi mami tenang saja," jelas David


"Aduh mami sampai takut banget, sukurlah kalau memang tidak parah. Tapi kenapa Kimi lari-larian kaya ketakutan gitu? Ini masih jam pelajaran kan?" tanya Santi kembali.


"Em jadi-" Belum selesai bicara, kimi tiba-tiba berteriak di anak tangga dan memotong ucapan David


"Hp saya ketinggalan di mobil bapak deh kayaknya."


Mendengar itu, David langsung mengambil kunci mobil dari saku celana.


"Saya cek dulu di mobil." Laki-laki itu bergegas menuju mobil mengambil ponsel milik kimi


Tanpa menunggu lama, ia langsung kembali ke dalam rumah. Tapi nampaknya gadis itu sudah tidak ada. Hanya ada Santi di sana.


"Ini hp Kimi,mi." David menyodorkannya pada Santi tapi Santi malah tersenyum.


"Jov, mami minta tolong kamu aja yang nganterin hpnya ke kamar. Mami mau ke mini market sebentar," ucap Santi meninggalkan tempat itu.


"Apa Saya anterin mami aja?" tawarnya pada Santi.

__ADS_1


"Nggak usah Jov Mendingan kamu balikin hp kimi aja, Mami cuma sebentar kok."


David mengangguk. Ia berjalan menuju kamar Kesya yang tertutup rapat.


"Ini hp kamu, mau Saya taruh di mana?" tanya Davidldi balik pintu.


Tidak berselang lama, Kimi membuka pintu kamar, David pun langsung menyodorkan ponsel itu pada pemiliknya.


"Loh kok bapak yang ke sini. Mami mana?" tanya gadis itu sembari mengambil alih ponsel itu.


"Mini market," jawab David datar.


"Oh yaudah Bapak langsung pulang aja, malam ini Saya mau tidur di sini."


"Hm." ucap David hendak pergi namun terhenti karena mendengar teriakan dari luar.


"KESYA YUHUUUUUU LO DI MANA? KITA NAIK YAAA."


Kesya dan David pun membulatkan mata secara bersamaan.


"Itu pasti mereka Pak, aduh gimana dong?" Panik. Tanpa pikir panjang Kimi langsung menarik tangan David dan membawa laki-laki itu masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan cepat.


"Tuh kan Pak, harusnya mami aja yang kesini. Kalo gini gimana dong," oceh Kimi memelankan suara.


"Jadi maksud Kamu, ini salah Saya?" tanya David melotot yang membuat gadis itu menggeleng cepat.


Tok.. Tok.. Tok


"Kim buka dong, Lo baik-baik aja kan?"


"IYA BENTAR GAIS." Kimi semakin tidak karuan saat mendengar suara Nana sudah di depan kamarnya.


Entah dimana ia akan menyembunyikan David saat ini,  Matanya jelalatan memandangi sekeliling kamar. Hingga arah pandangnya tertuju pada kolong tempat tidur.


David menatap Kesya kemudian mengikuti kemana arah bola mata gadis itu.


"Jangan bilang Kamu nyuruh Saya ngumpet di kolong kasur?" terka David memelankan suara.


"Maaf pak ini jalan terbaik, nanti Bapak bisa menghukum saya sepuasnya. Yang terpenting Saya nggak mau rahasia ini sampai terbongkar." Gadis itu memohon, Darel hanya mengerutkan dahi sambil mengacak rambutnya frustrasi.


Tok..Tok..Tok


"Kim lo baik-baik aja kan?" Suara Amanda kembali membuat gadis itu membulatkan bola matanya.


"Saya mohon pak, ini demi kesejahteraan kita bersama." David mendengus, tidak ada pilihan lain dengan terpaksa ia masuk ke kolong tempat tidur yang cukup kotor.


Melihat Darel sudah di tempat yang aman, Kimi menghembuskan napas lega.


Berjalan membuka pintu, ia langsung mendapat pelukan erat dari Nana, Amanda dan Talita.


"Gue kangen," Amanda merengek membuat kimi menjauhkan wajahnya karena geli.


"Iya gue juga kangen." jawab Kiki lirih membalas pelukan mereka.


Seolah menjadi kebiasaan, Nana langsung nyelonong masuk ke kamar sahabatnya itu dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Kim lo tau nggak, kemarin ada sidak mendadak? terus lipstik gue di bawa sama pak Bondan huhu sedih gue," curhat Amanda tiba-tiba saat Kimi mendudukan bokongnya di atas Kasur.


"Dan lo tau nggak? Sidak kemarin adalah sidak yang paling menegangkan sepanjang sejarah. Masalahnya pak David juga ikut turun tangan," imbuh Nana.


Gadis itu hanya cengengesan, ia bingung harus menjawab apa karena takut salah ngomong.


"Ya kan itu juga kebaikan buat kalian semua, biar mematuhi aturan tata tertib sekolah."


Serentak mereka saling betatap lalu tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Kimi.


"Haha ngomong kaya gitu tapi sendirinya masih suka molor di kelas, suka maling mangga lagi haha. Eh btw nih kalo di pikir-pikir Pak davi itu tegas tapi ga-"


"Udah stop gais jangan ghibahin guru. Dosa," potong Kimi menjeda ucapannya Amanda.


"Lo kenapa sih tumben banget? Biasanya aja paling seneng ngomongin pak David di belakang. Ya galak lah ya- Mpphhhh."


Dengan cekatan, tangan Kimi membungkam mulut Amanda yang terus mengoceh.


"Ih Kimi apaan sih pakai bungkem gue segala? Engap tau." Amanda menggerutu sementara kimi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Eh kalian mau minum apa? Biar gue ambilin."


"Ah kaya kesiapa aja sih, kalo kita haus ya bakalan ambil sendiri lah." jawab Nana santai.


"Yaudah kalian harus haus sekarang juga!" seru Kimi menaikkan atensi, Mereka hanya saling memandang bingung.


"Kim gue kira yang luka di bagian kaki, tapi kok kayaknya ada efek ke sini ya?" Nana memegang kepala gadis itu dengan hati-hati.


"Tau nih Kimi ngawur terus dari tadi." celetuk Talita.


"Hah apa?" sahutnya dengan wajah cengo membuat mereka semua mendengus.


Sementara di bawah sana, David mendengar semua apa yang mereka bicarakan. Ia jadi mengerti tentang penilaian anak didiknya selama ini.


"Eh Sya, btw lo sama kevin balikan nggak sih? Kalian keliatan makin sosweet tau, apalagi pas dia gendong lo ke UKS damagenya bukan main."


"Nggak kok." jawab kimi cepat setelah mendengar pertanyaan Amanda.


"Padahal gue pengin lo balikan sama kevin, Kalian berdua itu cocok banget."


"Hih apa sih Nda udah ah jangan bahas dia."


"Hm iya-iya."


......................


Sudah lebih dari lima belas menit mereka berada di kamar Kimi Talita dan Amanda tengah menyibukkan diri menonton drakor, sementara Nana tengah menguncir rambut Kimi yang berantakan.

__ADS_1


"Gais kalian mau pulang jam berapa?" tanya Kimi ragu.


"Kayaknya gue nginep di sini deh. Waktu itu lo kan nggak jadi nginep di rumah gue." jawab Nana santai. Seketika raut wajah Kimi berubah panik kembali.


"Yah, gue kayaknya nggak bisa nginep di sini deh soalnya belum izin sama nyokap. Paling gue sebentar lagi pulang," jawab Amanda memanyunkan bibir langsung di angguki oleh Talita.


"Iya kim gue kayaknya juga pulang sebentar lagi soalnya belum izin."


"Iya gapapa kok."


"Itu yang di depan mobilnya siapa ? Kok kayaknya nggak asing." Mendengar pertanyaan Nana membuat Kimi harus berpikir kembali.


"Emm itu mobil yang di depan punya tetangga. Nitip parkir soalnya rumahnya lagi di renovasi," jelas Kimi berbohong sambil pandangannya jelalatan kemana-mana.


David hanya mengangguk-angguk di bawah sana, Perlu di akui bahwa istrinya itu pintar sekali dalam membuat alibi.


Ceklek


Pintu kamar terbuka lebar. Menampakan Santi membawa nampan berisi jajan dan minuman dingin.


"Nih buat cemilan sambil ngobrol." Santi menaruh nampan itu di atas nakas.


"Aduh tante repot-repot deh," ucap Nana basa-basi sambil mengambil jajan itu lalu memakannya. Santi hanya tersenyum.


"Loh Jov mana kim?" tanya Santi dengan polosnya.


"Jov?" Kaget. Tanya mereka kompak.


"Hahaha mami salah ngomong nih pasti. Mungkin yang di maksud itu.. Emm Jodi, iya Jodi kucing kita. yakan Mi?" Kimi turun dari kasur sembari mengedipkan matanya beberapa kali menghampiri Santi, bermaksud memberi kode.


Melihat ekspresi anaknya. Santi langsung meng-iyakan ucapannya. Padahal Santi juga tidak tau Jodi itu kucing siapa.


"Hehe iya maksudnya Jodi," Santi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jodi itu kucing yang lo bilang waktu itu terlantar terus di adopsi sama lo kim?" tanya Nana yang di balas aganggukan cepat kimi.


"Jodi masih ada hubungannya sama jamal nggak ya?" tanya Amanda membuat mereka bingung.


"Jemal siapa lagi Nda?" Talita mengangkat kedua alisnya.


"Tetangga gue punya kucing namanya jamal, jangan-jangan itu kembarannya jodi."


Buk


Nana melempar bantal pada Amanda


"Gabut banget si lo Nda sampai tau informasi kucing tetangga segala," ucap Nana lalu terkekeh.


"Ya sudah kalian lanjutin ngobrolnya, tante mau ke bawah dulu nyari Jodi," ucap Santi gugup.


Wanita paruhbaya itu memilih untuk keluar dari sana sebelum ucapannya kebablasan.


Sepeninggalnya Santi. Kimi kembali mencari topik pembicaraan lain agar teman-temannya tidak semakin curiga.


Drrttt... drrttt.... drrttt.


Di tengah obrolan, ponsel Nana bergetar.


"Bentar gais gue angkat telepon dulu," ucapnya bergegas cepat.


Saat turun dari kasur, tangannya tidak sengaja menyenggol bantal hingga bantal itu jatuh ke lantai.


Nana yang sudah membungkukan badan berniat mengambil bantal, mengurungkan niatnya karena tiba-tiba Kimi mengambilnya terlebih dahulu dengan cekatan.


"Biar gue aja yang ngambil hehe." Ucap kimi dengan jantung yang sudah berdebar.


Nana hanya mengangguk berlalu pergi ke kamar mandi. Untung saja tidak curiga.


"Eh kim, kak Airin mana? Tumben nggak keliatan?" tanya Talita.


"Emm masih di kampus kayaknya ada kelas sore." jawab kimi gugup.


"Oh pantesan, biasanya kan Kak Airin yang paling heboh kalo lagi nonton drakor," sahut Amanda yang membuat Kimi mematung, Berusaha menahan agar air matanya tidak lolos. Tidak dapat dibohongi bahwa sebenarnya ia juga sangat merindukan sosok Airin.


"Em kim kayaknya gue pulang dulu deh udah sore." Amanda bangkit dari posisinya beralih mengambil tas dan disusul oleh Talita.


"Iya gue juga pulang dulu kim"


Gadis itu hanya mengangguk. Tidak berselang lama, Nana kembali.


"Gue kayaknya juga nggak jadi nginep di sini kim soalnya nyokap nyuruh gue pulang sekarang."


"Iya gapapa kok kalian pulangnya hati-hati."


Mereka menampakkan ekspresi sedih,Beralih memeluk Kimi.


"Udah gapapa kok besok gue juga berangkat." Kesya menenangkan mereka.


Ketiganya mengangguk. Sejurus kemudian terlihat berlalu pergi dari kamar Kimi


"Maaf ya gue nggak bisa nganterin sampe depan, kaki gue masih agak sakit."


"Iya gapapa, kita pulang dulu kim. Byeee"


Kimi melambaikan tangan, melihat teman-temannya sudah menuruni anak tangga, gadis itu langsung menutup pintu dan bergegas cepat mengintip kolong tempat tidurnya.


Sementara David langsung keluar dari sana sambil menepuk bajunya. Menghilangkan debu yang menempel.


"Pak maafin Saya." ucap kimi tiba-tiba namun David tidak menanggapi dan malah keluar dari kamar gadis itu.


"Bapak mau kemana?" tanyanya ragu.


"Bukan urusan Kamu," jawabnya tak acuh tanpa melirik kimk sedikitpun.

__ADS_1


Jujur Kimi benar-benar merasa bersalah setelah melihat raut wajah David yang terlihat lebih menakutkan dari pada biasanya.


...-Bersambung-...


__ADS_2