GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
9.


__ADS_3

Jam kosong merupakan waktu terindah sepanjang sejarah yang tidak boleh di sia-siakan. Apalagi jam kosongnya pelajaran matematika. Sumpah dan nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.


Begitu halnya yang tengah di alami rakyat sebelas IPS dua. Pak Bimo kebetulan ada acara rapat untuk membahas mengenai acara olimpiade matematika. Jadi ia meminta izin untuk tidak mengajar hari ini.


Suasana kelas mendadak jadi acara konser band.


Bagus yang punya bakat terpendam juga berani menunjukkannya sekarang. Berbekal buku pelajaran yang digulung menjadi mic, ketua kelas gila itu naik ke atas meja yang sudah di sulap menjadi panggung di depan sana.


"Halo apa kabar semua, balik lagi bersama gue Bagus mulyanto, vokalis dari band gigi gupis yang siap menghibur kalian semua." Sembari Melambaikan tangan, Bagus melambaikan tangan ke semua penghuni kelas dan di sambut tepukan yang sangat meriah.


Berdiri di samping Bagus, Digo yang membawa sapu layaknya sebuah gitar mulai berpura-pura memetik senar.


Jes mencopot sepatu kanannya, mengubahnya menjadi kamera dan berkeliling kesana kemari.


"Apa ada yang mau request lagu?" tanya Bagus layaknya penyanyi yang tengah menguasai panggung.


"Lagunya kotak dong gas yang judulnya masih cinta" usul Nana.


" Baik saya akan membawakan lagu sesuai request mbak Nana," ucap Bagus dengan nada suara mirip bang Roma irama. Fix Salah server!


"TARIK SIS." seru Digo yang di jawab serempak seluruh manusia di dalam sana.


"SEMONGKO!!!"


"Udah nggak jaman sumpah Gas," cletuk salah satu penghuni kelas IPS dua yang sedang melihat kehebohan Bagus di sana.


Namun ternyata Bagus tidak perduli dan malah mulai bersiap-siap. Gulungan buku itu sudah berada di depan mulut, sementara Digo sudah mulai memetik gagang sapu.


"Tik ... tik ... tik-" lirik lagu pertama Bagas nyanyikan dengan penuh penghayatan seperti nada yang di bawakan oleh band kotak. Tapi begitu masuk lirik selanjutnya malah nada dan temponya berubah.


"Bunyi hujan di atas genteng... airnya turun tidak terkira cobalah tengok dahan dan rant-"


"Stop stop stop, kenapa malah jadi lagu anak-anak sih?" protes Nana yang membuat Bagus menghentikan aksinya.


"Turun woy turun," teriak Kimi yang disetujui oleh teman-temannya.


"Turun"


"Turun"


"Turun"


"Turun"


"DIEM WOY!!" Suara lantang Axel dari kelas sebelah membuat mereka terdiam dalam sekejap. Bagus dan Digo juga langsung turun dan membenarkan posisi meja ke tempat semula. Mereka juga sebenarnya tahu kalau kelas sebelah sedang ada kegiatan pembelajaran jadi wajar saja kalau Axel seperti itu.

__ADS_1


Keadaan menjadi hening saat seorang guru bernama bu Dwi benar-benar datang menghampiri kelas mereka.


"Jangan berisik ya, suara kalian mengganggu saya yang sedang mengajar di kelas sebelah," ucap bu Dwi dengan lembut. Bu Dwi memang guru prakarya yang terkenal baik dan di senangi oleh semua siswa. Jadi, ketika bu Dwi bilang seperti itu mereka langsung menurut.


"Kim, cari vitamin kuy." Digo menoel pundak Kimi yang duduk di depannya, seketika gadis itu langsung menoleh.


"Sekarang?" tanya Kimi yang langsung di angguki oleh Digo.


"Mumpung lagi jam kosong. Dari pada gabut gini kan," ucap Digo bersemangat.


"Tapi gue kan nggak bawa celana olahraga, gimana dong?" Ucap kimi


"Hm gimana ya?" Digo malah berbalik tanya.


Gadis itu mendongakan kepalanya ke atas dan mulai berpikir.


"Yaudah lah itu masalah nanti, yang penting kita ke lokasi sekarang. Ayo cepet!" Putus Kimi bangkit dari kursi yang membuat Nana langsung menahan tangannya.


"Eh-eh mau kemana?"


"Mau cari vitamin, udah lo disini dulu."


"Ikutttttt," rengek Nana.


"Yaudah ayo tapi lo nggak boleh berisik."


Mereka bertiga yang hendak beranjak keluar kelas tiba-tiba di hadang oleh Amanda dan Talita dari bangkunya.


"Gue ikut!"


"Gue juga!"


Ucap mereka berdua yang di angguki oleh kimi.


"Eh kalian mau kemana?" tanya Bagus yang sedari tadi sibuk berkutat dengan ponselnya.


"Cari vitamin." jawab Kimi, Digo, Nana, Amanda, dan Talita dengan kompak.


"Lo mau ikut juga?"


"Bolehlah, kalo kalian memaksa," jawab Bagus yang membuat mereka menatap pemuda abstrak itu dengan geli.


......................


"Sebelah sana kim"

__ADS_1


"Itu sya yang di atas"


"Nah nah iya itu"


"Gimana sih lo go, masa kalah sama Kimi"


Suara ocehan dari mulut Nana, Amanda dan Talita mendominasi kebun balakang sekolah siang ini.


Kimi yang tengah berada di atas pohon semakin bersemangat memetik mangga muda dari dahan yang satu  ke dahan yang lain.


Ini yang di sebut cari vitamin?


"Lo dapet berapa go?" tanya Kimi pada Digo yang berada di atas.


"Banyak dong," jawab Digo memasukkan mangga itu ke dalam plastik hitam.


"CEPET DONG AH! TAU GINI MENDING GUE NGGAK IKUT BANGSAT!" Umpat Bagus. Ia tengah berdiri di bawah pohon sambil menarik ujung rok yang di kenakan agar turun ke bawah menutupi pahanya.


Mereka hanya terkekeh pelan melihat Bagus yang tidak ada pantas-pantasnya memakai rok Kimi. Apalagi rok itu sangat pendek saat di kenakan di kaki Bagus yang di tumbuhi banyak bulu itu.


Bagus terus mengumpat. Harga dirinya sebagai ketua kelas sudah jatuh bahkan nyungsep gara-gara ide Kimi yang keterlaluan.


Ya, ini semua ide gadis itu. Ia meminta bagus memakai roknya sementara Kimi meminjam celananya dan memakainya untuk naik ke atas pohon.


Sebenarnya tadi Bagus yang mau naik, namun Kimi yang bar-bar terus memaksa karena sekarang dia tengah mengasah bakatnya lebih dalam lagi. Bakat  maling mangga maksudnya.


"SEDANG APA KALIAN?!" suara bariton tiba-tiba terdengar. Membuat mereka tersentak kaget. Dari kejauhan bahkan sudah terlihat sorot mata tajam david mampu membuat mereka semakin panik.


"Pak David dateng gaes ayo cepet kabur," ucap Nana tergesa-gesa membuat Kimi dan Digo yang masih berada di atas pohon langsung mengambil posisi untuk turun.


David semakin mendekat. Nana, Amanda dan Talita yang sudah takut setengah mati tiba-tiba berlari. Begitu juga dengan Bagus yang langsung ngacir di belakangnya sambil memegang ujung roknya agar tidak semakin naik ke atas.


Bagus yang masih dalam posisi panik tiba-tiba menghentikan langkahnya. Jika di teruskan, ia bakalan malu seumur hidup karena harus melewati lapangan dengan memakai rok. Tapi kalau ia berhenti atau berbalik arah sudah di pastikan pak David akan menangkapnya. Pemuda itu termenung untuk menentukan nasibnya.


Disisi lain, Kimi dan Digo sudah berhasil turun dari pohon. Kedua manusia itu langsung mengambil posisi ancang-ancang untuk berlari dengan menenteng plastik hitam berisi mangga muda hasil panennya hari ini.


"Ikut ke meja saya sekarang!" titah Davidlyang membuat mereka berbalik badan.


David menatap mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki. Laki-laki itu hanya bisa menggelengkan kepala. Apalagi saat melihat Kimi yang mengenakan celana panjang. Sangking panjangnya bisa buat ngepel lantai.


Digo dan Kimi hanya bisa cengengesan karena sudah tertangkap basah. Tidak berselang lama, Davis melihat satu siswa yang berlari ke arahnya dengan wajah panik.


Dengan napas tersenggal, Bagus nekat lari sekuat tenaga berbalik arah, tentunya masih dengan balutan rok pendek milik Kimi. Hal itu membuat David memijat pelipisnya sendiri.


"Ya Tuhan ada masalah hidup apa sama anak-anak ini?" batin David

__ADS_1


... -Bersambung-...


__ADS_2