GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
13.


__ADS_3

Tiga hari belakangan ini Kimi merasa sedikit canggung saat bertemu kevin. Masalahnya, cowok itu sekarang berprofesi sebagai babunya Nana dan selalu menuruti setiap perintah teman-temannya.


Ia juga merasa heran, kenapa kevin mau-maunya di perlakuan seperti itu.


Setiap jam istirahat, kevin yang selalu jadi suruhan untuk membelikan mereka jajan.


Kapten basket yang sering dijuluki pangeran tampan itu seperti sudah tidak ada harga dirinya lagi di kelas Kimi. Terkadang Digo juga menyuruh kevin untuk sekedar mengaruk punggungnya. Mana gatalnya pindah-pindah lagi.


Entah pemuda sedang caper atau berusaha menarik perhatian Kimi, yang jelas Kimi merasa sedikit iba. Menurut gadis bar-bar ituTeman-temannya sudah kelewat batas saat mengerjai kevin.


"Vin," Panggil Kimi menghentikan kevin di ambang pintu setelah selesai menyelesaikan tugasnya hari ini. Ia berniat kembali ke kelas karena sudah bel masuk ke jam pelajaran selanjutnya.


"Iya kenapa?" tanya kevin saat menyadari Kimi menahan lengannya.


"Mulai besok lo nggak usah dateng ke sini lagi, gue udah maafin lo kok." ucap Kimi yang sukses membuat kevin mengembangkan senyumnya. Padahal belakangan ini Kimi masih berusaha cuek dan selalu mengabaikan chat yang dikirimkan oleh kevin. Beruntung kalau memang sekarang Kimi sudah benar-benar memaafkannya.


"Lo serius?", kimi mengangguk cepat.


"Yaudah kalo emang lo udah bener-bener maafin gue, besok lo harus dateng ke taman."


"T-tapi vin-"


Kevin langsung seketika memotong ucapan Kimi "Besok gue hubungi lagi. Gue bakal tunggu lo di sana. Apa mau gue jemput?" tawarnya.


"E-em nggak usah, tapi gue juga nggak janji bakalan dateng, soalnya besok ada acara keluarga," jawab kimi lirih.


"Gue bakal tunggu sampai lo dateng." Mengelus puncak kepala Kimi dengan lembut, pemuda itu  tersenyum manis kemudian berlalu pergi.


"CIEEEEE," sorak satu kelas dengan kompak. Kimi masih mematung di tempat. Ia hanya menunduk malu dan berjalan cepat menuju bangkunya. Ia memegang pipinya yang sedikit merah.


"Lo ngomong apa ke kevin? Jangan bilang lo nerima dia lagi," selidik Nana dengan cepat.


Kimi menggeleng. Ia malah menangkupkan wajahnya di atas meja dan menindih kepalanya dengan buku. Berusaha tidak mendengar bisikan setan.


"Ciah CLBK nih ceritanya," ledek Digo mengejis-ngejis punggung Kesya.


"CLBK apaan tuh Go?" tanya Alvaro yang juga berniat meledek Kesya.


"Cinta Lama Bimbingan Konseling," jawab Digo asal.


"Punya otak tuh di rawat biar nggak lari ke dengkul!" Semprot Bagus memijat dengkul Digo.


"Kepanjangan dari BK apa?" tanya Digo.


"Bimbingan Konseling." jawab Bagis cepat.


"Yaudah berarti gue bener."


Nana mengelun lengan bajunya ke atas. Mengepalkan ke dua telapak tangannya dengan posisi seperti atlet tinju.


"Emosi gue Go," ucapnya pura-pura hendak meninju wajah Digo.


Tidak melawan Nana, eh si Digo malah bersenandung merdu.


"Tak ada manusia... yang terlahir-"

__ADS_1


"Di download," suhut Alvaro menyambung lirik lagunya lalu terkekeh pelan sembari membuka plastik snack di tangannya.


"Alvaro jangan makan jajan gue!" teriak Amanda langsung merebut jajan di tangan Alvaro.


"Nanti gue beliin lagi kok yang, mau berapa? 10?" goda Alvaro langsung di balas jitakan maut oleh Amanda.


"Yang yang yang pala lo peang!"


"Kasar banget sih, nggak boleh gitu sama suami. Dosa." Alvaro menyengir sementara Amanda langsung menghentak-hentakan kaki.


"Hih! Ngomong satu kali lagi gue sentil usus lo! Jijik bego!" ancam Amanda yang justru membuat Alvaro semakin gemas. Kapan ya gue bisa jadi pacar lo nda?


--


KIMI P.O.V


Suara riuh tamu undangan yang telah datang mendominasi rumahku pagi ini.


Ya, hari ini adalah hari pernikahan kak Airin dan Pak David. Pernikahan yang tidak pernah di harapkan oleh ke duanya.


Dekorasi dengan tema putih dipadukan dengan warna cream begitu elegan. Acara pernikahan ini niatnya akan di selenggarakan di dua tempat,yaitu indoor untuk akad dan outdoor untuk resepsi. Itu semua sudah papi rancang sejak jauh-jauh hari.


Pernikahan ini memang tidak begitu mewah, papi juga hanya mengundang tamu-tamu pentingnya saja. Bahkan teman kak Airin tidak juga tidak ada yang datang, bahkan mungkin mereka tidak ada yang mengetahui. Papi juga tidak menyewa gedung sama sekali.


Dengan balutan gaun cream dan sedikit polesan make up di wajah, Aku sudah siap sebagai bridesmaid.


Melangkahkan kaki keluar kamar, Aku berniat menemui kak Airin yang masih belum selesai dengan riasannya.


"Loh mbak, kak Airin mana? kok mbak berdiri di sini?" tanyaku pada mbak penata rias yang tengah berdiri di depan kamar kak Airin.


"Airin mana? Kok kalian berdiri di sini?" tanya Mami mencoba membuka knop pintu, tapi tidak bisa. Karena pintu kamar kak Airin nampaknya di kunci dari dalam.


"Di kamar mandi katanya mi." Mami mengangguk. Memutuskan menunggu Kak Airin sampai selesai dengan urusannya.


Lima belas menit berlalu. Kak Airin masih tetap mengunci pintu kamar. Bahkan Aku dan mami sudah berusaha mengetuknya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban apapun. Aku mencoba berpikir positif, mungkin kak Airin sedang berada di kamar mandi dan tidak mendengar.


"Keluarga Reno sudah tiba, Airin mana?" tanya Papi yang tiba-tiba datang. Aku dan Mami saling bertatapan.


"Masih di dalem pi," jawabku sedikit ragu.


"Sayang, buka pintunya nak. Keluarga Jov dan tamu undangan udah pada dateng semua." Mami mengetuk pintu kamar kak Airin kembali, tapi tidak ada jawaban apapun.


"Airin cepat buka!" bentak papi yang membuatku kaget.


Papi terlihat bergegas pergi, sekejap kemudian ia datang kembali bersama pak Amin.


"Dobrak pintunya!" Pak Amin yang mendapat perintah dari papi langsung mengambil acang-ancang dan mulai mendobrak pintu kamar sekuat tenaga.


Brak


Brak


Brak


Brakkkkkk

__ADS_1


Pintu kamar Kak Airin terbuka sempurna. Tapi anehnya tidak menampakkan wujud kak Airin di dalam sana.


Aku mencarinya ke kamar mandi. Mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban apapun.


Papi dan Mami terlihat sangat panik.


Kamar kak Airin sangat berantakan. Lemari bajunya juga terbuka lebar. Menuju ke meja rias, Aku melihat alat make up masih berceceran di atas sana.


Mataku terfokus pada sesuatu yang di tindih botol parfum. Aku menarik secarik kertas yang di lipat rapih di bawahnya.


Perlahan, Aku membuka lipat kertas itu dan mulai membaca pelan.


Mami, papi, maafin Airin.


Airin nggak bisa nurutin kemauan kalian berdua. Maaf sudah membuat kalian kecewa dengan keputusan berat ini.


Airin nggak bisa melanjutkan pernikahan dengan orang pilihan kalian.


Ini bukan semata-mata demi hidup dan kebahagiaan Airin, tapi demi anak yang sedang ada di rahim Airin.


Sebelum semuanya malu, lebih baik jujur sekarang.


Buat Kimi makasih ya udah jadi pendengar setia buat kakak selama ini.


Maaf kakak nggak bisa cerita masalah ini ke kamu sejak awal.


Jangan cari Airin.


Airin sayang kalian.


Mami memegang kepala dan langsung tergulai lemas setelah mendengar itu semua. Dengan spontan, Aku menangkap badan Mami dan menuntunnya untuk duduk di atas kasur. Sementara papi merebut kertas itu dari tanganku untuk memastikannya sendiri.


Aku melihat papi langsung meremas kertas itu kuat-kuat setelah membacanya. Dalam sekejap, raut wajah papi berubah sangat menakutkan.


"Airin kenapa kamu tega lakukan ini, kenapa kamu sampai hamil dan menyembunyikannya hiks hiks." Tangis mami pecah. Aku mencoba menghapus air mata mami dengan lembut. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Kak Airin.


Padahal selama ini Kak Airin selalu curhat ketika ada masalah, tapi kenapa ia menyembunyikan masalah sebesar ini.


"Airin! Mau di taruh mana muka saya?" Papi menonjok tembok dengan frustrasi. Memijat pelipisnya dan terlihat sangat emosi.


"Pi Airin pergi ke mana hiks?" Mami terus menangis.


Pikiranku mulai kalut, Aku melihat jendela kamar kak Airin terbuka lebar. Berjalan mendekat ke dekat jendela, Aku melihat ada seutas tali yang menjalar ke bawah. Sudah dipastikan tali itu digunakan sebagai alat bantu kak Airin untuk turun dari kamarnya. Karena kebetulan kamar Kak Airin berada di lantai dua. Tidak mungkin kan melompat begitu saja.


"Tuan, acara sebentar lagi akan di mulai, apakah pengantin wanita sudah siap?" tanya salah satu penata acara yang tiba-tiba datang.


"Ubah susunan acaranya, kita undur setengah jam lagi." Setelah mendengar jawaban dari Papi, orang itu langsung mengangguk dan bergegas pergi dengan sedikit bingung karena melihat Mami yang terus menangis dan tidak melihat sang pengantin.


"Kimi bakal cari kak Airin sekarang. Mungkin Kak Airin masih di dekat sini." Aku hendak bergegas keluar. Tapi tiba-tiba di tahan oleh papi.


"Jangan urusi anak kurang ajar itu lagi! yang terpenting adalah menyelamatkan harga diri papi agar tidak jatuh."


"Kita harus gimana pi?" tanya mami tak berdaya.


"Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan harga diri keluarga kita." Aku dan Mami saling bertatapan. Tidak mengerti dengan cara apa yang di maksud oleh papi.

__ADS_1


...-Bersambung-...


__ADS_2