GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
5


__ADS_3

19.00


"Kok di meja makan banyak banget makanan sih, emang ada acara apa dek?" tanya Airin yang tiba-tiba nyelonong masuk ke kamar Kimi sambil memakan snack taro kesukaannya.


"Ya mana saya tau, sayakan ikan," jawab Kimk tanpa melirik sedikitpun. Gadis itu terus melanjutkan aktivitasnya menjajali baju di depan lemari.


Airin yang kesal dengan sigap langsung mengambil bantal di atas kasur. Melemparkannya begitu saja seperti sedang bermain tolak peluru.


Bukk!!


"Aww, Sialan. gada ahlak lo kak," ringis kimi sembari mengusap kepalanya. Sementara AirinĀ  tertawa puas.


"Btw lo mau kemana kok ngacak-ngacak baju banyak banget?" tanya Airin yang mendapati baju adiknya yang sudah tercecer di atas kasur. Masalahnya, tidak ada yang cocok dari tadi.


"Mau ke pesta dong"


"Pesta?"


"Iya pesta ulang tahun temen"


"Yaudah sini kakak yang make up-in biar keliatan cantik dan nggak burik-burik amat." Airin mengedipkan mata genit. Meletakkan plastik snack di atas kasur. Berlalu menarik tangan adiknya itu dan membawanya ke depan meja rias. Kimidipaksa duduk disana, sementara Airin langsung sigap mempersiapkan alat make up yang akan di gunakan.


"Sialan lo ka, emang selama ini gue keliatan buruk rupa?"


Airin terkekeh. "Becanda adiku tersayang."


Kimi pun mendengus kesal lalu pasrah.


"Gue juga pengin ketemu sama Aris sebenernya," curhat Airin tiba-tiba dengan nada memelas sembari mengaplikasikan foundation di wajah Kimi.


"Halah seharian juga udah ketemu kan di kampus?"


"Iya sih, tapi gue pengin ke tempat kerjanya dia."


"Loh emang kak Aris kerja?"


"Iya, dia kerja paruh waktu. Makanya gue gak tega pengin nengok kesana."


"Ya tinggal pergi aja, kaya biasanya nggak bikin alesan ke rumah temen. Siapa tuh temen kakak yang namanya sering di pakai buat alesan?"


"Bela maksudnya?"


"Iya, kak Bela. Kakak sering kan bikin alesan sama mami mau rumahnya dia tapi ujung-ujungan malah pacaran. Ya tinggal bilang aja mau kesana apa susahnya sih" usul Kimi. Adiknya itu memang selalu mendukung hubungan Airin dan Aris karena merasa mereka berdua memang cocok. Apalagi Kimi paham sekali, saat dulu Airin di selingkuhin sama mantannya. Arislah yang selalu berusaha membuat Airin bahagia.


"Udah, tapi mami sama papi nglarang gue pergi malem ini."


"Loh kenapa? Apa gara-gara tamu yang bakal dateng?"


Airin mengkidikan bahunya pertanda bahwa ia tidak tahu.


"Kak."


"Hm," jawab Airin sambil mengaplikasikan bedak di wajah adiknya tersebut.


"Kakak pasti cinta banget ya sama kak Aris?"


Airin menghentikan aktivitasnya. Menghembuskan nafas panjang lalu tersenyum getir.


"Banget."


"Tapi kan mami sama papi nggak ngrestuin kakak, terus kedepannya mau gimana coba?"


"Gue bakal perjuangin cinta gue sama Aris gimanapun caranya. Kalaupun harus kawin lari juga nggak masalah."


"Dih, gila lo. Kuliah aja belum lulus. Emang kakak punya duit?"


"Yakan itu misalnya.Udah ah sini cepetan banyak omong banget sih ni anak." Airin kembali melanjutkan aktivitasnya mempoleskan bedak di wajah adiknya itu dengan telaten.


"Jangan tebel-tebel loh kak."


"Iya bawel."


Kakak beradik yang berbeda 5 tahun itu memang sering bertengkar, tapi jangan salah mereka juga sebenarnya kompak dan saling menyayangi satu sama lain meskipun tidak di ungkapkan secara langsung.


__


Jam 20.25 Kimi sudah tiba di rumah Via di antar pak Amin--supir pribadinya. Setibanya disana, ia langsung di serbu oleh Nana, Talita dan Amanda yang ternyata sudah menunggunya di parkiran sejak tadi.

__ADS_1


"Lama banget sih lo kim," tegur Nana memanyunkan bibirnya sedikit kesal.


"Eh tapi tunggu dulu, lo kok cantik banget si anjir," lanjutnya sembari menggoyangkan tubuh Kimi ke kanan dan ke kiri.


"Iya kim, sumpah lo cantik banget deh." Talita juga nampak takjub dengan penampilan Kimi saat ini.


Amanda tersenyum lebar. "Nah gini dong biar kelihatan anggun dikit"


Melihat penampilan Kimi malam ini memang sangat berbeda dengan dirinya yang di kenal sebagai cewek barbar, urakan dan pemalas.


Dres berwarna biru nampaknya sangat pas di padukan dengan High heels hitam setinggi 5 cm yang menambah keanggunannya. Apalagi polesan make up flawless natural. Benar-benar Sempurna.


"Ini kak Airin yang dandanin gue. makanya lama. Sorry."


"Yaudah yuk masuk bentar lagi di mulai loh pestanya," usul Amanda bergegas.


"Eh bentar-bentar gue copot aja kali ya, susah buat jalan soalnya." Mengangkat kakinya satu persatu. Kimi mencopot high heels-nya kemudian menentengnya di tangan kanan.


"Heh kenapa di copot sih?" Nana melotot tidak percaya dengan tingkah Kimi yang ternyata tidak berubah.


"Udah ah ntar gue pake lagi di dalem."


Mereka bertempat membiarkan Kimi melakukan kehendaknya dan langsung bergegas menuju lokasi.


Via sengaja mengadakan pestanya di samping rumah, tepatnya di pinggir kolam renang. Meskipun bukan di gedung megah, tetap saja di bikin semewah mungkin. Maklum lah horang kaya mah bebas.


"Halo princes Amanda," sapa seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri mereka bertempat di dekat pintu masuk.


Kimi yang tengah berjongkok memakai high heels seketika mendongak. Menatap seseorang yang tidak asing. Halah ternyata si curut! Gue kira cogan. Gumamnya kecewa.


"Ngapain lo disini?" Tanya Amanda dengan ketus pada orang itu.


"Ya gue di undang lah. Tuh si Bagus, Digo, Felix sama Jes juga di dateng." tujuk Alvaro. Ya orang itu adalah Alvaro, pantas saja tidak asing.


Ke empat pasang mata itu langsung mengikuti arah jari telunjuk Alvaro yang berhenti pada segerombol cowok yang tengah menyerbu makanan di ujung sana.


"Hih sumpah malu-maluin kelas kita tau nggak sih. Tuh liat mana makannya lahap banget lagi. Padahal acaranya belum dimulai," cicit Talita memandangi mereka satu persatu.


Bagus terlihat membawa dua cup cake di tangannya. Jes membawa empat. Sementara Felix sih cuma bawa jus, tapi tiga gelas. Sedangkan Digo malah sudah membopong satu nampan yang berisi berbagai cemilan disana.


"Biarin aja lah, mereka kan emang dateng kesini ya tujuannya buat makan." Kimi terkekeh pelan sebelum akhirnya mendapati dua orang tengah berjalan ke arahnya.


"Tuh si Gita salah kostum apa ya, mana dandanannya menor banget kaya ondel-ondel," bisik Amanda pada Nana.


"Halo Kim," sapa Gita dengan sok akrab. Kimi tahu bahwa gita menghampirinya untuk pamer kemesraan.


"Ngapain lo disini? tanya kimi malas.


"Ya karena gue di undang lah, lo lupa kalo Via juga temen gue sekarang?"


"Oh."


Via memang mengundang semua teman sekelasnya. Dan untuk tetangga kelas hanya beberapa yang di undang. Itupun yang akrab saja.


"Heh Gita, ini tuh acara ulang tahun bukan pementasan ondel-ondel," semprot Nana memandang Gita dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Orang cantik mah bebas," jawab Gita dengen PD sambil mengelus gelungan besar di rambutnya.


Talita melirik sinis. "Gini nih kalo boneka annabell di kasih nyawa."


"Yaudah yuk beib kita kesana aja, disini panas," ucap Gita dengan nada sok imut pada kevin. Cowok itu mengangguk, mengikuti kemauan sang kekasih.


Memajukan bibir bawah. Talita mengulang ucapan Gita dengan nada meledek. "Yiidih yik bib kiti kisini iji! Jiji anjim!"


Berbeda dengan Nana yang malah mencopot high heels dan hampir melemparnya. Untung saja Amanda berhasil menahan, kalau tidak? bisa-bisa bakalan ada adegan kekerasan malam ini.


"Gedek banget tau nggak sih liat mukanya si Gita, bawaanya bikin pengin nendang!" decak Nana mengacungkan kakinya ke udara. Seperti mau menendang tapi tak sampai.


"Sabar gaes sabar, gue juga enek banget tapi kita juga nggak boleh gegabah dong. Cari cara lain yang lebih keren." Amanda tersenyum licik.


"Lo nggak kenapa-napa kan kim?" tanya Nana yang melihat kimi terdiam sejak tadi. Gadis itu menggeleng kemudian berjalan menghampiri Via yang sudah berada di depan dan siap memulai acara.


Sebenarnya Kimi sangat kesal dan ingin menjambak rambut Gita, tetapi ia tidak mau bikin rusuh disini. Apalagi ini acara penting.


......................


Pesta ulang tahun Via berjalan lancar sejauh ini. Mereka tengah menikmati berbagai cemilan yang tersaji disana.

__ADS_1


"Andai aja si Via ngadain acara kaya gini tujuh hari tujuh malem, gue siap deh jadi tukang sound asalkan bisa makan gratis," cerocos Digo sambil mengunyah kue kering. Ternyata dia sudah mengambilnya dengan jumlah banyak terus di masukin deh di saku celana.


"Ya ampun kamu berdosa banget," suhut Bagus merogoh saku celana Digo perlahan.


"Aib woy aib." Digo menepis tangan Bagus dengan kasar.


"Pantesan aja gorengan di kantin sering ilang sendiri, ternyata lo pelakunya Go," suhut Felix mengeluarkan satu persatu kue kering dari dalam sana.


"Kamu tuh jangan fitnah," bela Digo bernada.


"Pulang kuy, udah kenyang nih," ajak Jes yang langsung dibalas nyanyian oleh Bagus.


"Mari pulang.. marilah pulang.. marilah pulang-"


"Ke Rahmatullah," jawab Digo diujung lagu yang membuat dirinya harus kena jitakan maut dari Bagus.


Alvaro yang sedari tadi memilih diam, tiba-tiba berteriak. "NDA SINI DONG GABUNG."


Ia terlihat melambaikan tangan pada Amanda yang sedang berdiri di pinggir kolam bersama Kimi, Talita dan juga Nana. Padahal jaraknya deket sih hanya satu meter.


Amanda hanya melirik sekilas. "Ogah!"


"Kacang kacang kacang. Kacangnya mas, mbak monggo dicoba," ledek Digo dengan puas.


"Sialan lo!"


......................


Dentuman musik keras mengiringi suasana saat ini. Pesta Via bisa di katakan sukses karena mereka semua nampak menikmati setiap runtutan acara. Apalagi Digo CS yang merasa kenyang setelah berbagai makanan masuk ke perut mereka. Merasa cemilan disana sudah di cicipi semua, Digo mengangkat tangan melambaikannya ke arah Via.


"VI ADA PILUS NGGAK?"


Meskipun suaranya hanya terdengar samar-samar, tetap saja dapat terdengar orang-orang yang berada di sekitar. Via yang tengah berada di depan tidak terlalu jelas dengan ucapan Digo hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Eh malih, lo tuh emang malu-maluin banget ya. Kita tuh di undang ke pesta ulang tahun bukan acara kondangan." Bagus menonyor kepala sahabatnya itu


"Tuh liat pacar lo malu-maluin banget Na." Kimi terkekeh pelan. Menyenggol Nana yang sedari tadi sibuk menatap Alex--si ganteng dari tetangga kelas.


"Dih ogah banget punya pacar modelannya kaya si Digo! Amit-amit dah." Nana mengetuk kepalanya tiga kali kemudian mengetuknya di dengkul secara bergantian, katanya sih untuk membuang sial.


"Jangan gitu, yang namanya jodoh kan nggak ada yang tau ya nggak tal, nda? haha." Talita dan Amanda mengangguk sambil tertawa puas meledek Nana yang sepertinya semakin kesal.


"Sialan lo kim, gue marah nih kalo lo ngomo-"


Drt.. Drt.. Drt...


"Eh bentar gaes kayaknya hp gue geter deh," potong Kimi saat ponselnya bergetar di dalam tas slempang yang ia bawa. Kimi mengeluarkan ponsel dari dalam sana . Dan benar, tertera nama Airin di layar membuatnya buru-buru menggeser tombol hijau.


"Halo kak, kenapa?"


"..."


"Tapi ini acaranya belum selesai"


"..."


"Iya iya ini gue pulang sekarang."


Tut


Airin mematikan panggilan sepihak. Memunculkan kepanikan di raut wajah Kimi.


"Siapa kim? Kok lo kaya panik gitu," tanya Nana.


"Kak Airin nyuruh gue pulang."


"Emangnya ada apa?" Raut wajah Amanda yang kepo mulai menampakkan wujudnya.


"Gatau, tapi gue harus pulang sekarang."


Dengan gugup, Kimi memasukkan ponselnya kembali kedalam tas. Mencopot high heels-nya dan dalam sekejap ia sudah berlari menuju pintu keluar.


"Tap-" Nana yang hendak menahan Kimi pun gagal. Karena manusia itu sudah melesat jauh dari pandangannya.


"Gue pulang dulu ya, bye."


"KALO ADA APA-APA KABARIN KIM," teriak Amanda dengan keras.

__ADS_1


... -Bersambung-...


__ADS_2