
Kimi P.O.V
Dentingan suara sendok dan garpu yang bertautan di atas piring mendominasi suasana meja makan malam ini.
Lagi-lagi Aku menatap kak Airin yang akhir-akhir ini sering sedih dan terdiam.
Semenjak kak Airin tahu jika dirinya akan di jodohkan, dia menjadi sedikit berubah. Mungkin kak Airin kecewa dengan sikap papi dan mami yang seolah-olah memaksa.
Menikah dengan orang yang baru dikenal tentu saja hal yang sangat mengerikan bagi siapapun. Kita belum tahu latar belakangnya seperti apa dan bahkan sifat aslinya mungkin masih tertutupi dengan apa yang kita lihat sekarang.
Saat mendengar pernikahannya akan dilangsungkan sebentar lagi, Aku adalah orang yang paling tidak terima. Karena apa? Menurutku kak Airin bebas dong mau nentuin pasangan hidupnya sendiri, bukannya malah di jodoh-jodohin kaya gini. Tapi aku bisa apa? Anak kemarin sore dan masih bau kencur mau ikut-ikutan masalah orang dewasa? ya bakalan kalah.
Entah seperti apapun bentukan calon suami kak Airin, yang jelas aku tidak pernah merestuinya karena umur mereka bahkan terpaut cukup jauh. Awas saja nanti kalau dia berani muncul di depan mataku. Tidak perduli siapa dia yang jelas aku tidak merestuinya sama sekali.
"Ekhm, kim gimana sekolah kamu? Sudah ada peningkatan?" tanya papi memecah keheningan.
"Sudah pi, kemarin Kimi udah berhasil manjat pohon mangga belakang sekolah. Dan papi tau nggak? Kimi juga bisa metik 10 buah sekali panjat," jawabku dengan percaya diri sambil menyendok nasi.
"Kamu ini kecil-kecil pinter ngelawak. Maksud papi peningkatan nilainya, bukan peningkatan kamu ngembangin bakat jadi maling." Papi Fahmi menggelengkan kepala dan hanya bisa pasrah.
"Jangan di ulangi kim, bahaya! Kalo kamu jatuh gimana coba? Lagian kamu kecil-kecil udah udah belajar maling! Pokoknya mami nggak mau lagi denger kalo kamu manjat-manjat pohon mangga di sekolah! Kamu tuh harus semangat belajar biar bisa kuliah kayak kakak kamu," cerocos mami panjang lebar.
Aku hanya menyengir kuda, entah apa yang harus ku jawab. Sebenarnya akhir-akhir ini aku sudah malas berangkat ke sekolah. Ditambah lagi semenjak ada guru baru bernama pak David yang ngeselinnya naudzubillah mindzalik.
Apalagi pas mengingat kejadian satu minggu yang lalu, dimana dia dengan entengnya menyuruhku mengelilingi lapangan 10 kali putaran dan hampir saja membuat tubuh mungil ini pingsan. Hampir lo ya bukan pingsan beneran.
Tidak sampai disitu saja, beberapa hari setelahnya dia juga mengubah panitia pengurus kelas. Dan sialnya aku di tunjuk menjadi pembantu umum, catet pembantu umum.
Entah sejak kapan di sekolahku ada yang namanya jabatan sebagai pembantu umum. Rasanya baru mendengar hal itu. Mana tugasnya bolak balik bawain buku paket lagi, sialan.
Perlakuan pak David yang seperti ini membuatku semakin yakin kalau dia memang sengaja balas dendam atas kejadian di cafe saat itu. Tapi ini sudah benar-benar keterlaluan. Aku yakin juga sih kalau dia memang sudah memiliki perangai yang sangat buruk sejak awal.
Kadang aku ingin melawan, tapi sadar diri karena dia adalah guru yang harus dihormati.
Padahal kan sebagai seorang guru, seharusnya dia juga mempunyai karakter yang baik untuk di ikuti anak didiknya.
Kalau anak didiknya salah ya harusnya di tegur dengan cara yang baik bukan malah menghukumnya seenak jidat .
Menurutku, menghukum dengan menggunakan fisik itu tidak akan pernah merubah karakter mental seseorang dan justru malah membuatnya tertekan.
His kok malah aku jadi ghibahin pak Darel sih. kalau udah ghibah otak mendadak pinter gini.
Oke kita kembali ke laptop.
Bukan. Maksudnya ke meja makan.
"Airin, makan yang banyak, nih tambah lagi ayamnya" ucap mami dengan lembut mengambilkan lauk dan menaruhnya di piring kak Airin. Hal itu hanya dibalas glelengan kepala oleh kak Airin tanpa menatap mami sedikitpun.
"Mau kamu marah dan ngambek seperti apapun, papi tidak ada pernah merubah keputusan papi. Ingat itu!" ucapan papi dengan tegas.
Seketika, Aku melihat kak Airin dengan tatapan kecewanya meneteskan air mata. Ia langsung beranjak meninggalkan meja makan tanpa mengatakan apapun.
Aku yang hendak berdiri menyusul kak Airin justru di beri kode oleh mami untuk duduk kembali. Aku yakin mami seperti ini karena takut membuat papi semakin naik darah.
Aku hanya mengangguk pasrah karena takut membuat papi marah. Papi Fahmi itu sebenernya orang yang baik dan sayang sama keluarga. Tapi sekalinya emosi terlihat sangat menakutkan, dan aku juga tidak mau melihat itu saat ini.
"Jangan kasar dong pi sama Airin," bujuk mami dengan lembut sembari menuangkan air putih di gelas papi.
"Dia itu lama-lama bisa kurang ajar kalo di biarkan, apalagi semenjak pacaran sama si Arus yang bergajulan itu ,jadi makin ngelawan sama orang tua sendiri!"
__ADS_1
"Aris pi bukan Arus," kataku membenarkan.
"Mau Arus mau Aris mau Oras papi tidak peduli! Yang jelas papi tidak suka kalo Airin masih berhubungan sama dia!"
"Lagian papi sama mami kenapa nggak suka sih? Menurut Kimi kak Aris baik kok dia juga pekerja keras, buktinya dia sampai kerja paruh waktu di ssla-sela kuliahnya."
"Halah kamu ini anak kecil tau apa! Kamu jangan niru kakak kamu yang makin ngelunjak! Papi tidak suka!"
"Tapi kan-"
"Nyonya ada tamu di luar," ucap bi Sumi yang datang menghentikan perdebatan antara aku dan papi.
"Siapa bi?" tanya mami dengan cepat.
"Calon suami non Airin. siapa namanya ya hmmm," jawab bi Sumi sambil berpikir. "Aduh bibi lupa hehe."
Mami langsung bangkit dari kursi dan
Aku yang sudah menunggu momen ini juga langsung menyusul mami yang sudah terlalu bersemangat menghampiri calon menantunya itu.
Gimana sih wujudnya tuh orang sampai-sampai mami sama papi muji-muji dia terus? Heran deh.
Berjalan mengekor di belakang mami, aku melihat laki-laki berpakaian serba hitam itu berdiri di teras membelakangi arah kami berdua.
Dan aku yakin dia adalah orang yang akan menjadi calon suami kak Airin.
Jiwa barbarku akan muncul sebentar lagi, siap - siap saja kau om.
"Loh ada nak Jov ternyata." ucap mami yang membuat laki-laki bernama Jov berbalik badan dan langsung menyalami mami.
JDERRR!!
Bagaikan tersambar petir di malam hari, tidak ada angin tidak ada hujan tapi kenapa aja jaelangkung disini?
Tapi hasilnya tetap sama.
"PAK DAVID"
"KIMI"
Pekik kami berdua dengan kompak. Sebenarnya sih melihat ekspresi kaget pak David ya tetap saja sama, datar dan kaku. Hanya saja kerutan di dahinya menunjukkan seolah dia bingung bertemu denganku disini.
Ada apa ini? Mami menganggilnya Jov tapi kenapa pak David yang berada disini? Setauku nama calon suaminya kak Airin ya memang Jov dan bukan David.
Mami menatap kami secara bergantian "Loh kalian sudah saling kenal rupanya?"
Pak David berdehem "Kebetulan saya wali kelasnya Kimi tante," ucapnya datar.
"Oh gitu to, kebetulan banget dong kalo gitu sekalian memantau calon adik iparnya di sekolah hehehe," gurau mami mencairkan suasana.
"Kim kok diem aja sih sini cepet dong kasih salam," lanjut mami yang membuatku maju beberapa langkah menyalami tangan pak Darel dengan terpaksa.
Astaga punya dosa apa aku di masa lalu? Dia jadi guru aja sudah nyusahin apalagi jadi kakak ipar? Oh no!
"Yuk Jov ikut makan malam sekalian," ajak mami dan pak David hanya mengangguk ragu.
......................
Pak David kini bergabung makan malam dengan kami, demikian halnya dengan kak Airin yang juga sudah di bujuk mami untuk kembali melanjutkan makan malamnya di meja makan.
__ADS_1
Kak Airin dengan tatapan tidak sukanya jelas sekali terlihat, sama juga halnya dengan pak David yang sepertinya sangat terpaksa berada di sini.
Aku terus melotot ke arahnya dengan pikiran yang bergulir dengan berbagai macam pertanyaan yang harus segera terjawab.
"Tumben banget kamu Jov mau dateng kesini? Kangen ya sama Airin?" ledek papi dengan nada bicara yang menunjukkan bahwa keduanya memang sudah akrab sejak awal.
"Jadi gini om, saya datang kesini mau mengajak Airin untuk fitting baju besok." Mengerutkan dahi, aku menatap wajah pak David yang sepertinya ragu mengucapkan hal itu.
Aku beralih menatap kak Airin yang langsung membuang muka menunjukkan ekspresi tidak suka dengan ucapan pak David.
"Tante benar-benar salut sama kamu jov, akhirnya kamu mau juga menerima perjodohan ini," ucap mami tersenyum tipis.
"Mi, bukanya calon suami kan Airin namanya om Jov? Kok malah jadi pak David sih yang disini?" tanyaku yang sudah tidak sabar dan butuh kejelasan.
"Nah ini nih yang kamu dan Airin belum tau. jadi gini, jov ini anaknya om Reno dan dia itu dulu tetangga kita. Tuh bekas rumahnya yang sekarang sudah di tempatin sama pak Bagyo. Dan mami sama papi tuh udah kebiasaan manggil David dengan nama tengahnya, eh kebiasaan deh sampai sekarang hehe," jelas mami panjang lebar.
Aku berpikir sejenak.
Jov? David? Ah sialan aku baru ingat kalau nama guru ngeselin ini kan David Jovian Jareda.
"Kamu masih ingat nggak Jov ada kolam ikam lele di belakang rumah tante? Eh kamu dulu kalo udah main sama lele malah nggak mau pulang ke rumah sampai mama kamu kesel sendiri," lanjut mami yang hanya di balas anggukan oleh pak David.
"Berart-"
"Terus kamu ingat nggak waktu mama kamu bilang mau pindah ke luar kota eh kamu nangis kejer guling-guling di depan rumah tante? Haha pokoknya kamu tuh dulu nggemesin banget tau" cerocos mami memotong ucapanku.
"Tet-"
"Dulu tante tuh sebenernya nggak rela loh jov waktu kamu pindah rumah soalnya kamu tuh udah tante anggap kaya anak sendiri sebelum Airin sama Kimi lahir."
"Pind-"
Dahlah mau kamuflase aja jadi ikan.
"Oh iya jov kata Mira, kamu dulu juga kuliah di luar negeri kan? Terus gimana tuh disan--"
Ting!
Kak Airin tiba-tiba membanting sendok dan garpu di atas piring yang langsung membuat mami terdiam.
"Airin yang sopan kamu!" Tegur papi melotot tajam.
"Teruskan aja makan malamnya, saya sudah kenyang. Dan maaf, besok saya tidak bisa fitting baju pengantin karena ada acara di kampus!" final kak Airin yang kembali meninggalkan meja makan.
"Jov maafin sikap Airin, mungkin dia masih belum siap dengan perjodohan ini, tolong di maklumi ya," ucap mami dengan nada memelas sepeninggalnya kak Airin.
"Iya."
"Udah dong mi jangan ngajak Jov bicara terus, biarin dia makan dulu. Masalah Airin biar papi yang urus," tegur papi yang langsung membuat mami mengangguk.
"Hm sepertinya saya harus pulang sekarang om, tan." tukas pak David beranjak dari meja makan.
"Loh kok buru-buru sih, kan tante masih pengin ngobrol sama kamu."
"Ada kerjaan yang harus saya urus tan," jawab pak David yang langsung membuatku tersenyum bahagia. Hus-hus Udah sana pulang pak, kalo perlu gausah kesini lagi.
Melihat pak David menyalami papi dan mami secara bergantian, aku yang tengah makan tiba-tiba disuruh mami dan papi untuk menyalami pak Darel juga. Dengan berat hati aku menjulurkan tanganku lalu ku genggam dengan erat. Sangat erat bahkan sampai ku keluarkan energi dari dalam. Berharap pak David kesakitan tapi tidak ada respon apapun.
"Hati-hati di jalan pak," ucapku di tengah-tengah jabatan tangan kami. Bahkan lagi-lagi Aku sengaja menekan tanganku sekuat tenaga.
__ADS_1
Ini baru permulaan pak, anggap aja ini ujian pertama untuk menjabat jadi kakak ipar!
... -Bersambung-...