GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
17.


__ADS_3

"Ada yang habis melepas masa jomblo nih yeeee," sahut Amanda langsung membuat tubuh Kimi lemas seketika.


Terdiam sejenak, gadis itu lalu menatap Amanda dengan perasaan sedikit cemas.


Menghembuskan napas panjang, Kimi berusaha setenang mungkin agar teman-temannya tidak semakin curiga.


"Ss-siapa yang udah nggak jomblo sih Nda? Ngaco lo ah haha," ucap Kimi seraya berjalan menuju bangkunya dengan pura-pura sok asyik.


Nana tiba-tiba menarik lengannya lalu mendudukan gadis itu di kursi dan siap untuk memulai interogasi. Sementara itu, Amanda juga terlihat mendekat. Hal itu membuat Kimi menelan salivanya susah payah.


Glekk


"Emang bener kim?" tanya Nana tiba-tiba dengan serius.


"Kimi main sembunyi-sembunyian nih ceritanya biar nggak di minta traktiran," sahut Talita yang juga berjalan ke arahnya.


Amanda tiba-tiba duduk di atas meja lalu mengedipkan mata genitnya.


"Dari kapan kim? udah lo jujur aja sama gue," ucap Amanda yang membuat gadis itu mati kutu.


Entah ia akan mulai bercerita dari mana, haruskah dari awal? Mungkinkan setelah ini mereka akan menjauhi Kimi setelah tau tentang hubungannya yang tidak masuk akal ini? Entahlah, yang jelas Kimi bingung haru berbuat apa. Bahkan teman-temannya sudah terlanjur memojokkan dan nampaknya mereka sudah tau banyak hal. Tapi dari mana mereka bisa tau?


"Itt-u nggak seperti yang kalian pikirkan kok," ucap Kimi terbata yang langsung di saut oleh Amanda.


"Tapi itu fakta kim, gue liat pake mata kepala gue sendiri kok, bahkan gue ada buktinya." Amanda mengeluarkan ponsel dari saku, membuka galeri dan berniat menunjukkan sesuatu pada Kimi.


"Pokoknya harus makan-makan bakso mbak hindun," sahut Digo girang.


Amanda yang masih menscroll ponsel tiba-tiba menggerutu.


"Yah kok nggak ada sih, di hapus sama lo ya go?" tanyanya pada Digo.


"Enggak kok, tadi gue cuma liat sebentar doang," elak Digo. Padahal tadi nggak sengaja kepencet 'delete'.


"Yah padahal itu buti otentik buat minta traktiran,masa ilang sih," gerutu Amanda yang masih bolak-balik mencari sesuatu di galeri hpnya.


"Padahal itu foto gue ambil dari angle yang bagus, ah." gerutunya kembali.


"Foto apa sih emangnya? Emangnya gue habis ngapain?" berdiri dan mulai angkat bicara, Kimi juga bingung foto apa yang dimaksud oleh Amanda.


"Udah lah kim nggak usah malu-malu, lagian satu kelas pasti dukung kalian kok, ya kan gaes?" tanya Amanda langsung mendapat sambutan heboh satu kelas.


Kimi menggigit bibir bawah dan mendudukkan bokongnya kembali.


"Kenapa masih malu sih kim, lagian kevin itu udah ganteng, sosweet, perhatian, kapten basket pula. Kurang apalagi coba? Ya wajar kan kalo lo kepincut lagi, sekalian balas dendam dan tunjukan ke Gita kalo lo lebih beruntung," cerocos Amanda sontak membuat Kimi mendongak.


"Loh kok kevin?" tanya Kesya bingung.


"Ya emang kevin, emang siapa lagi?" Amanda malah berbalik tanya. Tapi hal itu nampaknya membuat Kimi sedikit lega. Ternyata orang di bahas sedari dari adalah kevin bukan Pak David.


"Emang bener kom kalo lo balikan lagi sama kevin? Kan udah gue bilang jangan gampang kemakan omongannya buaya darat kaya dia. Lo harus selidiki dulu kevin beneran tulus sama lo apa nggak. Gue nggak mau lo di permainkan lagi kaya dulu." Layaknya  orang tua, Nana memang selalu menjadi penceramah setia untuk Kimi.


"Gue nggak balikan kok, suer." Mengangkat kedua jarinya dengan lambang peace, Kimi mengatakan itu dengan serius. Sontak semua langsung melirik ke Amanda dengan tatapan butuh penjelasan.


"Tapi foto yang tadi  itu emang fotonya Kimi gue nggak bohong, mata gue masih sehat kok." jelas Amanda kembali.


"Oke biar gue jelasin, jadi waktu itu gue nemenin nyokap  ke rumah tante gue. Dan kebetulan gue jalan-jalan cari angin di jalanan sekitar rumahnya. Eh pas di tengah jalan, gue liat Kimi lagi duduk sendirian. Pas gue mau nyamperin, tiba-tiba kevin dateng terus Kimi langsung nubruk kevin. Akhirnya mereka berdua pelukan deh, gue iseng foto mereka buat bukti minta PJ hehe. Niatnya sih mau gue kasih tau Nana sama Talita tadi pagi, eh malah nyebar satu kelas hehe" lanjutnya panjang lebar untuk menyakinkan teman-temannya.


"Iyalah nyebar, mulut lo aja kaya toa," celetuk Digo.


Alvaro tiba-tiba mendekat. Menatap Digo dengan tatapan sok seram.


"Berani kasar sama Amanda, lo harus lawan Bagus dulu," ucapnya yang membuat semuanya mendengus. Pasti setelah ini akan ada drakor ala Amanda dan Alvaro.


"Sekalian aja nglawan pak Bondan biar lo di gorok!" ujar Bagus.


"Pak David sekalian," timpal Digo.

__ADS_1


Sejurus kemudian, Alvaro langsung mendekati Amanda.


"Demi keamanan bersama, mendingan kita mojok aja beb."


Amanda yang mendengar itu langsung mendengus.


"Dih ogah!" tolaknya mentah-mentah.


Ya seperti itulah mereka, kedua sejoli dengan kisah cinta yang beda aliran. Alvaro yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Sementara Amanda sebelah kaki, selain beda aliran juga beda server. Alias nggak nyambung.


Kembali pada Kimi yang masih terus di interogasi oleh Nana.


"Emang bener kaya gitu ceritanya kim?" tanya Nana masih ragu dengan penjelasan Amanda.


"Ya kalo gue ketemu sama kevin sih bener, tapi gue nggak balikan kok. Kalo nggak percaya tanya aja sama orangnya, waktu itu gue hampir jatuh makanya nggak sengaja meluk dia," albinya membuat mereka sedikit kecewa. Yang paling kecewa di sini sih Digo, soalnya nggak jadi makan gratisan.


"Terus lo ngapain berduaan di jalanan sepi kaya gitu?" tanya Amanda membuat Kimi terdiam kembali.


"Jangan-jangan lo sama kevin habisss-" Digo menggantung ucapannya. Membuat semua menunggu kelanjutan apa yang sebenarnya Digo curigakan.


"Habis ngepet," lanjut Digo membuat semua mendengus kesal. Emang sih kalo Digo ngomong mending biarin aja, soalnya ujung-ujungnya ngawur.


"Kalo Kimi mau ngepet, ngapain jauh-jauh manggil kevin. Lo aja yang lebih berpengalaman lagi nganggur," ucap Nana melirik sinis pada Digo.


"Maksud lo, gue lebih berpengalaman jadi babi gitu?" tanya Digo sedikit emosi membuat mereka terkekeh pelan.


Bagus yang sedari tadi duduk di kursi tiba-tiba berdiri setelah melirik jam di dinding.


"AYO SEMUA KE LAPANGAN SEKARANG!"


"Ck! Ah!"


Mendengus, mereka semua langsung mengambil topi dan bergegas keluar kelas sebelum Bagus berubah menjadi baginda raja agung dan sok berkuasa atas wilayah kelasnya.


"Dasar juru kunci lapangan," gumam Digo memasukkan bajunya yang masih dikeluarkan.


Suasana kantin nampaknya cukup ramai untuk saat ini. Setelah tadi melaksanakan upacara bendera dan mendapat mata pelajaran pertama, tibalah saat mereka merasakan aroma kantin yang khas. Apalagi kantinnya mbak Hindun yang paling fenomenal dan selalu penuh.


"Mbak Hindun, pesen bakso 2, mie ayam 1, gorengan 2, jus jeruk 1" ucap Kimi saat baru sampai di kantin.


Ia terlihat begitu lesu dan langsung berjalan menuju meja yang masih kosong setelah memesan pada mbak Hindun.


"Gue tadi nggak salah denger kan? Lo pesen banyak banget astaga," sahut Nana mendudukan bokongnya di sebelah Kimi.


"Gue laper banget sumpah, dari kemarin gue nggak makan," ucapnya lirih sambil menopang pipi di atas meja.


"Kenapa? Lagi marah sama bokap nyokap lo?" tanya Nana sembari mengambil gelas dan menuangkan air putih di sana.


Kimi hanya menggeleng. Padahal kemarin seharian nahan lapar di rumah David dan tidak makan apapun. Gimana mau makan, ditawarin aja nggak.


Kimi juga heran. Kalau di pikir lagi, sebenarnya kan David yang lagi membutuhkan kehadirannya, tapi kok malah kesannya berasa di sia-siakan. Kalau bukan demi papinya, mungkin dia sudah kabur jauh.


"Nih minum dulu," Nana menyodorkan segelas air putih. Secepat kilat, Kimi langsung meminumnya dan tidak menyisakan sedikitpun.


Glek glek glek


Nana sampai takut kalau temanya itu lagi kesambet.


"Amanda mana?" tanya Alvaro yang tiba-tiba datang bersama Bagus dan Digo. Ke tiga jomblo itu langsung duduk begitu saja.


"Masih pesen tuh sama Talita, ngapain lo duduk di sini? Hus-hus sana ah meja cari meja lain yang masih kosong," usir Nana tanpa basa-basi.


"Nggak ada, tuh liat udah penuh semua. Tinggal meja ini, berarti kita bertiga gabung di sini," putus Alvaro dengan PDnya.


Beberapa menit kemudian,


Pesanan mereka sudah siap.

__ADS_1


Bagus, Digo, Alvaro, Nana, Amanda, dan Talita hanya saling bertatapan satu sama lain saat melihat pesanan Kimi yang begitu banyak.


Tanpa menunggu lama, gadis tersebut langsung menuangkan saus dan kecap ke mangkuk pertama. Ia memutuskan untuk memakan bakso terlebih dahulu.


"Giliran makan aja semangat 45, tadi pas pelajaran matematika malah tidur," sindir Bagus saat melihat Kimi mengaduk baksonya dengan cepat.


"Sirik lo gus!" Kimiatidak memperdulikan dan langsung melahap bakso dengan rakus.


"Ta, lo kenapa kok dari tadi lemes banget perasaan?" tanya Amanda melirik Talita yang sedari tadi membiarkan mangkuk baksonya.


"Iya kaya nggak punya semangat hidup, kaya Amanda dong selalu semangat sepanjang hari." sahut Alvaro sambil mengambil sendok dan garpu. Hal itu hanya di tanggapi tatapan sinis dari Amanda.


"Sumpah gue tuh sebenernya lagi stres banget di rumah, nyokap gue tuh bawaannya marah-marah mulu," curhat Talita.


"Kenapa lagi? Lo salah kali," Nana menghentikan aktivitasnya mengaduk bakso, ia memilih mendengarkan Talita yang nampaknya akan mengeluarkan unek-uneknya.


"Ya biasalah, gara-gara BangSat. Siapa lagi emangnya yang bkin nyokap gue gedek selain manusia itu."


Bangsat yang di maksud oleh Talita adalah Bang Satria. Kakak kandung Talita yang selalu menjadi beban hidup bagi adiknya itu.


"Emang bang Satria bikin ulah lagi?" tanya Amanda.


"Iyalah, udah nggak mau kerja, gak mau ngapa-ngapain. Eh kemarin udah mau nikah malah sekarang bawa pacar baru lagi. Dan herannya pacar barunya itu mantannya waktu SMA. Mau di taruh mana coba muka nyokap gue? Mana undangan udah di sebar. Bangsat yang bikin ulah, gue juga yang kena dampaknya dengerin ocehan nyokap tiap hari."


"Biasalah, kata orang tua sih itu namanya ujian menjelang pernikahan. Ya tiba-tiba inget mantan lah, mantan tiba-tiba ngajak balikan lah. Pokoknya banyak deh." Cicit Amanda.


"Uhuk.. uhuk."


Kimi yang sedang melahap bakso tiba-tiba tersedak karena sedikit tersindir dengan kalimat yang di lontarkan oleh Amanda.


Spontan, Nana langsung menepuk-nepuk punggung kimi hingga bakso itu keluar.


"Pelan-pelan dong kim," ucapnya setelah kimi berhasil mengeluarkan bakso dari dalam mulutnya.


"Bahkan bakso aja menolak keras dimakan sama lo," sahut Digo sambil mengunyah bakso dengan santai.


Tidak menanggapi ucapan Digo, ia kembali melahap bakso. Bodo amat lah sama bisikan setan.


Beberapa menit kemudian


Mereka sudah selesai menghabiskan makanannya, kini tinggal Kimi yang belum menghabiskan satu mangkuk mie ayam. Gadis itu nampaknya sudah agak kualahan saking kenyangnya.


"Ayo dong gaes bantuin gue habisin ini," pinta Kimi lirih sambil menggulung-gulung mie dengan garpu.


"Makanya jadi orang tuh jangan maruk, makan semampunya aja." tutur Bagus yang tengah menyedot pop ice.


"Bagus," teriak seorang cewek dari kejauhan. Cewek itu tiba-tiba datang menghampiri meja mereka. Seketika Bagus yang mendengar namanya di panggil langsung mendongak.


"Kenapa Vi?" tanyanya meletakkan gelas pop ice di atas meja.


"Lo ketua kelas ips 2 kan?" Mendengar pertanyaan Via. Bagus mengangguk.


"Lo disuruh ke ruangannya pak David sekarang."


"Sekarang? Ngapain? " tanya Bagus memastikan yang langsung di angguki oleh Via.


"Nggak tau, mending lo kesana deh cepetan," tukas Via berlalu pergi.


Demi apapun sebenarnya Bagus benar-benar takut dengan David. Bahkan untuk menatap matanya saja tidak berani.


Digo langsung berbisik di telinga Bagus. "Mampus!"


Memberanikan diri, Bagus menarik napas panjang dan memantapkan niat untuk menemui guru killernya itu sendirian.


"Semangat Bagus, semoga pulang ke kelas tetap dengan keadaan sehat wal afiat ya," ucap Digo melambai-lambai yang di balas kepalan tangan dari Bagus.


Sepeninggalnya Bagus, mereka juga langsung meninggalkan kantin. Sebenarnya sih mereka sedikit penasaran, ada apa sampai Bagus tiba-tiba di panggil oleh David. Mungkinkah Bagus telah berbuat salah? Atau jangan-jangan satu kelas yang salah? Ah nanti saja tanyakan langsung pada Bagus. Pikir mereka.

__ADS_1


... -Bersambung-...


__ADS_2