GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
6.


__ADS_3

Menarik napas panjang, gadis itu menatap nanar gerbang sekolah yang sudah ditutup rapat. Kesya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan saat guru berkepala botak tengah melotot tajam ke arahnya.


"Hehe maap pak saya terlambat."


"Sudah tau! Ikut bapak sekarang!" titah pak Bondan dengan tegas.


Kimi hanya mengangguk. Berjalan mengekor mengikuti kemana ia akan dibawa setelah ini.


......................


"Larinya yang cepat!" bentak pak Bondan. Guru tatib ternyebelin sepanjang masa yang tengah mengawasi di pinggir lapangan. Gila, aura hitamnya sangat melekat.


Bersama empat siswa lain yang juga sedang dihukum, Kimi yang baru saja di giring ke lapangan di suruh berlari mengelilingi lapangan sebanyak 3 putaran.


Jika bukan karena Airin pasti dia nggak bakal tuh terlambat seperti sekarang.


Flashback on


22.30


Sepulang dari rumah Via, Kimi Melempar tas-nya sembarang. Gadis itu langsung berlari menuju kamar Airin dengan panik.


Dan benar saja, Airin tengah menangis sesenggukan di atas kasur sambil tengkurap.


"Kenapa lagi sih kak? Ribut sama kak Aris?" Kimi mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang membuat Airin mendongak.


Bukannya menjawab, gadis dengan julukan si ratu mermaid itu malah menangis semakin keras.


Airin bangkit dari posisi tengkurapnya. Berhambur memeluk adiknya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Lo kenapa sih kak? Kesambet?" tanya kimi kembali nengelus punggung kakak satu-satunya itu.


"Mami, mami sama papi, udah nggak sayang gue lagi huaaaa." tangisnya pecah. Entah apa yang Airin katakan sukses membuat Kimi semakin bingung.


Perlahan, Kimi melepaskan pelukan Airin sepihak. Menghapus air mata yang membasahi pipi mulus kakak kesayangannya itu.


"Cerita pelan-pelan, sebenarnya ada apa?" Airin mencoba menahan isakkannya. Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Mami sama papi ngejodohin gue."


"Hah?"  Kimi benar-benar terkejut.


"Mami sama papi bakal ngejodohin gue sama anak sahabatnya papi," diiringi dengan suara tangisnya, Airin menjelaskannya perlahan.


"Jadi maksudnya, tamu yang mami bilang itu orang yang bakal di jodohin sama kakak?"


Airin mengangguk. Kimi benar-benar tidak mengerti kenapa mami dan papinya sampai setega ini pada Airin.

__ADS_1


"Terus tadi kakak ketemu sama orangnya?"


Airin mengangguk kembali "Dia udah tua huaaaa"


Kimi melotot lalu terkekeh pelan. Melihat Airin yang nangis kejer sambil memukul-mukul kasur "Berarti kakak bakal nikah sama om-om dong?"


"Nggak!!! pokoknya gue nggak mau huaaaaaaa."


Airin terus menangis sambil guling-guling di atas kasur. Bantal dan guling sampai jatuh kemana-mana. Bahkan selimutnya sudah menggulung kaya adonan risol.


"Terus ngapain nyuruh gue pulang kalo kakak cuma mau audisi nangis kaya gini?" Kimi berdiri. Berniat keluar dari kamar Airin.


"Tunggu! Lo kok jadi adik nggak peka banget sih" Airin memayunkan bibirnya layaknya anak kecil.


"Apa lagi?"


"Temenin gue nonton drakor," rengek Airin dengan wajah memelas. Memang seperti ini yang dilakukan Airin saat sedih. Menonton drakor adalah jalan ninja untuk melupakannya sejenak.


"Kebiasaan." Kimi mendengus dengan pasrah, berlalu naik ke atas ranjang menuruti kemauan Airin. Dalam sekejap, Airin sudah mengambil laptop dan mulai membuka aplikasi mencari drakor yang di perankan oleh suami halunya. Kimi yang dulu tidak terlalu menyukai drakor sekarang malah tertular suka gara-gara sering nemenin Airin nonton.


Waktu terus berjalan, Kimi melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 02.25. Rasanya ingin sekali menyudahi semua ini. Tapi rasa penasarannya saat nonton drakor seolah mengatakan ayo lanjutkan saja, nanggung.


"Sumpah deh kenapa bukan Ji chang wook aja atau cha eun wo kek yang dijodohin sama gue." Airin memonyongkan bibirnya dan menempelkan di layar laptop saat melihat wajah Ji chang wook terekspos disana.


"Awas dih, gue nggak fokus nih sama ceritanya." dumel Kimi menyingkirkan wajah Airin yang masih nemplok di layar.


"Udah sana lo balik ke kamar, gue mau nonton sendiri. Inget besok lo sekolah gaboleh sampe malem. Gue udah nggak sedih lagi kok."


"Yaudah, kalo misalnya besok  terlambat bukan salah kakak loh."


"Iya-iya bawel. Tadi aja ngrengek minta di temenin maraton drakor, eh sekarang malah di usir."


Mereka berdua menghabiskan waktu sampai subuh karna selalu penasaran sama jalan ceritanya di setiap episode. Bahkan mereka tidur jam 5 pagi, alhasil Kimi pun bangun kesiangan.


Flashback off


Kimi berlari terengah-engah sambil sesekali mengusap keringat yang menetes di jidatnya. Ia menatap sekeliling yang sudah sangat sepi. Hanya ada segerombol murid lengkap dengan baju olahraga tengah berjalan menuju lapangan basket yang berada di sebelah lapangan sepak bola--tempat Kimi saat ini menjalani hukuman.


"Kimi."


Panggil seseorang dari gerombolan itu yang nampaknya tidak asing. Kimi langsung menengok. Ternyata benar, itu suara cempreng Nana. Ia juga baru ingat kalau hari ini ada jam olahraga.


Mana lupa bawa baju olahraga lagi. Mampus!


Nana, Amanda dan Talita terlihat berlari menghampiri Kimi di lapangan mendahului teman kelasnya yang lain.


"Lo lagi ngapain disini?" tanya Nana.

__ADS_1


"Mancing, ya dihukum lahh!" jawab kimi sembari terengah-engah dan berhenti sejenak karena pak Bondan tidak memperhatikan.


Pak Bondan terlihat mengalihkan perhatiannya setelah David datang mengajaknya berbicara. Sekejap kemudian, guru tatib itu terlihat pergi dan malah David yang menghampiri Kimi sekarang.


"Cepat baris!" Bentak David pada Nana, Amanda dan Talita yang masih setia berdiri di pinggir lapangan.


Mereka bertiga langsung mengangguk. Berlalu menghampiri Teman-temannya yang sudah siap untuk melakukan pemanasan di lapangan basket.


Sebenarnya mereka bertiga tidak tega meninggalkan Kimi yang tengah di hukum disana. Tapi ya mau gimana lagi, mendengar bentakan Darel membuatnya tidak bisa berkutik lagi.


David terlihat mendekati Kimi sembari menggerakkan jari telunjuknya, bermaksud agar gadis tersebut mendekat. Kabut gelap seakan menerpa kimi dalam sekejap. Masih mending pak Bondan yang ngawasin kamana-mana suer!


Berjalan perlahan, gadis itu mendekat dimana David sudah berdiri di pinggir lapangan.


"Ganti baju olahraga, lari 5 putaran!" titahnya yang sukses membuat Kimi melongo sejenak.


"Tap-tapi saya lupa bawa baju olahraga pak." Kimi menunduk menggigit bibir bawah.


"Lari 10 putaran!"


"Hah?"


"Lakukan! Saya awasi kamu dari lapangan basket!" ucapnya berlalu meninggalkan gadis tersebut.


Gadis itu pasrah, ia mengikuti perintah gurunya terbilang keterlaluan. Kimi kembali berlari sembari bergumam mengucapkan sumpah serapah pada gurunya tersebut.


Teman-teman sekelas yang tengah melakukan olahraga di lapangan basket pun merasa tidak tega, saat melihat Kimi yang sudah sangat pucat. Apalagi dia baru berlari 6 putaran, itu artinya masih kurang 4 lagi.


Meski terkenal random dan suka membuat onar, namun sejatinya kimi adalah orang yang baik. Ia sangat peka terhadap banyak hal dan dapat di andalkan, oleh karena itu teman-teman sekelasnya merasa iba.


Mereka juga baru menyadari kalau ternyata guru baru yang selalu di puja-puja ganteng itu memang tidak memiliki hati nurani sama sekali. Bahkan tadi Nana sempat meminta agar hukuman Kimi sedikit di ringankan, eh malah dia yang di marahin. Begitupun Bagus, sebagai ketua kelas ia mencoba melindungi rakyatnya yang sedang kesusahan, tapi ya dia malah kena semprot juga sama David.


Tapi biar bagaimanapun, Kimi termasuk gadis yang kuat. Ia mampu mengelilingi lapangan sesuai hukuman yang di berikan. Meskipun pada akhirnya tubuhnya harus tumbang dan sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.


Merasa tenggorokannya sangat kering, Kimi lalu rebahan di tengah lapangan sembari mengatur deru nafasnya yang tak beraturan.


Nana yang melihat sahabatnya sudah sangat pucat langsung berlari mendekatinya tanpa memperdulikan keberadaan David, baginya yang terpenting adalah kondisi kimi. Mau dia di marahin atau dihukum ya urusan belakangan.


Melihat Nana yang berlari kencang, ternyata Amanda dan Talita juga mengusulnya dari belakang. Dalam sekejap, satu kelas akhirnya berhambur menghampiri kimi.


"Kim, lo ngak papa?" tanya Nana dengan wajah panik.


Kimi tidak menjawab, dia masih mengatur hembusan napasnya karena sangat capek. Gadis itu hanya mengepalkan tangan dan menempelkannya di depan bibir. Seolah mengerti dengan kode yang diberikan oleh sahabatnya tersebut, Nana langsung memanggil Digo.


"Go go beliin minum cepetan!"


Digo mengangguk. Dengan cepatnya, ia berlari menuju kantin membeli sebotol air mineral untuk Kimi.

__ADS_1


"Ngapain pada disini? Cepat lanjutkan olahraganya!" Bentak David dengan tatapan mautnya.


... -Bersambung -...


__ADS_2