
"Eh gaes cek WhatsApp deh cepet, ini yang ngechat di grup kelas pak David bukan sih?" tanya Amanda tiba-tiba dengan heboh.
Mendengar pertanyaan Amanda dengan suara cempreng, semua penghuni kelas langsung mengecek ponsel masing-masing. Termasuk Kimi yang hampir memejamkan mata. Dengan rasa kantuk yang berat, gadis itu merogoh ponsel di saku bajunya dan langsung membuka WhatsApp.
X1 IPS 2
ketuk di sini untuk info grup
Bagus telah mengubah subjek dari "Paguyuban rakyatnya Bagus" menjadi " X1 IPS 2"
Bagus telah mengubah ikon grup
Bagus telah menambahkan 08xx
08xx
Gunakan grup untuk hal penting!
Membaca pesan, semua nampak mendengus. Entah mengapa mereka deg-degan setelah melihat grup kelas. Bisa dipastikan chat tersebut dari David.
"Inget nggak sih, kalo Pak David pernah bilang nggak usah di masukin ke grup kelas dan bakal menyampaikan informasi apapun secara langsung? Tapi kok malah berubah pikiran gini sih." Amanda terus bergumam.
"Tinggal bikin grup baru yang nggak ada pak David. Gitu aja kok ribet," sahut Digo yang tengah menandang-nendang bola di belakang sana.
"Tapi kan kalo gini caranya, kita berasa lagi di awasi setiap hari, ihhh serem," ucap Talita dengan ekspresi ketakutannya.
"Iya sih, mana belum apa-apa udah dikasih peringatan gini lagi. Ah-" gerutu Amanda yang tanpa sadar membuat Kimi tersenyum getir.
"Kalian di awasi lewat grup aja takut, apa kabar gue yang satu rumah?" Batin Kimi bergumam.
Jadi ini alasan Bagus di panggil ke ruangannya David? Hanya untuk dimasukkan ke grup saja sudah bikin khawatir satu kelas karena mengira mereka membuat kesalahan.
Segitu killernya kah sampai-sampai membuat mereka trauma dipanggil?
Ya begitulah kesan David di mata anak didiknya. Galak, seram, ketus, gampang emosi. Hanya ada satu yang menjadikannya dengan poin lebih yaitu 'Untung ganteng' .
Kembali lagi pada Kimi yang masih duduk di kursi sambil menopang pipinya di atas meja.
"Na, gue boleh nginep di rumah lo nggak malem ini?" Nana yang tengah berkutat dengan ponselnya langsung menengok saat Kimi menanyakan itu tiba-tiba.
"Nanti malem? Boleh lah. Tapi kalo gue boleh tau nih, emang lo lagi ada masalah dirumah?"
Kimi menggeleng dengan cepat berusaha mencari alasan lain.
"Ya enggak sih, gue cuma lagi pengin tidur aja di rumah lo, ya kalo nggak boleh juga gapapa sih,"
Mendengar jawaban Kimi, tiba-tiba saja Nana langsung menjembel kedua pipi gadis itu dengan gemas.
"Iya boleh Kimi yang imut, yang ceriwis, yang mageran, lo boleh tidur dirumah gue semau lo," ucap Nana dengan gemasnya, sementara tangannya masih stay di pipi gadis itu.
Kimi yang mendapat perlakuan seperti itu tidak tinggal diam. Dalam sekejap, tangannya memegang kedua pipi Nana dan ikut menjembelnya seperti apa yang Nana lakukan.
"Makasih sahabatku yang ucul," balas Kimi dengan suara sok imutnya.
Digo yang mendengar itu langsung mengrenyit.
"Kok bisa sih gue satu kelas sama pasien yang kabur dari RSJ?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengkedikan bahunya, geli.
Kali ini Kimi tengah berada di parkiran bersama Nana. Ya, gadis itu nampaknya tidak main-main untuk menginap di rumah sahabatnya itu. Bahkan ia sudah nekat tidak akan mengambil pakaian dan akan meminjam milik Nana saja.
Alasan Kimi ingin menginap di rumah Nana tidak lain dan tidak bukan ya karena malas tinggal di rumah David. Bahkan ia sudah siap mengambil resiko, yang penting sih papinya jangan sampai tau saja.
"Lo beneran nggak gapapa kalo nggak pake helm?" tanya Nana. Gadis itu sudah nangkring di atas motor sambil mengenakan helm bogo miliknya.
"Gapapa lah, lagian kan rumah lo juga deket," jawab Kimi santai.
"Yaudah ayo naik," ajak Nana membuat gadis itu langsung naik ke atas motor.
Motor matic milik Nana kini masih berada di area parkir karena masih susah keluar. Biasalah ada anak-anak rese yang sengaja parkir di pintu keluar dan menghalangi jalan.
Sebenarnya Kimi juga ingin membawa motor atau mobil sendiri seperti teman-temannya yang lain, tapi Fahmi selalu melarangnya dengan alasan lebih aman di antar jemput sama supir dari pada membawa kendaraan sendiri.
"Halo kimi, udah miskin ya? Kok nebeng? Haha." Suara seseorang tiba-tiba menerjang telinga kimi. Gadis itu spontan menengok ke belakang.
Sudah di duga, ternyata Gita sengaja menghampiri Kesya di parkiran.
Berusaha menulikan telinga, Kimi tidak berniat meladeni Gita saat ini. Anggap saja moodnya sedang buruk.
"Cepet jalan aja Na," Kimi malah menuruh Nana melajukan motornya saat parkiran sudah mulai longgar.
Gita yang mendapat respon demikian merasa agak kecewa, bisa-bisanya Kimi tidak meladeni dan malah meninggalkannya begitu saja.
Ting
Ting
__ADS_1
Ting
Ting
Mendengar notif ponselnya berbunyi beberapa kali, Kesya langsung mengambilnya dari saku dan membuka pesan dari nomor yang tidak terdaftar di kontaknya.
08xxx
Jl.Delima no xxxxxxxxxxxxx
08xxx
Plg ke alamat itu naik taksi dan jangan coba2 kabur!
08xxx
Atau saya adukan ke papi
08xxx
Sy ada urusan.
Membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal, entah mengapa pikiran Kimi langsung merujuk pada David.
Tapi Kimi juga belum yakin sih, memangnya dapat nomornya dari mana? Mungkinkan dari papinya? Atau dari maminya?
Sedetik kemudian, ia teringat kalau David pasti mengambil nomornya dari grup kelas.
"Ck! Ah!"
Gadis itu mengacak rambutnya frustrasi. Tau gini kan tadi foto profil sama nama penggunanya di hapus dulu.
"Lo kenapa kim?" tanya Nana melirik kaca spion.
"Stop Na stop," pekik gadis itu sambil menepuk punggung Nana dengan cepat. Nana yang mendengar itu langsung menghentikan motornya yang masih berada di depan gerbang.
Begitu motor berhenti, Kimi langsung beringsut turun dari sana.
"Sorry Na kayaknya gue nggak jadi nginep di rumah lo deh," ucapnya yang membuat Nana bingung.
"Kenapa? Kok tiba-tiba berubah pikiran." tanya Nana yang masih berada di atas motor.
"Soalnya-" kimi menggantung ucapannya, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Kata mami, kucing gue nyariin dirumah," lanjutnya dengan gugup.
"Sejak kemarin, papi gue nemuin kucing di jalan terus gue rawat deh," Alibinya kembali.
"Hm yaudah kim, mau gue tunggu sampai lo di jemput?" tawar Nana.
Gadis itu langsung menggeleng cepat.
"Nggak usah, lo pulang duluan aja gapapa."
Menuruti ucapan Kimi. Nana langsung menstater motornya kembali dan meninggalkannya sendiri di sana.
"Gue pulang dulu kim, salam buat kucing lo dirumah. bye. "
Melambaikan tangan, pandangan gadis itu langsung menyapu sekeliling. Dan ternyata dugaannya tidak salah, ia melihat David berdiri di sekitar area parkir tengah menatapnya dengan tajam.
"Ck! Maunya apa sih tu orang!" gumamnya kesal, Gadis itu langsung menuju pinggir jalan untuk mencari taksi yang lewat.
......................
Mengikuti alamat yang di kirimkan, taksi yang Kimi tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan rumah David. Bahkan gadis itu tidak habis pikir, dari sekolahnya menuju alamat ini hanya butuh waktu sekitar setengah jam. Dan bodohnya kemarin dibawa muter-muter sampai jauh sekali.
Setelah membayar, Kimi bergegas turun dan langsung berjalan menuju rumah David. Ia sedikit tergesa, karena bisa saja Oma Laras memang datang tiba-tiba.
"Ah ribet banget sih hidup gue!" lagi-lagi Kimi menggerutu. Gadis itu berniat membuka pintu depan. Sudah di tarik dan di dorong tetap saja tidak bisa di buka.
"Loh masih dikunci? Berarti oma nggak disini dong, lah gue kan nggak punya kuncinya," gumamnya lalu berpikir sejenak.
Ia pun merogoh ponsel di saku baju sekolahnya.
Kimi
KUNCI RUMAH DIMANA PAK?
Mengetik keyboard dengan sedikit emosi, gadis itu memang sengaja mengcapslok semua hurufnya.
08xxx
di saya
Kimi
__ADS_1
Terus saya masuknya gimana bapak?
08xxx
Ya tnggu saya pulang
Kimi
Kamprtttt
Delete
08xxx
Ngomong apa kamu?!
Kimi
Maap typo. Terus saya harus nunggu bapak di luar?
08xx
Y
Bersandar di depan pintu, tubuh gadis itu langsung merosot, ia terduduk di atas lantai sembari bernyanyi dengan teriakan lantang. Tentu nadanya ngalor-ngidul dan sangat fales.
"KUMENANGIS MEMBAYANGKAN BETAPA KEJAMNYA DIRIMU ATAS DIRIKU HAAAAAAAAAAAAAAA"
Ibu-ibu komplek yang tengah berjalan melewati rumah David bahkan langsung lari karena mengira ada orang gila yang tengah mengamuk.
____
"Bangun!" titah David menyenggol Kimi yang tertidur dengan kakinya.
Merasakan kakinya di goyang-goyang, gadis itu mengucak kedua matanya dengan bingung. Dengan posisi duduk bersender di depan pintu, Kimi melihat sekeliling dengan heran karena suasana berubah menjadi gelap. Ternyata setelah nyanyi dan teriak-teriak tidak jelas, ia langsung tertidur pulas.
"Cepat bangun saya mau masuk!" bentak David kembali membuat Kimi tergelonjat. Gadis itu berdiri dari posisinya sambil menatap David dengan sinis dan penuh kebencian.
Tidak berniat mengatakan apapun. Setelah pintu depan dibuka, gadis itu langsung menuju ke kamarnya dengan cepat. Berlanjut melakukan ritual mandi.
Setelah selesai, Kimi terlihat langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tidak sengaja, matanya melirik jam didinding yang sudah menunjukkan pukul 18.45, pantas saja perutnya sudah lapar.
Kruwkkk
"Sabar ya dede cacing, mama mau cari makan dulu buat kamu." Mengelus perut layaknya ibu hamil, Kimi membuka ponsel dan mencari aplikasi untuk order makanan. Tapi saat melihat saldo yang tidak mencukupi, ia mengurungkan niatnya.
Tidak ada pilihan lain, Kimi memutuskan keluar kamar. Mengendap-endap menuruni anak tangga. Berniat menuju meja makan.
Usahanya tidak sia-sia, ada sepiring nasi goreng di atas sana. Spontan, ia mengambil nasi goreng itu dan berniat membawanya ke atas. Tapi saat di cium, aromanya sudah agak aneh.
"Jangan dibawa! Itu nasi goreng tadi pagi. Kalau mau makan tunggu saya selesai masak!"
Mendengarkan perintah yang berasal dari dapur, Kimi meletakkan kembali piring itu di atas meja makan.
Gadis itu melongok dapur, ia hampir tidak percaya kalau David tengah berada di sana tengah berkutat dengan alat-alat masak.
"Bapak lagi ngapain disitu?" tanya Kimi penasaran.
"Konser. Kamu nggak bisa liat kalo saya lagi masak?" jawabnya yang masih fokus memecahkan telur.
Lagi-lagi gadis itu hanya bisa mendengus. Kimi memilih duduk kursi meja makan yang letaknya berada tidak jauh dari dapur.
Bahkan ia bisa melihat jelas David dengan balutan kaos hitam nampak begitu lihai di sana. Dari memecahkan telur, memotong sayuran sampai memasaknya hingga matang. Ia baru tau kalau David bisa memasak. Bahkan dari aromanya saja sudah dipastikan kalau makanannya bakal enak.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya David benar-benar membawa satu piring berisi orak arik telur mix sayur dan juga satu wadah berisi nasi. Ia Menaruhnya di meja makan yang membuat gadis itu langsung mendongak.
"Ini nggak di racun kan pak?"
Pria itu tidak menjawab, ia langsung menyicipi masakanya.
"Kalau ini diracun saya sudah keracunan duluan," jawabnya enteng.
Kimi yang sebenarnya sudah sangat lapar buru-buru mengambil piring dan mengambil nasi beserta lauknya.
"Tumben bapak baik sama saya?" Selidik kimi curiga.
"Saya cuma nggak mau ada yang mati kelaparan di sini."
Gadis itu melirik sinis mendengar jawaban David, tanpa babibu kimi langsung memindahkan semua lauk ke piringnya. Bahkan ia tidak menyisakan sedikitpun di sana.
Secepat kilat, ia meninggalkan David yang masih duduk di meja makan. Memasang wajah tanpa dosa, Kimi malah berjalan semakin cepat. Sekejap, menengok ke belakang. Memastikan David masih duduk di sana. Gadis itu malah tersenyum manis sambil menunjukkan piringnya pada pria itu layaknya sedang iklan.
"Terimakasih buat masakannya pak. semenjak ada masakan bapak, saya tidak mati kelaparan di sini," ucapnya di akhiri dengan kedipan mata genit lalu tertawa puas.
David yang melihat itu hanya bisa memanggut-manggut pasrah. Bahkan sekarang sudah tidak selera makan lagi. Iyalah, lauknya juga sudah habis di ambil alih oleh kimi.
__ADS_1
... -Bersambung-...