
Hari minggu ini Kimi bangun lebih awal dari pada biasanya. Di bantu oleh Santi, ia tengah memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.
"Jangan kebanyakan ah mi, lagian Kimi di sana cuma sebentar kan?" Gadis itu menghentikan aktivitasnya lalu menyenderkan badannya ke kepala ranjang.
"Kalo mami boleh ngomong sih sebenernya mami lebih setuju kalo kamu tetap tinggal di sini. Tapi mau gimana lagi, keluarga mereka juga sedang butuh kamu sayang," ucap Santi menutup koper setelah barang-barang itu sudah masuk semua.
"Tapi Kimi nggak mau tinggal sama pak David mii," rengek Kimi memanyunkan bibir.
"Kamu bisa pulang kapan aja, pintu di rumah bakal terbuka lebar kok." Tersenyum, Santi mencoba menenangkan anaknya.
Kimi mendengus, mencoba memahami tentang keadaannya sekarang. Entah mengapa keluarga Reno menyuruhnya untuk segera pindah. Padahal kan secara logika, pernikahan Kimi dan David hanya sebatas menyelamatkan harga diri keluarga masing-masing. Kenapa malah jadi se ruwet ini?
"Mami paham kamu belum siap dengan semua ini, begitu juga dengan mami nak. Mami nggak minta kamu sama Jov tinggal satu kamar kok yang penting kalian satu rumah untuk sementara."
"Apa alasannya sih mi? Lagian apa bedanya coba? ah-" Kimi mengacak rambutnya frustrasi. Ia langsung berdiri. Menyeret kopernya keluar kamar menuju ruang keluarga.
Disana sudah ada Fahmi dan David yang tengah berbincang seperti biasa. Kimi juga heran, entah mengapa papinya itu bisa akrab sekali dengan David. Rasanya seperti dora dan boots yang tak dapat dipisahkan.
Menyeret koper dengan malas, Kimi langsung berjalan menghampiri Fahmi. Menyalami tangan papinya itu dengan sopan.
"Kimi pergi pi," ucapnya berusaha baik-baik saja, tapi matanya terus menahan agar pertahanannya tidak runtuh.
"Hati-hati nak, Jov pasti akan jagain kamu dengan baik." Fahmi mengelus punggung kimi, Sementara Santi yang mengikuti kimi dari belakang langsung memalingkan wajah dan menyembunyikan air mata yang jatuh sendiri.
Kimi beralih menyalami sang mami. Santi yang sudah benar-benar tidak tahan akhirnya memeluk anaknya itu dengan erat.
"Jaga diri baik-baik sayang."
"Mami juga jaga diri baik-baik , jangan lupa mi anak mami bukan Kesya aja, tapi ada kak Airin juga." Kimi menahan sesenggukan saat menyebut nama Airin.
Tak ada jawaban apapun, tangisan Santi malah semakin pecah.
David yang melihat itu nampaknya agak sedikit canggung. Ia langsung menyeret koper Kimi dan keluar terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, Kimi juga dituntun oleh Santi menuju mobil David yang terparkir di garasi. Keduanya masih sama-sama menahan sesenggukan.
David yang baru selesai memasukkan koper istrinya ke dalam bagasi langsung berjalan mendekati Fahmi dan Santi. Menyalami mereka secara bergantian.
"Jaga Kimi baik-baik." Fahmi mengatakan itu dengan tulus.
"Baik om."
"Sekarang jangan pangan panggil om dong, panggil Papi aja. Kan kamu sudah jadi anak saya juga."
Pria itu mengangguk. "Baik pi," jawabnya sedikit ragu.
Setelah acara pamitan selesai, pengantin baru itu langsung masuk ke dalam mobil. Dengan sangat terpaksa, Kimi duduk di jok depan bersebelahan dengan suami killernya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Darel sibuk dengan kemudinya, sementara Kimi sibuk dengan ponselnya.
Sebenarnya sih Kimi tidak sibuk-sibuk sekali, hanya saja ia menyibukan diri dari pada harus menatap bayangan suram.
Gadis itu melihat obrolan grup kelasnya, suasananya benar-benar ramai hingga membuatnya tertawa sendiri, namun karena moodnya sedang tidak bagus ia tidak ikut nimbrung di obrolan itu. Padahal biasanya dia yang paling heboh, mungkin karena sekarang moodnya kurang baik jadinya agak malas.
David yang sedari tadi sebenarnya penasaran apa yang sedang dilihat oleh Kimi hanya melirik sekilas. Kimi yang menyadari itu langsung merubah ekspresinya menjadi datar dan mendekatkan layar ponselnya.
Sejurus kemudian, Kimi terlihat mematikan ponsel. Mengubah raut wajahnya dengan tatapan serius.
"Ekhm, saya mau cerai aja pak," ucapnya to the point yang hanya membuat David melirik.
"Silahkan," jawab David santai tetap fokus pada kemudinya.
"Yaudah puter balik, Saya nggak mau tinggal sama bapak! Yang penting kan kita sudah menyelamatkan harga diri keluarga kita masing-masing."
David tiba-tiba berhenti dan menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Tunggu beberapa hari atau beberapa bulan lagi," ucapnya datar.
"M-maksudnya?" tanya Kimi
"Tunggu sampai oma datang."
"Oma siapa?" tanya gadis itu sedikit bingung.
"Oma laras yang lagi di luar negeri. Oma Sewaktu-waktu bisa datang setelah keadaannya membaik,"
"Oma? Luar negeri? Datang kesini?" Kimi menggaruk-garuk kepalanya seperti orang bodoh. Jujur ia tidak paham dengan apa yang Darel katakan.
"Iya, oma bakal syok kalau tau pernikahan saya gagal. Oma Laras selalu berharap agar saya menikah secepatnya."
__ADS_1
"Tunggu-tunggu, jadi maksudnya saya harus di rumah bapak karena oma bakal dateng gitu?"
David mengangguk. Menyenderkan punggungnya pada jok mobil.
"Terus kapan datangnya?"
"Oma bisa datang kapan saja tanpa mengabari."
"Jadi maksudnya bapak mau saya tetap jadi istri bapak dan tinggal di rumah itu sampai oma dateng biar oma seneng kalo cucunya sudah menikah gitu? " tanya Kimi kembali yang hanya di angguki oleh David.
"Kalo pas oma dateng terus saya kabur gimana pak? Saya juga nggak mau tinggal sama bapak, atau saya katakan semuanya ke oma kalau kita nikah terpaks-"
"Aaaaaa"
Davis tiba-tiba menyalakan mobil dan menancap gas. Dalam sekejap, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang membuat Kimi kaget dan reflek menghentikan ocehannya. Untung saja pakai sabuk pengaman, kalau tidak bisa-bisa sudah nubruk kaca depan.
"Aduhhh! bapak gila ya?"
David malah semakin cepat melajukan mobil tanpa mendengar teriakan Kimi yang juga semakin keras.
"MUAL TOLONGGGGG!"
Setelah beberapa menit puas membawa Kimi ke mode tegang, akhirnya David kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.
Kimi langsung menarik napas panjangnya dan berusaha menenangkan diri.
"Bapak tuh emang bar-bar ya, kalo tadi nabrak gimana coba?"
"Makanya diam!"
Kimi melirik David dengan tatapan sinis. Ia benar-benar geram dengan laki-laki di sebelahnya ini.
"Eh tunggu-tunggu, ini kita di mana pak? Kok jauh banget kayaknya, rumah bapak dimana sih sebenernya?" tanya Kimi saat matanya melihat sekeliling. Tanpa di sadari, ia baru pertama kalinya melewati jalanan yang lumayan sepi ini.
"Bapak mau buang saya ya?" tanyanya kembali saat mobilnya melaju di jalan agak sepi. Menengok kanan kiri, ia melihat banyak pepohonan rindang di sepanjang jalan.
Tidak menanggapi pertanyaan, David justru membahas hal lain.
"Itu ada halte, besok kamu bisa nunggu bus di situ biar sampai halte selanjutnya, setelah dari halte kedua kamu bisa naik bus menuju sekolah. Ingat, saya tidak akan memberi kamu tumpangan gratis," ucapnya menunjuk halte di pinggir jalan.
"Jadi maksudnya untuk sampai ke sekolah saya harus naik bus dua kali gitu?" Gadis itu melongo tidak percaya. Sementara David tidak menanggapinya lagi.
"Saya bisa kabur loh pak. Bapak nggak takut kalo tiba-tiba saya ngilang gitu aja?" cerocos Kimi kembali.
Tidak menjawab apapun, David malah menyalakan musik di mobil dan mengeraskan volumenya untuk meredam suara mak lampir di sebelahnya ini.
Mobil hitam milik David akhirnya berhenti di depan sebuah rumah elegan. Ukuran rumah dua lantai yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Bisa dibilang ini masuk ke dalam kategori rumah idaman.
Tidak menunggu waktu lama, pria itu turun dari mobilnya lalu mengeluarkan koper milik kimi dari bagasi.
Memasang wajah bingung, Kimi membuka pintu mobil dengan ragu. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Entah berada di mana ia sekarang. Yang jelas, letak rumah ini berada di gang komplek yang lumayan ramai. Tapi jujur saja ia baru tau kalau rumah Darel jaraknya sejauh ini.
Darel meletakkan koper di depan Kimi
"Bawa sendiri," titahnya berjalan mendahului.
Gadis itu mengehela napas gusar, ia menyusul David yang sudah masuk terlebih dahulu.
"Bapak tinggal sendirian disini?" tanya Kimi saat berjalan memasuki ruang tamu. David hanya menganguk.
"Kamar Saya dimana pak?"
"Atas," jawabnya cuek sembari mengambil air minum.
Mendengar itu, Kimi langsung berjalan menyeret kopernya dengan sudah payah melewati anak tangga.
Ia berhenti di depan sebuah kamar yang tertutup rapat.
"PAK KUNCINYA MANA?" teriaknya yang membuat David langsung naik ke atas dan menghampiri gadis itu.
"Ini kamar saya, kamar kamu yang di pojok. Ingat, orang numpang dilarang protes." David memberikan sebuah kunci. Kimk langsung menerima Kunci itu dengan kesal.
Gadis itu berlalu menarik kopernya ke kamar pojok. Berjalan dengan sengaja menghentak-hentakan kaki.
"Mimpi apa sih gue bisa satu atap sama orang kaya gitu. Sialan."
Membuka pintu, Kimi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Bahkan sehari semalam ia berada di sana dan tidak keluar sama sekali.
__ADS_1
Matahari sudah mulai menampakan sinarnya pagi ini. Kimi yang masih bergulung di bawah selimut seketika tergelonjat kaget saat alarm di ponselnya berbunyi.
Spontan ia langsung beringsut turun dan mengambil sabun mandi yang masih berada di dalam koper.
Gugup. Kimi juga mengeluarkan handuk dan seragamnya dengan cepat. Buru-buru ia lari ke kamar mandi dan menjalankan ritual mandinya di dalam sana.
Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 5 menit Kesya sudah siap dengan baju seragam yang agak sedikit lecek karena kemarin ia membiarkannya begitu saja tanpa meletakkannya di lemari.
Gadis itu berlalih mengambil tas dan sepatu yang juga masih di dalam koper.
Secepat kilat, ia langsung berlari keluar dari kamar dengan napas yang tersenggal.
Bahkan ia tidak melirik David yang tengah berjalan.
Sedetik kemudian, Kimi menghentikan langkahnya. Menengok ke belakang. Mengubah haluan dengan berjalan mundur menghampiri David.
Memasang wajah sedih, ia langsung menjatuhkan sepatu yang masih di tenteng dan beralih menangkupkan kedua tangannya di depan David.
"Tolong beri saya tumpangan pak, satu kali aja plissssss," Kimi memohon dengan mata tertutup dan sangat serius.
"Nggak."
"Tolonggggg pak ini upacara, saya bisa di hukum, plisss pak tolongin kalii ini ajaa."
David malah berjalan meninggalkan kimi dengan acuh.
"5 detik tidak turun, Saya tinggal," ucap David sambil berjalan menuruni anak tangga.
Kimi yang mendengar itu langsung mengambil sepatunya dan berlari sekencang mungkin. Bahkan ia sudah lupa dengan segalanya, termasuk sarapan.
Akhirnya gadis itu dapat bernapas lega, kali ini ia berangkat sekolah menumpang di mobil David meskipun dengan cara merengek.
"Loh kok lewat sini pak? Perasaan kemarin bukan jalan ini deh." Kimi menurunkan kaca mobil. Mengamati jalanan yang dilewati.
Tanpa menjawab apapun, David malah tersenyum jahil sembari fokus dengan kemudinya. Tidak ambil pusing, Kimi juga beralih menyibukan diri memakai sepatu di dalam sana.
Beberapa menit kemudian...
"Loh kok cepet banget sampai sini? Perasaan kemarin butuh waktu 2 jam lebih buat sampai ke rumah bapak. Kok ini nggak ada satu jam udah sampai jalan menuju sekolah?" tanya Kimi saat David menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Turun,"
"Turun? Sekarang?" tanya Kimi dengan wajah bingungnya.
Tanpa aba-aba, David yang masih berada di jok mencondongkan badannya ke arah Kimi. Bahkan gadis itu hampir sesak napas dan hanya mengedipkan matanya beberapa kali saat tubuh Davis memepetnya.
"Ba-bapak mau ngapain?" tanya Kimk dengan gugup. Ternyata, tangan David tengah membukakan pintu mobil agar gadis itu bisa langsung turun.
"Cepat turun!" titahnya kembali setelah pintu mobil sudah terbuka. Kimi melongo, tega-teganya orang ini menurunkanya di pinggir jalan.
Mengambil tas, Kimi langsung turun dari sana dengan kesal.
"Jalan 5 menit lagi juga sampai, Saya nggak mau ada yang lihat Kamu turun dari mobil Saya di sekolah" ucap David kemudian menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang.
Kimi mengacak rambutnya frustrasi. Meluapkan sumpah serapahnya.
"Ah sial, iya sih saya juga nggak mau kalau ada yang tau punya suami kaya situ!" Menghentak-hentakan kaki. Kimi akhirnya berlari sekuat tenaga menyusuri terotoar.
Di tengah-tengah, gadis itu tiba-tiba berhenti dan memikirkan sesuatu.
"Eh tunggu, jarak dari rumah gue ke sekolah sekitar 15 menit, tadi dari rumah Pak Darel ke sini nggak sampai satu jam. Sedangkan kemarin buat sampai ke rumahnya aja butuh waktu 2 jam lebih. Berarti kemarin gue di ajak muter-muter dong? Ah sialan kenapa gue nggak kepikiran sih." Kimi menepuk-nepuk kepalanya sendiri dengan telapak tangan.
Berniat jahil, Davud memang sengaja mengambil rute jalan yang panjang menuju rumahnya. Bahkan ia sengaja melewati jalan-jalan sepi agar Kimi bingung. Padahal ada jalan alternatif yang bisa cepat menuju rumah itu tanpa harus melewati hutan.
Kimi melanjutkan langkahnya, ia berlari menuju ke sekolah mengerahkan semua tenaganya. Usahanya tidak sia-sia, akhirnya tidak terlambat. Bahkan petugas upacara juga masih bersiap-siap di lapangan.
Gadis itu kembali bergegas menuju kelasnya dengan keringat yang sudah membanjir. Rambutnya juga sudah awut-awutan.
"CIEEEEEEE" sorak satu kelas dengan kompak saat melihat Kimi yang baru melangkahkan kaki di ambang pintu.
Sontak Kimi mematung. Menatap mereka dengan bingung. Ada apa dibalik kata "cie"?
"Ada yang habis melepas masa jomblo nih yeeee," suhut Amanda yang langsung membuat tubuh gadis itu lemas seketika.
Apakah teman-temannya tadi melihat ia turun dari mobil David? Ataukah mereka memang sudah mengetahui pernikahannya secepat ini? Apapun yang akan terjadi nanti, Kimk hanya pasrah pada yang maha kuasa agar diberikan kemudahan dalam membuat alibi.
...-Bersambung-...
__ADS_1