GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
2.


__ADS_3

Hari senin nampaknya memiliki aura tersendiri bagi para siswa. Tidak bisa di pungkiri bahwa kebanyakan dari mereka tidak menyukainya. Entah apa alasannya, hal itu masih menjadi misteri.


"AYO UPACARA, WOY UPACARA!" Namun Hal tersebut nampaknya tidak berlaku bagi siswa itu. Dia adalah Bagus, ketua kelas sebelas IPS-2 yang sangat menyukai hari senin dengan alasan yang tidak masuk akal, yaitu karena bisa mengoprak-oprak teman sekelasnya untuk upacara. Ya maklum lah namanya juga ketua kelas, selain resek tentunya juga gabut.


"AYO RAKYATKU SEMUA DIMOHON KE LAPANGAN UNTUK MELAKSANAKAN UPACARA," titah Bagus yang sedari tadi sudah berdiri di depan kelas, namun tidak mendapatkan respon.


"Wahai kaumku ya paling kucintai, marilah kita menuju ke lapangan bersama-sama," lanjutnya dengan nada dramatis.


"Heh gus, lo bisa diem nggak sih! Brisik bego!" Ucap salah satu siswi bernama Nana. Ia adalah golongan manusia yang sering beradu mulut dengan Bagus di kelas.


"Sumpah, lo itu emang kayaknya hobi banget upacara sih heran gue." dan itu Talita, sekutu Nana.


"Diem lo berdua! Cepet ke lapangan sekarang!"


"Dih masih jam segini juga, petugasnya aja belum siap-siap. Sana lo aja biar nemenin tiang bendera di lapangan," jawab Nana ketus.


"Tumben nih si Kimi diem, biasanya pagi-pagi udah ngoceh kaya beo," sahut Digo sembari menjatuhkan pantatnya diatas kursi. Ia baru datang. Maklum lah murid ter-santuy.


Gadis bernama Kimi itu tidak memperdulikan ucapan Digo. Ia masih menopang pipinya di atas meja dengan wajah lesu.


Nana yang sedari tadi sedang beradu mulut dengan Bagus pun langsung menghentikan aktivitasnya. Gadis itu menengok seseorang yang duduk di sebelahnya yang memang tidak kelihatan sedang baik-baik saja.


"Udah dong kim, jangan galau mulu. Gue yakin kok pasti kevin bakalan nyesel udah ngecewain lo." Nana mengelus bahu Kimi dengan lembut.


Nana mungkin telah salah paham, meski sebenarnya kimi lesu bukan karena galau tetapi karena sedang ngantuk. Ini semua gara-gara dia semalaman maraton nonton drakor.


"Gue ngantuk bukan galau," jawab Kimi lirih sembari memejamkan matanya.


Percayalah, meskipun hati Kimi masih merasakan sakit akibat penghianatan kevin, namun gadis itu tidaklah cengeng, apalagi sampai harus menangis tujuh hari tujuh malam demi cowok yang modelannya kaya buaya.


Prinsip Kimi, Buat apa mikirin orang yang udah bikin kita kecewa? Harusnya kita tuh bikin orang itu menyesal karena sudah menghianati kita.


"Eh kim, bangun cepetan!" tiba-tiba Nana menggoyangkan lengan gadis itu dengan cepat.


"Apasih na! Gue ngantuk ah!" Kimi menggeliat. Menyingkirkan tangan Nana dan melanjutkan tidurnya kembali.


"Itu tuh si Gita dateng." Mendengar ucapan Nana, Sontak Kimi langsung membenarkan posisi duduknya. Ia menatap Gita yang tengah berjalan memasuki kelas bersama Desi, dayang pribadi yang selalu ngintil kemanapun sang ratu pergi.


"Ngapain lo kesini, hah!" Kimi tiba-tiba berdiri. Membuat Nana yang berada di sampingnya kaget, begitu juga semua yang berada di kelas.


Berbeda dengan Digo yang justru tengah bersiap-siap mengambil posisi nyaman untuk menyaksikan adegan yang bakal terjadi selanjutnya.


Hal ini nampaknya sudah bukan hal baru bagi mereka. Ketika Gita dan Kimi berada dalam satu tempat, disitulah perang dunia ke tiga akan dimulai.


"Gimana rasanya di jadiin bahan taruhan enak nggak? HAHAHA," tanya Gita dengan nada meledek diakhiri tertawa puas.


"Rasanya? Ah mantap!" Jawab Digo spontan dengan kalimat bernada. Tak lupa jempolnya di gesekan ke hidung ala tiktokers. Padahal dia tidak tau apa yang dibicarakan oleh Gita. Tapi main nyamber aja.


"Sekarang giliran gue yang tanya sama lo, gimana rasanya jadi tukang fitnah sekaligus pelakor? Enak?" tanya Kimi dengan santai sembari mengelus-elus rambut Gita.


"Rasanya seperti anda menjadi ironmen." Lagi-lagi si kutukupret Digo yang jawab.


"Heh diem lo upil badak!" Bentak Gita menatap Digo.

__ADS_1


"Aww dede takut aww." Digo menggigit jari pura-pura ketakutan saat Gita melotot tajam ke arahnya.


"He Gita lo itu hobi banget sih nyari masalah , mendingan lo pergi sekarang deh! Kelas gue jadi sumpek nih," usir Nana dengan tegas.


"Nggak usah ikut campur lo kutil anoa!" Bentak Desi.


"Yeee dayangnya mak lampir diem lo!" Balas Nana.


"Mendingan lo pergi dari hadapan gue sekarang," ucap Kimi yang masih menahan amarahnya.


"Oke gue bakal pegi, tapi gue punya satu hadiah buat lo!" Gita mengangkat tangannya membelai rambut Kimi lalu menariknya dengan kencang seperti adegan di cafe kemarin.


"Aduh!!"


Kimi pun tidak tinggal diam, dengan cekatan tangannya sudah berada di kepala Gita dan menarik rambutnya sekuat tenaga.


"Ayo Kimi semangat!" Alih-alih memisahkan mereka berdua, eh si Bagus malah nyemangatin.


"Kimi. Kimi.. Kimi" sorak digo sembari bertepukan tangan. Melihat digo yang semakin meramaikan, siswa lain pun akhirnya ikut-ikutan memberikan semangat pada kimi.


"Kimi"


"Kimi"


"Kimi"


Nana dan Talita berusaha memisahkan keduanya, namun apa daya tenaga Kimi dan Gita sama-sama kuat.


"Kalian ini emang nggak ada kapok-kapoknya ya!"


"Tadi Kimi yang nyerang saya duluan pak, padahal saya kan datang kesini niatnya baik-baik cuma mau main," elak Gita merapihkan rambutnya yang sudah acak adul.


"Bohong pak, tadi jelas-jelas si Gita yang nyerang Kimi duluan" bantah Nana.


"Sudah-sudah jangan di ulangi lagi, sekarang cepat semuanya ke lapangan."


"Kimi jangan di ulangi lagi! Bapak sudah bosen denger kamu bikin rusuh terus!" Ucap pak Bondan lalu pergi meninggalkan kelas. Gadis cantik nan bar-bar itu hanya mengangguk pasrah.


Memang sudah biasa jika Kimi selalu salah di mata mata pak Bondan. "Besok pindah ke hidung aja lah, transformasi jadi upil" batinya dalam hati


Sinar mentari semakin terasa panas namun upacara tak kunjung usai juga. Maklum pak kepsek kalau ngasih ceramah suka lupa waktu.


"Duh pak kepsek ngomong apa sih lama banget deh perasaan," keluh Kimi dengan keringat yang sudah bercucuran dan kakinya yang sudah pegal-pegal.


"Kayaknya masih lama deh, soalnya kan hari ini juga ada pengenalan guru baru. Ya kan Gas?" Nana menengok ke belakang memastikannya pada Bagas. Cowok itu hanya mengangguk dan tidak banyak omong seperti biasanya.


"Guru baru?" Kimi mengangkat satu aslinya.


"Gini nih kalo di kelas hobinya molor. Wali kelasnya udah nggak ngajar disini lagi juga pasti nggak tau kan lo?" Nana mendengus.


"Maksudnya Pak panji guru olahraga?" tanya Kimi memastikan.


"Iya Kimi sayangku yang imut yang lucu, pak Panji kan udah pamitan pas hari jumat di kelas dan udah nggak ngajar disini lagi" Nana menjembel pipi Kimi dengan gemas. Antara gemas sama pengin mukul.

__ADS_1


"Yamana gue tau, lah gue kan hari jumat nggak  berangkat."


"Oh iya gue lupa, lo kan pura-pura sakit. Upsss, " Nana terkekeh membungkam mulutnya sendiri.


"Husssttt!" Bagus mengarahkan jari telunjuknya di depan bibir dan melotot tajam, bermaksud memberi isyarat pada Kimi dan Nana untuk tidak berisik.


Mereka berdua langsung menghadap ke depan dan membenarkan posisi istirahat di tempat seperti semula.


"Jadi maksudnya bakal ada guru olahraga baru?" tanya Kimi kembali, tapi kali ini dengan suara pelan.


Nana mengangguk. "Iya, kemungkinan bakal jadi wali kelas kita juga." Nana juga memelankan suaranya.


Beberapa detik kemudian..


"Wah ganteng banget"


"Sumpah deh kenapa ganteng banget"


"Asli gue bakal betah sekolah nih"


"Gila ganteng banget anjir"


"Ya ampun bisa buat cuci mata nih"


Seketika keadaan di lapangan mendadak riuh saat seseorang berdiri di sebelah pak kepsek.


Kesya yang berada di barisan ketiga dari belakang merasa heran apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Ada apa sih na?" Nampaknya Nana tengah sibuk menatap objek di depan dengan serius sampai tidak mendengarkan Kimi yang sedari tadi butuh kepastian.


Gadis itu semakin penasaran, ia menjinjitkan kakinya agar pandangannya tidak tertutupi deretan kepala di depannya.


"Makanya tumbuh tuh ke atas jangan kebawah," celetuk Digo yang berbaris di belakang Kimi.


"Go, go angkatin badan gue kek biar gue bisa liat, penasaran banget sumpah," ucap Kimi sambil melompat-lompat ke atas ala pocong tanpa memperdulikan hinaan yang keluar dari mulut Digo.


"Dih ogah."


Kimi memanyunkan bibirnya karena tidak bisa melihat apa tengah menjadi pusat perhatian semua orang saat ini. Gini nih resikonya punya tubuh minimalis.


"Tau gini tadi baris di depan" gumamnya kesal.


"SELAMAT PAGI SEMUA," ucap seorang laki-laki dengan suara bariton di depan sana.


"Selamat pagi pak" jawab mereka dengan kompak lalu keadaan menjadi hening kembali.


"Kok gue kaya pernah denger suaranya, tapi di mana ya ?" gumam Kimi yang semakin penasaran. Gadis itu nekat maju melewati beberapa barisan. Bahkan ia rela menyempil di tengah-tengah Amanda dan Nadya yang sekarang berada di barisan ketiga dari depan.


Gadis itu menyipitkan mata akibat sinar matahari yang terlalu menyilaukan. Ia mulai melihat dengan rinci seseorang yang tengah berdiri memegang mic di sumber suara.


Dan orang itu....


"HAH!!"

__ADS_1


__ADS_2