GADIS GESREK VS GURU KILLER

GADIS GESREK VS GURU KILLER
4.


__ADS_3

Amanda kini tengah duduk menyilangkan kaki layaknya seorang host dalam acara gosip yang siap memulai acara. Gadis itu sudah di kelilingi segerombol manusia kepo yang siap mendengar berita teraktual yang akan di bawakan. Kebanyakan dari mereka mayoritas cewek-cewek yang suka ghibah.


Eh tapi tunggu dulu, Digo sama Bagus juga ikut nimbrung karena penasaran.


Kimi yang sebenarnya malas ikut-ikutan juga sudah di sebelah Amanda karena dipaksa oleh Nana.


"Gaes, gaes, gaes. Kali ini gue bakalan bawa gosip mengenai pak David." Amanda yang sering dijuluki admin lambe turah itu sangat bersemangat dalam setiap ucapannya. Ia terlihat sangat menggebu-gebu.


"Gosip apaan nda cepet ah langsung to the point kali," keluh Talita yang sudah tidak sabar.


"Sabar dong. Kita main tebak-tebakan dulu okey." Mereka semua hanya mengangguk pasrah.


"Menurut kalian berapa usia pak David?" tanya Amanda yang langsung membuat mereka berpikir sejenak.


"22 mungkin," tebak Nadya- salah satu siswi di sana.


"Kalo menurut gue sih 23 deh kayaknya." Nana juga ikut menebak.


"23 deh," tebak Talita yang di angguki oleh yang lain.


"iya menurut gue juga 23," sahut yang lain dengan yakin.


"Kalo menurut lo berapa kim?" tanya Amanda pada Kimi yang berada di sebelahnya namun masih diam sejak tadi.


"26," jawab Kimi dengan asal.


"Gila lo kim nebak asal njeplak aja." Nana merasa tidak terima dengan jawaban Kimi yang menurutnya terlalu di lebih-lebihkan.


"Lah itu kan menurut pandangan gue. Kenapa lo yang nggak terima?" jawab Kimi mendengus.


"Tenang dulu, sabar." Amanda menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan untuk berusaha menenangkan keadaan.


"Emang berapa yang bener Nda?" tanya Nadya sepertinya sudah sangat penasaran.


"Bener kata Kimi gaes. Pak Darel ternyata udah hampir kepala tiga huhu," jelas Amanda dengan rengekan kecewa.


"Wah ngaco lo Nda. Emang lo dapet info dari mana coba?" protes Nana.


"Gue serius, apa sih yang Amanda nggak tau!" jawab Amanda nyolot.


"Wah wah Jangan-jangan lo emang admin lambe turah beneran Nda," suhut Digo yang sejak tadi menyimak.


"Gapapa admin lambe turah, asalkan admin di hatiku juga, ya nggak nda?" goda Alvaro yang sedang duduk di kursinya.


"Dih najis!" ketus Amanda kesal.


"Kok perasaan pak David masih kelihatan muda banget yak, mana badannya bagus banget lagi. Gue pikir dia lebih muda dari pak Bima loh" Talita keheranan.


Sekedar informasi, pak Bima itu guru matematika termuda di Theresia High School. Bahkan ia juga mendapat predikat guru terganteng selama ini.


"Lah itu mah mata kalian aja yang pada sliwer. Pak David kan emang udah keliatan tua dari awal keles," celetuk Kimi dengan santai.


"Terus kenapa tadi pas upacara lo sampe histeris gitu coba kalo emang menurut lo pak David itu keliatan tua?" tanya Talita kembali.

__ADS_1


Kimi terdiam sejenak. "Ya-ya gue kaget aja gitu kita dapat wali kelas baru, secara kan gue nggak berangkat pas hari jumat jadi nggak tau apa-apa deh." Lagi-lagi Kimi memasang Alibi dengan terbata-bata.


"Eh satu lagi gaes, ternyata pak David itu masih single alias belum nikah," jelas Amanda dengan menekan setiap ucapannya.


"Yes!! masih ada kesempatan dong." Nana mengembangkan senyuman bahagia.


"Dih gila lo Na, udah tau kalo dia om om masih aja mau di embat," protes Kimi


"Gapapa yang penting ganteng wlee." Nana menjulurkan lidahnya meledek Kimi, sementara gadis bar bari itu hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi geli.


......................


16.00


David baru saja memarkirkan mobilnya di garasi. Sejenak kemudian ia sudah turun dari mobil sambil menenteng tas dinas memasuki rumahnya. Lebih tepatnya sih rumah orang tuanya. Karena sebenernya, David sudah memiliki rumah sendiri. Dia datang kesini hanya beberapa kali saja dalam satu minggu. Itu pun kalau mamanya yang memintanya.


Langkahnya terhenti saat menyadari wanita paruhbaya yang sudah berdiri di ambang pintu menghalangi jalan. "David mama sama papa mau bicara sebentar."


Sontak David mengangguk. Berlalu mengekor di belakang wanita bernama Mira yang tak lain adalah mamanya.


Mira berjalan menuju ruang keluarga.


Disana sudah ada Reno--suaminya yang tengan menyeruput secangkir kopi.


"Duduk," titah Reno sembari meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. Melihat ekspresi Reno saat ini sepertinya dia akan menyampaikan hal penting.


David yang masih berdiri di belakang Mira, mengangguk. Beranjak duduk di sofa sebelah dengan wajah datar seperti biasanya.


"Ada apa pa?"


"Maksudnya perjodohan?" tanya David yang sudah tau arah pembicaraan ayahnya.


Reno meng-iyakan pertanyaan anaknya itu.


"Pa, David itu sudah dewasa dan berhak menentukan pilihan David sendiri," sangahnya dengan tegas.


"Tapi ini demi kebaikan kamu!"


"Pa, selama ini David udah nurutin kemauan papa. Termasuk harus ngajar di SMA, padahal itu sama sekali bukan keinginan David. Itu semua demi menuruti kemauan papa." David mengatur deru napasnya. Laki-laki itu mahan diri agar tidak sampai emosi.


"Papa kan cuma nyuruh kamu ngajar sebentar, biar kamu bisa lebih sabar dan meningkatkan rasa sosial kamu terhadap sekitar. Selama ini papa tau kamu itu tidak bisa ramah ke karyawan sedikitpun bahkan kamu selalu memarahi mereka. Siapa tau dengan mendidik anak SMA kamu jadi lebih baik. Lagian kamu kan ngajar di SMA yang papa dirikan, jadi apa salahnya? Apalagi kamu juga punya kemampuan lebih di bidang olahraga. Habis itu kamu juga bisa bekerja kembali di perusahaan," jelas Reno panjang lebar


"Oke, kalo itu Davidlbisa mengikuti kemauan papa. Tapi kalo soal perjodohan? ah-" David mengacak rambutnya frustrasi.


"Nak, usia kamu itu sudah 26 tahun, mau nunggu apa lagi coba? Apa kamu sudah punya pacar atau calon istri?" tanya Mira dengan sabar.


David menggeleng. Memang selama ini dia sudah hidup sebagai jomblo abadi. Mungkin karena terlalu galak dan dingin jadinya kena azab deh. Hehe becanda om.


"Pokoknya papa sudah pilihkan calon istri yang tepat buat kamu."


"Tapi pa-"


"Nggak ada tapi-tapian, dia anak sahabat papa dan kita sudah membicarakan ini sejak dulu!"

__ADS_1


David mentap tajam ke arah Reno kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Ia memilih pergi untuk menenangkan diri.


Disisi lain Kimi baru saja sampai rumah. Ia pulang sedikit terlambat karena tadi sempat mampir ke mall bersama Nana, Talita dan Amanda.


Seperti biasanya, gadis itu langsung mencari keberadaan Santi--maminya.


"Bi, mami mana?" tanyanya pada Bi sumi, pembantunya yang tengah mengelap meja makan.


"Di dapur non"


Santi yang sedang berada di dapur langsung menyaut. "Ada apa si sayang, pake teriak-teriak segala?"


"Hehe gapapa mi, soalnya kalo pulang-pulang terus nggak tanyain keberadaan mami tuh rasanya kaya ada yang kurang gitu," jawab Kimi cengengesan menghampiri Santi.


Santi mencubit pipi anak gadisnya itu dengan gemas.


"Sakit tau." Kimi mengusap pipinya akibat cubitan Santi. Sementara pelakunya hanya terkekeh pelan.


"Tumben banget mami di dapur, loh kok ini bahan masakan banyak banget sih mi?" Kimi melihat dapurnya sudah penuh berisi berbagai macam bahan masakan dan dia merasa heran. Tidak biasanya seperti ini. Paling-paling juga kalau ada acara besar saja.


"Iya dong, kan malam ini kita bakalan kedatangan tamu."


"Emang ada acara penting?"


Santi mengangguk dengan semangat. "Ya sekedar makan malam aja sih."


"Hm tapi nanti Kimi nggak bisa ikut mi, soalnya Kimi mau dateng ke pesta ulang tahunnya Via."


"Via? Emang kamu punya temen yang namanya Via?"


"Punya mi, dia itu tetangga kelasnya Kimi. Tadi dia ngasih undangan dadakan soalnya kemarin lupa ngasih katanya. Makanya tadi Kimi pulang langsung ke mall beli ini buat Via." cerocos Kimi panjang lebar sambil menunjukkan totebag yang ia tengteng di tangan.


"Emang nggak bisa di tunda dulu sayang?"


"His mami ini becanda deh, masa yang ulang tahun Via terus yang nunda kimi sih." Santi terkekeh pelan.


"Hm yaudah gapapa yang penting nanti kamu di anterin sama pak Amin ya."


"Siap bos." Kimi mengangkat tangannya di atas pelipis memberi hormat pada Santi.


Sedetik kemudian, mata gadis itu menyapu sekeliling. Mencari sosok yang tidak terlihat sejak tadi.


"Ratu mermaid kemana mi?"


Santi paham siapa yang Kimi tanyakan. Dia pasti tengah mencari keberadaan Airin, kakaknya.


Kimi memang menjulukinya sebagai ratu mermaid karena Airin yang mandinya terlalu lama. Bahkan bisa sampai 1 jam lebih sekalinya mandi.


"Masih di kampus belum pulang, paling ada kegiatan," jawab Santi sembari melanjutkan aktivitasnya memotong wortel.


Kimi hanya ber-oh ria.


Padahal ia paham, kalau jam segini belum pulang pasti kakaknya itu lagi mojok sama Aris, pacarnya.

__ADS_1


Tapi mami dan papinya bahkan tidak mengetahui itu karena mereka tidak menyetujui hubungan Airin dan Aris. Apalagi papinya yang sangat menolak keras hubungan keduanya. Untung saja mereka satu kampus jadi bisa nempel terus tanpa sepengetahuan mereka.


... -Bersambung-...


__ADS_2