
Hari masih pagi ,sisa embun dan kabut masih menempel di dedaunan menetes perlahan membasahi bum,i kicauan burung yg bersahutan menambah indah nya pagi itu terdengar bunyi derit pintu yang di buka dan sepasang kaki yg ramping melangkah keluar,sejenak dia merenggangkan tubuh nya dan menghirup segarnya udara pagi itu .
perlahan Gianti melangkah ke samping rumah mencari sapu dan mulai menyapu keliling halaman lalu menyiram tanaman hias yang tumbuh subur di pekarangan, bunga kembang sepatu yang berjejer rapi di sepanjang pagar rumah Ia dan Ibunya sangat menyukai kembang sepatu warna bunga nya yg merah dan besar menjadi keindahan yg tersendiri bagi nya.
"Gia...."Terdengar suara ibu dari dalam
sambil menenteng ember Gianti menghampiri ibunya .
"kamu sudah bikin sarapan??" tanya ibu
"belum Bu sebentar lagi "sahut Gianti sambil meletakkan ember di pojok kamar mandi .
Gianti gadis yang sangat rajin hampir seluruh waktu nya di gunakan untuk membantu Ibunya keadaan mereka yang pas Pasan tidak pernah membuat nya mengeluh .
sore hari Gianti gunakan untuk mengajar di sebuah TPA di langgar kecil yang ada di desanya
Gianti sangat bersyukur dia di karuniai otak yang cerdas dia juga pintar mengaji
anak anak dan semua warga sangat menyukainya walaupun ada juga teman wanita nya suka iri kepada nya tapi dia menyikapinya dengan sabar .
Gianti membuka pintu belakang sambil membawa keranjang kecil buat tempat sayuran , lalu mendekati sayur sayuran yang di tanam ibu nya memetiknya sambil bersenandung kecil .
Tiba tiba
"Aaaaaaakh ...."Gianti berteriak kaget sambil melempar sayuran di keranjang .
seekor ulat bulu berwarna hijau melompat lompat di baju nya Gianti geli
"ada apa gia?"kenapa kamu teriak ??"ibu berdiri di belakang Gianti.
"ada ulat Bu .".sahut Gianti sambil mencoba melepaskan ulat itu dari bajunya.
"hahahaha "ibu tertawa melihat tingkah nya
"kamu sudah besar tapi ulat sekecil ini takut".
"ngak takut Bu cuma geli aj " sahutnya
Ibu mengambil keranjang lalu memetik kembali sayuran sementara Gianti mencoba melepas ulat bulu itu yang menempel kuat di baju nya seolah olah nyaman dengan dirinya
duhh pagi pagi si ulat sudah buat drama
Karna kesal akhirnya Gianti mengambil air dan menyiram ulat itu sehingga baju nya ikut basah semua.
"naahh kita mandi bersama kan jadinya" sambil terkekeh melihat ulat bulu meringkuk.
Ibu yang menyaksikan hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah nya yang kadang kekanakan.
sambil membawa keranjang sayur masuk rumah .
Gianti lalu ikut masuk dan lansung ke kamar mandi melepas baju nya yang basah sekalian mandi air yang dingin dan segar terasa menyesap di kulit nya yang putih tak lama .kemudian keluar sambil membawa bajunya yang basah tadi.
Di lihat nya ibu nya sedang membersihkan sayuran sambil mengoreng tempe kesukaan nya.
Gianti berlalu ke kamar memakai baju lalu menyisir rambut nya yang hitam dan panjang tergerai lalu mengikat nya. sejenak di pandangi wajah nya di cermin wajah yg bulat ,hidung mancung dan bibir yang tipis sungguh ciptaan Allah yg sempurna terpahat di sana .
Gianti meraba wajah nya kata ibu dia mirip sama ayahnya .
ayah yang tidak pernah ada dalam hidup nya
sambil berkaca tak terasa matanya berair tapi cepat di hapus lalu keluar kamar.
Gianti menghampiri ibu nya lalu mencomot sepotong tempe yang masih panas di atas meja yang sudah di tata.
"kamu jadi membantu ibu ke kebun ??" tanya ibu sambil menoleh kearahnya
iya Bu jadi" sahutnya sambil mengunyah tempe
"ambil piring sekalian sarapan sebentar lagi kita akan di jemput "kata ibu .
sambil berlalu kekamar untuk ganti baju .
Gianti makan dengan lahap walaupun lauk nya cuma tempe goreng dan oseng sayur yang tadi di ambil di kebun belakang rumah tapi dia sangat menikmatinya .Ia selalu bersyukur walaupun hidup nya pas Pasan tapi mereka tidak pernah kelaparan .
__ADS_1
Ibu nya bekerja di sebuah perkebunan karet yang dekat dari desanya .tiap bulan menerima gaji walaupun sedikit tapi cukup buat biaya sekolah nya dan kebutuhan hari hari mereka tidak memikirkan beli baju yang bagus atau hal hal yang mewah yang penting bisa sekolah .
saat libur Gianti akan membantu ibunya bekerja sore baru dia ke langgar mengajar ngaji buat anak anak di desanya
tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah suara klasong yang cukup keras terdengar dan seruan memanggil nama Ibunya .
"Bu Dini ayook cepat !!" seru Ridho
"iya bentar " sahut Bu dini sambil menenteng keranjang nya buat wadah karet yg sudah di panen .
"Gianti ikut ya Ridho "serunya lagi .
Ridho yang melihat Gianti keluar dari rumah tersenyum dia sudah tahu Gianti akan ikut karna ini hari libur sekolah jadi dia juga cepat cepat menggantikan ayah nya bertugas pagi itu untuk menjemput para pekerja yang rata rata ibu ibu.
saat akan naik ke belakang mobil pickup yang di kendarainya Ridho cepat cepat turun membuka pintu sebelah nya buat Gianti dan ibunya duduk di depan .
sambil bersiul kecil dia naik ke depan kemudi sesekali melirik Gianti yang kelihatan cantik pagi ini dengan balutan pasmina coklat susu yg di sematkan di kepalanya .walaupun Tanpa polesan make up dan skin care yang mahal
wajah nya bersih dan putih kemerah merahan .matanya bulat dan besar dengan bulu mata panjang dan lentik .
postur tubuhnya yang tinggi semampai membuat nya semakin sempurna di mata cowok itu .
Entah lah tapi tapi wajah Gianti seolah olah bukan gadis yg di besar kan di desa iya terlalu mencolok di bandingkan gadis gadis lain yang ada di desa itu dan membuat banyak teman wanita nya iri .
setelah 5 menit mobil berhenti lagi di depan rombongan ibu ibu juga ada gadis sebayanya .
"waahh ada Gianti juga ya !!'seru Rina sahabat Gianti wajahnya berbinar iya membayangkan hari ini mereka bekerja pasti seru
"iya Rin aku ikut bantuin ibu juga "sahut nya senang bertemu sahabatnya .
"aku duduk di depan ya "kata Rina sambil mencoba membuka pintu depan .
"maaf Rin ngk bisa di depan cukup 2 orang aj !"Ridho menyahut dengan tegas.
Rina menarik kembali tangan nya dari pintu lalu pindah duduk ke belakang bak terbuka itu wajahnya kelihatan cemberut tapi dia mencoba tetap tersenyum manis ke arah Ridho .
Rina sangat menyukai ridho
"eeehhh tunggu aku ketinggalan "seru Bu Marni .sambil menenteng sendal nya napasnya ngos ngosan tubuh nya yang gemuk sangat susah naik ke mobil.
ibu yang lain membantu menarik tangan nya tapi karna berat malah mereka ya terjatuh di bak mobilðŸ¤ðŸ¤
"duh Bu Marni kalau pagi jangan sarapan yg banyak dong jadi tambah berat nihh!"seru ibu ibu yang lain .
Gianti yang menyaksikan itu tersenyum .
Ia lalu turun dan membuka pintu mempersilahkan Bu Marni duduk di depan bersama ibu nya .
"terima kasih nak Gianti selain cantik kamu juga baik hati "pujinya .
"coba aku punya anak laki laki kupastikan melamarmu buat jadi menantu kesayangan ku "sahut nya lagi
Gianti hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Marni lalu naik ke belakang mobil bak terbuka itu dan duduk di samping Rina .
sepanjang jalan mereka bercerita di selingi tawa kecil .
Ridho yang mengemudi sesekali melirik kebelakang ,dia semakin kagum dengan Gianti ,cantik dan selalu peduli orang yang lain terutama yang lebih tua .
tak lama mobil berhenti di sebuah perkebunan karet mereka turun .
Gianti mencoba melompat turun dari mobil tangan Ridho terulur hendak menyambut nya .
Gianti menarik tangan nya ia tau ridho bukan muhrim nya sebelum berangkat tadi Ia sudah berwudhu buat menyempatkan Sholat sunah nanti .
"maaf ridho aku bisa turun sendiri "ucap nya menolak dengan halus lalu melompat turun di sambut Rina yang tersenyum di sebelahnya .
tiba tiba terdengar kehebohan lagi
Bu Marni begitu turun dari mobil teriak teriak sambil mengangkat rok nya di dalam roknya ada katak yg nempel 😂
sontak ibu ibu itu ketawa melihat tingkahnya tubuhnya yang gemuk melompat lompat seperti bola voly yang di pantul pantul kan ke lantai hehe.
Gianti juga ikut tertawa geli jadi ingat drama ulat bulu yang tadi pagi menempel di baju nya hehehe.
__ADS_1
perut nya jadi terasa kaku karna ketawa .
ia lalu menghampiri Bu Marni membantu melepas kodok itu dari rok Bu Marni
wehh si kodok kayaknya tidak mau lepas .
spontan Gianti menyiram dengan air minum yang di pegang nya ..
byurr... rok Bu Marni pun basah dan sang kodok langsung lompat jauh jauh..
"waduhh gia apa yang kamu lakukan lihat tuh rok Bu Marni jadi basah !"seru ibu nya
"maaf Bu saya tidak sengaja " ujarnya menatap dengan rasa bersalah pada Bu Marni .
"sudah ngk apa apa saya masih punya pakaian ganti ,terima kasih gia kamu sudah mengusir kodok itu dari rokku "Sambil mengambil baju yg lain di dalam tas plastik yang di pegang dari tadi .
"ayook kita mulai kerja sudah siang ini "kata ibu dini sambil menarik tangan Gianti .
mereka berpencar sesuai blok kerjaan masing masing .
Gianti dengan cekatan memasukkan getah yg yang ada di mangkuk yang tergantung di pohon karet ke dalam keranjang ,dia tidak menyadari dari tadi Ridho terus memperhatikan diri nya bekerja ,dia bahkan mengabaikan siulan yang di keluarkan dari mulut Ridho .
sampai jam makan siang barulah mereka berhenti buat istirahat dan menunaikan kewajiban .
ibu dini mengeluarkan bekal buat dia dan Gianti makan mereka tidak minder dengan lauk nya yang sederhana karna teman teman nya juga membawa lauk yang sama .
Ridho melirik makanan Gianti saat melihat isi piringnya iya memberikan sepotong ayam goreng ke piring Gianti .
melihat hal itu mata Gianti membulat lalu mengembalikan ayam itu ke piring ridho lagi tanpa berkata apa apa.
ibu dini yang menyaksikan itu tersenyum kecil beliau senang anaknya tidak sembarangan menerima pemberian orang lain .
sementara Rina yang memperhatikan dari jauh merasa iri dengan apa yang di berikan ridho kepada sahabat nya tapi jujur dalam hati nya ia juga senang jika Gianti menyukai ridho meskipun ia juga menyukainya ia akan mengalah kepada sahabat nya karna selain cantik Gianti juga sangat baik kepada nya dan juga keluarganya sudah mengganggap seperti anak kandung mereka sendiri .
"Rin ayok kita ke musollah "ajak Gianti
"iya ayok aku mau membersihkan diri dulu"ujarnya sambil berdiri dan merapikan bekas makan nya .Hari ini ibu Rina sakit jadi terpaksa ia mengantikan tugas ibu nya .
setelah istirahat dan sholat mereka kembali bekerja hari ini pekerjaan ibu dini cepat selesai karna gianti sangat cekatan membantu nya tepat jam 2 siang mereka sudah mengumpulkan getah karet itu ke tempat pengumpulan .
Gianti tidak merasa lelah ia bahkan merasa senang bisa membantu ibu nya .
karna pekerjaan mereka sudah selesai mereka pun pamit pulang duluan .
Ridho yang melihat Gianti hendak pulang cepat cepat berdiri dan menghampiri mereka .
"saya antar pulang ya Bu "ujarnya sambil melangkah ke mobil nya yg di parkir di halaman pabrik .
"Tidak Ridho kami bisa naik angkot kasihan yang lain kalau kamu ikut pulang duluan" jawab Gianti sambil berlalu .
"eehh nak Gianti biar aja di antar nak ridho pulang kasian klo naik taksi "ujar seseorang .
mereka berpaling ke belakang dan kaget ketika melihat ada Bu Marni .
wajah dan seluruh tubuhnya di baluri bedak basah .mereka tertawa geli ,Bu Marni seperti pisang goreng yang sudah di lumuri tepung dan siap siap akan di masukkan ke wajan penggorengan ðŸ¤ðŸ¤ .
"ngak usah Bu kasian ridho nya kalau bolak balik kan lumayan jauh kami juga akan mampir ke pasar buat belanja keperluan dapur"ujar Bu dini menolak dengan halus sambil tersenyum melihat ke arah Bu Marni yang tubuh nya putih semua hehe.
"ayok gia kita pulang "ajaknya
"ibu ibu kami pulang duluan ya "pamit mereka .
"ya Bu hati hati di jalan ya "jawab mereka serempak sambil melambaikan tangan .
walaupun kerjaan mereka berat mereka selalu akur setiap hari selalu bekerja sama mereka senang bekerja di sana karna pimpinan pabrik itu juga sangat memperhatikan karyawan nya juga butuh buruh yang bertugas mengambil dan mengumpulkan getah getah karet itu untuk di olah .
Gianti dan ibunya pulang dengan naik angkot .sepanjang jalan Bu dini memperhatikan jejeran pohon karet yang berbaris rapi di kiri kanan jalan pohon nya besar besar dan rimbun jadi para pekerja bisa terlindungi dari panas nya matahari tempat nya jadi teduh .
"emmhh Bu saya ngantuk "kata Gianti mencoba memejamkan matanya
"tidur lah ibu akan membangunkan mu kalau sudah sampai" Bu dini menyodorkan tas yg berisi pakaian ganti nya kepada Gianti buat bantalan .penumpang yang sepi bisa membuat nya leluasa buat tidur.
setelah mendengar suara napas anaknya teratur Bu dini memperhatikan wajah Gianti dalam dalam ada rasa sesak melihat anaknya gadis nya.
__ADS_1
Ia dan Gianti selama ini hidup dalam kondisi pas Pasan tetapi hidup nya damai .mereka mencoba bersahabat dengan alam .
kedamaian yang tidak mungkin ia dapat jika tetap hidup di kota dadanya sesak mengingat semua...