
Lima tahun sudah berlalu, gadis kecil nan lucu kini tumbuh menjadi gadis yang cerdas nan cantik.
Perjalanan bisnisnya mengharuskan Ramzi Sean untuk berjauhan dengan keponakanya yang sudah dia anggap anak sendiri.
Ramzi tak ingin membuat Ana bersedih, kecintaanya terhadap Ana membuat Ramzi tak ingin terikat dengan pernikahan. Namun ia gemar bermain api dengan perempuan penggoda untuk menyalurkan hasrat seksualnya.
"Ayaaaaahh!!.." panggil Ana sambil menjewer kuping Ramzi.
"Di panggil dari tadi malah ngelamun aja." ucapnya sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
Ramzi tersadar setelah pikirannya berkelana mengingat kisah kelam Adiknya dan keponakanya yang sekarang menjadi anak tersayangnya, putri cantik yang kini memenuhi relung hatinya, menghalalkan segala cara demi kebahagiaanya, dialah Ana Mariana sang pewaris Bisnis d dunia gelapnya.
Dunia Gangster yang sudah 25 tahun dia berkecimpung di dalamnya.
Bisnis narkotika, sewa keamanan para pejabat ataupun petinggi di semua negara ia sanggupi, bahkan hal bunuh membunuh ataupun mata mata mereka ahlinya.
...****************...
"Tok.. tok.. tok.. " Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Anisa, di sudut kamar ia menatap ke arah jendela.
Diapun menggenggam gagang pintu lalu menariknya hingga daun pintu terbuka lebar.
Paras tampan nan rupawan yang pertama Anisa lihat. Dengan setelan kemeja putih dan celana hitam, kumis serta brewok tipis bertengger menghiasi dagunya. Memancarkan aura ketampanan dan kharisma yang luar biasa bagi yang melihatnya.
Mata mereka saling beradu, seakan ada yang Menggelitik hati dua orang yang berlawan jenis ini.
"Bagaimana keadaanmu" tanya nya memecah kecanggungan yang terjadi.
"Keadaanku semakin membaik berkat bantuan dan kebaikan hati Tuan, terimakasih banyak tuan"
"Syukurlah Anisa, aku senang sekali dengan melihat keadaanmu yang sekarang ini. Oh iya, Anisa, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu, bisa?" tanya Ramzi dengan menatap lebih intens lawan bicaranya.
"Oh e-e.. bi-bisa Tuan, bicara saja apa yang ingin Tuan sampaikan" jawab anisa tergugup, kala Mata Ramzi menatap tak berkedip.
"Tak disini, Anisa. Kamu bisa datang ke ruang kerjaku nanti jam 9 malam" jawabnya sambil melemparkan senyum.
"bicara sekarang saja di sini, Tuan,".
"Tidak.. tidak bisa anisa, waktunya terlalu mepet, sore ini aku harus menemani anak ku menonton film kartun kesukaannya".
"Oh,, Kalau begitu baiklah Tuan. Eemm Tuan?, kaki saya masih lemah untuk berdiri terlalu lama, bolehkah saya pamit untuk beristirahat di kamar"
"Oh maaf maaf anisa, Baiklah, selamat beristirahat yaa,, " ucap Ramzi berlalu pergi.
__ADS_1
Namun baru 3 langkah, Ramzi membalikan badanya dan memanggil Anisa.
Anisa terkejut !.
Namun bukan hanya Hatinya yang di landa rasa getar di dada, matanya pun ikut berbinar kala melihat sosok pria tadi menggenggam tangannya lalu menariknya ke bagian dadanya kemudian mengecupnya.
Kupu kupu serasa berhamburan, Hatinya rasanya ingin meledak, namun mulutnya tak mampu untuk sekedar mengeluarkan suara.
"Aku lupa..
Terimakasih banyak, karenamu Anakku terselamatkan". Ucap Ramzi lalu meninggalkan Anisa dengan sejuta rasa yang sulit di jelaskan.
Anisa kemudian masuk ke kamar dengan memegangi telapak tangannya, memorinya tak henti hentinya berputar, mengingat kejadian yang tadi.
...****************...
Alice datang dengan membawa lima paper bag menggantung di tangannya.
Dia memanggil manggil nama Anaknya dengan keras, seakan akan dialah sang pemilik rumah.
"Ngga tau Sopan santun kamu!!" ucap laki laki yang duduk di sofa, membelakangi Alice.
"Eeh Ka Ramzi,.Maafkan aku ka, aku kira kaka ada di ruang kerja" ucap Alice langsung menghambur ke arah Ramzi sambil memeluknya.
"Jangan berani berani menyentuh ku, bahkan seujung kuku pun aku tak sudi" ucapnya sambil meludah ke samping kirinya.
"Kamu terlalu lebay!! " Ucap Alice, kemudian bangun dan hendak memeluk Ramzi untuk kedua kalinya.
"Ibuu!!! " suara cempreng gadis kecil menghentikan aksinya.
Gadis kecil itupun berlari kearahnya lalu memeluk Alice dengan kuat.
Di sisi lain Tuan Ramzi gegas pergi ke kamarnya, ia lega karna terbebas dari tingkah gila wanita itu, ia bersyukur karna kedatangan Ana menghentikan aksi binal Alice.
...****************...
Suara ketukan pintu di kamar Ramzi membangunkan dari tidur siangnya, waktu menunjukkan angka 16.00, tak terasa sudah satu jam ia terlelap tanpa sengaja.
ketika pintu terbuka, munculah gadis kecil yang sudah di poles dengan dandanan yang cantik, Gaun berwarna pink bergambar Hello kitty serta bling bling menghiasi di bagian depannya gaun tersebut, bando yang menempel di pucuk kepalanya bertengger seperti mahkota ala barbie.
"Siapa yang mendandanimu nak?" tanya Ramzi keberanian.
"aku di dandan ibu, aku cantik kan, ayah??"
__ADS_1
"Cantik donk, anak Ayah..Tapi..?"
"Tapi apa ayah? " tanya Ana penasaran.
"Kartun kesukaanmu yang akan kita tonton kan Detektif Conan, tapi kenapa pakaianmu seperti putri di negri dongeng, sayang??..
"Ha ha ha ha.. Ayah bisa saja. Iiiiihh, , aku jadi malu tahu, kalo di bilang mirip putri.. hehehe" tawa Ana memperlihatkan gigi ompong nya.
"Ayah.. Ayah.. maaf yah hari ini nonton detektif Conan nya kapan kapan saja, tadi aku main barbie bersama ibu terus kata ibu kita ganti saja nonton film barbie, kan aku perempuan masa nontonnya detektif conan kata ibu, jadi aku ya nurut aja. Bolehkan ayah" rengeknya.
"Ayah tidak marah kan" lanjut Ana lagi.
"Tidak sayang, untuk apa ayah marah pada Tuan Putri yang cantik ini, lagian ayah nanti ada urusan, jadi ayah ngga bisa ikut kalian ya?" jelasnya sambil mengelus lembut rambut Ana.
Ana pun pergi dengan sedikit berlari sambil bersenandung, meninggalkan Ramzi di kamar dengan menarik bibir kebelakang yang menampakan barisan gigi gigi putihnya.
...****************...
Ramzi menyuruh Heni untuk membawa Anisa keruang kerjanya. Setibanya di sana Anisa di sambut dengan sosok Ramzi yang sedang duduk di kursi dengan posisi kaki menyilang, sedangkan tangan di masukan ke saku tak luput juga dari pandangan, Anisa, kacamata yang membalut Mata Ramzi menambah nilai plus tersendiri.
'Tampan.' batin nya sambil melempar senyum indahnya .
"Duduklah Anisa" ucap Ramzi mempersilahkan.
Bokong anisa pun beradu dengan kursi dengan punggung yang ikut bersandar.
"Mungkin kamu tak mengingat siapa diri kamu, bahkan simbok mu, iya kan Anisa?" tanya Ramzi.
"Yang aku tahu namaku Anisa, bahkan aku tak mengingat bahwa aku masih punya keluarga" jawabnya pelan.
"Kamu masih punya 2 orang keluarga yang tersisa, yaitu pamanmu dan nenekmu. Tapi sayang pamanmu berniat jahat padamu, bahkan dia tega menjual kamu pada germo. Sedangkan nenekmu...?"
"Dimana nenekku..,Tuan??" tanya Anisa penasaran.
"Yang aku tahu nenekmu telah meninggal, Anisa."
"Apa!!.. Tidak mungkin, Tuan" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia mati karena di bunuh, dan aku tahu siapa yang membunuhnya, Anisa. "
"Siapa Tuan" tanya Anisa penasaran.
"Dia adalah... ".Ucap Ramzi tertahan kala dering telfon menari di layar handphone nya menampilkan nama Ana mariana, Sang gadis kecil pemilik hatinya.
__ADS_1