
Setelah sambungan telepon terputus, Ramzi kembali menemui Anisa yang telah menunggunya sedari tadi.
"Maaf telah menunggu,, mari kita lanjutkan obrolan yang tadi sempat ter jeda, Anisa" Ucapnya lalu mendaratkan bokongnya di kursi berwarna keemasan yang berhadapan dengan anisa.
Walaupun di sekat dengan meja, pandangan Ramzi tajam bak pisau tajam menghunus tepat di jantung sangat empunya.
Anisa di buat salah tingkah oleh kelakuan Ramzi, namun segera ia mengendalikan hatinya, rasanya sudah seperti badai meteor yang memporak porandakan isi bumi.
"Tolong!!,Tuan. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada simbok, dan siapa yang tega melakukan perbuatan itu tuan?"
"Hmm.. sebenarnya aku tak tega padamu Anisa, tapi jika kamu memaksa, aku akan menceritakan semuanya"
"Ceritakan saja yang sejujurnya tuan, aku sudah siap mendengarnya"
"Dia adalah Juragan kambing, namanya kalau tidak salah adalah, Basir. Dia tinggal satu kampung denganmu di Bandung. Apa kamu ingat juragan Basir, Anisa? ".
"Juragan Basir???,, Rasanya kepalaku pusing jikalau dipaksa untuk mengingat masa lalu. Tapi apa benar dia yang melakukannya, sungguh biadab!!!. Sungut Anisa mengepalkan kedua tangannya lalu memukulnya ke meja.
"Hey.. Hey.. sabar Anisa. Bisa pecah meja kerjaku ini, ha ha ha" ucap Ramzi sambil terkekeh.
"Aku bisa membantumu membalaskan dendam, Anisa. Bagaimana?"
"Apa maksud Tuan Ramzi?."
tanya Anisa bingung.
"Apakah kamu tidak ingin membalaskan dendam kepada orang yang telah tega membunuh salah satu anggota keluargamu?" tanya Ramzi.
"Ingat, Anisa!! , Simbok mu adalah kelurga satu satunya yang perduli terhadapmu, bahkan pamanmu saja tega menjual kamu pada germo, apakah kamu tidak ingin membalas kebaikannya dengan membalaskan dendam?" lanjutnya lagi mempengaruhi Anisa.
"Apa yang bisa aku lakukan dengan kemampuanku ini, Tuan? . Harta, jabatan, bahkan uang pun aku tak punya, untuk sekedar melapor polisi pun aku yakin laporanku pasti di tolak." terang Anisa dengan tirta alam yg keluar di pelupuk matanya.
"Aku bisa membantumu, Anisa". Ucap Ramzi dengan mantap.
Seakan membawa harapan baru untuk Anisa. walaupun ingatan Anisa tidak bisa menjangkau semua memorinya dengan simbok, dengan yakin ia ingin membalas kebaikan neneknya dengan membalaskan kematiannya.
"Tapi ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi, Anisa." Lanjut Ramzi kemudian, sambil mengulurkan sebuah kertas dan pulpen tepat di hadapan anisa.
__ADS_1
"Ini apa Tuan?," tanya Anisa dengan bingung.
"Bacalah!! Semua persyaratnya tertulis di situ, kamu tinggal ambil pulpennya lalu tanda tangani saja kertas itu. percayalah padaku anisa, niatku tulus membantumu membalaskan dendam"
Jelas Ramzi panjang lebar meyakinkan Anisa.
Setelah membaca surat perjanjian di atas meja yang di sodorkan Ramzi, Kening Anisa berkerut karena dadi beberapa poin isinya tidak masuk di akal.
"Kenapa aku harus mengganti namaku dengan Agnes, Tuan?" tanya Anisa penasaran.
"Dan ini apalagi, tuan?. Bila aku sudah menandatangani berkas ini, maka secara tidak langsung aku menjadi anggota Beruang putih?" lanjutnya.
"Iya, Anisa. Aku berharap kamu menyetujuinya demi kebaikanmu sendiri. Kerena yang kita hadapi ini adalah lawan yang kuat, itu pula yang mendasari agar kamu menyembunyikan identitas aslimu.
"Apa aku bisa melakukan semua ini Tuan, Sedangkan aku merasa tidak bisa berbuat apa apa, jangankan untuk membalas dendam, untuk mengingat masa laluku saja rasanya sulit"
"Maka dari itu, aku disini untuk membantumu, Anisa. papar Ramzi.
"Kenapa Tuan baik sekali padaku, setelah membantuku menjalani pengobatan, sekarang pun Tuan membantuku membalaskan dendam kematian simbok, Apa aku berhak menerima kebaikan yang selalu Tuan berikan." tanya Anisa menatap sendu.
Anisa pun semakin tergugu mengingat sekarang dia sebatang kara. Bahkan Tuan Ramzi yang notabennya orang lain justru perduli padanya, Berbanding terbaik dengan pamannya, yang anisa pun lupa dengan wajah pria yang telah tega menjualnya.
Ramzi pun bangun dari kursi yang sedari tadi memberikan kenyamanan ketika ia duduk, diapun melangkah mendekati Anisa.
Tiba tiba tangan kekar itu memeluk tubuh Anisa.
"Kamu harus kuat, Anisa" Bisiknya tepat di telinga Anisa.
Ada sensasi yang berbeda ketika suara itu mem bisikannya, bahkan yang Anisa rasakan ketika Tuan Ramzi berbisik bibirnya sedikit menyentuh daun telinganya yang membuat desiran di dada.
"Kamu harus kuat, Oke" ulangnya lagi dengan memegang kedua bahu Anisa dan menatap intens mata sayu itu.
Tiba tiba Ramzi melakukan hal yang tak terduga, ketika Ramzi berusaha menyentuh bibir Anisa hingga terasa ada perasaan aneh ketika kedua bibir mereka menyatu.
Ya!! Ramzi berhasil menc-ium Anisa tanpa ia sadari.
Tanpa ada penolakan dari Anisa, karena memang dari awal dia tinggal di kediaman Ramzi, dia sudah tertarik dengan pria berkharisma di depannya itu, dan saat ini ia merasa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan seperti yang pernah ia khawatirkan.
__ADS_1
...****************...
Suara ketukan pintu mengagetkan dua insan yang sedang mengaitkan kedua bibir mereka. Anisa langsung menarik diri dari pelukan Ramzi ketika seorang gadis tiba tiba masuk tanpa permisi.
"hu hu hu hu" suara tangis dari Ana membuat heran keduanya.
Ramzi langsung lari kearahnya dan berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Ana yang masih terbilang pendek.
"Ibu.. hu hu hu.. ibu" Tangis Ana menyebut nama ibunya.
"Kenapa dengan Alice, eh maksud ayah, kenapa dengan ibumu, nak?" tanya Ramzi penasaran.
"Tadi di pertengahan film yang sedang di putar, ibu izin ke toilet. Sedangkan aku di tinggal sendirian sampai filmnya berakhir, padahal di layar itu ada penampakan nenek sihir yang giginya ompong, hu hu hu"
Ramzi mengepalkan tangannya kuat karena mengingat Ana di tinggal sendirian di pertengahan fim yang sedang berlangsung, kemana wanita licik itu pergi.
"Bukanya kamu biasanya lebih berani nak?, kamu kan sering menonton film Conan yang penuh misteri, masa nonton Barbie jadi takut sih. Anak ayah kan hebat" rayu Ramzi agar Ana tak menangis lagi.
"Itu tuh penyihir yang giginya ompong , ayah!! sedangkan aku juga ompong, aku takut tiba tiba berubah jadi penyihir, hu hu hu"
Ramzi terkikik pelan, begitu pula dengan Anisa, mereka berdua menahan tawa dengan tingkah konyol Ana mariana.
...****************...
Di dalam kamar tempat istirahat Ramzi, ia menghubungi Alice lewat sambungan telephon, hingga dua kali panggilannya, baru mendapat jawaban dari Alice.
"Heh wanita gi-l-a, kamu tega membiarkan anakmu sendirian di bioskop"
"Maafkan aku kak Ramzi, tadi Bos Nana ketua gangster Ninja hitam menelpon, dia menanyakan keberadaan ku untuk bertemu dengan client barunya, beruntung client tersebut sedang berada di cafe shop yang berada di lantai bawah tempat kami menonton film. Makanya aku meninggalkan Ana sebentar, takutnya Bos Nana mengetahui kita sekongkol kak." jelas Alice panjang lebar.
"Jangan sampai kejadian serupa terjadi lagi, Alice. Atau kesepakatan kita berakhir dan selamanya kamu tidak akan bisa menemui Ana mariana lagi." papar Ramzi sambil memutuskan sambungan telepon.
...****************...
Jam menunjukan angka 23.00 Anisa keluar dari kamar, ia hendak membuat susu hangat di dapur supaya ia nanti bisa beristirahat, setelah suara gelas dan sendok saling beradu.
Tiba tiba sepasang tangan mendorongnya, mengambil gelas susu yang telah dibuat Anisa, lalu meminumnya sampai setengah, hingga anisa kaget ketika tangan kecil itu melemparkan sebagian susu yang masih tersisa ke arahnya.
__ADS_1