Gadis Lugu Penakluk Dunia Gangster

Gadis Lugu Penakluk Dunia Gangster
Pertemuan Kembali.


__ADS_3

'Anisa' . Gumam laki laki itu..


Dia pun mengikuti mobil Fahmi tanpa memperdulikan tujuan utamanya sebelumnya.


Hingga mobil berbelok dan memasuki pintu masuk rumah sakit , Fahmi pun berteriak meminta tolong kepada penjaga kemudian dilarikan lah Anisa ke ruang UGD.


Dua jam berlalu namun dokter belum menunjukan batang hidungnya, Fahmi berjalan bolak balik seperti setrikaan.


Tanpa di sangka ada seseorang yang sedang memperhatikannya sedari tadi di ujung koridor rumah sakit, dia bahkan gamang untuk melihat dan memastikan apakah wanita yang dia lihat tadi adalah Anisa?, sedangkan dia sendiri tahu bahwa Anisa sedang menikmati sisa hari liburnya.


'Pastinya Anisa besok sudah berada di rumahku dan bekerja kembali.' yakinnya dalam hati.


Sekian lama Fahmi menunggu, dokter dan perawat pun keluar dengan tegas Fahmi mendekatinya dan menanyakan keadaan Anisa yang terbaring lemah tak berdaya.


"Dokter.. Dokter, bagaimana keadaan Anisa, apakah dia baik baik saja dok?". Tanyanya penasaran.


"Apakah anda keluarga pasien?" Tanya dokter dengan membetulkan kacamata yang sedikit melorot.


"Bu-bukan Dok, saya temanya tapi saya yang bertanggung jawab sebagai walinya"


"Baiklah.. mari ikut saya ke ruangan". sambil berlalu pergi diikuti 2 perawat di belakangnya Aku pun mengikutinya. Setibanya di ruangan, Dokter mempersilahkan Fahmi duduk dan menjelaskan perihal keadaan Anisa.


"Pasien atas nama Anisa telah melewati masa kritis, namun, sebelumnya bolehkah saya bertanya? "


"Tanya apa dok, kalau bisa membantu kesembuhan Anisa maka saya akan jawab semuanya"


"Pasien mengalami overdosis, dia memang sudah melewati masa kritis tapi dengan berat hati saya katakan, kemungkinan besar syaraf otaknya terganggu dan yang kami takutkan adalah terjadinya kelumpuhan otak atau bisa lebih fatal lagi, maka dari itu besok pagi akan kami lakukan CT scan. " terangnya panjang lebar.


"Baik Dok apapun demi kesembuhan Anisa, pasti saya lakukan"


Setelah percakapan dengan Dokter selesai, Fahmi gegas pergi keruangan dimana Anisa di rawat.


Tanpa di ketahui, sepasang mata selalu mengawasi Fahmi, setelah tahu siapa wanita itu, karna sebelumnya dia telah mengecek siapa wanita lemah yang berbaring di ruangan , wanita yang dia kenal sebagai pekerja khusus pembuat kopi untuk dirinya, ya dialah Anisa pekerja Tuan Ramzi.


...****************...

__ADS_1


Empat hari sudah berlalu, namun belum ada perkembangan yang signifikan atas kondisi Anisa, Selang infus dan oksigen tak luput bertengger di badanya, bahkan kelopak mata yang mulai kehitaman menampilkan wanita itu benar benar dalam kondisi memprihatinkan.


Fahmi pun menutup diri dari akses mamihnya, puluhan sampai ratusan panggilan tak terjawab setiap hari seakan memenuhi layar handphone nya, handphone yang berlogo apel kegigit yang hanya menyisakan bijinya itu ia letakan ke saku celana sebelum menekan layar off.


Sore ini Fahmi ingin pulang ke rumah sekedar membersihkan diri dan mengambil beberapa keperluannya.


Di situlah tuan Ramzi datang menemui Anisa, melihat wanita di hadapannya terbaring lemas, ia pun selalu mencari informasi nenek Anisa yang tidak di ketahui keberadaanya setelah Tuan Ramzi mendatangi kediamannya.


Sebenarnya hal yang mudah bagi Ramzi mencari seseorang yang di inginkan nya, namun entah kenapa kali ini neneknya Anisa luput dari jangkauannya.


Para bawahannya kerap kali mendapat pukulan dari Ramzi, sebegitu melekatnya nama Anisa di hati Ramzi, Yang jelas ada sesuatu yang membuat laki laki paruh baya ini bersimpati, ataukah ada hal lain tentangnya yang menggetarkan hatinya?.


Entahlah hanya Tuhan dan Ramzi yang tahu.


...****************...


Keesokan paginya ketika Fahmi ingin mencari sarapan di area rumah sakit, dia selalu berpamitan pada Anisa walaupun gadis itu masih dalam keadaan koma, juga tidak ada respon dari sang empunya.


Setelah Fahmi mencium punggung tangan Anisa tiba tiba ada pergerakan kecil di jari tangannya, segera ia memencet tombol emergency room untuk memanggil perawat yang berjaga, sampai akhirnya datanglah dokter dan dua perawat di belakangnya.


Dokter memeriksa dan selalu memanggil nama Anisa untuk memancing respon nya. Hingga sepasang mata terbuka perlahan menampilkan sorot mata yang sayu karna pemiliknya telah sadar dari koma.


Dengan sabar Fahmi menjaga Anisa, kesadaran Anisa membuat rasa lapar yang mendera seolah dilupakannya, hingga siang baru dia merasa suren, suren adalah dimana dia merasa lemas, tangan bergetar perut perih dan lapar akhirnya dia gegas ke kantin rumah sakit untuk mencari makan.


...****************...


Dua wanita dan 2 lelaki memindahkan Anisa ke mobil ambulance , hingga mobil itu pergi meninggalkan area rumah sakit.


Memasuki area perumahan elit di kawasan Pik ambulance berhenti tepat di rumah yang mendominasi warna putih dan coklat.


Anisa di bawa masuk ke rumah itu.


Setibanya di kamar yang telah di sulap menjadi ruang rawat seperti di rumah sakit, Dua perawat wanita menata peralatan tenaga medis.


Mereka dengan cekatan menatanya hingga seorang yang berpakaian kemeja biru muda yang adalah Dokter datang menghampiri di susul lelaki berjas casual sang pemilik rumah yaitu Ramzi Sean nama lengkapnya.

__ADS_1


...****************...


Setelah memberi makan cacing cacing di perut, kini Fahmi kembali ke ruangan dimana Anisa di rawat.


Namun ranjang itu kosong, gegas ia bertanya kepada perawat di mana Anisa berada, merekapun menjelaskan bahwa Anisa sudah di bawa pulang oleh pihak keluarganya.


Fahmi agak ragu, karna yang ia tahu Om Toni adalah keluarga satu satunya di kota metropolitan ini, Sedangkan ia tak pernah memberikan informasi apa apa kepada Om Toni setelah kesepakatan yang terjadi antara mamih dan dirinya di malam itu dimana ia membawa Anisa.


Fahmi pun bergegas menuju Rumah mamihnya yang sering di sebut Castil, rumah untuk usaha prostitusi.


Dia mengamuk pada penjaga dan menyuruh mereka memanggil mamihnya untuk keluar menemuinya.


Satu bodyguard datang memberitahukan kepada Mamih Evelyn tentang kedatangan anaknya, Fahmi.


Dia pun pergi menemui Fahmi, dimana anak itu terlihat frustasi dengan berteriak kepada para penjaga keamanan dan membabi buta


"Stop!!.. Ada apa ini Fahmi? " teriaknya.


"Mamih ... Aku mohon mamih." kata Fahmi sambil terisak


dan bersujud dengan menangkupkan kedua tanganya.


"Kamu kenapa nak??, kenapa kamu jadi seperti ini".


"Tolong mih, kembalikan Anisa padaku, bukanya kita sudah sepakat malam itu"


"Maksud kamu apa, Fahmi??.. Mamih masih belum mengerti".


" Mamih jangan pura pura,, Mamih kan yang membawa Anisa pergi dari Rumah sakit?, Mamih tega kepadaku dengan menyiksaku seperti ini"


"NO!!..Bahkan mamih ngga tahu tentang Anisa yang berada di rumah sakit" terangnya kemudian membawa Fahmi kedalam pelukannya.


...****************...


Fahmi menjelaskan kejadian demi kejadian yang terjadi, dan meminta mamihnya membantu menemukan Anisa, dia juga menginginkan Alena untuk bertanggung jawab karena perbuatan bodohnya Anisa bisa overdosis tingkat tinggi.

__ADS_1


Alena diseret bodyguard menemui mamih dan Fahmi, sampai pada titik yang tak terduga, sepasang tangan sudah mencengkram kuat di lehernya tanpa ampun, lima menit berlalu Alena pun limbung dengan lidah terjulur.


...****************...


__ADS_2