
Namaku Sandiaga Leo, orang mengenalku dengan sebutan Leo. Di sekolah aku terkenal dengan anak pembuatan onar, bahkan tak jarang aku memukul temanku karena hal sepele.
Aku tumbuh di keluarga yang cukup berada, ayah dan ibu selalu memanjakan Aku dan Kim Nana.
Apa yang menjadi permintaan kami pasti mereka penuhi.
Keluarga yang bahagia adalah impianku, hingga impianku kandas karena ada seseorang yang dengan sengaja melempar batu di tengah tengah kebahagian kami.
Hidup kami jatuh drastis, bahkan teman teman kami selalu mengejek kami karena ayah kami masuk penjara di duga melakukan tindakan pidana koru-ps-i di salah satu perusahaan terbesar di Korea ANNYEONG GRUP namanya.
Perusahan yang bergerak di bidang makanan seperti Ramen dan berbagai produk yang berbentuk Mie instan.
Setiap ahir pekan kami selalu di bawa oleh ibu untuk menjenguk ayah, waktu itu Kim Nana masih terlalu kecil untuk mencerna setiap kalimat yang di lontarkan teman temanya.
Dan di waktu malam aku selalu mendengar tangis ibu yang menyayat hati, ibu percaya bahwasanya ayah di jebak oleh seseorang untuk menjatuhkan dirinya karena ayah selalu berhasil menggaet client untuk bekerja sama dengan perusahaan nya.
Tak tanggung tanggung, ayah pun di promosikan menjadi manager pemasaran.
Namun kebagian itu tak berlangsung lama, hingga acara syukuran kenaikan jabatan yang kami selenggarakan kecil kecilan di rumah kami berantakan begitu saja.
Tiba tiba polisi datang menjemput ayah dan membawanya. Aku dan Kim Nana yang masih kecil hanya kebingungan, apalagi melihat ibu menangis meraung raung karena melihat ayah di tarik paksa oleh polisi dengan dugaan korupsi yang ayah sendiri tidak melakukannya sama sekali.
Aku dan Kim Nana selalu di bully di sekolah oleh teman teman kami.
Sampai akhirnya Aku tak bisa menahan emosiku lagi, darahku memuncak hingga ubun ubun, sangking kelewat marah, akhirnya ku dorong salah satu murid yang sudah mem bully Aku dan Kim Nana di anak tangga.
Para murid berdatangan hanya untuk melihat situasi kami, sampai seorang yang bernama Mingguk terjatuh dari anak tangga lantai dua di sekolah.
Aku pikir lukanya tidak parah, namun ternyata salah, dia mengalami latah tulang akibat kecerobohanku. para guru pun berdatangan menyaksikan Mingguk yang terkapar di lantai.
Mingguk langsung di bawa k rumah sakit, Orang tuanya pun meminta pertanggung jawaban pada kami.
__ADS_1
Aku hampir saja di jebloskan ke penjara, namun karena permohonan ibuku, aku tidak jadi di laporkan polisi oleh kelurahan Mingguk, namun mereka meminta pertanggung jawaban serta di aku dan Kim Nana tak boleh lagi sekolah di sini.
Waktu kian berputar, Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Sudah dua bulan semenjak kejadian ayah di penjara sedangkan ibu harus bertanggung jawab membiayai korban yang aku dorong di lantai anak tangga sekolah.
Ibu terpaksa harus menjual semua yang kami punya tanpa tersisa sedikit pun demi mengganti rugi akibat kecerobohanku.
Akhirnya kami terpaksa pindah dari sekolah, karena rumah kami pun pindah.
Kami tinggal di desa terpencil, namun sebisa mungkin setiap sebulan sekali kami menjenguk ayah di penjara yang berada di kota.
Setahun sudah berlalu, kami pun sudah terbiasa tanpa kehadiran sosok ayah.
Sosok yang seharusnya hadir di tengah tengah kami, melindungi kami, memberi tempat tinggal yang nyaman untuk kami tempati, membiayai sekolah kami bahkan sekedar memberi makan pada kami sudah tak bisa ia lakukan lagi.
Akibat dari perbuatan seseorang yang tega memfitnah ayah kami yang sedang berjuang dan bekerja untuk menafkahi keluarganya.
...****************...
Tak jarang aku melihat hidungnya mengeluarkan darah segar.
Setiap kali aku mempertanyakan kondisinya, ibu selalu menjawab ia baik baik saja.
Diapun memaksakan dirinya untuk bekerja agar anak anaknya bisa makan dan tidak kelaparan.
Namun di hari yang tidak di sangka sangka, dimana ibu sedang bekerja membersihkan piring serta peralatan makan di sebuah restoran yang lumayan ramai di desa kami.
Ibu pingsan di tempat, Aku dan Kim Nana yang sedang bermain berdua di kagetkan dengan kondisi ibu yang tiba tiba di gotong oleh dua orang laki laki yang menolongnya, membawa ibu sampai ke rumah kami.
Kim Nana yang masih kecil belum mengerti apa apa, tapi nurani seorang anak kecil pasti akan peka jika terjadi sesuatu terhadap orang tersayangnya, apalagi ibunya sendiri.
__ADS_1
Dia menangis menjadi jadi, Aku hanya bisa memeluknya dan memberi kekuatan padanya bahwa ibu pasti baik baik saja.
...****************...
Empat hari ibu terbaring lemas tak berdaya, stok makanan pun sudah habis, untuk meminta pada tetangga, kami sudah merasa malu karena terlalu seringnya kami meminta.
Kadang , bukanya memberi, mereka malah mencaci.
Tak ayal aku mencuri makanan mereka untuk menyuapi ibu agar tak semakin lemas.
Hingga dari kejauhan setelah aku mengambil beberapa ubi di kebun tetangga, aku melihat sosok yang amat aku kenal.
Dia lah Kim Taehyung, sosok ayah yang selalu kami rindukan kepulangannya.
Aku dan Kim Nana berlari menghambur ke pelukan ayah, orang yang selalu kami impi impikan, orang yang selalu kami rindukan kehadiran nya yang lama terpisah, karena tuduhan seseorang yang dengan tega memfitnah ayah.
Dan hari ini, hari yang kami tunggu tunggu setalah sekian lama kami hidup tanpa sosok ayah, ayah pun kembali ke pelukan kami.
Membawa harapan besar untuk hidup kami, terutama ibu yang harus segera di bawa ke rumah sakit agar cepat di tangani.
Ketika melihat kondisi ibu, ayah kaget sekaligus panik.
Dengan segera ia membopong ibu menuju mobil yang ia parkir agak jauh dari tempat tinggal kami.
Ibu Pun di larikan ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan dan penanganan yang tepat. Aku dan Kim Nana merasa tenang, mungkin ini jawaban dari Tuhan atas doa doa yang kami panjatkan.
Setalah sampai di rumah sakit, dokter menyarankan ibu untuk di rawat beberapa hari sampai kondisinya membaik.
Ayah tak membolehkan Aku Dan Kim Nana menjaga ibu di sini, di samping kami terlalu kecil untuk menjaga ibu, ayah ingin Aku pulang ke rumahnya untuk beristirahat.
Tentu kami senang, namun tak di pungkiri ada rasa sedih berjauhan dari ibu. Namun ini yang terbaik untuk kita semua bukan?.
__ADS_1
Setelah sampai di kediaman ayah, Aku di buat terkejut oleh Pemandangan yang luar biasa indah.
Rumah ini terlalu besar untuk orang yang baru saja keluar dari penjara, bahkan lebih besar dari rumah kami yang dulu, Aku sempat berfikir, benarkah ayah melakukan tindak kejahatan korupsi seperti yang di tuduhkan?.