
Jam yang bertengger di dinding menunjukan angka 03.15 sore, Anisa dan mbak lala pun bersiap siap ke rumah juragan Basir, juragan yang terkenal akan kambingnya yang banyak serta sering meminjamkan sejumlah uang dengan bunga yang mencekik, namun juragan Basir tak mau di panggil rentenir. Dia lebih senang di panggil dengan sebutan juragan kambing.
"Pakai ini" ucap mbak lala sambil menyerahkan satu kotak berukuran kecil.
Anisa pun membukanya, dia melihat ada benda kecil melingkar membentuk lingkaran.
"Ini apa mbak??. kok kecil amat. Ya ngga muat lah mbak di jariku. Tuh liat!!, di jari kelingking ku aja ngga masuk apa lagi jempolku" ucap Anisa dengan memperagakan cincin kecil yang dia masukan dengan susah payah ke jarinya.
Kepala Anisa tiba tiba di toyor oleh mbak lala, dengan ekspresi meng-aduh Anisa pun mengelus pujuk kepalanya yang kena toyoran mbak lala tadi.
"Sakit tau mbak"
"Ya habisnya, kamu ini gimana sih Nis, udah tau cincin segede bolongan hidung Si Basir, malah tetep kamu paksa pake ke jari!..Ya ngga bakal muat atuuuhh..!!! Ucap mbak lala sambil menggeleng.
"Hehehe.. Habisnya mbak lala kan yang nyuruh aku pake ini, ya udah aku coba ajah di jariku, eeh nyatanya nggak muat"
"Ya kan kamu bisa pake kalung kamu ini loh nis, tinggal masukin cincin ke ujung kalung, nanti kan bisa jadi liontin" ucap mbak lala sambil geregetan.
"Oke!! Aku masukin nih Lubang hidungnya juragan Basir ke ujung kalung. Taraaaa!!!! Jadi deh"
"HA HA HA HA" Tawa Anisa dan mbak lala pun menggema, tak ada rasa canggung di antara keduanya.
Kini mereka berdua semakin akrab, tak ada rasa canggung seperti awal pertemuan mereka. Mungkin sikap mbak lala berubah jadi perhatian ke anisa setelah Anisa membantu mbak lala ketika dia terpleset jatuh ke kolam ikan lele di belakang rumahnya.
Entahlah, hanya mbak lala yang tahu. Namun perubahan sikapnya terhadap Anisa, menjadikan Anisa merasa nyaman jikalau mengobrol dengan mbak lala.
...****************...
Sinar matahari mulai redup menandakan sang surya hari ini telah selesai melaksanakan tugasnya, awan putih berubah dengan sorot berwarna jingga menambah indah pemandangan di langit yang lepas.
Hamparan tanah Luas dengan rumput yang agak tinggi, dimana anak anak kecil dan para remaja berlari kesana kemari memainkan sebuah benda bulat yang jadi rebutan.
Dengan lincahnya kaki mereka mengayunkan benda tersebut hingga benda tersebut menggelinding dari kaki ke kaki.
Benda itu menggiring ke perbatasan lawan, semua orang menyebutnya bola.
Indahnya suasana di kampung ini yang masih asri, ditambah suara ibu ibu memanggil anak anaknya yang berada di lapangan tersebut sambil menjewer telinga anak kecil yang tak kunjung menyahut panggilan ibunya untuk segera mandi ataupun ritual sore yaitu mengaji.
__ADS_1
Suara tawa para remaja pun tak luput dari pandangan mata Anisa dan lala yang melewati tempat itu.
Tepat jam 17.25 Anisa dan mbak lala sampai ke kediaman juragan Basir, rumah yang bercat dinding warna hijau muda serta pagarnya dengan warna coklat. rumah yang paling besar di antara rumah rumah yang lain.
"Assalamu'alaikum" ucap mbak lala dan Agnes berbarengan.
"Wa'alaikum salam" jawab ibu ibu paruh bayah yang di taksir berusia 55 tahun dengan pakaian kemben dan jarik khas orang jaman dahulu. Senyum ikhlas wanita tua itu terukir menyambut dua wanita di hadapannya.
"Silahkan masuk neng, kalian berdua sudah di tunggu dari tadi oleh juragan Basir di ruang tamu" ucap wanita tua itu.
"Terimakasih Bik" jawab Agnes.
"Perkenalkan, Saya istri pertamanya juragan Basir, Bu Endang namanya" jelas wanita paruh baya itu sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Oh.. Aduuuh maaf buk, saya kira ibu adalah salah satu pelayanan di rumah ini, sekali lagi saya minta maaf Bu" ujar mba lala memberi penjelasan.
"Iya gapapa kok, ayuk ayuk masuk, jangan sungkan yah".
Agnes dan Mbak lala pun mengikuti langkah Bu endang menemui juragan Basir.
'Sempurna'. batinnya, Sambil mengelus Tiga helai jenggot yang tumbuh di dagunya.
"Nanti malam kamu langsung bekerja, Kamu temani saya menemui seseorang di daerah perbatasan kota, bisa??. Harus bisa dong. HA HA HA"
"Kiranya kalau boleh tahu, pekerjaan apa yah juragan?". Tanya Agnes dengan kedua tangannya saling menggenggam.
"Kamu hanya menemani saya saja menemui seseorang, Mungkin, dengan adanya kamu, Bos saya akan puas dengan kinerja saya, HA HA HA"
...****************...
Juragan Basir dan juga Agnes pergi ke perbatasan kota, tak luput juga ada 5 bodyguard yang menemani perjalanan mereka.
Setelah sampai di sebuah villa dengan pemandangan yang luar biasa indah, Bintang bintang bertebaran, cahaya lampu yang Agnes lihat di bawah adalah lampu lampu milik rumah warga yang letaknya lebih rendah dari villa ini.
mereka pun masuk dengan memperlihatkan undangan yang secara khusus di peruntukan untuk tamu tertentu, termasuk Basir.
Basir pun langsung menghambur bersama tamu tamu yang lain.
__ADS_1
Matanya tak lepas dari mencari keberadaan seseorang, Dengan senyum tersungging dia menemukan seseorang yang telah dia cari sedari tadi. Dia adalah Big boss nya.
Basir pun melangkah menuju meja tempat Big bosnya duduk.
"Selamat malam Big Boss ku, Kim Nana yang terhormat" ucap Basir dengan badan yang membungkuk serta melebarkan
tangannya.
"Bagaimana kabar Tuan nana?," Lanjut basir basa basi.
"Baik, bagaimana perkembangan bisnis kamu, Basir? "
"Lahan Enam ratus hektar sawah sudah saya tanami ga-nj-a, dengan bagian depannya saya tutupi dengan rumput biasa dan Kandang kambing mengitari lahan tersebut.
"Bagus bagus, saya suka cara berpikir kamu! " kata kim nana.
"Oh iya, Tuan. Saya punya hadiah untuk Tuan, sebagai bentuk terimakasih karena tuan telah banyak membantu bisnis saya"
"Hadiah????.. Hmmmm..??. Oke, mana hadiahnya" tanya kim nana dengan antusias.
Basir pun menepuk kedua tangannya ke arah Agnes duduk yang berada di meja agak jauh dari mereka. Agnes pun datang mendekati Keduanya yang sedang duduk sambil menghisap cerutu.
"Ini tuan, namanya Agnes, anaknya polos, tapi cantik, bukan?? " ucap basir mengenalkan Agnes ke kim nana.
"Ini hadiah special untuk Tuan nana, kalau Tuan tidak mau, terpaksa saya nikmati sendiri,. HA HA HA" lanjut basir sambil tertawa.
Kim nana pun mengarahkan wajahnya ke atas, melihat siapa gadis di depannya yang di jadikan hadiah eh basir.
Kim nana pun bangun dari duduknya, memindai wanita di hadapannya dari atas sampai bawah, namun dia membeku ketika melihat sebuah kalung melingkar di leher gadis muda itu.
Tangannya hendak menyentuh kalung dengan liontin cincin bayi yang amat ia kenal. Namun di tangkis oleh Agnes, Agnes yang merasa risih dengan perlakuan kim nana dengan tiba tiba menyentuh kalungnya.
"Dapat dari mana kamu Cincin ini" tanya nana kepada Agnes. Agnes pun diam seribu bahasa.
Wajah kim nana memerah, bagai darah yang mendidih tubuhnya pun ikut menegang membayangkan peristiwa 18 tahun lalu. Dengan amarah yang memuncak , di ambilah pis-tol di saku celananya.
"DOOORRR.. DOOORRR.. DOOORRR..." Suara sena-pan beruntun mengenai bagian dada seseorang, di susul badanya terkapar di tempat.
__ADS_1