
Tiga bulan berlalu, Anisa menunjukan kondisi yang lebih baik, kini ia mulai belajar mengingat sesuatu, namun hasilnya nihil karena akibat overdosis, syaraf otaknya mengalami sedikit kelemahan, dan itu juga yang menyebabkan ia sekarang tidak bisa berjalan.
...****************...
Setelah kegiatan terapi selama 3 bulan, Anisa bisa menggerakkan kakinya, ia mencoba berjalan walau hanya lima langkah yang bisa ia lakukan, tak jarang ia selalu terjatuh dan terjatuh.
Di kursi roda Anisa menikmati suasana sore yang menyejukkan, di temani oleh seorang perawat bernama Heni.
Di belakang rumah elit dengan pagar yang tinggi menjulang, terdapat kolam renang besar dan taman yang di hiasi pepohonan kecil serta bertengger pohon kelapa di pojok kanan dan kirinya serta di bagian tengahnya terdapat saung kecil.
Heni pamit ingin mengambil obat Anisa, dia pun meninggalkan Anisa seorang diri didekat saung itu.
"Blubuk..blubuk".
Suara itu mengalihkan perhatian anisa ketika menikmati buah anggur, ia pun menoleh ke sisi kanan tepat di depan kolam renang, ia melihat tangan melambai lambai.
Dengan menggerakkan kursi roda Anisa mendekat, dia kaget ketika tangan kecil seakan akan melambai lambai kearahnya.
"Tolong.. tolong" teriak Anisa kebingungan, dia pun celingukan.
Tangan yang melambai lambai tadi tiba tiba hilang dari pandangan, Anisa panik dia khawatir anak kecil itu tenggelam.
Tanpa dia sadari, ia reflek berlari kearah kolam lalu menceburkan dirinya kedalam, ia gegas berenang lalu menarik tangan kecil itu keluar kolam.
Dengan nafas yang masih memburu dia melakukan pertolongan pertama yang pernah ia pelajari di sekolahnya dulu.
Beberapa orang berhamburan mendekati Anisa yang sedang melakukan pertolongan, salah satunya adalah Tuan Ramzi, ia langsung memberikan nafas buatan dan memompa bagian dada anak kecil tersebut.
"Bangun Ana, Tolong sadarlah"
"Ana kumohon, bangun sayang." lanjutnya, sambil menggesek gesekan telapak tangan Ana agar memberi kehangatan pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu terbatuk, hingga air pun ikut keluar dari mulutnya.
Tuan Ramzi bersyukur lalu menyuruh bodyguard nya menyiapkan mobil untuk membawa Ana ke rumah sakit.
Tuan Ramzi berlari keluar rumah ke arah mobil dan di ikuti beberapa orang termasuk Anisa, Tuan Ramzi berteriak pada Heni untuk tetap menjaga Anisa, sambil menatap kearah belakang Ramzi di buat terkejut ketika Anisa berlari mengikuti nya.
__ADS_1
Senang??.
Tentu,, itu yang di rasakan Ramzi melihat Anisa berdiri bahkan Anisa bisa berlari, namun ia tidak bisa tetap tinggal, dia harus melanjutkan tujuannya membawa Ana ke rumah sakit.
...****************...
Di dalam kamar, Anisa duduk di bagian sisi ranjang, Heni pun ikut terkejut dengan pemandangan yang tidak terduga ini, sama halnya dengan Anisa, dia pun ikut terkejut sekaligus bahagia.
Heni segera memastikan kondisi Anisa, mengecek bagian kakinya lalu menghubungi Dokter Irfan lewat sambungan telfon.
Tiga puluh menit berlalu Dokter Irfan pun tiba di kediaman Ramzi.
Selain Heni, Ramzi pun ikut menghubungi Dokter Irfan tadi sewaktu di dalam mobil menuju ke rumah sakit.
"Waah,,!! syukurlah Anisa!!..
Kesehatanmu semakin membaik, bahkan sekarang kamu bisa berjalan, Selamat ya."
Kata dokter sambil memeriksa detak jantung menggunakan stetoskop, kemudian menyuruhnya menggerakkan kaki menekuk dan meluruskan kaki berkali kali, merangsang otot syaraf agar tidak kaku.
"Iya Dok, terimakasih banyak atas bantuan dokter Irfan selama ini, terimakasih juga untuk suster Heni yang selalu ada untukku, dengan telaten merawat ku. Terimakasih banyak untuk kalian".
...****************...
Keesokan harinya pukul 11.00 siang, Tuan Ramzi pulang ke rumah dengan menggendong gadis kecil berkepang kuda dengan kaos berwarna putih bergambar detektif Conan kartun kesukaannya.
Setelah dinyatakan kondisi Gadis kecil itu baik baik saja, dokter membolehkan pasiennya pulang dengan catatan harus banyak beristirahat.
Betapa senangnya gadis kecil yang bernama Ana Mariana itu mendengar penjelasan dokter akan kepulangannya, diapun sudah tidak betah tinggal terlalu lama di rumah sakit ini. karena sore ini Ibunya akan mengajaknya menonton serial kartun kesukaannya yaitu detektif Conan.
"Aku sudah memesan 3 tiket detektif conan loh, ayah, kita akan menonton bersama ibu di bioskop ya ya ya?"
"Ibu berjanji kalau minggu ini dia akan datang menemui aku, aku rindu ibu," lanjutnya sambil terisak.
"Baiklah, demi tuan putri ayah yang cantik ini pasti semua akan ayah lakukan." Ucap Ramzi menenangkan hati Ana.
"Tapi..??. " Lanjutnya menggantung.
__ADS_1
"Tapi apa ayah??" tanya Ana merengek.
"Tapi.. Dengan syarat, kondisimu membaik.
Bila nanti ayah lihat kamu drop lagi maka acara menonton bersama akan di batalkan, bagaimana?"
"Baik.!!
Baik ayah, Aku bakalan minum obat yang banyak biar cepat pulih, bila perlu obatnya nanti aku habiskan biar langsung sehat, iya kan ayah?" ujar Ana sambil tersenyum menampakan gigi ompong nya.
"Ha ha ha.. Engga begitu konsepnya sayang?, Minum obat memang harus teratur tapi sesuai petunjuk dari dokter saja, jangan sampai kurang apalagi sampai di habiskan dalam sekali minum." jelas ramzi sambil terkekeh pelan.
"oke oke oke, , Aku sayang ayah," ucap Ana sambil mencium pipi Ramzi.
'Jangan sampai kamu mengecewakan putriku, Alice " Batinnya sambil mengingat masa lalu yang kelam.
Masa lalu dimana Alice meninggalkan Ana Mariana demi laki laki lain bernama Antoni.
Ketika Ana Mariana berumur satu tahun, Arga adik dari Ramzi ingin memberi kejutan kepada keluarga kecilnya. dia yang berada di London untuk urusan pekerjaan tidak memberi tahu kepulangannya yang mendadak.
Sampai pada akhirnya kecelakaan yang tak terelakan terjadi, dimana Arga menyaksikan sendiri perselingkuhan Alice dengan Pria bernama Antoni, yang adalah rekan bisnisnya.
Di kamar yang biasa Arga dan Alice tempati, ranjang untuk menghilangkan lelah, sekaligus tempat peraduan cinta mereka.
Namun kini ternodai dengan kelakuan bejad Alice dan Antoni.
kemarahan Arga tak terbendung sampai akhirnya dia membawa Ana pergi meninggalkan rumah terkutuk itu, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dalam keadaan hati yang panas dan pikiran kalut.
"Duaamm!! bruugg!! bruugg!! ngriittt" Dentuman benda keras dan suara rem beradu.
Dua mobil saling bertabrakan di tengah curahan hujan yang deras.
2 Orang tewas dan menyisakan Ana Mariana bayi kecil nan lucu dengan suara tangis dan badan penuh dengan darah bercampur air hujan.
...****************...
Polisi dan ambulance datang membantu evakuasi kecelakaan tersebut.
__ADS_1
Ramzi yang sedang mengadakan pertemuan bisnis dengan client nya di Hotel bintang lima jakarta, tiba tiba mendapat telpon dari pihak kepolisian untuk datang ke TKP, gegas ia pergi meninggalkan client nya, walaupun harus membatalkan perjanjian bisnis yang bernilai milyaran tersebut.
Sesampainya di TKP dia langsung memeluk Ana Mariana yang di gendong oleh seorang petugas kepolisian dengan tubuh yang penuh luka dan darah menghiasi seluruh badanya .