
Wajah kim nana memerah, bagai darah yang mendidih tubuhnya pun ikut menegang membayangkan peristiwa 18 tahun lalu. Dengan amarah yang memuncak , di ambilah pis-tol di saku celananya.
"DOOORRR.. DOOORRR.. DOOORRR..." Suara sena-pan beruntun mengenai bagian dada seseorang, di susul badannya terkapar di tempat.
Semua tamu di buat terkejut, begitu juga dengan wanita muda di hadapannya, dialah Agnes.
Tubuh Agnes kaku, bahkan untuk menggeser kakinya saja dia tak mampu saking syoknya.
Bahkan Agnes tak mengira pembalasan dendam untuk neneknya berjalan terlalu cepat.
Basir meninggal tanpa ia harus mengotori tangannya sendiri, harusnya itu hal yang menyenangkan untuk Agnes, tapi hatinya merasa janggal.
Namun itu sudah hal yang biasa bagi seorang kim nana, dan para tamu yang notabenya adalah rekan bisnis dan bagian dari gangster ninja hitam pun tak mempermasalahkannya, toh yang berkuasa adalah bosnya, dia boleh bertindak sesuka hatinya.
Sebuah tangan menarik kuat pergelangan tangan agnes menuju ke sebuah ruangan yang lebih sepi.
Dengan tatapan yang yang tajam, Nana berhasil membuat Agnes semakin ketakutan.
Tangan kekar itu lalu menyentuh kalung yang melingkar di leher Agnes, kemudian tangannya berpindah ke liontin cincin bayi.
Kim nana menyuruh Agnes segera melepas kalungnya, dia memeriksa setiap inci liontin tersebut, tepat di bagian belakang liontin terdapat sebuah huruf kecil yang tak akan bisa terbaca oleh kasat mata.
Kim nana pun menyuruh bodyguard mengambil sebuah kaca pembesar.
Setelah 10 menit berlalu kim nana menemukan simbol yang amat dia kenal, karena cincin tersebut di pesan khusus untuk putrinya yang masih bayi.
Putri tercinta dari buah cintanya bersama Reina, Putri yang selama 18 tahun ia cari cari keberadaanya, namun takdir mempertemukan mereka di saat yang tidak tepat. Karena nana berfikir Basirlah yang menculik putri tercintanya, sampai dia besar malah putrinya akan dijadikan alat penghasil uang.
Orang tua mana yang tak sakit hatinya, maka dari itu setelah kim nana mendengar basir akan menikmati tu-buh putrinya, Darah kim nana langsung mengalir lebih cepat bak genderang.
"Siapa namamu tadi? "
Tanya nana setelah selesai memeriksa cincin bayi tersebut.
"A-ag-nes tuan" jawab Agnes terbata.
Tangan nana bergetar, ada rasa haru yang menyeruak, ada rasa senang yang tak terkendali, hingga isakan tangis terdengar sampai punggungnya ikut bergetar.
"Anaku.. Anaku"
Tiba tiba nana memeluk Agnes dengan sangat kencang. Agnes yang mendapat perlakuan tersebut pun bingung, sekaligus dia merasa sesak nafas, karena pelukan nana begitu kuat sampai sampai menghalangi oksigen yang akan Agnes hirup.
Setelah acara pesta selesai, villa begitu terasa amat sepi, karena tamu sudah pulang tepat di jam 23.45 wib.
Yang tersisa hanyalah Agnes, kim nana serta 20 bodyguard namun mereka hanya di depan rumah mengawasi setiap sudut.
Kim nana meminta Agnes untuk tetap tinggal agar ia bisa beristirahat.
__ADS_1
Setelah sekian 18 tahun ia mencari keberadaan anaknya, sekarang di hadapan nya berdiri sosok yang dia anggap putrinya karena ada bukti cincin bayi tersebut.
Kim nana pun tak banyak bertanya perihal kehidupan Agnes, ia takut Agnes merasa risih dan takut di awal pertemuan mereka.
Kim nana menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan kehidupan Agnes selama ini.
Namun di hatinya ia yakin, bahwa di hadapannya gadis lugu yang di bawa Basir sebagai hadiah persembahan adalah Anaknya, anak yang ia cari selama 18 ia cari dan tak kunjung di temukan.
...****************...
Siluet cahaya menembus gorden putih di sebuah kamar besar yang di tempati oleh gadis cantik, ia pun mengucek lembut mata yang masih setengah mengatup.
Dia pun meregangkan badanya yang terasa sudah segar kembali karena tidur panjangnya lumayan cukup.
Ketukan pintu dari arah luar mengagetkan aktifitasnya.
Dia pun segera turun dari ranjang lalu membuka sedikit daun pintu.
"Kata Big bos, kamu harus segera turun ke lantai bawah, ini sudah jam 10.00 , sedangkan kamu belum sarapan. Bos sengaja menunggumu dari tadi, dia pun melewatkan jam sarapan ya demi bisa makan bersama kamu" ucap seorang lelaki dengan kepala plontos yang ku kira adalah bodyguard.
"Ba-baik, Nanti say-a akan turun setelah membersihkan diri"
"Jangan lama lama, jangan sampai kamu bikin Big bos kita sakit!!.. PAHAM KAMU" ucap bodyguard.
Setelah ritual membersihkan diri selesai, Agnes duduk di tepi ranjang, sambil pikirannya melanglang buana ketika di rumah mbak lala dia di berikan cincin bayi itu, dia tak habis pikir, niatnya membalaskan dendam neneknya malah berujung menjadi anak Big bos dari gangster ninja hitam.
Gumam anisa yang sekarang berganti nama menjadi Agnes.
Diapun turun ke lantai bawah menemui Kim nana yang berada di ruang makan, di sana mata Agnes di buat takjub akan banyaknya hidangan yang tersedia.
Bahkan menu yang tersaji di meja bisa berputar sendiri, Agnes melongo, tak terasa air liurnya sedikit menetes, sampai suara panggilan membangunkan lamunannya.
Agnes pun mendekat, tiba tiba kim nana menarik kursi yang berada di sampingnya, sambil menepuk nepuk dudukan kursi.
"Duduklah di sini" perintah kim nana.
Mereka saling diam, hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu.
"Nanti jam 11.00 temani saya pergi ke suatu tempat, kamu bersiaplah siaplah" ucap kim nana memulai percakapan agar tak canggung, sambil menyuapkan satu potong steak kedalam mulutnya.
Agnes pun hanya menangguk.
...****************...
Tepat di jam 11.00 Agnes dan kim nana pergi menggunakan mobil sedan hitam.
Mereka menuju sebuah rumah RSJSH yang berada di kota jakarta. Empat jam perjalanan dari perbatasan kota menuju jakarta.
__ADS_1
Setibanya mereka di tempat yang di tuju, agnes menatap intens orang yang mengira anaknya itu.
Dengan ragu ia bertanya perihal kedatanganya kemari untuk tujuan apa.
"Bo-boleh saya bertanya, tuan? " ucap Agnes.
"Heemm"
"Untuk apa kita datang kesini tuan? " tanya agnes kemudian.
"Ikuti saja aku, nanti kamu akan tahu jawabannya di dalam" jawab Nana sambil keluar dari mobil menuju lobby utama Rumah sakit.
Agnes pun mengikuti langkah Nana di belakang .
Sesampainya di area taman, kim Nana tiba tiba berhenti dengan mendadak, Agnes yang berjalan dengan melamun tiba tiba menabrak punggung kim Nana.
"ADUUUHHH.. SAKIT"
Seketika banyak pasang mata memandang mereka, salah satunya adalah wanita yang menjadi tujuan utama kim Nana membawa Agnes datang kesini.
Dia lah Reina, wanita yang selalu ada dalam lubuk hati yang paling dalam, Namanya tak pernah hilang di makan usia di dalam benak sang suami tercintanya.
Mata Reina memandang dua manusia yang menjadi pusat perhatian kawanannya.
Reina mulai mendekat, menatap sendu sang suami.
"HA HA HA" suara tawa Reina menunjuk kim nana.
"HUUWWAA.. HU.. HU.. HU"
Setelah tertawa tiba tiba Reina menangis.
Agnes yang masih sibuk mengusap pujuk kepalanya sendiri akibat kejadian tadi merasa penasaran dengan apa yang ada di hadapan kim nana.
Dia yang masih di belakang tubuh kim Nana, kemudian melangkah kesamping, merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
Tangis Reina terhenti kala melihat sosok wanita muda yang di bawa oleh kim nana.
Reina pun mendekati Agnes, membuang boneka yang di gendongannya ke arah samping.
Tubuhnya menghambur memeluk Agnes dengan kuat.
Tangisnya tak terbendung kala melihat wanita muda dihadapannya memakai kalung berliontin cincin bayi.
"PUTRIKU.. HU HU HU. . PUTRIKU...!!! " Tangis Reina kian menjadi, hingga Agnes merasa tubuhnya semakin berat.
Reina pingsan di pelukan Agnes, dengan banyaknya pertanyaan di kepala Agnes tentang siapa wanita ini, kenapa kondisinya memprihatinkan, apa yang terjadi sebelumnya, menjadi tugas nana untuk menjawabnya.
__ADS_1