
Waktu berjalan, 4 bulan sudah usia pernikahan Aya dan Vier. Dan hubungan pernikahan kedua nya belum menunjukan adanya tanda-tanda perkembangan juga.
Setiap pagi seperti hari-hari biasanya, aya akan bangun lebih dahulu dari Vier. Mandi, merapikan diri, merias tipis wajahnya, dan menyiapkan semua keperluan Vier, barulah Aya beranjak turun membantu BI ima menyiapkan makanan dan minum untuk sarapan mereka. Tapi hari ini Aya membuatnya sendiri tanpa menunggu BI ima, karna Aya sudah dapat melakukannya sendiri, itu karna hasil yang didapatkan dari kursus nya selama ini.
Yang sebenarnya Aya sudah bisa dari bulan bulan sebelumnya. Hanya saja masih untuk diri sendiri, Aya membuat sarapan, semua yang sudah ia pelajari, ilmu yang didapatkan dari kursusnya tersebut. Jadi untuk Vier dia masih menyuruh Bi ima menyiapkannya. hal itu diketahui vier, karna selalu mendapatkan menu yang berbeda dengan Aya. Ketidak pedulian nya memuat Vier pun tidak menjadikannya masalah hal tersebut. Tapi tetap sebenarnya ada rasa penasaran dari mulutnya ingin mencicipi. Hanya keegoisan nya juga Vier enggan meminta.
Selepas Vier berangkat kekantor, aya biasa nya pun akan langsung berangkat baik itu kunjungan ke tempat bisnis online nya ataupun juga kursus yang masih di ikutinya.
Lebih lagi setelah Aya menikah, memang berencana menambahkan usahanya yaitu bisnis Wedding Organizer, karena pengalaman dari pernikahannya itu, memunculkan GAERAH CINTA untuk membantu merencanakan kebahagian sepasang kekasih untuk menuju ke pernikahan yang berkesan dan membahagiakannya.
Jadi Aya memang sedang sibuk mempelajari ini itu, banyak hal untuk memulai bisnisnya tersebut. Yang tak kalah penting adalah menemukan orang-orang yang tepat untuk membantu dalam mengelola bisnisnya, supaya bisnisnya itu tidak membuat aya menelantarkan tanggungjawabnya sebagai seorang istri dirumah.
***
Duduk di ruang tamu sambil mencercap minumannya sekali-sekali memandang melalui jendela rumahnya. Tidak ada niatan sedikitpun untuk Aya menghindari pemandangan yang menyakitkan sebenarnya.
Tidak pernah melewatinya bahkan moment Vier dengan lana. karna itu sekaligus memotifasinya untuk selalu bertahan, kuat berjuang didalam hidupnya . sekalipun sering kali, pun setelah melihat, selalu ada butiran air mata turun.
Bahwa kenyataan yang dihadapi Aya setiap paginya adalah, harus melihat pemandangan, bukan nya sekali dalam satu Minggu bahkan lebih sering.
Pertemuan dipagi hari Vier dengan Lana semakin lebih sering terjadi. Bahkan dengan santai, cueknya, tanpa rasa risih , apalagi merasa bersalah, Vier Dan Lana duduk bercengkrama, terkadang terlihat tertawa,di bangku depan di taman rumah, selepas mereka menyebutnya dengan olah raga.
"Apa kalian mau aku antarkan minuman dan makanan untuk sarapan di sini." Tanpa ada niat menyapa Lana , Aya mendekat dan bertanya pada Vier.
__ADS_1
"Kamu mau sarapan disini lan bersama ku." dengan senyuman Vier bertanya pada Lana tanpa menjawab Aya yang bertanya pada nya.
"Boleh kalo tidak merepotkan, trimakasih ya "kata Lana tanpa basa-basi sambil senyum Memandang Aya.
Entah apa maksud senyuman Lana yang ditujukan pada Aya. senyuman kemenangankah?
Tapi untuk Aya itu senyuman yang mengejek dirinya. tanpa memperdulikan hal itu, Aya kembali kedapur dengan muka yang masam, geram melihat tingkah dan sikap lana didepan suaminya. tidak mengurungkan niatnya, Aya menyuruh Bi ima mengantarkan minum dan makan untuk sarapan yang tujuan sebenarnya hanyalah Vier suaminya.
'Arrghh..ga takut karma apa gangguin suami orang, Vier juga kalo memang cinta sama dia ...knpa siiii ga nikahi dia saja. bikin aku terjebak dalam pernikahan ini aja.' pikir Aya saat berjalan menuju ke dapur.
" Bi antar ini ke Tuan Vier Dan temannya di depan ya." dengan heran tanpa bertanya BI ima mengiyakan. bingung dengan nona nya itu.
"Makasih ya bi, aroma coklatnya harum sekali, belum lagi roti lapisnya terlihat enak. bibi hebat, pintar sekali membuatnya." ucapan Lana memberi pujian untuk bi ima. Yang di ikuti keheranan di wajah Vier Tapi enggan bertanya pada BI ima, dan tidak berkomentar karna ada yang berbeda dengan menu sarapannya kali ini.
Bibi hendak menjawab tapi diurungkan niatnya, hanya senyum kecil. "Silahkan Tuan, nona, selamat menikmati." BI ima berjalan masuk dengan menggelengkan kepala tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya, setelah mendapat anggukan bersamaan Vier juga Lana.
Mencium aroma dari minumannya terlebih dahulu, lalu berlahan mencercap minuman coklatnya yang masih hangat tersebut 'sepertinya hasil dari dia kursus cukup bagus...coklat ini sungguh benar-benar enak, aku yakin ini bukan buatan bibi' tetap dalam diamnya Vier mencoba Roti lapis nya itu. Dengan wajah keterkejutannya tapi berusaha tak ia tampakkan di depan lana, benar-benar speechless vier. 'Ini sungguh enak.' tanpa sadar senyum nya merekah diwajah Vier.
Lana tanpa sengaja melihat Raut wajah Vier Dan bertanya. "Hei kamu kenapa Vier, tiba-tiba saja tersenyum seperti itu, membuat aku merinding, apa ada yang lucu? sepertinya kita tidak sedang berbicara apapun." menaikkan kepalanya yang tadi fokus pada makanannya kembali pada Lana, yang membuat Vier Dan Lana pun jadi tertawa bersama. "ah tidak-tidak, jangan kau berpikir kalo aku gila ya, hayuk habiskan sarapan kita". kata vier.
*
Vier masuk kedalam rumah dan dia sengaja melewati meja makan, dimana Aya sedang akan menikmati sarapannya. Vier melirik kearah hidangan yang disantap oleh aya, Vier pun mengambil posisi duduk depan mengambil Surat kabar pura-pura membaca. Berharap Aya mengajak dan menawarkan untuk sarapan lagi...karna melihatnya saja sudah bikin Vier merasa dirinya lapar kembali.
__ADS_1
Sedangkan Aya yang mengetahui Vier sedang melirik pada nya, lebih tepatnya pada makanan yang di hadapan aya, Aya pun pura-pura tidak melihat Vier.
"Sarapan mu berbeda dengan yang kamu hidangkan tadi pada ku, apa kah ada diskriminasi." Vier tanpa mengalihkan pandangannya dari surat kabar yang sebenarnya tidak dibacanya sama sekali, karna takut Aya mengetahui bahwa dirinya sangat menginginkan sarapan yang ada dihadapan Aya..
"Tak ingin saja memakan hidangan yang sama dengan kalian. lagian aku tadi taruh obat pencuci perut pada sarapan yang untuk kalian" jawab asal Aya, tanpa melihat ekspresi Vier membelalakkan mata padanya.
"Kamu gila apa kalo sampai kenapa-kenapa dengan ku dan Lana bagaiman." ucapan keras Vier penuh kekawatiran.
Tawa getir Aya melihat wajah Vier, " Kamu segitu mencemaskan nya , tapi apa kamu tidak mencemaskan perasaanku....a-ah iya harus tau posisi aku lupa, istri yang belum diinginkan suami."
Vier berdecak dengan Wajak tak suka "Tidak bisa apa pagi-pagi bikin suami itu tenang, senang.... hah. Gak penting, dan gak lucu bercandaan kamu."
"wah siapa yang gila kalo gini coba, bilang ga penting, siapa juga yang ngelucu.. dan siapa duluan yang memulai pagi hari nya dengan ketidak tenangan hah...hufff" guman aya tak jelas yang nyaris tak bisa didengar.
"Aku disini mendengar apa yang kau ucapkan" cukup membuat Aya menutup mulut terkejut mendengar ucapan Vier barusan. 'Bodoh amat' setelahnya batin aya.
' eeh tadi ga salah denger tuh ada yang bilang suami'. Aya lalu memandang Vier dengan tatapan tak percaya. dibalas tatapan tajam oleh Vier .
"Lupakan aku tak sejahat itu pada kalian. Apa kamu menginginkan sarapan ku ini, pilihlah mana yang kau mau, aku akan mengambilkan gelas untuk mu minum." wajah merona karna bahagia akhirnya bisa menikmati sup cream jagung yang sedari tadi membuat vier meneteskan air liurnya. Aya pun berjalan mengambil gelas untuk vier
Belum saja Aya duduk "Telor nya boleh aku makan juga ya" Vier menggeser piring nya jadi berada didepan Vier Tanpa menunggu persetujuan dari Aya. Dalam hati nya pun vier terus mengatakan 'Tak sia-sia dia ikut kursus, sarapan pagi ini benar-benar enak'. Dan mata aya hanya bisa mengikuti arah piring yang berisi sarapannya berpindah, tanpa bantahan.
__ADS_1
Senyum Aya penuh ke tulusan memandangi suaminya yang sedang menikmati semua sarapan yang dibuatnya itu. Tau Aya memperhatikan dan tau yang dipikirkan istrinya.
" Aku hanya merasa lapar , perlu asupan lebih pagi hari ini, jangan berpikir macam-macam." ayapun berdecah mencibirkan bibirnya. menghentakkan kakinya dengan kesal, membawa hati yang kecewa , terluka dengan perkataan Vier, Aya meninggalkan suaminya di meja makan menuju ke kamar untuk bersiap -siap kerja di onlineshop nya, menyelesaikan kursus yang di ikutinya, juga menyelesaikan persiapan membuka bisnis barunya itu.