
'Seharusnya aku tau perasaan veir untuk ku, tapi mengapa sesakit ini melihat kedekatan Vier dengan lana' memegang dada Aya dengan posisi meringkuk dibalik selimutnya, berusaha sekuat hati untuk tidak meneteskan air matanya. Aya tetaplah wanita, yang hatinya mudah terluka, yang mudah meneteskan air mata nya,lebih lagi dengan yang berhubungan soal cinta dan suami. Sekalipun didepan banyak orang terlihat kuat.
'arrgg...aku harus bagaimana, kenapa...kenapa hati ku tak bisa ku ajak kompromi.' Aya berteriak dalam hati
Buru-buru menghapus air matanya, terlihat aya berusaha menguatkan hatinya. bangkit dari tempat tidurnya, Aya memgambil pakaian untuk Vier kenakan, handuk dia siapkan dalam kamar mandi. setelah selesai menyiapkan keperluan Vier dikamar mandinya. Aya turun kedapur membantu bi Ima menyiapkan sarapan untuk mereka.
"ini minum, aku sudah buat untuk mu water infus, aku tau kamu akan lari pagi." setelah menyerahkan Aya langsung memutar tubuhnya membelakangi Vier "Cantik , boleh juga. oyaa.. sarapan mu udah siapa, serah kamu sekarang atau nanti setelah mandi kamu memakannya."
Vier mengernyitkan keningnya, berusaha memahami perkataan istrinya sambil menerima minuman yang di berikan oleh Aya dan tak lupa, " mmm makasih" ucap Vier
'Apa maksud dia itu Lana, apa dia benar-benar melihat....hello apa yang ku pikir, ya pasti walaupun sengaja atau tanpa sengaja pun dia pasti melihat. lagian aku dan Lana berdiri cukup lama depan gerbang rumah. tapi bodoh amat, siapa yang perduli soal itu.' pikir Vier Tanpa ragu meneguk habis water infus nya.
"ah segar nya enak juga minumannya". vier lupa atau lupa atau berpikir bi ima yang membuat water infus yang diminum nya sampai habis tanpa merasa bersalah setelah yang di lakukan nya barusan.
*
Hari demi hari, Minggu demi Minggu berjalan, hubungan Aya dan vierpun belum menunjukan perubahan, saat ini sudah satu bulan dan Vier Masih dengan sikap acuh nya, komunikasi pun ga terlalu banyak buat pasangan ini. Kedekatan, pertemuan Vier dengan Lana juga tetap dan tak berkurang.
Tidak kebetulan pagi ini Vier tiba-tiba duduk dimeja makan untuk sarapan.Tak mau membuang kesempatan, ayapun memulai percakapan.
"Vier bo-boleh kan kalo aku memulai melakukan aktifitas ku biasa seperti dulu." sambil menyuapkan sedok kemulutnya Vier menatap Aya.
"*sudah satu Bulan dirumah...aku coba pahami keadaan rumah, kamu, dan apa-apa saja yang harus aku lakukan."
"Aku akan kembali bekerja, aku gak akan melalaikan tanggung jawabku kok dirumah*" dengan tatapan penuh harap dan menampakan senyuman manisnya diwajah aya
__ADS_1
Harapan ingin jawaban dari Vier, ayapun Tak mengalihkan pandangannya dari wajah vier.
Gak berani untuk mengulang pertanyaan, Aya hanya bisa menunggu. Yang ditunggu ampun-ampun deh cuek nya kebangetan.. mesti sabar nya seluas lautan buat yang nunggu.
Akhirnya suara Vier "Aku kira mau berlagak jadi nyonya besar yang taunya trima uang dari suami. Lagian, memangnya aku pernah larang kamu, melakukan apa yang mau kamu lakukan....apa perlu buat surat perjanjian apa-apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan ,kalo perlu dengan sangsinya "
"Siapa juga yang suruh kamu sok-sok an ingin memahami dan mengetahui apa yang kulakukan. Mau berlagak jadi istri baik iya....didepanku.... pengaruh gitu buat ku ?.... tidak , tidak ada pengaruh sema sekali buat ku." tanpa menoleh tatapannya tetap pada sarapannya. Aya bangun dari duduknya mendekat kearah Vier dan menginjak kaki
Vier cukup keras.
Dueeeerrr
(apa kata dunia...buang kelaut kali yeeee. gemes-gemes deh bacanya, yang nulis aja pingin senggol bacok hahaha ...bercanda ya senggol bacok nya)
"www, apaan si kamu, sakit tau." bentak Vier
"Maksud kamu apa, ular....," membuka matanya lebar menatap Aya
"Bahaya , Ada bisanya , udah sampai dimulut kamu tuh." dengus aya tak kalah sebal dari Vier.
"Dengar ya Tuan Vier, tanpa minta ijin sebenarnya aku pun bisa, tapi aku masih menghormati dan menghargai kamu sebagai suami aku."
"Dan sayaaaang ku....kamu juga udah pasti paham dong ya, kalo aku memang nyonya dirumah ini, nyonya dari seorang tuan yang bernama Vier. satu-satunya istri dari tuan vier dan tidak akan ada duanya." penuh percaya diri Aya kembali menatap Vier
"Tidak ada memang, yang menyuruhku memahami semua, juga untuk mengetahui apa saja rutinitas suamiku. tapi secara aku nyonya ya disini, menantu yang jelas diterima dipandang baik oleh mertua" mengangkat kedua bahu Aya , mengurangi sesak didada dan mengalihkan air mata yang sudah diujung matanya dan suara yang sudah dirasa bergetar
"Berikan Black card kamu..." mengulurkan tangan Aya meminta, yang berhasil membuat Vier membulatkan matanya pada Aya "Kamu"
__ADS_1
"apa...kamu udah tau jawabannya, aku istri kamu... nyonya dirumah ini, cepat berikan. atau aku akan laporkan sama papa Indra juga mama irene, kamu ga mau menafkahi aku."
"heeeehhhh, bisa nya cuma lapor, mentang-mentang dapat dukungan". tidak mau kalo sampai Aya benar-benar lapor Vier pun mengeluarkan black card dari dalam dompetnya
"Aku hanya membantu mewujudkan setiap perkataan mu suamiku sayang."
"oyaa uang belanja yang biasa kamu kasih ke BI ima, kamu tetap harus kasih ke BI ima tanpa potongan, justru harusnya ditambah, karna kamu ga hidup sendiri lagi tapi berdua sama aku." mengambil kartu dari meja, berjalan ke arah tangga
"Kamu lagi memeras aku...haahh." saut Vier
"Tidak hanya sedang mengajarkan tanggung jawab seorang suami." memutar badan Aya pun menjulurkan lidah nya
"Yang ular itu kamu, sukanya menjulurkan lidah." kesal Vier beranjak dari meja makan menuju mobilnya untuk pergi ke kantornya.
"Berarti kita memang cocok kalo gitu" senyum puas diwajah aya bisa kasih pelajaran pada Vier
---_---
***ini novel pertamaku teman2 ,jadi maaf kalo masih banyak kekurangannya. masih harus banyak-banyak belajar.
Terus ikuti dan nantikan kelanjutannya ya.
supaya bisa kasih masukan dan saran-saran untuk penulis.
---_---
Trimakasih buat dukungan dari semua yang sudah membaca cerita ini, tolong jangan lupan untuk like dan vote nya ya***.
__ADS_1