GAERAH CINTA

GAERAH CINTA
17. Bimbang


__ADS_3

Setelah melihat adegan drama antara sepasang suami istri ,akhirnya Bobi dan Andre pun pamit pulang. tinggal Aya dan Vier tentunya yang memang masih harus tinggal dirumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.


"Belum tidur, sudah malam istirahatlah." Aya mendekati tempat tidur yang di tempat Vier, sambil membenarkan selimut nya.


"apa ada yang kau rasa..hmm, Mana yang sakit. biar aku panggilkan dokter." Aya menatap sendu pada wajah Vier.


Sambil menggelengkan kepalanya Vier pun berucap "Tidak, tidurlah terlebih dulu, aku belum mengantuk."


"apa ada yang kau pikirkan, hingga sulit untuk memejamkan matamu" tanya Aya krmbali


"Kau cerewet sekali. lagian bukan urusanmu dengan apa yang ku pikirkan. sudah tidurlah dulu sana. kau mengganggu sekali. yang ada mataku yang sakit harus melihatmu terus." sewot vier


'Malas sekali aku harus meladeni perkataan satu orang ini. ga pernah ada lembut-lembutnya. lebih baik aku tinggal tidur, terserah dia, mau ngapain aja. apa perduliku.' protes Aya tanpa bersuara


Malam semakin larut Vier tetap tak bisa memejamkan matanya. dia kembali mengingat apa yang terjadi antara dirinya dengan Lana. ada pergulatan dalam hati dan pikirannya. rasa sakit atas perlakuan Lana pada dirinya membuat ingin rasanya dia melupakan sosok Lana. tetapi rasa yang dimiliki untuk Lana selama ini seakan masih sulit Vier tinggalkan walaupun tidak sekuat dulu.


'ada apa dengan perasaan ku ini, hatiku memang sakit bahkan sakit sekali dengan apa yang yang sudah Lana lakukan padaku. Berkali-kali kurasakan, tapi tidak membuat ku ingin melupakan apa lagi meninggalkan nya. Tapi kenapa kali ini aku sedikit goyah, ada perasaan dimana aku ingin melupakannya.' Vier merasa ada yang aneh dengan dirinya


Vier membalikkan badannya hingga leluasa dapat memandang Aya yang sudah tertidur, yang awalnya Vier berbaring membelakangi sofa panjang yang dipakai Aya untuk tidur dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.


'Wanita ini sungguh menyebalkan, tapi selalu membuatku nyaman, dan aku selalu mendapatkan hal baru, juga kejutan-kejutan yang membuatku tertawa senang. huhff sikap kasar juga tak perduli ku pun tak membuat sikapnya tidak perduli padaku justru sebaliknya dia sangat perduli , tetap melayani, menyiapkan semua keperluanku. dan aku merasakan ketulusannya' muncul senyuman dari mulut vier yang tak disadari oleh vier. tapi tak berlangsung lama karna tiba-tiba Vier sadar dan menghalau pikirannya sendiri


'Apa yang sedang ku pikirkan.sekali menyebalkan tetap menyebalkan..arghh' Vier membalikkan kembali posisi tidur nya dengan memunggungi sofa tempat yang dipakai Aya untuk tidur.


Vierpun akhirnya tertidur karna kelelahan dengan pikiran yang muncul dan membuat dirinya bimbang.


***


Pagi sudah datang, matahari pun telah mulai menampakan cahayanya, memasuki ruang tempat dimana Vier harus dirawat, melalui celah-celah tirai yang belum terbuka.


Vier mengerjabkan matanya, meregangkan sedikit tubuhnya. Dia memalingkan arah mencari sosok istrinya yang semalam tidur menemaninya di sofa yang terdapat di ruang kamar inapnya. Tapi dia tak mendapatkannya. saat memanggil Aya pun tak ada jawaban.

__ADS_1


Saat dia menoleh ternyata diatas meja disebelah tempat tidurnya terdapat kertas yang berisi pesan singkat. Vier pun mengambil dan membaca isi pesan tersebut.


Aya bangun tepat pukul 3 dini hari, berusaha melawan rasa kantuknya yang cukup berat dan dengan susah payah berusaha bangun, karna dia harus kembali kerumah terlebih dahulu.


Kemarin saat aya menuju rumah sakit, belum sempat membawa pakaian ganti untuk Vier ataupun dirinya. Hingga Aya pun berpikir meninggalkan Vier dalam keadaan masih tertidur, dan bergegas kembali ke rumah sakit pada saat Vier belum terbangun juga.


Vier mengambil ponselnya menghidupkan dan mencari nomer Aya lalu menelpon nya.


"Kamu dimana" tanya Vier


"Kamu sudah bangun, maaf aku terlalu lama dirumah. ini aku sudah di depan pintu rumah sakit, tunggulah sebentar aku akan sampai." aya langsung menutup telepon dan mengakhiri panggilannya.


"Sungguh tidak sopan, beraninya menutup telepon tanpa memberitahuku" gerutu Vier


Tak berselang lama ayapun tiba di ruang kamar inap Vier.


"Kamu lama sekali" protes vier


"Kamu suka sekali protes, kamu juga belum lama kan terbangun." jawab Aya sambil membuka tirai yang masih menutupi jendela kaca kamar tersebut.


tok


tok


Satu perawat wanita yang masih muda masuk tersenyum membawa perlengkapan mandi seperti sabun juga handuk kecil, biasanya untuk menyekah tubuh pasien.


"Pagi tuan, nyonya. Bagaimana istirahatnya semalam tuan. ini perlengkapan mandi tuan, apakah Tuan akan mandi di kamar mandi atau hanya ingin disekah saja disini." tanya perawat dengan halus


"Jika memerlukan bantuan silahkan, saya tinggalkan perlengkapan nya disini ya tuan, nyonya." kata perawatnya lagi lalu meninggalkan ruangan


"Sini aku bantu, kamu ingin mandi atau cukup sekah aja Vier?" Tanya aya

__ADS_1


"Kamu begitu ingin sekali memandikanku. apa kamu begitu ingin melihatku telanjang" smirk Vier


"Vier.."


Dengan malas Aya menanggapi Vier, karna memang inipun masih terlalu pagi untuk berdebat dengan Vier.


"Apa kamu ingin perawat itu saja yang akan membantumu mandi. Biar setelah dia puas melihat mu telanjang akan ku cincang habis didepanmu." kesal Aya membuat Vier terkekeh


"Tak sudi tubuhku dipertontonkan sembarang orang. Hanya akan orang yang ku cintai yang boleh melihatnya,,," senyum kemenangan mengerjai istri pagi ini menjadi kepuasan sendiri. Tapi menjadi kesakitan untuk Aya yang mendengar.


Sampai saat ini Aya dan Vier memang belum saling melakukan kewajibannya sebagai seorang suami dan istri.


***


"Vier, Aku siapkan sarapanmu sekarang juga ya, supaya kau bisa meminum obatmu untuk yang pagi ini." kata Aya


"Hem" jawab Vier singkat


" kamu ingin makanan yang disediakan rumah sakit atau yang aku buat dan ku bawa." tanya aya kembali


Wajah Vier berbinar mendengar Aya membuat sendiri sarapan dan membawanya kerumah sakit. Entah Vier menjadi kecanduan dengan masakan istrinya tersebut.


Dengan wajah datar tak ingin Aya mengetahui dirinya begitu senang.


" Memang kamu membuatkan apa untuk sarapan. coba aku liat, apa membuatku berselera untuk menyantapnya. kalo tidak lebih baik ku makan saja yang rumah sakit ini sediakan."


"Terserah" jawab Aya lagi-lagi dengan malas.


.


.

__ADS_1


.


terima kasih sudah membaca. Jangan lupa untuk kasih like nya ^-°


__ADS_2