GAERAH CINTA

GAERAH CINTA
12. Rasa Yang Masih ada


__ADS_3

Sejak dulu Vier selalu menjadi orang pertama untuk Lana. Vier tidak pernah tahan jika sudah mendengar lana menangis saat meneleponnya.


Sesibuk apapun pasti Vier tinggalkan pekerjaannya, bahkan saat dirinya berada cukup jauh Vier tak mengindahkannya, ia akan langsung menaiki mobil menuju ketempat Lana berada saat itu.


Pada akhir kenyataannya Vier lah yang terluka dan tersakiti, berulang dan berulang lagi. Ketika keadaan membaik, Lana memilih mengabaikan perasaan Vier pada nya.


Lana memilih menikmati kegembiraannya bersama dengan pria lain yang menjadi kekasihnya. itu cukup menorehkan luka pada vier, tapi entah berapa kali pun saat lana menghubungi karna membutuhkannya, vier pun pasti datang berpihak padanya membantu, menyelesaikan semua persoalannya.



Untuk kali ini pun tanpa mengingat status vier yang sudah menikah. Vier langsung berlari menuju kamar, mengganti baju mengenakan jaket juga sepatunya, mengambil dompet dan kunci mobilnya. ia bergegas menyalakan mesin mobilnya. tanpa mengindahkan Aya dan pergi meninggalkan nya yang sedari tadi menantapnya.



Aya menundukkan wajahnya, air matanya pun tak bisa dibendung akhirnya menetes selepas kepergian vier. Aya tau benar Vier pergi karna panggilan telepon dari lana. Rasa itu memang masih ada bagi Vier untuk Lana. Tapi rasa yang baru saja ada pada aya,,,apa yang akan terjadi.



Dari arah belakang tiba-tiba terdengar suara bi ima. Buru-buru Aya pun menghapus air matanya, menghentikan adegan Melo nya. Dengan tetap tidak beranjak dari tempat duduknya memandang makanannya.


"Non, saya bereskan piring tuan Vier ya." jawab Aya sambil menggeser piring yang masih penuh dengan makanan menjauh dari nya. Aya sudah tidak berselera untuk makan kala ini, karna tiba-tiba saja perutnya berasa penuh dan laparnya berganti dengan rasa kenyang." iya bi,ini sekalian punya aku ya Bi."


"Loh non kok ga dimakan, ini mah masih utuh, sayang kan non kalo harus dibuang. lagian non Aya kan harus makan biar sehat non, biar tidak mudah sakit." rayu bi Ima supaya Aya mau makan


"Udah bi, barusan aku makan, makanan sehat malah yang aku makan. makanya aku sekarang kenyang, udah bibi bawa saja dan buang itu." getir hati Aya tapi tetap mengusahakan senyum tipis pada Art nya itu.


"Hah memang non Aya makan apa, tadi kan masak barengan sama bibi, jadi bibi tau ga ada menu lain yang non buat selain ini." dengan tatapan keheranan mencari jawaban dari Istri tuannya tersebut.

__ADS_1


"Makan ati bi." jawab Aya asal sambil bangkit berdiri menuju ke kamar, tidak perduli bibi yang semakin kebingungan dengan jawabannya


***


Vier menemukan Lana sedang duduk di bangku halte sambil menangis. Vier turun dari mobil dan membawa Lana masuk ke dalam mobilnya. Berusaha menenangkan lana, memeluknya erat seakan tak ingin ia melepaskannya. satu tangan nya berulang kali mengusap rambut panjang hitam lana. seakan ikut merasakan kesakitan yang dirasakan oleh Lana saat itu.


Tiba-tiba awan gelap menyelimuti kota dimana Vier tinggal. Sepertinya akan turun hujan. Dan tak berselang lama, hujan lebat benar-benar turun membasahi seluruh kota.


Seakan tau bahwa ada kesedihan dari beberapa orang dikota tersebut, menambah suasana semakin berkabut.


Cukup lama, bahkan sangat lama, akhirnya Lana sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. Dia pun sudah mulai berhenti menangis. vierpun berusaha menjauhkan tubuh Lana dari pelukannya. Dia menatap dengan tatapan sangat dalam pada Lana.


Dengan menatapnya saja Vier tahu apa yang terjadi dengan lana, vier tahu ada yang terjadi dengan hubungan Lana dengan kekasihnya itu.


"Apa kamu akan mempertahankan hubunganmu dengan nya. Dia selalu menyakitimu lan, membuatmu menangis." cukup keras suara Vier karna menahan marah terhadap kekasih Lana, sambil memegang pundak Lana menatap penuh iba.


Tiba-tiba kaca pintu mobil sebelah Lana duduk diketuk oleh seseorang. Berkali-kali tapi Lana tetap tidak mau membukanya. Bara Aryaguna kekasih Lana pun tak mau menyerah.


Tak berhenti bahkan memasang muka memelasnya, terus meminta maaf, membiarkan dirinya terguyur hujan yang lebat, demi meyakinkan seorang Lana. agar Lana mau memaafkannya kembali dan mau kembali padanya.


"Vier Aku Tak tahan melihat bara seperti ini. aku akan mencoba mengerti dan memaafkan nya. Trimakasih sudah mau menemaniku" meminta Vier mengijinkan Lana membuka pintu mobil nya.


"Lan, aku ga rela kalo kamu terus seperti ini setiap kali menangis karna dia. masih banyak orang yang sayang kamu lan." berharap Lana mau melepaskan bara yang selalu membuat orang yang di sukai menangis.


Untuk kali ini Vier berharap kalo waktu berpihak pada hubungan nya dengan lana. Tidak perduli dengan pernikahannya. Kalo memang Lana benar-benar mau melepaskan bara, Vier pun akan bertekat memutuskan pernikahannya dengan Aya.


"Vier Ayo buka kunci nya, kamu tau rasa sayangku sama bara kan. aku tak bisa lepaskan dia. aku meneloponmu hanya ingin kamu menemaniku saat aku sedih." teriak Lana pada vier. sungguh rasa ini ada, rasa yang berbeda dari sebelumnya, sakit.... lebih sakit kali ini yang dirasakan vier dengan sikap dan perkataan Lana.

__ADS_1


Membuka kuncinya mobil nya untuk lana "pergilah, pergi temui dia seperti yang kamu mau. aku sadar aku siapa"


Vier melajukan mobil setelah Lana turun dari dalam mobil menemui bara, memeluknya bahkan bara pun menciumi Lana dari kening, kedua mata Lana, pipi dan juga bibir Lana penuh dengan hasrat. seakan takut kehilangan dan seakan benar-benar mencintai Lana.


Raut wajah penuh dengan kemarahan, dan hati yang penuh dengan kecewa. Vier melihat dari kaca sepionnya mobilnya, apa yang dilakukan Bara dengan Lana. Vier tanpa sadar melajukan mobil nya sangat kencang, dia tidak perduli jalanan yang licin, pandangan nya pun terbatas karna derasnya hujan.


duarrr duarr duarrr


Mobil Vier tergelincin, vierpun hilang kendali dan kecelakaanpun tak terelakkan. Mobil vier menabrak pembatas jalan, sebelumnya sempat menabrak mobil didepannya cukup keras. dan cukup itu membuat luka pada tubuh, juga wajah nya yang terhantam setir pada mobil dia sendiri.


Masih dalam kesadarannya, Vier meraih ponselnya. Yang dia ingat, dia mencoba menghubungi Bobi dan Andre, namun kedua sahabatnya ini tak bisa dihubungi. sampai akhirnya vier tak sadarkan diri, selanjutnya Vier tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


***


Dikamar Aya sedang menyelesaikan pekerjaan yang tadi dia minta pada asistennya untuk dikirim melalui email ya.


Tiba-tiba merasa ada kekawatiran dalam diri Aya, perasaannya sungguh gelisah. Aya pun bingung dengan yang dirasakan.


'Perasaan apa ini aku benar-benar gelisah, kalo soal Vier tadi siang, harusnya rasa sakit bukan gelisah....atau jangan-jangan Vier akhirnya akan mengambil keputusan untuk menceraikannya.' ditepisnya pemikirannya itu melanjutkan pekerjaannya. Aya tak ingin menunda pekerjaan, karna pemikiran aya, besok pasti akan ada pekerjaan baru lain yang harus diselesaikan juga.


"aaahh akhirnya selesai juga pekerjaan ku. thank God udah bantu aku fokus kekerjaan." meneriakkan nya untuk menyemangati dirinya , meregangkan badan dengan mengerak-gerakan tubuhnya. Aya pun melihat ke jam dinding yang terpampang di kamar tidurnya menunjukan sudah pukul 4 sore.


Tok tok tok


Mendengar respon non Aya dari dalam "Maaf non, apa non memerlukan sesuatu atau masih ada yang perlu bibi bantu" ayapun bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya


"Sudah mau pulang ya bi...ya udah tinggal saja. gpp biar nanti Aya ambil sendiri keperluan Aya bi. hati-hati sepertinya hujan masih belum reda." Bentuk perhatian kecil dari istri tuannya ini selalu bikin bi ima senang, menjadikan bi Ima begitu respek, menghormati dan begitu menyayang Aya.

__ADS_1


tring triing tring


Aya mengambil ponsel nya yang tak jauh dari dirinya. Melihat nomer mama irene di ponselnya, Aya pun segera mengangkat telepon.


__ADS_2