
Triiing triiiing triiiing
Suara alarm berbunyi ternyata dari ponsel Vier yang diletakkan tidak terlalu jauh dari tempat tidurnya, iapun meraih ponselnya kemudian mematikannya, vier beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi.
Aya ikut terbangun mendengar suara alarm dengan posisi tetap terbaring, dan ketika Vier sudah berada dikamar mandi Aya meraih ponsel miliknya, melihat jam masih pukul 5 pagi.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka Vier keluar menuju lemarinya. Hari ini Vier memilih memakai baju lebih longgar dan sepatu untuk jogging nya, karna hari ini rutinitas Vier untuk lari pagi sekitar komplek tempat tinggal Vier.
Aya yang sebenarnya sudah terbangun, hanya saat Vier hendak keluar dari kamar mandi, Aya memilih untuk kembali menarik selimut nya sampai sebatas leher, mata dipejamkannya seakan terlihat masih tertidur.
Vier sudah selesai mengenakan perlengkapan lari paginya. Aya mengerjakan mata, menggerakkan tubuhnya, terlihat seperti dia baru saja terbangun. Menyadari ada gerakan ditempat tidurnya, dan melihat Aya terbangun sedang memperhatikan dirinya, vierpun tidak perdulikannya.
Aya melihat ke arah Vier "Kamu mau kemana, biasa kalo olah raga ga pernah pake sepatu, apa kamu mau olah raga keluar."
lalu aya pun bangun menyingkapkan selimutnya, tanpa disadari baju tidur yang Aya kenakan naik sampai di paha paling atas. "ups" desah aya
Menurut aya baju tidur yang paling nyaman setelah menikah untuknya ya daster. jadi bisa dipastikan hampir sebagian baju tidur yang dia punya berbentuk daster dengan macam model tentunya.
Terkejut Aya pun buru-buru membenahi baju tidurnya. sembari matanya tertuju pada Vier, yang sedang melihat kearah nya karna pertanyaan Aya tadi . 'Haadeh..sebal, pagi-pagi udah bikin malu diri sendiri..Aya..aya.' membuang muka ke sembarang arah, berharap Vier Tak melihat jika Aya sedang malu dan menampakkan wajah merona karna malu nya itu.
Menutupi kegugupan, Vier berusaha memasang wajah datar, memalingkan ke lain arah, tanpa menjawab pertanyaan Aya. malah lebih memperlihatkan muka sebalnya , seperti tidak terima kalo pagi-pagi mata nya sudah ternoda hal yang tak di inginkan. "nceeh" suara dari Vier sembari berjalan hendak keluar dari kamar, tanpa menjawab pertanyaan Aya padanya tadi
'Ciah siapa juga yang rela bagi-bagi sama orang lain...ups pusing pala baby... dia suami ku, ya udahlah ya dari pada habis pikiran, perasaan sama hal yang sudah lewat. amal deh buat suami yang pura-pura sebal...ciiiiah liat aja besok awas aja kalo ketagihan malah minta lebih'. Aya menghentakkan kaki dengan sebal menuju kamar mandi.
__ADS_1
*
"Lari pagi, berarti vier bertemu sama cewe itu, seperti yang Bobi dan Andre bilang semalem. sebut namanya aja males banget aku, haizzz" guman Aya sebal.
"Kenapa pagi ini udara rasanya sungguh menyesakkan ya, apa dunia sudah kekurangan oksigen, harus beli untuk membantu pernapasan ku saat ini. arrgg" teriak lirih Aya tanpa menghentikan aktifitas gosok giginya.
Tidak ingin langsung mandi pagi ini, selesai menggosok gigi, mencuci muka, aya pun turun menuju ke dapur. Dia membuat minuman coklat untuk dirinya dan kembali menuju ke kamar tidurnya.
Berdiri di balik jendela kamar , Aya memandang ke arah luar, sambil memegang secangkir coklat hangat yang dibawanya tadi dari dapur, pikiran aya hanya vier, entah apa yang Aya rasakan. sebal, marah, kecewa, kawatir, tapi Aya gak bisa berbuat apa-apa saat ini.
Aya sadar betul posisi nya saat ini, bukanlah orang yang dicintai suaminya. dirinya pun belum memiliki keyakinan untuk mengucapkan cinta apalagi mencintai pasangannya saat ini.tapi ikatan pernikahan ini yang membuat Aya tetap mau tidak mau dia memikirkan hubungan suami istri dan masa depan rumah tangganya.
Vier tengah berdiri didepan rumah dengan seorang wanita. saling tersenyum bahkan sempat terlihat tertawa, pandangan vier pun penuh dengan sorotan sayang, lembut buat lana,. sedangkan Lana dari tubuhnya menunjukan sikap cukup manja terhadap Vier. Dengan waktu yang tidak terlalu lama, mereka terhitung cukup banyak memperlihatkan perhatian dengan sentuhan ditangan baik Vier maupun lana di setiap obrolannya
Hal yang tidak pernah Aya dapatkan dari Vier, senyuman, sentuhan kasih, sorotan lembut matanya. justru sikapnya yang acuh, tak pernah ada senyum, untuk berbicara pun serasa enggan dari vier .
Aya terus memandang Vier dan lana, tanpa mereka berdua sadari .
"Obat apa yang barusan ku minum, kenapa begitu pahit rasanya mulut ku, bahkan sulit sekali untuk aku telan" guman aya
Dengan mata berkaca-kaca, Aya memutuskan tidak ingin lebih lama melihat hal itu. beranjak menjauh dari jendela. Aya memilih kembali tempat tidurnya berbaring menutupi dirinya hingga kepala tak terlihat dengan selimutnya.
__ADS_1
*
"Aku kira kita sudah gak mungkin bisa lari pagi bersama ataupun bertemu dengan mu Vier." dengan tatapan manja Lana yang ditanggapi dengan senyuman oleh Vier.
Perasaan sayang vier belum berubah, Vier maupun lana masih bisa merasakan itu. tatapan Vier untuk ingin memiliki Lana pun belum juga berkurang.
"Usaha mu lancar kan lan, sudah gak ada kendala kan. pokoknya aku ga mau liat kamu sedih tentang apapun lan. kamu masih ada aku. aku pasti masih selalu ada buat kamu." ucap Vier dengan menyentuh lembut tangan Lana
"Waah kamu memang yang paling baik, paling memahami aku ya Vier." tawa Vier Dan Lana pun terjadi, tanpa sadar tangan mereka pun saling bersentuhan.
Waktu memang tak pernah berpihak pada mereka berdua, tidak pernah memberikan kesempatan untuk Vier Dan Lana untuk saling berhubungan lebih dari pertemanan.
Atau mungkin karna Vier yang tak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya pada Lana. Lana pun sebenarnya cukup paham mengerti betul dengan sikap Vier, gimana menunjukan rasa suka , dan sayang Vier untuk nya.
Lana pun hanya berusaha menunggu, berharap Vier menyatakan cinta terhadap dirinya. Lana tak ingin hubungan dekatnya justru akan berakibat tak baik hanya karna kesalahan yang tak seharusnya dia lakukan dengan menyatakan cinta terlebih dahulu.
Karna Vier yang selama ini selalu membantu Lana bahkan dalam hal keuangan saat kuliah. Vier mengenal Lana karna mereka satu kampus. semenjak pertemuan dan perkenalan nya Vier sudah suka dengan Lana.
Ayah Lana meninggal saat awal kuliah Lana dalam kecelakaan kerja. dan ibu Lana pun meninggal Karena terkejut mendengar berita meninggal sang suami, karna ibu Lana memiliki sakit jantung.
Semenjak itu Vier lah yang menanggung biaya kuliah Lana, juga biaya setiap bulannya. sampai Lana bekerja, bahkan sampai akhirnya memutuskan ingin memiliki usaha yang dikelola Lana sendiri ,Vier pula yang mendukung dalam hal keuangannya. udah pasti tanpa sepengetahuan mama irene dan papa indra.
Karna Vier semenjak sma pun sudah mendapatkan penghasilan dari perusahaan yang papa Indra percayakan agar Vier kelola.
__ADS_1