
***
Setelah kepergian Aya dan Bobi, Vier merasa tidak berselera lagi untuk menyantap makanannya. Ada yang berbeda yang dia rasa. Vier merasa kecewa Aya berhenti menyuapi dirinya, memilih untuk pergi dan diantar oleh bobi.
Vier juga kesal dengan Bobi yang tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantar aya. Vier meminta mama irene untuk berhenti menyuapi dirinya. Hanya karna ego Vier berusaha menutupi perasaannya pada mama irene, papa Indra juga Andre sahabatnya saat ini
"Ma cukup, sepertinya aku sudah kenyang, Vier sudah tak ingin memakannya lagi." sambil menahan sendok yang akan disuapkan mama irene ke mulut Vier dengan telapak tangannya
"Loooh ini mama baru satu kali masukan makanan ke mulut kamu Vier, terus kenapa... kok bilang udah kenyang si. Ooh ... sudah ga mau disuapin mama nih ceritanya, maunya sama istri kamu aja " goda mama irene berpura-pura memasang muka sedih. Tapi tangannya tak berhenti berusaha supaya Vier mau menerima suapan. Biasalah ya namanya ibu yang pasti punya cara buat bikin anaknya mau makan.
"Mama, aku bilangkan sudah kenyang, ya berarti kenyang lah ma, kenapa jadi mama berpikir kearah situ si." cebik Vier , Masih tidak mau mengakui perasaannya
"Cih, anak mama yang satu ini hahahaha. memang mama ga pernah muda, mama paham betul. Liat tuh papa kamu berapa puluh tahun mama hidup bersama. sampai hal begini mama ga paham." sambil mengerakan kepala untuk menunjuk arah papa indra, ganti tangannya yang masih memegang kotak makan dan sendok.
Andre yang sedang memperhatikan dan mendengar percakapan antara pasien dan yang merawat tergelak menggelengkan kepala, papa Indra pun ikut geli dengan dua orang yang dicintainya itu.
"Orang lebih senior mau kau coba bohongi bro. hahaha." Andre tergelak, tapi tiba-tiba berhenti
"aw,,aw,,aw. Tante aduuh sakit tan." andre teriak menyeringai walau sebenar nya ga sakit banget si sambil memegang telinga yang di jewer mama irene
"Coba ulangi lagi, siapa yang kamu sebut senior....berani-beraninya pake sindiran, kamu mau bilang Tante tua kan. Ayo ngaku." canda mama irene memasang muka marah
"Ga kok Tante beneran, Tante itu masih kelihatan awet muda, cantik lagi...iya kan om, betulkan kata Andre." meminta pembelaan papa indra
"Sukur, rasain lu sekarang, you now karma. orang sudah lagi sakit masih Lo bully." Menahan tawa karna dada Vier Masih terasa sakit jika bergerak.
"Kalian ini pada ga inget umur, bercanda saja. Andre coba sini...dekat om.kamu beneran tulus tuh bilang gitu ke Tante." smirk papa Indra , ga mau kalah isengin mama irene dan Andre. kemudian disusul dengan tawa nya yang keras.
"Papa"
"Om"
Teriakan mama irene dengan Andre bersamaan.
***
__ADS_1
Bobi yang merasa dipanggil, ia menoleh ke arah Aya. Mengernyitkan keningnya, melihat Aya yang tampaknya tidak melanjutkan perkataannya. Seperti ragu-ragu mengutarakan apa yang ada di pikiran aya.
"Butuh bantuan ya, ngomong aja gapapa, aku kan juga sahabat Vier, udah pasti aku bantu. apa .... katakan saja." Aya menunjuk jari tangannya ke arah luar, meneriakkan kalo mereka sudah sampai tujuan.
Akhirnya Aya bernapas lega, karna sudah sampai pada tujuan, membuat dirinya tidak lagi ditanya oleh Bobi atau harus menjawabnya. Aya memang sudah enggan , dia memilih diam tidak akan mencari tau banyak soal Vier.
Aya menanyakan apakah Bobi hendak ikut kedalam toko roti ataukah menunggu Aya di dalam mobil.Dan Bobi memarkirkan mobilnya dan memilih ikut kedalam bersama Aya.
Karna Bobi melihat toko yang mereka tuju itu ada terdapat tempat untuk pembeli bisa menikmati secara langsung ditempat. Bobi berencana melanjutkan obrolan sebentar ditoko roti tersebut.
Bobi paham betul situasi rumah tangga sahabatnya itu.Entah apapun yang ingin di sampaikan istri sahabatnya itu, tidak memungkinkan untuk Aya berbicara di rumah sakit, pasti takut kalo-kalo akan didengar oleh Vier ataupun yang lain.
"Hmmm.. apa kita perlu memesan minuman, sepertinya tidak ada salahnya kalo sebentar kita duduk disini. Melanjutkan obrolan kita yang belum selesa tadi saat dimobil." memegang kening , Aya salah tingkah seperti seorang yang mendapati dirinya bersalah telah melakukan kejahatan.... ternyata dirinya belum lolos dari Bobi.
Bingung harus menjawab apa dengan ajakan Bobi, Aya hanya berdiri mematung asik dengan pikirannya sendiri.
'ini mulut sama otak bener-beber ya ga ada akurnya, muncul di otak udah si mulut nyamber aja, mpe panggil nama orang dengan sembarangan. Kalo udah orang nya penasan gini siapa coba yang tanggung jawab' dumel aya dalam benaknya.
"Kamu denger aku ga. Kita ngobrol sebentar disini. sana kamu pesan, sama pilih yang mau kamu beli buat bawa balik. aku tau, kalo kamu.... sebernya ga ada yang ketinggalan kan. Jangan lupa minuman nya. aku teh tanpa gula ya. aku tunggu disana tuh." memberikan beberapa lembar uang kertas, lalu berjalan menunjuk arah meja, yang kosong yang akan ditempati mereka.
Aya yang bertambah bingung menerima uang dari Bobi dan melakukan apa yang di suruh pada nya.
Setelah memilih roti yang akan dia bawa ke rumah sakit dan memesan macaroons Dan teh yang di pesan Bobi juga untuk dirinya sendiri. Aya melangkah ke meja dimana Bobi sudah terlebih dulu berada disana.
Aya meletakan nampan yang berisi minuman juga macaroons yang dipesan nya tadi diatas meja. juga mententeng tas yang berisi roti.
__ADS_1
"ini minumannya, silahkan diminum. mmm kak...aku ganti ya uangnya. habisnya banyak." merasa ga enak menunjukan uang kembaliannya yang hanya uang recehan.
"Gapapa Aya sudahlah, ada aku cowo masa cewe yang harus bayar. ga mahal kok buat ku, uangku ga akan habis hanya karna bayar seharga itu. Lagian kamu pake uang kamu sendirikan, ga bakal pakai uang atau kartu suami kamu." jawab bobi bikin Aya langsung mendongakkan kepala nya.
"kamu kok tau kak " selidik Aya.
" Apa si yang ga Vier cerita sama kita." jawab santai Bobi sambil mencercap minumannya .
"Kalo gitu kakak juga tau Vier habis dari mana dan penyebab kejadian hari ini " sambil menangkis perkataannya sendiri dengan tangannya " maaf kak, lupakan, anggap aku ga pernah bertanya."
'Lagi kan lagi ni mulut .arrgghh....ga mau saring dulu ngomong. mana saringan mana hadeh.' Aya garuk-garuk mulut yang ga gatal tapi menurut dia kegatalan pingin di garuk.
"apa ini yang ingin kau tanyakan didalam mobil tadi." sambil memiringkan kepalanya menatap Aya.
"Sekalipun kakak tidak memberi tahu aku,,, aku tau kak, Vier pergi kemana." tukas Aya memilih melihat ke arah jalan melalu dinding kaca toko roti tersebut.
***
Vier semakin kesal dalam hatinya, ekspresi wajahnya sudah benar-benar tak bersahabat.
Beberapa kali berdecak sambil melihat jam dinding yang ada diruang rawat inap tersebut. satu jam sudah mereka pergi, tapi belum juga nampak batang hidungnya.
Andre yang kebetulan melihat, ekspresi wajah Vier Ada yang berbeda. Diapun mendekatkan diri pada Vier yang masih terbaring di tempat tidurnya.
"Kenapa bro muka lu, ditekuk gitu, kusut, jelek." bisik Andre mencibir
"Bobi ga akan bawa lari istri lu, tenang aja." seakan tau apa yang di pikirkan Vier. vier berdecah sambil mencabikkan bibirnya.
" Cih , Apaan si lu dre, sok tau." mendekat ketelinga Vier , Andre berkata dengan berbisik.
"Makanya jangan sok-sokan deh lu, dikasih nolak, yang jelas barang bagus didepan mata, lu abaiin. cuma gara-gara cinta ..ups, salah boro-boro cinta, perhatian, pengorbanan lu Segede lu lakuin aja ga dianggap.....parah pilihan hidup lu vier" smirk andre merasa prihatin dengan kehidupan percintaan sahabatnya itu
"Sudah sana minggir, bikin penat pala gue aja lu. bukan nya dihibur, malah udah ceramah kaya tokoh agama" Vier mendorong kesal menjauhkan Andre dari dirinya.
hallo. thank ya. Jangan lupa setalah membaca kasih like nya ya. see you -_-
__ADS_1