GAERAH CINTA

GAERAH CINTA
13. Kesal


__ADS_3

"Hallo ma.." Sapa Aya langsung di putus oleh suara mama yang terdengar panik.


"Aya cepatlah kerumah sakit yang ada didekat Mall City. vier mengalami kecelakaan." tersentak mengingat kembali perasaan yang tadi sempat terlintas pada diri nya, serasa benak Aya di penuh dengan banyak sekali pertanyaan. sampai Aya mengabaikan mama irene ditelepon.



"Kamu dengar mama nak, kamu baik-baikkan. apa perlu mama jemput ....Aya , sayang , aya dengar mama aya." teriak mama irene terdengar tambah panik melihat menantu nya tidak merespon suaranya.


"aa-aah i-iya ma Aya dengar kok. tidak, tidak usah, Aya kerumah sakit sendiri gapapa ma. mama hati-hati dijalan, mama sama papa kan berangkat kerumah sakit." berusaha merangkai kata, untuk menyembunyikan pikirannya yang masih kacau , karna terlalu banyak nya pertanyaan yang bermuncul saat ini.


"Iya sayang ini sama papa, ya sudah mama berangkat dulu ya. kamu juga hati-hati ya nak." ucap mama mengakhiri telepon nya.


***


Bobi dan Andre sudah terlebih dahulu sampai di rumah sakit, mereka sedang bersama diruangan dimana Vier ditempatkan.


Flashback on


Andre yang baru saja keluar dari ruangan sehabis meeting, mengeluarkan ponsel nya untuk mengecek apakah ada yang menelepon ataupun mengirimkan pesan padanya.


Karna selama meeting Andre sengaja mengubah mode ponselnya dengan mode silent, supaya dirinya tidak merasa terganggu.


Kini mata Andre fokus ke arah ponselnya, dia melihat nama Vier yang muncul menelepon nya tadi, andre pun menelepon kembali sahabatnya tersebut.



Terdengar jawaban dari ponsel nya, tapi bukan suara Vier, yang dia sudah sangat menghafalnya...Andre yang cukup terkejut, sempat curiga dan kekawatiran apa yang terjadi.


Dengan nada suara yang meninggi, andre menanyakan perihal ponsel sahabatnya itu. Ternyata itu adalah pihak dari rumah sakit, dan terjadi obrolan singkat, menjelaskan keadaan pasiennya.


Terkejut andre pun menghubungi Bobi untuk memberi nya kabar perihal Vier.


Setelah sampai rumah sakit, Andre dan Bobi mereka berdua menyadari ketidak beradaan istri atau satupun dari keluarga Vier . Dengan capat Bobi berinisiatif menelepon dan memberitahukan orang tua Vier. karna Andre dan Bobi tidak memiliki nomor ponsel Aya. jadi itulah mengapa mama irene lah yang memberikan kabar pada aya.



Flashback off


cklek


Mendengar pintu ruangan dibuka mereka berdua menoleh kearah pintu bersamaan. terlihat mama irene dan papa Indra menghampiri Vier anaknya yang terbaring belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, bisa ceritakan ke om, nak." tanya papa Indra pada Andre dan Bobi.


mereka berduapun menceritakan kejadian kecelakaan Vier Tanpa memberitahukan awal penyebab terjadinya kecelakaan Vier.


"Kondisi Vier baik-baik saja kok tadi kata dokter ,om Tante. Kalo sampai sekarang belum sadar karna memang tadi diberi obat penenang. kita tunggu saja ya om Tante." Andre berusaha menenangkan kedua orang tua Vier yang terlihat cemas karna anaknya belum juga bangun sadarkan diri.


Papa Indra angguk-anggukkan kepala memahami kondisi putranya itu, tidak dengan mama irene yang tidak berkurang wajah cemasnya dengan penjelasan dari kedua sahabat anaknya.


"Vier kamu sudah sadar sayang, apa yang kamu rasakan sekarang nak." menunjukan senyumannya, mama irene mendapati anak nya telah sadarkan diri. Ketiga orang yang sedang terlihat serius berbincang-bincang, bersamaan mendekat ke arah Vier.


"Hai bro"


"Hai bro"


Sapa Bobi dan Andre hampir berbarengan. sedangkan papa Indra menepuk bahu anaknya berkali-kali secara berlahan, untuk mengungkapkan kelegaannya melihat putranya itu.


Melihat sekeliling ruangan berusaha mengingat kejadian yang menimpa, hingga dia harus ada diruangan yang dia cukup familier adalah kamar rumah sakit.


Vier memandang kesegala penjuru ruangan. Seorang yang seharusnya ada ditempat itu, tidak nampak. Dengan tatapan mencari seseorang, ternyata yang dicari tak terlihat oleh Vier.


"Aya dimana ma." Mama nya tertegun mendengar pertanyaan anaknya yang justrus tidak merespon pertanyaan mama irene tadi. akhirnya tersenyum karna mendengar ada suara aneh dari perut anaknya tersebut.


" kamu laper hmmm," tanya mama dan terdengar suara tertawa dari papa Indra Bobi dan andre sambil geleng- geleng melihat tingkah vier.


cklek


Semua menoleh kearah pintu yang dibuka seseorang. Aya masuk dengan membawa beberapa paperbag ditangannya.


"Nah yang dicari tuh datang." ucap papa Indra tersenyum menggoda Vier


Aya yang tak tau menahu obrolan dari ke 5 orang itu, berusaha memperhatikan satu persatu orang yang ada dalam ruangan yang sedang mentertawakan nya, kecuali Vier yang memasang muka masam. Kesal karna saat sadarkan diri, vier tak mendapatkan aya.



"Kenapa...ada yang salah. mmmm aaah maaf kalo terlalu lama Aya sampai kerumah sakit. tadi Aya siapkan ini dulu." membuka paperbag nya menata beberapa kotakan ke atas meja yang tersedia diruang rawat inap tersebut.



Semua saling berpandangan dan akhirnya serempak tertawa melihat ke arah Vier.


"Kamu bisa bawakan kotak itu satu untukku." menjulurkan tangannya meminta Aya membawakan satu kontak yang berisi makanan.

__ADS_1


Aya memandang mama irene meminta persetujuannya untuk membawa kotak tersebut untuk Vier. Dan dianggukan oleh mama irene yang sudah berada disebelah papa Indra.


"Aku suapin saja ya, biar kamu gak perlu naik turun untuk mencuci tanganmu." tidak menunggu jawaban vier, Aya langsung menyendokan makanan nya dan mengarahkan sendoknya kedalam mulut tanpa menatap ke arah Vier.


Bukan tanpa sebab, Aya sebenarnya masih marah dan kesal dengan apa yang Vier lakukan padanya. Meninggalkannya demi wanita lain.


"Aku mau disuapi oleh mu karna tak ingin mempermalukan mu didepan mereka, kamu harus tau itu." bisik Vier pada Aya, tanpa ada yang tau bahkan mendengar ucapan Vier pada aya. Ayapun enggan berdebat yang langsung menolehkan kepalanya ke arah mama irene.


"Mama bisa bantu Aya nda ma." menjulurkan kotak makana yang ada ditangannya. Mama irene mengerti maksud Aya, pun mendekat dan menerima.


Aya melirik ke arah Vier yang sedang menatapnya tajam, tapi tidak ia pedulikan.


"Aya lupa ada tertinggal barang tadi saat membeli sesuatu. Aya akan mengambilnya dulu. mama ganti suapin Vier gapapa kan." memastikan mama nya setuju menggantikannya. Dan dianggukan oleh mama irene


"Tertinggal dimana apakah jauh, ayo biar aku antar. kamu gak bawa kendaraan kan." tanya Bobi meminta ijin pada Vier Dan orang tua Vier.


"Menurut papa iya mending diantar Bobi saja tidak apa-apa aya, lagian kan juga jauh lebih aman jadinya." ucapan papa meyakinkan supaya Aya mau dan yang lain nya juga supaya menyetujuinya.


"Sebenarnya tidak terlalu jauh si pa, dekat kok dengan rumah sakit ini. Aya bisa naik taxi." sanggah Aya merasa tidak nyaman kalo harus teman Vier yang mengantarnya.


"Mana ada naik taxi kalo memang dekat.... sudah sana diantar saja nak. Vier juga mengijinkan kok. iyakan Vier." ucap mama sambil menyuapkan nasi pada vier. Yang tidak sama sekali dijawabnya, hanya sorotan mata Vier saja jadi jawaban dan hanya Aya yang tau akan arti tatapan itu.


***


"Ini arah kemana kita pergi." sesampainya di mobil Bobi pun bertanya pada Aya.


"Mmm" Aya yang bingung sebenarnya hanya ingin menjauh dari Vier, hingga sedikit gugup harus menjawab arah tujuannya.


"I-itu aaa-nu toko roti itu yang disebelah sana." tangannya menunjuk arah mengingat kalo didekat rumah sakit tersebut memang ada toko roti. ayapun memutuskan untuk pergi ke tempat itu.


Sepanjang jalan mereka berdua terdiam. ada rasa canggung karna baru kali ini mereka saling dekat, sekalipun sudah berapa kali bertemu. ditambah jalanan yang cukup padat karna di jam yang masih banyak orang pulang dari kerja, menambah waktu yang harus ditempuh semakin lama. Ayapun memutuskan untuk inisiatif bertanya membuka obrolan mereka terlebih dahulu.


"apa Vier harus menginap dirumah sakit malam ini ka- kak, maaf tadi dirumah sakit belum sempat tanyakan hal ini, dan mesti bertanya pada ka- kakak sekarang." canggung Aya membuka obrolan nya dengan bobi


" Bobi, nama aku, kalo kamu mau panggil nama saja gapapa kok Aya. Anggap ini awal perkenalan kita ya." mengulurkan tangan satunya untuk menjabat tangan aya dan yang satu lagi tetap pada setir.


"A-ya" ragu-ragu menyambut jabatan tangan Bobi


"Iya Vier harus rawat inap karna harus menunggu hasil cek keseluruhan yang sudah dilakukan tadi, dan memastikan tidak terjadi hal yang membahayakan pada Vier." menjawab pertanyaan Aya sambil menengok sebentar kearah Aya yang sedang berdecah lirih hampir tak terdengar memperlihatkan respon yang tidak dimengerti oleh Bobi.


"kak..." Aya diam tak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2