
"Mungkin kami sampai di sana pagi, Lex. Jalanan agak lenggang soalnya," Dea berujar seraya menatap ponsel Abraham yang menunjukkan lokasi yang mereka tuju lumayan masih jauh.
"Ow, oke see you," Alex kemudian menyerahkan ponselnya ketangan Laras dan berlalu dari sana, "De, gue mau beres-beres dulu. Mau bantu Alex siapin yang mau dia bawa," pamit Laras yang kemudian layar ponsel mereka berubah menjadi hitam setelah keduanya mengucapkan salam.
"Kamu mau pakai kaya gitu?" tanya Abraham ketika melihat pakaian yang di kenakan Dea, singlet berwarna biru dan celana jeans robek di atas paha yang menampilkan kulit Dea yang putih. Rambutnya yang panjang dan diujungnya di beri warna perak dibiarkan tergerai.
"Nanti salin, bawa baju kok," ujar Dea yang kemudian duduk menghadap kedepan, "yank," Abraham menoleh.
"Jangan hanya satu tempat ya, kalau perlu semua pantai di kota Jogja kita datangi. Trus itu kita beli oleh-oleh di Malioboro, kata karyawan aku yang dari kota Jogja di sana bagus-bagus dan cinderamatanya beragam," celoteh Dea yang di tanggapi senyuman dan anggukan oleh Abraham.
"Terus ke candi Prambanan, mau pegang patung nyai siapa itu namanya lupa. Katanya kalau bisa pegang tar keinginan kita bisa terwujud," lagi, Abraham mengangguk.
"Terus ke Solo, di sana makanan budeg sama nasi di jemurnya enak, aku pernah di bawain karyawan aku yang baru pulang kampung," Abraham mengernyit lalu menengok kearah Dea.
"Budeg?" Abraham mengulang perkataan Dea, wanita itu mengangguk mengiyakan.
"Kok namanya aneh, De?" Abraham mengaruk keningnya yang tidak gatal, berfikir apa maksud dan bagaimana wujud makanan yang dikatakan kekasihnya.
"Kok aneh, ini di kota Jogja sama Solo terkenal lho. Itu lho masakan dari nangka muda," kesal Dea karena Abraham tidak paham makanan yang dia maksud.
"Astaga," Abraham menepuk keningnya dan menggeleng tidak habis pikir.
"Gudeg, Sayang. Bukan BUDEG," Abraham memperjelas perbedaan antara huruf depan makanan yang mereka bahas.
"Sama aja," Dea tidak mau kalah dan salah, "sama-sama ada UDEG nya juga," timpal Dea masih tidak terima, lalu mengerucutkan bibir tipisnya.
__ADS_1
Di sebuah kamar di pelosok masih di kota yang sama.
"Apa rasamu pada Dea masih?" tanya seorang wanita pada pria yang sedang berdiri di depan kaca dan sedang memakaikan gel pada rambutnya. Pria itu masih diam dan tidak ada niat menjawab pertanyaan sang istri yang dia tahu pasti akan menyulut percekcokan dan adu mulut.
"Alex, aku bertanya pada mu!" wanita itu berteriak marah karena suaminya hanya diam, dan yang menurutnya diamnya sang suami adalah jawaban 'iya aku masih memiliki rasa itu'.
"Apa kamu masih ragu padaku, Ras? Kita sudah menikah dan sekarang aku sudah menjadi milik mu," ucap pria yang bernama Alex itu lembut. Bukannya lega namun Laras masih tidak puas akan jawaban Alex, sang suami.
"Selama menikah empat tahun, kenapa kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu mencintai diriku?" tanya Laras mengejar, Alex melangkah menuju ranjang di mana Laras, istrinya berada.
"Apa perhatian dan perbuatan yang aku lakukan tidak menunjukkan itu semua? Apa kau mau aku setiap saat mengatakan 'LARAS AKU MENCINTAI DIRIMU' bulsit! Aku bukan Rama yang bisa mengumbar kata cinta namun akhirnya mengkhianati orang yang aku sayang," emosi Alex meluap, lelah setiap hari hanya itu-itu saja yang di bahas.
Apalagi setelah melakukan video call atau bertelepon dengan Dea, wanita itu pasti uring-uringan.
"Tapi aku tidak bodoh!" Laras berteriak, "kau masih sering menatapnya dengan perasaan cinta, kau masih berharap'kan kalau dia menerimamu? Jangan mimpi!" Laras bangkit dan membereskan pakaian yang akan dia bawa.
"Kita sudah menikah, dan kita sudah ada Lea. Apa itu kurang?" Alex berbicara dengan nada lembut.
"Entahlah," Laras kembali sibuk memasukkan baju-bajunya dan milik Alex, "mama," seorang anak perempuan berlari dan menerobos masuk.
Senyum keduanya mengembang saat mendengar suara anak kecil berumur tiga tahun itu, "maaf ibu, bapak. Non Lea nya masuk," ucap seorang perempuan yang memakai pakaian baby sister.
"Mama, kita jadi pegi sama tante Dea 'kan?" tanya antusias seorang gadis kecil yang bernama Lea. Aleana Anggraini, putri pertama dari pasangan Laras dan Alex yang berumur tiga tahun.
"Iya, Sayang," sahut Laras sambil tersenyum setelah menghapus jejak airmatanya dan mengingsut hidungnya.
__ADS_1
"Nanti ada om bule juga?" tanya Lea lagi, om bule adalah panggilan kesayangan Lea untuk Abraham.
"Iya, ada sayang," Laras mencium gemas kedua pipi sang putri yang tembem dan montok. Lea menengok kearah Alex, ayahnya yang sedang menunduk. Lea minta turun dari gendongan sang mama, lalu mendekat ke tempat sang papa duduk.
"Pa, besok kalau Lea udah gedhe, Lea mau jadi cantik kaya tante Dea, biar dapet om bule," ucap Lea polos, Laras dan Alex mengernyit bingung.
"Kenapa pengen kaya tante Dea?" bukan Alex yang bertanya tapi Laras, mama dari Lea. Alex turun dan mensejajarkan tubuhnya pada tinggi tubuh anaknya.
"Karena om bule ganteng," jawab Lea polos, namun membuat hati Alex kesal.
"Lebih ganteng dari om Rama," sambung Lea lagi, Lea memang mengenal Rama namun tidak terlalu dekat karena Rama tidak menyukai para sahabat Dea yang menurutnya menyita perhatian sang istri. Oleh karena itu Rama melarang Dea keluar rumah dan hanya boleh keluar jika dia temani.
"Mbak Lilis, pakaian Lea udah siap? Kalau udah masukin ke mobil saja," suara Laras menginterupsi dan membuat seakan jangan lagi membahas Dea.
"Sudah bu, sudah semua," jawab mbak Lilis sang pengasuh yang masih berdiri di depan pintu dan tidak berani beranjak dari sana.
"Ya sudah, biarkan Lea di sini. Mbak istirahat saja dulu, soalnya nanti perjalanan nya jauh," pungkas Laras dan di tanggapi anggukan oleh mbak Lilis, lalu segera pergi dari sana.
Kamar itu terasa ramai oleh celotehan polos dari Lea, dan membuat keduanya seakan lupa akan perbincangan yang membuat debat berkepanjangan dan berakhir dengan kata 'ya sudah'lah aku yang salah, tidak perlu di bahas lagi.
Setengah jam kemudian Laras mengendong Lea menuruni anak tangga dan di belakangnya ada Alex yang sedang berbicara dengan sahabat mereka. Dulu mereka bersahabat yang terdiri dari Dea, Laras, Alex, Sila dan Panca si kembar.
Di halaman rumah Alex sudah terparkir dua buah mobil, masing-masing mobil membawa pasangan.
"Hai Lea cantik," seorang pria berwajah tampan melambai dari jendela mobil menyapa anak sahabatnya, "om Panca!" seru Lea tidak kalah heboh, Alex mendelik kesal.
__ADS_1
"Ayo buruan udah keburu sore, tar kita nyampe sana Dea lagi ehem ehem sama si bule lho," Sila mengompori, "memang Dea itu elu, gituan di sembarang tempat," Panca yang tidak terima sahabatnya di jelekkan.
"Ingat, lu udah ada cewek jangan jelajatan," Panca menoleh ternyata Laras yang menghardiknya, "gue tahu, gue setia kok," jawabnya lalu menengok kearah kekasih Panca dan menaik turunkan kedua alisnya.