
"Maaf saya beneran ga bisa menerima kamu," Roy muda bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Abhel yang tengah menangis karena penolakan yang dia berikan.
"Kamu jahat, Mas! Kamu jahat!" pekik Abhel masih tidak terima dan sakit hati lalu memukuli dada bidang Roy, namun hanya di biarkan saja oleh lelaki itu. Tiba-tiba tangan Abhel di tahan oleh Roy, lelaki itu menatap penuh rasa bersalah, hanya rasa bersalah tidak ada rasa cinta sama sekali.
"Maaf," hanya itu yang terlontar dari bibir Roy, akhirnya melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Abhel yang masih meraung-raung dan menjerit memanggil namanya dan meminta dirinya kembali.
"Aku akan menjadikan kamu milikku, Mas Roy. Aku berjanji, hanya aku yang bisa memiliki kamu," lirih Abhel di iringi seringai, lalu menyeka airmatanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
Semenjak kejadian tersebut, Roy sepertinya menghindari Abhel. Abhel yang mengetahui dan paham akan perbuatan Roy sangat geram dan kesal bukan main, keinginannya untuk memiliki pemuda yang membuat dirinya tergila-gila semakin menguat.
Hingga di suatu hari dirinya bertemu dengan sahabatnya, dan mereka memiliki kisah yang sama. Abhel dan Riris, sahabatnya bertemu di sebuah cafe mereka saling menceritakan kehidupan mereka setelah berpisah saat lulus Sekolah Menengah Pertama.
Keduanya asyik bercerita akan masa lalu mereka mulai dari masuk SMA kemudian kuliah dan menceritakan berapa pemuda yang mereka pacari.
Riris mengatakan sangat tergila-gila pada pemuda alim, wajahnya yang tampan dan menjaga pandangan sangat mengusik hati dan pikirannya.
Abhel pun menceritakan sosok Roy yang berani menolak ungkapan cintanya, Abhel bercerita ini adalah pertama kali dia melakukan itu, dan Riris pun tertawa karena dulu Abhel adalah pujaan di masa SMP.
"Kau tahu, Bhel? Aku sangat penasaran dengan wajah pria yang sudah membuat seorang Abhel menjatuhkan harga dirimu namun dia menolak mu," ucap Riris di sertai kekehan yang terdengar seperti mengejek. Mata Abhel terpejam membayangkan sosok Roy, pemuda yang dia sukai.
"Dia memiliki wajah tampan, tubuhnya kekar, matanya tajam dan kulitnya agak kecokelatan, terkesan seksi dan macho," ucap Abhel masih dengan mata terpejam.
"Apa dia sudah punya kekasih?" seketika mata Abhel terbuka, hatinya mencelos akan pertanyaan yang diberikan Riris padanya.
__ADS_1
"Sepertinya belum," Abhel menggeleng kuat dan meyakinkan diri dengan firasatnya jika Roy belum mempunyai kekasih.
"Yakin dia belum punya? Atau kamu tidak tahu?" cecar Riris, Abhel terlihat berfikir merenungkan pertanyaan Riris yang dia sendiri pun ragu akan jawabnya.
Tapi karena seringnya Abhel memperhatikan gerak-gerik Roy setiap hari membuat Abhel yakin jika pemuda itu belum memiliki kekasih, terlebih jarang Abhel melihat pemuda itu berjalan bersama seorang gadis.
Abhel hanya sering melihat Roy mendorong kursi roda yang di duduki seorang wanita paruh baya dan yang dia yakini adalah mama Roy, dan mereka selalu ke taman jika Sabtu sore, dan Minggu pagi Roy pasti jogging mengelilingi taman itu sendiri.
Itu yang membuat Abhel benar-benar yakin dan mungkin sangat yakin seratus atau seribu persen. Lagi Abhel mengangguk walau ada sedikit keraguan.
"Kau tahu aku dulu juga seperti dirimu, cinta bertepuk sebelah tangan," mata Riris memandang jalanan melalui kaca yang ada di cafe tempat mereka saat ini nongkrong.
"Lalu?" tanya Abhel penasaran, kedua alisnya bertautan.
"Aku menceritakan kisah cintaku yang kandas sebelum berlayar pada temanku, dan dia menyarankan aku mendatangi seseorang dan katanya dia bisa membuat aku memiliki pemuda itu,
"Sesampainya di rumah itu, aku bertemu dengan seorang wanita dan aku disuruh menceritakan apa yang aku alami, akhirnya mengalirlah cerita yang aku alami dari mulutku,
Setelah mendengarkan ceritaku wanita itu pergi masuk kedalam kamar entah apa yang dia lakukan, saat dia kembali duduk bersama kami, wanita itu memberikan aku obat, dan orang itu menyarankan agar aku menggunakan dan memberikan pada pria yang aku maksud tanpa pria itu tahu, dan itu syarat jika ingin aku benar-benar memiliki Boy, suamiku sekarang ini," senyum tercipta di bibir Riris, membayangkan kegilaan yang dia lakukan.
"Aku menerima obat itu tanpa bertanya pada wanita itu dan setelah berbasa basi kami pamit pada wanita itu, dan dalam perjalanan pulang aku bertanya pada temanku itu, ini obat apa, obat perangsang katanya, refleks aku kaget sekaligus terkejut dong," Riris melanjutkan ceritanya, sedang Abhel hanya mengangguk-angguk paham.
Bukankah memang begitu, cinta itu gila, cinta itu buta. Hanya orang bodoh yang menyia-siakan kesempatan itu.
__ADS_1
"Lalu?" Abhel bertanya kembali, rasa penasaran mendominasi, apalagi mendengar kata obat yang Riris, sahabatnya ucapkan.
"Ya, aku berpikir bagaimana caranya memberikan obat itu pada dia. Tetapi jangan sampai ketahuan, beruntung waktu itu ada pesta, dan sialnya dia tidak minum alkohol jadi agak sulit mencampurkan obat itu,
Dan mungkin kami memang berjodoh, dia meminta minuman sirup sebagai ganti minuman alkohol tersebut, dan beruntung teman kami juga menyediakan sirup," Riris menjeda ucapannya, mengambil nafas dan menghirup udara di sekitar.
"Aku ke dapur menemui art si pemilik pesta, pura-pura memesankan pada asisten rumah tangga teman kami itu, dan saat Art itu lengah, aku memasukkan obat itu." Riris kembali tersenyum.
"Dan setelah memasukkan obat tersebut aku keluar dari dapur dan bergabung kembali dengan mereka, agar mereka tidak curiga tentunya," Riris terkekeh sedang Abhel mendengarkan kata demi kata yang terlontar dari bibir Riris, sahabatnya.
"Setelah meminum sirup tersebut, aku melihat dia bergerak gelisah, terlihat tidak nyaman. Dan aku tahu obat itu sedang bekerja, karena temanku pernah memberitahu kinerja obat perangsang itu," timpal Riris kemudian.
"Lalu, lalu?" Abhel berdiri dan pindah duduk menjadi di sebelah Riris, rasa penasaran benar-benar mengerogoti otaknya.
"Cih, nggak sabaran banget," Riris berdecih sambil tersenyum dan terlihat menerawang jauh.
" Aku mendekati dia, dan pura-pura bertanya apa yang terjadi padanya," Riris menyeruput es capucino yang dia pesan, tangannya kemudian mengambil kentang goreng dan memasukkan kedalam mulutnya, dan mengunyahnya pelan.
Seketika Riris menoleh kearah Abhel karena bahunya dipukul oleh sahabatnya itu.
Lu kenapa sih?" tanya Riris sewot dan merasa kesal, sedang Abhel hanya nyengir.
"Gue kesel bin gedek sama lu, di tungguin lanjutan ceritanya malah ngemil," Abhel mencebik kesal.
__ADS_1
"Ha ha ha ha, maaf, maaf," Riris tertawa terbahak tanpa merasa bersalah, membuat Abhel semakin kesal saja pada sahabatnya itu.
"Jadi gimana kelanjutannya?" tanya Abhel dengan nada ketus tapi masih penasaran, baru kali ini mempunyai pengalaman yang membuat dia ingin mencoba.