Gairah Cinta Duda Tampan

Gairah Cinta Duda Tampan
Masa Lalu Abhel 1


__ADS_3

Setelah kepergian Rama dan Dea tadi ke kamar mereka, Mama Abhel, Raya, Tante Vani dan Papa Roy masuk kekamar mereka. Raya memilih menemani Mama Abhel di kamar mertuanya tersebut, jika di dalam kamar sendiri tanpa Rama, kamar itu terasa sepi. Sedang Papa Roy dan Tante Vani masuk kekamar mereka.


    "Mas," Tante Vani memanggil Papa Roy, Papa Roy mendongak menatap sang istri kedua yang tengah bermain ponsel di atas ranjang, sedang dirinya sedang memangku dan menyalakan laptop.


    "Bagaimana kalau kedua putra kamu menyukai wanita yang sama?" Tante Vani menggigit bibir bawah, takut jika sang suami akan marah. Papa Roy menarik nafas lalu membuangnya perlahan.


      "Apa wanita yang kamu maksud adalah Dea?" Tante Vani mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang suaminya lontarkan, terdengar Papa Roy menghela nafas lalu membuangnya perlahan.


      Tante Vani turun dari ranjang dan melangkah menuju sofa tempat sang suami duduk, lalu ikut menghenyakkan bokongnya di sofa tersebut.


      "Seperti nya Rama tahu akan perasaan Dendi pada Dea karena mereka pernah bertemu sebelumnya," terang Tante Vani yang kemudian menyandarkan kepalanya pada lengan Papa Roy.


      "Entah keberuntungan Rama atau apa, Dea sama sekali tidak menyadari perasaan cinta Dendi pada dirinya. Dea hanya menganggap Dendi sahabat," Tante Vani menambahkan ucapannya, lagi Papa Roy menghembuskan nafas berat nya.


        "Sepertinya ini akan sulit, kedua putraku itu keras kepala, dan jika menginginkan sesuatu harus," ucap Papa Roy kemudian mengusap punggung tangan Tante Vani. Papa Roy bingung dan dilema saat mengingat perkataan istri keduanya, Tante Vani.


    "Mas, gimana kalau Dendi beneran cinta sama Dea? Trus dia ingin merebut Dea dari Rama? Apalagi kita tahu pernikahan Rama dan Dea sekarang abu-abu," ucap Tante Vani kala itu.


    "Dan seperti yang aku katakan pada Dea tadi, kalau Dendi ga bisa move on dari cinta pertamanya, yaitu Dea," pungkas Tante Vani yang semakin membuat Papa Roy pusing.


    Papa Roy tahu sedikit banyak watak Dendi, anak kandungnya bersama Tante Vani, keras kepala dan ambisius sama seperti Rama. Jika sudah mencintai seseorang maka akan mengejar dan tidak akan melepas.


    Papa Roy mendesah frustasi, di usapnya perlahan wajah berumur hampir setengah abad itu tetapi masih terlihat tampan dan segar.

__ADS_1


    "Papa lagi ngapain?" tegur mama Abhel yang tiba-tiba sudah duduk di samping Papa Roy yang sedang bersantai di taman. Di pangkuan Papa Roy ada sebuah laptop yang masih menyala, tadi setelah berbincang dengan Tante Vani, Papa Roy izin mencari udara segar.


    Mama Abhel melirik sekilas apa yang tengah suaminya kerjakan, Papa Roy mengulas senyum lalu menarik kepala Mama Abhel dan meletakkan di bahunya.


    "Kenapa kehidupan rumah tangga kita dan anak kita sama, Ma," mata Papa Roy menerawang jauh, entah takdir yang bagaimana yang sudah Tuhan atur dan tentukan.


    "Mama lebih suka sebenarnya jika Rama hidup berdua sama Raya, mereka sama-sama dari keluarga...." ucapan Mama Abhel berhenti kala Papa Roy merubah posisi duduknya dengan menegakkan badannya.


    "Bagaimana kalau orang-orang ada yang mengatakan bahwa mereka lebih suka dan berpendapat kalau melihat papa lebih cocok dengan Vani, apa Mama tidak sakit hati?" ucapan Papa Roy pelan dan halus tapi terdengar menyakitkan di hati Mama Abhel.


  Perlahan Mama Abhel menarik kepalanya dan ikut menatap kedepan, menatap berbagai tumbuhan, ada bunga mawar, ada bunga kamboja, ada bunga melati, bunga anggrek dan masih banyak lagi.


      Sungguh hatinya sakit saat suaminya bertanya bagaimana jika orang menilai dirinya tidak patut bersanding dengan tuan Roy, sang suami.


    Mama Abhel paham benar, cinta pertama tidak akan muda di lupakan. Dan bagi Mama Abhel, Papa Roy adalah cinta pertama dan terakhirnya.


      Karena cinta itu membuat dirinya buta dan melakukan apa saja termasuk menjebak dan bertekat akan memberikan kesuciannya kala itu. Ingatannya kala itu Mama Abhel menyatakan perasaan cintanya pada Papa Roy.


***Flashback on


  "Mas Roy, bisa kita bicara?" tanya Abhel muda, baru kali ini dia berani memandang dari dekat wajah tampan yang diam-diam sudah mencuri hati dan pikirannya.


    Saat ini mereka berada di taman kota, kebetulan rumah Abhel muda dan Roy muda dekat dengan taman kota. Dan waktu itu pagi hari dan di hari Minggu, Abhel muda sangat hafal jadwal pemuda idamannya itu.

__ADS_1


    Setiap hari Minggu pasti pujaan hatinya ini akan berlari mengitari taman yang saat ini mereka gunakan untuk mengobrol, sedang dirinya hanya mampu menatapnya dari kejauhan.


      Memperhatikan setiap hari dan diam-diam menguntit rela dia lakukan, cinta memang buta, ya itulah yang dia pikirkan. Walau sering bertegur sapa jika bertemu, tetapi Roy muda jarang memulai percakapan terlebih dahulu.


      Menurut Abhel muda wajar jika Roy muda sombong dan jarang menegur dirinya atau banyak bicara padanya, mungkin karena wajahnya yang tampan sehingga gengsi rasanya menyapa dirinya yang berwajah pas-pasan.


      Sedang bagi Roy muda, dia sedang menjaga hati wanita yang sangat dia cintai, Vani. Oleh karena itu, dirinya menjaga jarak dengan semua wanita, termasuk Abhel.


      "Mau bicara apa?" Roy muda bertanya setelah menengak air putih di dalam botol yang dia bawa, kemudian menyeka keringat yang mengalir di keningnya dan hendak turun ke hidungnya yang mancung dengan punggung tangannya.


    Abhel muda menarik nafas sejenak lalu menghembuskan perlahan, Abhel muda memutar tubuh menghadap Roy yang saat ini duduk di sebelah kirinya dan terlihat menatap orang orang yang juga sedang berlalu lalang.


  Roy muda menoleh, menatap lekat wanita yang baik menurutnya, tetapi harus dia jauhi. Ya karena satu keinginan, hanya ingin menjaga perasaan wanita yang dia cintai.


      "Saya... Saya menyukai kamu mas Roy, saya menyukai mas Roy sejak pertama aku melihat dirimu, dan aku mau jadi pasangan hidup kamu," Abhel memejamkan mata sambil menahan perasaan yang bergejolak.


      "Aku ingin kita menjalani hidup dan kemudian menua bersamamu, dan membesarkan anak-anak kita kelak," tambah Abhel tanpa malu mengatakan keinginan dan perasaannya.


  Besar keinginan dirinya agar di terima dan di beri kesempatan agar bisa memiliki pria yang sudah memasuki hati dan pikirkan ini.


      Roy muda memandang intens gadis di depannya dengan perasaan yang entah.      "Maaf saya ga bisa jadi pasangan kamu, saya ga terlalu sempurna untuk gadis secantik dan sebaik kamu," Roy menjeda ucapannya, kembali keposisi semula menghadap kedepan, memandang orang-orang yang melakukan pemanasan dan ada yang berlarian kecil.


      "Tapi saya sangat mencintai kamu, Mas," airmata itu akhirnya perlahan turun, "kenapa kamu tega nolak saya!" Abhel memukuli tubuh kekar Roy, tetapi di biarkan saja olehnya lelaki itu.

__ADS_1


Jangan lupa baca karya saya yang lain ya man-teman, sehat selalu, sayang kalian. kalau ingin memberi hadiah saya ngga nolak lho hihihi.


__ADS_2