Gairah Cinta Duda Tampan

Gairah Cinta Duda Tampan
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Setidaknya ancaman itu akan membuat istri penurut yang berubah menjadi pembangkang akan menuruti semua keinginannya. Rama segera masuk dan duduk di sebelah Dea, matanya tidak lepas dari istrinya.


      Beberapa bulan tidak menyentuh dan memeluk Dea, hanya memandang seperti ini membuat jiwanya terasa sakit. Istrinya kabur tanpa memikirkan dirinya yang kelabakan dan kelimpungan, begitu bertemu malah mementingkan orang lain, ingin sekali menghukum istrinya ini dengan mengurungnya di kamar hanya berdua, pasti terlihat menggemaskan jika dia merajuk.


      Membayangkan wajah Dea cemberut karena kesal padanya membuat Rama gemas, segera di tarik nya sang istri hingga kini berada dipelukannya.


      "Jangan main kabur-kabur lagi, aku hampir gila saat melihat kamar kita kosong," Rama berkata sambil menghujani kepala Dea dengan kecupan.


      'Kamu yang membuat aku begini, Mas. Apa salahku hingga kau tega membohongiku, baru dua tahun kita menikah dan kau sudah tidak sabar ingin menimang bayi, hingga kau menuruti keinginan mama untuk menikah lagi,' gumam Dea dalam hati.


      'Jangan salahkan aku jika saat ini aku selingkuh dan mulai mencintai pria yang selalu menghibur diriku atas luka yang kalian berikan,' sayang itu hanya bisa Dea ucapkan dalam hati.


    "Kita pulang atau kamu mau kita berkeliling kota ini dulu?" Rama mencoba memberi penawaran, bermaksud membuat mood istrinya agar kembali dan bisa ceria lagi.


      "Terserah," jawab Dea pasrah, sebenarnya dia ingin menghabiskan waktu liburan ini hanya dengan Abraham, pria yang sudah membuat cinta untuk Rama, suaminya menjadi terkikis.


      "Ya, sudah kita berkeliling dulu, kalau mau mampir kemana bilang mas ya?" Dea hanya mengangguk mengiyakan perkataan Rama.

__ADS_1


      'Yank, maaf aku ninggalin kamu,' lirih Dea dalam hati, sedih mengingat tadi adalah kecupan terakhir yang Abraham berikan, tidak tahu kapan lagi akan bertemu. Karena semalam Abraham sudah mengatakan akan keluar negeri sebentar jika liburan ini selesai, dan mengurus bisnis yang opanya berikan sebagai warisan. Suasana di pantai sepeninggal Dea, Dendi dan yang lain begitu marah karena Rama datang tiba-tiba dan langsung membawa Dea pulang.


      Sebenarnya bisa saja tadi Dendi mengejar dan mencegah Dea pulang bersama suami penghiyanat itu, tapi para bodyguard itu menghalangi dan langsung merampas tas milik Dea.


        "Kenapa lu tadi ga nonggol pas Dea di bawa pulang pria itu?" tanya Dendi pada Abraham, geram akan kelemahan pria yang mengaku mencintai sahabatnya. Abraham menengadahkan kepalanya menatap langit biru, lalu tersenyum samar


     "Belum saatnya suaminya tahu, jika dia tahu sekarang saya yakin suaminya akan membawa Dea pergi jauh dari kita," benar yang dikatakan Abraham, jika Rama tahu hubungan mereka, tidak mungkin Dea akan dia sembunyikan dan mereka tidak bisa berkomunikasi lagi.


      Dan para sahabat Dea pasti akan kena dampaknya karena dianggap mendukung perbuatan yang menurut Rama adalah jahat dan tidak manusiawi karena mendukung perselingkuhan.


      Dari Dea juga Abraham mengenal sosok Rama, pria itu sebenarnya sangat mencintai istrinya, tetapi entah atas alasan apa akhirnya Rama mendua.


    "Jadi, saya minta tolong pada kalian, sering-seringlah hubungi dia, terutama kamu," menjawil pipi chubby Lea, "hibur dan buat Tante Dea tersenyum saat om bule bekerja, kalau om bule pulang kita piknik lagi oke?" Abraham mengulurkan jari kelingking sebagai perjanjian, sedang Lea memiringkan kepala menatap Abraham tidak paham.


    Abraham cemberut dan memasang wajah memelas, tiba-tiba Dendi mengulurkan kelingkingnya dan menautkan pada kelingking Abraham, Lea pun ikut-ikutan.


    "Thank's bro," ucap Abraham seraya menepuk pundak Dendi pelan, Dendi hanya mengangguk. Sebenarnya Abraham sangat percaya jika Dendi ikut menjaga Dea, dilihat dari cara pria itu menatap dan memperlakukan wanita-nya, dia tidak akan membiarkan Dea terluka.

__ADS_1


    Mereka pun akhirnya melanjutkan acara liburan yang mereka ciptakan untuk menghibur Dea, namun wanita itu sudah pulang terlebih dahulu. Ada beberapa hati yang merasa kesepian saat wanita berlesung pipi itu tidak ada, liburan yang hampir menyita waktu kurang lebih tiga atau empat hari membuat ruang yang ramai karena celotahan dan tawanya kini sepi.


Sepanjang perjalanan menelusuri kota Bali Dea hanya diam, entah kenapa dia tidak ingin berbicara. Matanya hanya menatap jalanan yang kemarin pernah dia lewati bersama sang kekasih gelap, seketika mengingat itu rasa rindu Dea pada Abraham membuncah.


  Rama yang melihat sang istri hanya diam sebenarnya sedikit frustasi, padahal tadi dia sudah mencoba memancing dengan beribu pertanyaan, tetapi oleh Dea hanya di jawab seperlunya wanita itu saja.


    "Pak, kita ke bandara saja!" titah Rama pada supir, matanya melirik sang istri berharap wanita itu buka suara dengan cara protes. Akan tetapi sepertinya sia-sia, Rama mengambil ponsel yang berada di saku celananya.


    Tangannya lincah menari di layar ponsel dan mencari nama sang asisten, segera Rama menekan nomer itu. Nada tunggu masih terdengar di telinga Rama, menunggu beberapa detik.


  Tersambung.


    "Halo, Bos," sapa sang asisten, "pesankan dua tiket ke Jakarta, SEKARANG!" perintah mutlak dari si bos.


    "Baik, atas nama nona Dea dan anda'kan?" tanya sang asisten langsung, dan Rama hanya menjawab dengan deheman dan segera menutup sambungan tersebut.


    "Mau membeli oleh-oleh apa buat Mama?" Rama mencoba bertanya dan membuka percakapan dengan Dea. Dea menggeleng tidak tahu, matanya masih menatap jalanan kota Bali tersebut.

__ADS_1


      Rama menatap kesal sang istri, ingin sekali dia memeluk dan meminta haknya jika seperti ini terus. Matanya memindai tubuh Dea, entah hanya penilaiannya saja atau memang kenyataan, tubuh Dea agak lebih berisi.


      Pipinya tambah chubby, dua aset kembar Dea tampak lebih besar, perutnya agak buncit. Pasti Dea kebanyakan makan saat bersenang-senang dengan para sahabatnya, tapi itu tidak mengapa asal sang istri bahagia.


__ADS_2