Gairah Cinta Duda Tampan

Gairah Cinta Duda Tampan
Raya di Rumah Rama


__ADS_3

Sedang di bawah ada lima sampai enam kamar tamu, di belakang iklan tiga kamar khusus untuk asisten rumah tangga mereka. Rumah Rama ini cukup luas karena keluarga Rama berasal dari keluarga berada.


    "Baik dhen, segera saya laksanakan," mbok Sum, sang asisten rumah tangga itu berujar sambil tersenyum, dia paham pasti istri muda tuan mudanya akan datang kesini. Karena setahu dan sehafal ingatanya, tuan mudanya ini tidak suka jika privasinya terganggu.


    Seperti sekarang, tuan mudanya tidak mau jika istri keduanya masuk ke dalam kamarnya karena itu miliknya dan istri pertama. Mbok Sum pun tahu di kamar itu banyak sekali foto Dea, istri pertama dari Rama, mbok Sum bisa tahu karena setiap hari dia membersihkan.


    Rama tersenyum lega mendengar jawaban dari asisten rumah tangganya itu, dan Rama kemudian kembali ke kamar dan mengunci pintu kamar dari luar, dan melangkah lebih jauh ke ruang kerja.


  Dua puluh menit kemudian terdengar sang mama memanggil-manggil namanya, dengan malas Rama berjalan menuju pintu setelah meletakkan foto yang terdapat foto Dea yang sedang dia peluk. Tadi setelah masuk ke ruang kerjanya, Rama memutuskan istirahat di sana dengan memeluk salah satu foto Dea, mengalirkan rasa rindu pada istri serta cinta pertama.


    "Ya, Ma," ucapnya begitu pintu terbuka dan mendapati sang mama sedang cemberut.


    "Raya ada di bawah, nyari kamu," cetus sang mama, Rama mendesah pelan lalu melangkah keluar dan merangkul sang mama menuju ke bawah setelah menutup dan mengunci pintu ruang kerja milik.


  "Mas Rama," suara Raya menyambut kehadirannya begitu mereka sampai di lantai bawah, Raya segera memeluk tubuh kekar sang suami, Rama hanya mengusap punggung istri keduanya. Mama Abhel meninggalkan mereka berdua.


    "Kamu sakit apa?" Rama bertanya setelah mereka berdua duduk di sofa, dan tangan Raya tidak lepas dari lengan Rama. Sebenarnya Rama risih, namun mengingat jika wanita di hadapannya ini istrinya, maka dia membiarkan.


    "Kita ke kamar aja yuk, Mas ajakan," Raya sambil tersenyum genit, Rama mengangguk dan berdiri bersama Raya. Keduanya melangkah ke kamar tamu yang sudah di depan mbok Sum.


    "Kok ke sini sih, Mas!" Raya protes lalu menghempaskan tangannya dari lengan Rama, Rama menoleh lalu memutar kedua bolanya dengan malas.


    "Lalu kemana? Ke kamar mama?" tanya Rama tanpa merasa bersalah. Tangannya kemudian membuka pintu kamar tamu tersebut.

__ADS_1


    "Ya ke kamar kamu' lah," sahut Raya kesal, "kenapa harus ada di sana? Ini juga kamar," Rama berucap dan tidak acuh.


    "Bukannya tadi mau ke kamar, ini sudah di kamar," Rama menghempaskan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata. Raya ikut duduk di sampingnya dengan perasaan kesal dan kecewa.


    "Tapi aku ingin ke kamarmu," ucap Raya pelan, Rama hanya diam tidak menjawab.


Karena kesal Raya akhirnya keluar kamar dan berniat mencari ibu mertuanya, siapa tahu mama Abhel, sang mertua yang selalu memanjakan dan menuruti semua keinginannya akan membujuk Rama agar mengizinkan dirinya memasuki kamar suaminya.


    "Ck mama mana sih!" gerutu Raya kesal, sedari tadi sudah keliling ruangan dan naik ke lantai dua juga tidak mendapati sang ayah mertua.


  "Non Raya butuh sesuatu?" mbok Sum tiba-tiba datang dan menawari Raya apa yang dipesan, sesuai pesan sang nyonya tadi. Mbok Sum biasanya jika Dea yang datang, pasti tanpa di tanya pasti menyuguhkan sesuatu. Dan Dea dengan senang hati akan menerima berbeda dengan Raya yang sulit di tebak mauya.


    “Mama Abhel kemana sih, Mbok?” tanya Raya dengan nada kesal, "emmt, nyonya Abhel tadi keluar, Non," jawab mbok Sum dengan perasaan takut.


  "Mungkin malam, Dhen, mau jemput Tuan Roy juga kata beliau," mbok Sum menambahkan, Rama memincingkan sebelah matanya.


    "Papa pulang hari ini?" tanya Rama berharap, mbok Sum mengangguk dan berkata, "tadi tuan Roy telepon dan meminta saya membersihkan kamar sebelah nyonya Abhel dan tuan Roy Rama menyatu dan kedua matanya menyipit.


    "Siapa yang datang sih, Mas?" Raya tidak kalah penasaran, tapi Rama mengedikkan kedua bahunya tanda tidak tahu. Rama melangkah menuju sofa dan menghempaskan bokongnya di sofa tunggal, berjaga-jaga agar Raya tidak mendekati dirinya.


    "Dhen Rama ada yang di butuhkan?" mbok Sum ganti berganti bertanya pada tuan mudanya, Rama menggeleng tanda tidak. Mbok Sum pun berlalu dari sana setelah meminta izin membersihkan kamar yang di minta sang majikan.


    "Siapa sih yang datang?" gumam Rama merasa tidak biasanya sang papa akan heran begini. Kalau pun ada rekan bisnis atau keluarga yang mau datang dan menginap pasti di tempatkan di ruang tamu lantai bawah, Rama hanya bisa mengira-ngira siapa orang itu.

__ADS_1


Malam harinya rumah Rama terasa sepi, dan Raya mau tidak mau harus tidur di kamar tamu. Raya membocorkan pada Rama yang fokusnya hanya ke laptop.


    "Mas," mencoba memanggil sang suami, Rama hanya menoleh sebentar lalu mengungkapkan dan fokus ke laptopnya.


    "Mas, udah hampir empat hari lho kita ngga berhubungan," Raya istri kedua Rama merajuk, 'baru empat hari kamu sudah uring-uringan, bagaimana dengan Dea yang sudah lama tidak aku sentuh,' gumam Rama dalam. matanya masih menatap laptop tapi jemarinya tidak bergerak.


    Tok tok tok, pintu kamar yang Rama tempati di ketuk dari luar, "Rama, ini mama. Tolong buka pintunya, Nak!" seru orang yang mengetuk pintu dan ternyata adalah sang mama.


    "Rama, Raya," panggil sang mama lagi, kedua pasangan itu saling mengungkapkan dan berharap apa yang mereka dengar. Dengan cepat Rama meletakkan laptop miliknya di meja dan berjalan menuju pintu dengan setengah berlari di ikut Raya.


    "Mama!" seru Rama dan Raya secara bersamaan, mama Abhel langsung memeluk tubuh sang putra. Rama merangkul bahu sang mama dan menuntunnya masuk, lalu mengajaknya duduk.


    "Ada apa sebenarnya, Ma? Kenapa mama menangis?" telapak tangan Rama melacak jejak airmata tersebut, saat ini Rama berjongkok di depan sang mama yang duduk di sofa dan di sampingnya ada Raya yang mengusap punggung mama Abhel.


  "Papamu, Ram...." ucapan wanita yang melahirkan Rama terhenti saat pintu kamar terbuka. Rama, Raya dan mama Abhel menoleh ke arah pintu tersebut, tampak seorang pria paruh baya sedang merangkul seorang wanita seumuran dengan mama Abhel.


    "Pa, itu siapa?" Raya yang bertanya, dan Rama hanya ingin mengetahui siapa wanita yang saat ini berada di dekat papanya.


    "Dia...."


  "Saya Vani, istri kedua papa mu," wanita yang bernama Vani ucapan tuan Roy atau suaminya.


    "Istri kedua papa?" Rama mengulang ucapan wanita tadi, yang ditanggapi dengan anggukan keduanya. Rama mengungkapkan nyanyian mama dan mengusap lembut punggungnya seolah bertanya dan memberi kekuatan sekaligus.

__ADS_1


    Mama Abhel mengangguk dan kembali mengeluarkan airmatanya. Rama mengusap pelan wajahnya, lalu berdiri dan menghampiri sang papa.


__ADS_2