Gairah Cinta Duda Tampan

Gairah Cinta Duda Tampan
Istri Pertama vs Istri Kedua


__ADS_3

Entah kenapa Rama penasaran dengan sahabat Dea yang bernama Dendi, yang konon pernah dia dengar pernah menyukai Dea.


    Di sana ada foto seorang wanita yang sedang memandang matahari terbit, dan memunggungi kamera. Di sana ada caption "KAMU LEBIH INDAH DARI MATAHARI YANG TERBIT" dengan disertai emot cinta.


    Tidak ada dampak buruk dalam pikiran Rama, karena kini Dendi sudah, dan saat dulu Dea sempat melihat foto istri Dendi, postur mirip dengan Dea.


    Rama memperlihatkan wajahnya ternyata sudah hampir satu minggu istri pertama pergi dan tidak ada kabar, lalu Rama menutup laptop dan meletakkan di meja depan dia duduk, kemudian dia melangkah menuju kamar mandi, sepuluh menit kemudian Rama keluar menggunakan baju tidur.


      "Mas, yuk, aku udah kangen," Raya mendekat dan merayu Rama yang sudah ada di tempat tidur. "Aku lelah, Ray," tolak Rama secara halus, Raya tidak putus asa, dia terus menggoda dan membangkitkan gairah suami.


      Akhirnya Rama pasrah dan membiarkan Raya melakukan apapun pada dirinya, Rama membayangkan saat ini yang menyentuh dirinya adalah Dea. Kini mereka bergumul dan saling mengeluarkan suara kecil, Raya bahagia saat ini karena suaminya mau menyentuh dirinya setelah beberapa hari menolak keinginannya.


      "Dea," lenguhan suara Rama memanggil istri pertama saat dia mencapai puncak, Raya mendorong Rama ke samping dengan kesal.


    "Aku yang bercumbu dengan kamu, Mas! Tapi nama wanita mandul itu yang kau sebut saat itu!" pekik Raya tidak terima.


    "Jahat kamu, Mas! Jahat kamu!" Raya berteriak sambil memukul lengan Rama, namun Rama tidak bergeming dan memilih menutup mata dan memunggungi Raya setelah menutup tubuhnya dengan selimut.


      Rama masih mendengar Raya sesengukan meski sudah tidak memukuli dirinya. 'Maaf, membuat mu terluka, tapi hanya Dea yang benar-benar aku bayangkan' gumam Rama dalam hati dan setelah itu dia tidak mendengar lagi suara aku dan ternyata istri keduanya itu.


    Pagi harinya saat sarapan Rama tidak mendapati sang papa ikut sarapan, kata mama Abhel, sang papa harus menghadiri rapat di kota lain, jadi pagi-pagi harus segera berangkat. Mama Abhel sedikit senang, setidaknya sang suami mau berpamitan berdua dan sedikit kesal karena dia di titipi madunya atau istri keduanya suaminya.


    Demi membuat suami bahagia dan mau bertahan dengan dirinya, akhirnya mau tidak mau mama Abhel mengalah dan mengiyakan permintaan sang suami.

__ADS_1


      "Papa itu aneh, masa istri pertama di suruh njaga istri kedua," Raya berucap tanpa berkaca.


    "Harusnya papa itu bersyukur memiliki istri secantik, sebaik dan sesabar mama Abhel. Bukannya menikah lagi," cetus Raya kesal, Rama dan mama Abhel hanya diam mendengar ocehan Raya.


      "Mama bisa kasih keturunan juga buat papa, mengapa coba harus menikah lagi, kan berarti harusnya cukup mama aja'kan yang papa itu istri," raya berucap seraya melirik Rama bermaksud menyindir.


        "Saya juga bisa memberi mas Roy anak," suara seorang wanita yang datang, ketiga manusia itu menoleh ke arah sumber suara.


"Saya bisa memberikan mas Roy anak, bisa melayani dia, juga mencintai dia," ulang Tante Vani istri keduanya ayah Rama.


    "Berarti saya juga pantas di pertahankan dong," imbuhnya, kakinya yang jenjang berbalut celana kain melangkah ke meja makan dan menjatuhkan bobotnya di sana.


      Tangannya dengan gesit membalik piring dan mengambil nasi serta lauk dan sayur yang ada di meja tersebut, mama Abhel geram melihat tingkah madunya.


      "Ini juga rumah suami saya, kalau anda lupa apa perlu saya ingatkan lagi...."


    "Tante jangan membuat mama saya marah!" seru Rama tidak terima, "apa anda ingin menguasai papa saya sendiri? Jangan mimpi!" pekik Rama murka.


    "Kamu sarapan saja, tidak usah ikut campur urusan orang tua," tante Vani berkata dengan tenang seakan tidak terpancing dengan kata-kata Rama.


      "Saya akan ikut campur karena di sini mama saya yang jadi korban!" sentak Rama kesal dan geram, tante Vani hanya mencebikkan bibirnya lalu berkata, "kamu urus rumah tangga kamu aja ngga pecus, mau ikut campur urusan kami," tenang suaranya terdengar tapi sangat menohok dan membuat Rama kehilangan kata-kata.


    "Memang kenapa kalau mas Rama punya istri lebih dari satu? toh dia juga mencintai saya," sahut Raya bermaksud membela sang suami, lagi tante Vani hanya tersenyum dan menggeleng pelan seraya memasukkan makanan kedalam mulutnya.

__ADS_1


    "Yakin dia cinta kamu?" tante Vani mencoba mengoyahkan pertahanan kepercayaan diri Raya, tangan Raya mengepal menggenggam sendok sangat erat seakan ingin meremuknya dan membayangkan sendok itu adalah tante Vani.


      Benar yang ditanyakan Tante Vani, apakah Rama mencintai dirinya, pasti jawaban nya tidak. Karena Rama mau menikah dengan dirinya itupun dengan syarat, mengingat itu membuat Raya semakin membenci Dea.


  "C'k selera anakku memang benar-benar tinggi," Tante Vani berucap seraya menatap ponsel miliknya, "anak kamu laki-laki atau perempuan?" mama Abhel akhirnya bertanya karena penasaran.


    Tante Vani menaikkan satu alisnya lalu tersenyum miring, "dia laki-laki, ya seumuran menantu kamu," setelah berkata Tante Vani mengambil tissu dan mengelap bibirnya dan berdiri, sedikit mendorong kursi yang dia duduki lalu memutar tubuhnya dan melenggang pergi.


    "Dasar ga sopan!" desis Raya geram.


    "Dia punya anak lelaki, seumuran Raya atau Dea?" mama Abhel bertanya sambil beralih menatap sang putra, Rama mengedikkan bahu tidak tahu.


        Raya lebih muda dua tahun dari Dea, dan Dea lebih muda dua tahun dari Rama. Jadi Rama dan Raya berselisih umur kurang lebih lima tahun, bukan'kah tadi Tante Vani bilang kalau anaknya seumuran menantu mama Abhel, berarti seumuran Dea, begitu pikir Rama.


    Tadi apa Tante Vani bilang, anaknya sedang mengincar seorang wanita, dia kemudian terkekeh. 'Ibunya saja pelakor pasti anaknya pebinor' ucap Rama dalam hati.


    Rama terkejut dan hampir jatuh saat Raya memukul pundaknya, "apa sih, Ray," protes Rama kesal.


      "Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Tidak gila 'kan?" Raya meletakkan jari telunjuk nya dan membuat miring, Rama kesal dan akhirnya meninggalkan mama Abhel dan Raya.


  Rama telah memindahkan beberapa barang-barang pribadi miliknya ke kamar tamu yang saat ini dia tempati bersama Raya, Rama benar-benar tidak mau dan tidak suka jika Raya masuk dan melihat isi kamarnya.


    Rama duduk di sofa dan memijat kedua pelipisnya, pening rasanya, masalah rumah tangganya belum selesai, kini masalah rumah tangga orang tua nya juga dalam masalah.

__ADS_1


    Rama tersenyum saat mengingat Dea, istri yang sangat dia cintai. Wanita itu selalu menjadi penyemangatnya, penghibur kala suntuk, kala ada karyawan atau relasi yang membuat dirinya marah atau bad mood. Dan selalu mendukung juga memberi solusi jika tidak ada ide atau mentok.


__ADS_2