
Setiba di Bandara Bali, Rama segera berjalan menghampiri orang yang sudah di tugaskan menjemput dirinya, perjalanan ibukota ke Bali yang memakan waktu kurang lebih dua jam sebenarnya membuat Rama bosan, tapi mengingat tujuannya datang kesini membuat semangat dalam dirinya tumbuh lagi.
"Aku datang Dea, Sayang," gumamnya, mobil yang dia tumpangi melaju ke pantai tempat di mana sang istri berada, memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit karena sedikit macet, tapi tidak apa, semua akan terobati begitu melihat wajah wanita yang dia rindukan.
Setelah memarkir mobil itu, Rama berlari kesana kemari mencari keberadaan istri tercintanya, rasanya Rama ingin menyerah saja.
Tiba-tiba senyumnya mengembang saat melihat seorang wanita mengenakan kaus berwarna pink agak kedodoran dan memakai celana pendek sedang berlari menuju toilet, rasa khawatir melanda saat melihat wanita yang dia cintai berhenti mendadak dan muntah-muntah.
Saat melihat wanita-nya sudah baik-baik saja dia mendekat, rasa rindu membuat Rama tidak melihat di sana ada para sahabat Dea.
***
"Kamu kenapa, hmm?" Rama melonggarkan pelukan itu dan menangkup kedua pipi Dea, sedikit maju dan menghujani kembali wajah istrinya dengan kecupan.
"Mas, kamu di sini?" pertanyaan konyol memang, mata Dea memindai sekitar, di belakang Rama ada Abraham yang sedang membawa kelapa muda pria itu tersenyum lalu mengangguk seakan berkata aku baik-baik saja, di sisi kiri Rama ada Laras, Panca, Sila, Alex, dan Riri.
"Kamu ini konyol, ya aku di sini. Mau jemput kamu," Rama tersenyum dan menyatukan keningnya dengan kening Dea.
Dea sedikit mendorong tubuh kekar Rama membuat suaminya itu heran, "aku minta maaf, oke," Rama kembali menarik Dea kedalam dekapannya.
Lagi-lagi Dea mendorong tubuh Rama, membuat Rama ingin tahu apa penyebab istrinya berbuat demikian.
"Wey, ada si Rama," Panca mendekat dan menyela kerinduan yang hendak Rama ungkapkan. Rama hanya memutar bola malas, kemudian kepalanya menengok kearah kanan, ternyata para sahabat Dea sudah ada di sana.
__ADS_1
"Kamu malu karena ada mereka?" Rama menangkup kedua pipi Dea, Dea menggeleng dan berkata dalam hati, 'kenapa aku takut Abraham terluka hatinya, apa benar cintaku sudah benar-benar mati untuk mas Rama dan kini berpindah ke Abraham?'
"Tante Dea," Lea menarik-narik kaus yang dikenakan Dea, refleks Dea menepis tangan Rama yang masih ada di kedua pipinya membuat Rama heran, dan Dea berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Lea.
"Ya, Sayang," Dea menarik tubuh mungil itu dan mengangkatnya, berjaga agar Rama tidak lagi memeluk dirinya, sesekali matanya memindai sekitar, mencari keberadaan Abraham namun pria yang dia cari tidak menampakkan hidung mancungnya.
"Halo anak cantik," Rama mencoba ramah pada gadis kecil yang sedang di gendong istrinya, "mama, ini om Rama 'kan, suami tante Dea?" Laras mengangguk menanggapi pertanyaan sang anak.
"Lalu itu...." Laras segera mengendong Lea, dan memotong pertanyaan sang anak. Bisa bahaya kalau ketahuan, mereka sedikit banyak mengenal sikap Rama.
"Anak cantik, tante Dea-nya om bawa pulang ya?" Rama kembali merangkul dan mengajak Dea percaya dari sana sebelum mereka menjawab.
"Mau pulang, De?" tiba-tiba suara yang Rama kenal menyapa telinganya, Rama tidak mengubris, dia masih merangkul Dea dan mengajaknya berjalan ke parkiran.
"Kita kan datang bareng-bareng, masak pulang sendiri-sendiri?" dada Rama bergemuruh, apa maksudnya datang bersama-sama.
"Lu aneh, kan gue sudah bilang. Kami datang bareng-bareng, jadi kita pulang juga harus bareng-bareng," dalih Dendi yang semakin membuat Rama kesal, Rama memalingkan wajah mencoba memendam emosinya.
Rama tahu kalau Dea tidak suka ada yang bertengkar, jadi dia berusaha mengatur emosi sebisa mungkin. Sedang Dea masih menelisik tempat sekitar, masih mencari keberadaan Abraham, 'kamu di mana, Yank,' gumamnya dalam hati.
Rama kembali menatap Dendi, "gue mau pulang sama istri gue, jadi lu jangan nghalangin kami," Rama berucap seraya menahan emosi, Rama melihat cara Dendi menatap Dea sungguh membuat dirinya cemburu.
Apa mungkin rasa cinta pada diri pria itu masih ada? Bukankah dia sudah menikah, bagaimana dengan istrinya? monolog batin Rama berbicara, sesekali matanya memindai tempat mencari keberadaan wanita yang menjadi istri dari sahabat Dea.
__ADS_1
Tetapi tidak dia temukan, apakah setelah dari Jogja mau ke Bali istrinya di antar pulang terlebih dahulu? Beribu pertanyaan terbesit dihati Rama.
"De, ini tas lu. Lu boleh pulang duluan, kami masih pengen seneng-seneng di sini," Laras datang mengendong Lea sambil menenteng tas milik Dea.
"Ma, tante Dea kok pulang ga seru ah," Lea merajuk rupanya, kasih sayang Dea yang tulus membuat anak kecil itu seakan tidak bisa lepas dari dirinya.
"Tante Dea-nya udah capek, Sayang," Laras mencoba menghibur sang putri bibirnya cemberut tapi begitu menggemaskan, Dea melepas rangkulan Rama lalu maju menghampiri Lea mencium i pipi gembul itu.
"Kapan-kapan kita pergi bareng-bareng lagi oke," Dea juga ikut membujuk tapi Lea masih saja cemberut.
"Kiss tante dulu," Dea menyodorkan pipinya berharap dicium oleh Lea, namun anak itu masih marah karena merasa waktu bermain dengan tante kesayangannya terpangkas, Lea menatap tajam Rama dan membuat pria itu gemas.
'Mirip Alex sekali anak itu, tidak suka kesayangan miliknya diganggu, tapi Dea adalah istriku jadi terserah kalau mau kuajak pulang sekarang,' Rama bergumam dalam hati.
Dea memukul kepala Dendi karena mengapit kedua pipinya lalu mengoyang-goyangkan, Rama yang melihat menjadi murka segera dia dorong Dendi dengan kasar membuat Dendi terjelembab kebelakang.
"Dendi!" Dea memekik terkejut, saat Dea ingin melangkah menolong Dendi, pergelangan tangan Dea di tarik Rama, "kita pulang!" seru Rama geram, dan menarik Dea dari sana dengan perlahan, tidak tega jika harus menyeret wanita yang dia cintai.
"Mas, tunggu sebentar," Dea mencoba berontak, kepalanya berulang kali menengok kearah belakang tempat sahabatnya tadi jatuh, lalu menarik tangannya agar terlepas dari Rama, namun karena tenaganya kalah kuat tangannya tetap di pegang Rama.
"Mas, tunggu itu Dendi jatuh, Dea mau...." huek, tangan Dea yang bebas menutup mulutnya, rasa mual pun kembali melanda Dea. Rama menghentikan langkahnya dan memeluk istri tercintanya.
"C'k keras kepala," gerutu Rama gemas. "Kita pulang ya, kamu istirahat, kamu kayaknya kurang sehat," Rama membujuk wanita keras kepala itu. Dea menggeleng dan masih menatap pada Dendi yang sudah berdiri dan juga sedang menatap dirinya.
__ADS_1
"Jika kamu ga pulang bareng, Mas. Jangan salahkan mas kalau ada apa-apa sama temen-temen kamu," Rama mencoba mengancam wanita-nya dengan menunjuk beberapa bodyguard yang mengikuti mereka, Rama tahu Dea paling tidak suka jika ada yang mengganggu orang terdekatnya.
Dea mendengus kesal, lalu menghempaskan tangan Rama dan berjalan menuju mobil yang sudah dibukakan oleh supir. Menghempaskan bokongnya dan memilih menatap pemandangan, sedang Rama tersenyum lega.